Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Lampu Hijau


__ADS_3

Reyhan yang baru selesai mengoperasi bergegas berlari ke arah IGD begitu mendapat telepon dari Ayunda. Mendengar Ayunda menghubunginya sambil menangis membuat dokter bedah itu panik setengah mati. Sesampainya di IGD, matanya mencari sosok gadis yang dicintainya itu.


“Ay..”


“Kak Rey.. Aslan..”


Ayunda menunjuk ke arah blankar. Di atas blankar terlihat Aslan sedang menangis. Friska yang berusaha mengobati anak itu tampak kewalahan karena Aslan terus berontak. Reyhan segera menghampiri Aslan. Melihat Reyhan, Aslan tak lagi berontak.


“Bang Aslan kenapa? Sini om periksa dulu.”


Reyhan memperhatikan seluruh tubuh Aslan, di kepalanya nampak benjolan dengan warna kebiruan. Sikunya juga sedikit lecet.


“Aslan kenapa Ay?”


“Tadi hiks.. Aslan jatuh dari ayunan. Kepalanya kepentok tanah, sikunya juga hiks.. hiks.. Aslan ngga apa-apa kan?”


Reyhan memeriksa luka-luka pada tubuh Aslan. Dia menghembuskan nafas lega karena anak itu hanya mengalami benjol akibat terbentur dan sedikit lecet di sikunya. Reyhan mengoleskan gel pada benjolan di kening Aslan dan luka lecetnya. Tangis Aslan berhenti begitu Reyhan mengobatinya, berbeda dengan Ayunda yang masih menangis.


“Udah Ay, jangan nangis lagi. Aslan ngga apa-apa kok, cuma sedikit lecet aja.”


“Tapi tadi kepalanya kebentur, takutnya gegar otak. Ngga di CT scan aja kak?”


Reyhan hampir saja tergelak mendengar ucapan gadis itu tapi ditahannya sekuat tenaga. Suster dan juga Friska yang berada di sana berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.


“Ngga usah Ay, lukanya Aslan ngga parah. Kamu tadi ke sini sama siapa? Bang Ilan mana?”


“Aku naik taksi. Bang Ilan ada klien penting jadi tadi pergi duluan.”


“Udah telpon mas El?”


“Udah.. hiks.. hiks.. aku takut mas El marah kak. Kalau mas El marah gimana hiks.. hiks.. aku ngga becus jagain Aslan hiks.. hiks..”


Ayunda kembali menangis, bukan karena mengkhawatirkan Aslan tapi takut terkena amarah Elang. Ingin rasanya Reyhan merengkuh Ayunda dalam dekapannya, namun dia tak bisa melakukannya. Dia menghapus airmata Ayunda dengan jemarinya. Friska sedikit panas melihat perhatian Reyhan pada Ayunda.


“Udah Ay jangan nangis, mas El ngga bakalan marah. Kalau dia marah nanti aku yang hadapin dia, ok.”


Reyhan memegang bahu Ayunda dengan kedua tangannya. Gadis itu tampak meringis ketika Reyhan memegang bahu kanannya. Reyhan curiga dengan keadaan Ayunda.


“Ay, kamu kenapa? Bahu kamu sakit?”


“Aslan kenapa?”


Belum sempat Ayunda menjawab pertanyaan Reyhan, terdengar suara Elang menginterupsi mereka. Ayunda terkejut melihat sang kakak sudah datang bersama Azkia. Refleks dia bersembunyi di balik punggung Reyhan. Elang dan Azkia menghampiri Aslan yang masih duduk di atas blankar.


“Kenapa bisa begini Yun?”


“Aslan jatuh waktu main ayunan.”


“Kok bisa? Kamu ngapain aja sampai Aslan bisa jatuh?!”


Suara Elang mulai meninggi, Azkia menyentuh lengan suaminya seraya menggelengkan kepalanya. Ayunda semakin takut melihat kakaknya, dia kembali bersembunyi di belakang Reyhan seraya memegang erat ujung sneli dokter bedah itu.


“Mas tenang dulu. Aslan ngga apa-apa, cuma lecet sama benjol aja. Aku juga udah obatin.”


“Kenapa kamu ngga hati-hati sih!”


“Mas, udah. Harusnya mas bersyukur Aslan ngga apa-apa. Luka Aslan ngga parah karena Yunda ngelindungi Aslan dengan tubuhnya. Kalau mas mau marah, marah sama aku aja. Karena aku ninggalin dia sama Aslan.”


Ayunda terharu mendengar Reyhan membelanya. Reyhan memutar badannya menghadap pada Ayunda. Dia kembali memegang bahu kanan Ayunda, membuat gadis itu meringis kesakitan.


“Ay jawab yang jujur, kamu tangkep Aslan terus kamu jatuh dengan bahu duluan nyentuh tanah, iya?”


Ayunda hanya mengangguk pelan. Reyhan menghela nafasnya. Segera dia membimbing Ayunda naik ke atas blankar. Aslan sendiri sudah berada dalam gendongan Azkia. Reyhan memeriksa bahu Ayunda, terdengar rintih kesakitan darinya.


“Sepertinya tulang bahumu sedikit bergeser karena posisi jatuh kamu. Tahan sebentar ya, aku betulin dulu letak tulang kamu. Kalau ngga langsung dibetulin takut bengkok dan perlu operasi.”


Ayunda hanya mengangguk pasrah. Reyhan memerintahkan suster melakukan bius lokal untuk mengurangi rasa nyeri. Setelah obat bius masuk ke tubuh Ayunda, dia merasakan bahunya terasa kebal.


Reyhan kembali meraba bahu Ayunda. Dia memang sudah diajari teknik mengembalikan sendi yang dislokasi dari Regan. Ini adalah hal yang harus dikuasai dokter yang mengambil spesialis kegawatan dan kedaruratan. Reyhan menarik nafas dalam sebelum melakukan tindakan. Dipegangnya bahu dan lengan Ayunda, merabanya sebentar lalu dengan sekali gerakan dia menghentak sendi yang bergeser. Ayunda berteriak kesakitan, airmatanya kembali mengalir. Walaupun sudah dibius, namun rasa sakit tetap terasa. Tak tega melihat keadaan sang adik, Elang mendekat lalu memeluknya.


“Yunda udah ngga apa-apa mas. Tulangnya udah kembali ke tempat semula, dia perlu dibebat aja. Mendingan mas El bawa Aslan pulang, biar aku yang antar Ayunda pulang. Dia juga harus disuntik pereda nyeri dulu.”


“Aku titip dia ya Rey, makasih udah obatin Aslan.”


“Iya mas. Sekarang mas pulang aja. Masalah administrasi nanti aku yang urus.”


“Makasih Rey, aku titip Yunda.”


Reyhan mengangguk pelan. Bersama dengan Azkia, Elang meninggalkan IGD. Mereka menuju mobil yang terparkir tak jauh dari pintu masuk IGD. Di depan IGD mereka bertemu dengan Farel yang langsung menyusul ke rumah sakit begitu mendengar kabar dari Ayunda. Saat akan masuk ke dalam IGD pergerakannya ditahan oleh Elang.


“Mau ngapain bang? Udah sana pulang, Aslan juga ngga apa-apa.”


“Aslan ngga apa-apa? Syukur deh, terus Yunda mana?”


“Lagi diobatin sama Rey.”


“Yunda kenapa? Gue mau lihat Yunda.”


“Ngga usah, mending lo pulang aja. Biarin Rey yang urus Yunda.”

__ADS_1


Elang mengedipkan matanya pada Farel lalu pergi membawa anak dan istrinya. Farel yang penasaran masuk ke dalam IGD tapi hanya melihat dari tempat yang agak jauh saja.


Elang membukakan pintu mobil untuk istrinya lalu mengitari badan mobil dan menyusul masuk. Sesampainya di dalam mobil Azkia langsung menumpahkan kekesalan yang tadi ditahannya.


“Mas tuh keterlauan! Segitunya marahin Yunda, ngga lihat dia ketakutan sampai nangis-nangis gitu. Luka Aslan juga ngga parah, justru Yunda yang terluka karena melindungi Aslan.”


“Kamu pikir mas ngga punya hati sampai tega marahin dia?”


“Maksud mas?”


“Mas sengaja marahin dia depan Rey. Kamu lihat sendiri kan bagaimana Rey membela Yunda, bahkan dia pasang badan untuk melindungi Yunda. Harusnya anak itu sadar dengan semua yang Rey lakukan untuknya supaya dia ngga terus-terusan berharap sama Ilan.”


Senyum Azkia terbit mendengar penjelasan suaminya. Dia mengusap rahang Elang lalu mendekatkan wajahnya. Sebuah kecupan mendarat di pipi suaminya. Elang bermaksud mencium bibir Azkia tapi ditahannya karena masih ada Aslan di antara mereka. Elang menyalakan mesin mobil kemudian menjalankannya keluar dari area rumah sakit.


Reyhan baru saja menyuntikkan obat pereda nyeri pada Ayunda. Kemudian dia meminta Friska memasangkan penyangga bahu pada Ayunda. Reyhan menutup rapat tirai yang membatasi blankar Ayunda, lalu menunggu di luar. Ayunda harus melepas pakaian atasnya agar Friska dapat memakaikannya. Oleh karenanya Reyhan menyerahkan tugas tersebut pada Friska.


“Rey.. Yunda ngga apa-apa?” Farel yang penasaran akhirnya menghampiri Reyhan.


“Iya bang, bahunya lagi dipasang penyangga bahu dulu.”


“Syukur deh. Abang titip Yunda dulu ya. Kamu anterin dia pulang, ok.”


Farel mengedipkan sebelah matanya kemudian bergegas pergi sebelum Ayunda melihatnya. Ketika berada di dekat pintu masuk tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria.


“Maaf,” ucap Farel.


“Ngga apa-apa.”


Pria itu tersenyum ke arah Farel tapi kemudian senyumnya hilang ketika melihat wajah pemuda di depannya. Wajahnya seketika pucat, tubuhnya terhuyung seperti hendak jatuh. Dengan sigap Farel menangkap tubuh pria itu. Pria itu berpegangan pada leher Farel, dengan jari sedikit menarik rambut Farel.


“Bapak ngga apa-apa?”


“Ngga.. maaf sudah merepotkan. Siapa namamu nak?”


“Saya Farel pak. Mau saya antar ke dalam?”


“Tidak usah. Itu asisten saya sudah kemari.”


“Ya sudah, kalau begitu saya permisi.”


Farel bergegas pergi meninggalkan pria paruh baya itu. Seorang lelaki yang umurnya sedikit lebih muda menghampirinya.


“Gas, bawa rambut ini ke lab. Bandingkan dengan rambutku dan lakukan tes DNA.”


“Maksudnya?”


“Anak yang tadi menologku. Wajahnya mirip dengan Erika. Ada kemungkinan dia anakku. Bukankah waktu itu kamu bilang kalau Erika mengandung anakku?”


“Coba saja tes dulu.”


Pria yang bernama Bagas itu segera masuk ke dalam IGD diikuti pria yang tadi berpapasan dengan Farel.


Sementara itu, Ayunda sudah selesai dipasangkan penyangga bahu oleh Friska. Dengan sekali gerakan, Friska menyibakkan tirai. Reyhan segera menoleh ke arah blankar Ayunda.


“Sudah selesai?”


“Sudah dok.”


“Emang harus pakai ini kak?”


“Iya, untuk menahan pergerakan bahumu yang mengalami dislokasi.”


“Kalau tidur harus dipakai juga?”


“Iya dan lebih baik tidur telentang aja. Kamu tunggu sebentar ya, aku mau urus administrasi terus ganti baju. Habis itu aku antar kamu pulang.”


“Iya kak.”


Reyhan bergegas menuju meja administrasi. Ayunda hanya menatap punggung Reyhan yang bergerak menjauh. Kemudian dia dikejutkan dengan deringan ponselnya. Tertera nama Firlan di layar ponsel.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Yun, kamu di mana? Udah pulang belum?”


“Aku lagi di rumah sakit.”


“Rumah sakit mana?” suara Firlan terdengar panik.


“Ibnu Sina.”


Panggilan segera terputus. Ayunda menatap ponselnya, bingung karena Firlan tiba-tiba memutuskan panggilan. Lima menit kemudian Firlan tiba di rumah sakit. Kebetulan posisinya saat menelpon berada tak jauh dari rumah sakit tersebut. Dia menerobos masuk ke dalam IGD dan segera menuju blankar Ayunda. Wajahnya cemas melihat ke arah Ayunda.


“Kamu kenapa Yun?”


“Bang Ilan.. cepet amat sampenya.”


“Ngga penting itu. Kamu kenapa?”


“Tadi Aslan jatuh lagi main ayunan. Aku nahan dia biar ngga jatuh ke tanah, jadinya bahu aku yang bergeser.”

__ADS_1


“Terus?”


“Udah ngga apa-apa, udah diobatin sama kak Rey.”


“Bang Ilan.”


Firlan menoleh ke arah datangnya suara. Reyhan menghampiri blankar Ayunda setelah berganti pakaian.


“Yunda udah ngga apa-apa?”


“Ngga bang.”


“Udah boleh pulang?”


“Udah, ini baru mau aku antar.”


“Udah bareng aku aja. Kamu juga ngga bawa kendaraan kan?”


Reyhan mengangguk pelan. Saat dia akan membantu Ayunda turun dari blankar, Firlan sudah mendahuluinya. Dengan hati-hati Firlan membimbing Ayunda berjalan keluar IGD diikuti Reyhan dari belakang. Pemuda itu hanya menghela nafas pelan melihat kebersamaan Ayunda dengan Firlan.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kediaman Ayunda. Firlan mengantarkan Ayunda sampai ke depan pintu, sedang Reyhan memilih memperhatikan dari depan rumah. Melihat Ayunda sudah masuk ke dalam rumah, Reyhan melangkah menuju rumahnya.


Elang terkejut karena Firlan yang mengantarkan Ayunda bukan Reyhan. Irzal mengajak Firlan mengobrol lebih dulu sedang Elang bergegas keluar mencari keberadaan Reyhan.


“Rey!”


Reyhan menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Elang. Dia berbalik lalu menunggu Elang sampai di tempatnya.


“Kenapa jadi Ilan yang anterin Yunda?” tanya Elang tanpa basa-basi.


“Tadi bang Ilan nyusul ke rumah sakit. Ya udah kita pulang bareng, lagian aku ngga bawa kendaraan.”


“Kamu gimana sih. Kamu yang kerja, orang lain yang metik hasilnya.”


“Apaan sih mas.”


“Ck.. percuma aku tadi marahin Yunda kalau kamunya kurang gercep gini. Padahal tuh anak pasti udah terharu lihat kamu belain dia. Gesit dikit napa sih Rey.”


“Ya ampun, jadi tadi mas El sengaja marahin Yunda.”


“Ya iyalah. Demi kamu aku tega marahin dia. Jangan pake lama, cepetan bilang perasaan kamu ke Yunda sebelum disalip sama Ilan.”


Elang menepuk bahu Reyhan kemudian berlalu meninggalkan pemuda itu yang masih tercenung di tempatnya. Melihat gelagat Firlan tadi, Reyhan menyadari kalau saudara kembar Firly itu juga menaruh hati pada Ayunda.


🍁🍁🍁


Azkia baru saja selesai memakai krim malamnya ketika Elang masuk ke dalam kamar. Tak lama dia menyusul sang suami berbaring di kasur. Azkia menyandarkan kepalanya di dada Elang.


“Mas.”


“Hmm..”


“Kayanya bang Ilan juga suka sama Yunda deh.”


“Hmm..”


“Bang Ilan kan juga sahabat mas. Tapi kenapa mas kayanya lebih dukung Rey?”


Elang memiringkan tubuhnya hingga bisa menatap wajah cantik sang istri. Dirapihkannya anak rambut Azkia yang menghalangi wajahnya.


“Ilan juga baik, sama seperti Rey. Alasan mas lebih milih Rey, karena Rey lebih bisa menahan diri dibanding Ilan. Kalau Yunda bersama Rey, mas percaya kalau dia ngga akan berbuat yang macam-macam sama Yunda sebelum mereka halal.”


“Maksud mas?”


“Ilan itu sudah pernah pacaran dengan Salsa. Bahkan mas pernah lihat mereka ciuman. Mas takut kalau Ilan ngga bisa nahan diri dan menyentuh Yunda sebelum waktunya. Karena jujur, sulit sekali menahan godaan ketika berada dekat dengan perempuan yang kita cintai. Waktu itu mas juga sempat beberapa kali kan mau cium kamu.”


Azkia tersenyum mengenang saat dirinya dan Elang hampir tak bisa menahan diri ketika sedang berduaan.


“Reyhan belum pernah pacaran dan dia juga menjaga diri dari sentuhan perempuan karena papa Regan cukup ketat untuk urusan itu. Itulah alasan mas lebih mendukung Rey. Selain itu, sudah lama Rey memendam perasaannya sama Yunda. Di saat banyak perempuan yang mengejarnya, dia tetap menjaga perasaannya untuk Yunda. Padahal perempuan yang dia taksir ngga tahu apa-apa soal perasaannya.”


“Mudah-mudahan mereka berjodoh ya mas.”


“Aamiin..”


“Mas..”


Azkia menjeda ucapannya sejenak. Tangannya bermain di dada Elang. Melakukan gerakan-gerakan yang memancing hasrat suaminya.


“Kita promil lagi yuk.”


“Jangan sekarang.”


“Terus kapan?”


“Nanti kalau Aslan udah tiga tahun. Sekarang mas mau puas-puasin dulu nyusu sama kamu.”


Elang membuka kancing piyama Azkia satu per satu. Dua bukit kembar yang tak terbalut apapun segera menyembul keluar. Dengan cepat dia meraup bukit kembar itu membuat sang empu melenguh. Azkia pasrah saja membiarkan sang suami bermain-main dengan bukit kembarnya. Semenjak memiliki Aslan, Elang semakin ganas saja.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Tuh bang Rey udah dapat lampu hijau dari mas El, gercep.. gercep.. gercep..


Hari ini mamake cuma up satu bab karena ada kerjaan yg ngga bisa ditunda. Tapi jangan lupa buat tinggalin jejaknya ok😉**


__ADS_2