Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Truk Molen


__ADS_3

Minggu pagi, Ayunda sudah bersiap untuk jogging. Celana training hitam, sweater serta hijab berwarna abu melekat di tubuhnya. Semenjak pembicaraan analogi ayam dengan Reyhan, Ayunda mulai sepenuh hati memantapkan dirinya berhijab. Jika dulu karena keterpaksaan menuruti aturan sang ayah, kini melakukannya atas kesadaran untuk menjaga diri dan martabatnya sebagai perempuan.


Ayunda masih melakukan pemanasan dengan melenturkan otot-otot tubuhnya terlebih dulu. Tangan, kaki dan leher digerakkannya perlahan. Asik melakukan pemanasan, Ayunda tak menyadari kehadiran Firlan di dekatnya.


“Yun..”


Ayunda menghentikan gerakan memutar kakinya ketika mendengar suara Firlan di sebelahnya. Dia menoleh sebentar, kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya tanpa mempedulikan Firlan.


“Maaf ya soal kemarin di kantor.”


“Soal apa ya?”


“Soal Salsa. Gara-gara dia, aku ngga jadi bantu kamu nyusun laporan.”


“Oh... kirain soal apa. Ngga usah merasa bersalah gitu bang. Masih ada kak Kia, mas El sama bang Farel yang bisa bantuin aku. Bang Gara juga pasti mau bantuin. Bang Ilan puas-puasin aja ketemu sama kak Salsa, kalian kan udah lama ngga ketemu. Selamet ya udah balikan sama kak Salsa. Saran aku, mendingan cepet diikat kak Salsanya sebelum pergi lagi.”


Ayunda nyerocos panjang lebar tanpa memberikan kesempatan pada Firlan untuk bicara. Setelah itu dengan santainya dia berlari meninggalkan Firlan. Tak tinggal diam, Firlan bergegas menyusulnya walaupun masih mengenakan sandal. Dia ingin segera meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


“Yun.. denger dulu.”


“Sssttt... kalau lagi lari jangan ngobrol, nanti susah atur nafas.”


Ayunda terus berlari dengan kecepatan sedang. Firlan mengikuti dari arah sampingnya. Sekilas diliriknya Firlan yang masih mengenakan kaos oblong, celana selutut dan sendal jepit. Ayunda berusaha menahan tawa melihat penampilan lelaki itu karena gengsi masih menguasai hatinya.


Mereka berlari menuju arah taman tempat biasa penghuni kompleks berolahraga pagi. Di taman tersebut juga tersedia trek untuk berlari, terapi kaki juga beberapa permainan anak seperti perosotan, ayunan dan jungkat-jungkit. Selain itu, setiap hari Minggu, ibu-ibu kompleks menggelar acara senam dengan mengundang guru senam profesional. Ditambah dengan pedagang kaki lima yang berjualan membuat suasana taman semakin ramai.


Keringat lumayan bercucuran dari tubuh Ayunda setelah berlari selama dua puluh menit. Kaos yang dikenakan Firlan juga sedikit basah. Ayunda beristirahat di salah satu bangku taman, sebelumnya dia membeli dua botol air mineral untuk dirinya juga Firlan. Dia tak sesadis itu membiarkan Firlan kehausan. Ayunda yakin sekali kalau Firlan tak membawa uang.


“Yun..”


“Hmm..”


“Kamu marah sama abang?”


“Ngga..”


“Kalau ngga, kenapa nyuekin abang terus.”


“Yunda cuma ngga mau dibilang pelakor. Kan bang Ilan udah balikan lagi sama kak Salsa.”


“Yun.. denger aku dulu.”


“Udah abang ngga usah jelasin apa-apa, Yunda ngerti kok. Kak Salsa itu kan cinta pertamanya bang Ilan, jadi wajar aja kalau bang Ilan belum bisa move on dari kak Salsa.”


“Yun... bisa diem ngga? Kasih abang kesempatan buat ngomong.”


“Kalau Yunda ngga mau, abang mau apa?”


“Abang bakal cium kamu di sini.”


Ayunda langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat, terlebih pandangan Firlan nampak serius melihat ke arahnya. Akhirnya Ayunda memilih untuk diam dan mendengarkan apa yang ingin lelaki itu katakan. Firlan menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.


“Salsa memang menemui abang, dan ya dia minta balikan tapi abang ngga mau. Udah cukup selama ini dia bermain dengan perasaan abang. Udah cukup abang jadi orang bodoh yang selalu menunggu dia.”


“Masa sih? Buktinya tadi malem mesra bingits,” sewot Ayunda. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya lagi.


“Terus abang harus gimana? Berbuat kasar sama dia? Ngusir dia? Kamu tahu sendiri di sana banyak tamu penting. Kalau cuma abang yang ada di sana, bisa aja abang langsung usir dia. Tapi masih ada papi dan mami yang harus abang jaga kehormatannya. Lagi pula ngga etis juga kalau abang berbuat kasar. Dia itu perempuan dan pernah menjadi bagian hidup abang jadi abang juga harus menjaga harga dirinya di depan semua orang.”


Ayunda diam seraya menundukkan kepalanya. Dia mendengar dan mencerna semua yang dikatakan Firlan sambil memandangi sepatu ketsnya. Dalam hati Ayunda membenarkan apa yang dikatakannya barusan. Dan itu seperti yang diucapkan Reyhan tadi malam. Aah.. kenapa Ayunda jadi kepikiran Reyhan.


“Terus?”


“Udah gitu aja. Abang anterin dia ke vilanya yang ada di Lembang.”

__ADS_1


“Terus nginep di sana gitu dan baru pulang shubuh tadi?”


“Astaghfirullah, ngga lah Yun. Abang anterin dia ke vila karena semua keluarganya lagi liburan di sana. Abang takut kalau diantar ke rumah atau apartemen dia akan berusaha melakukan sesuatu yang mencelakakan dirinya, ujung-ujungnya membuat abang bersalah dan ngga bisa lepas darinya. Kamu sendiri kemana sama Rey?”


“Cuma makan malam aja.”


“Emangnya kamu ngga makan waktu di hotel?”


“Ngga.. udah kenyang duluan lihat yang mesra-mesraan.”


Firlan mengulum senyumnya, gadis di sebelahnya ini sedang cemburu. Hati Firlan bersorak, ternyata benar kalau Ayunda menyukainya.


“Yun..”


“Hmm..”


“Lihat sini dong.”


“Apa?” Ayunda mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Firlan.


“I love you.”


BLUSH


Wajah Ayunda merona mendengar ungkapan cinta Firlan. Jantungnya berdegup kencang. Dalam waktu kurang dari sebulan, sudah ada dua pria yang menyatakan cinta padanya. Mimpi apa dia semalam, lelaki yang disukainya diam-diam baru saja menyatakan perasaan padanya. Baru saja dia akan menjawab pernyataan cinta Firlan, namun ingatannya kembali pada ucapan Reyhan semalam. Rasanya tak adil kalau Ayunda langsung menerima Firlan tanpa memberikan kesempatan pada Reyhan menunjukkan rasa cintanya.


“Yun.. kok diem aja?”


“Harus dijawab sekarang?”


“Iya dong.”


“Yunda pikir-pikir dulu ya bang. Yunda masih belum yakin sama perasaan bang Ilan. Takutnya Yunda cuma jadi pelarian abang aja. Bang Ilan juga harus yakinin hati abang, apa bener cinta sama Yunda atau masih ada sisa perasaan sama kak Salsa,” Ayunda beralasan. Padahal dia cukup penasaran dengan upaya Reyhan untuk menaklukkan hatinya.


“Ngga.. tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


“Beliin Yunda bubur. Yunda laper.”


Firlan merogoh saku celananya. Saking terburu-burunya menghampiri Ayunda, dia sampai lupa membawa ponsel dan dompetnya.


“Duh abang lupa bawa dompet.”


“Ngga mau tahu. Pokoknya beliin Yunda bubur.”


Firlan berpikir sejenak. Kalau minta bubur dulu sama mang Dedi, pasti akan diberi karena sudah mengenal Firlan. Tapi mau taruh di mana mukanya, masa membelikan bubur buat calon pacarnya pakai cara ngutang. Kemudian Firlan menemukan ide, dia berdiri dari duduknya.


“Kamu tunggu sini bentar ya.”


Tanpa menunggu jawaban Ayunda, Firlan bergegas pergi. Setengah berlari dia menuju rumah Gara yang letaknya memang tak jauh dari taman. Di halaman rumah, terlihat Adit sedang duduk santai sambil berjemur. Buru-buru dia menghampiri om-nya itu.


“Assalamu’alaikum..” Firlan mencium punggung tangan Adit.


“Waalaikumsalam.. tumben pagi-pagi ke sini Lan.”


“Gara ada pa?”


“Gara sama Hanin lagi ke Gasibu. Katanya sih janjian sama Nara di sana.”


“Yaaahh..”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Pa.. minta uang dong.”


“Minta uang kaya anak kecil aja. Emang kamu ngga punya uang? Gaji kamu dipake apa hah?”


“Ya ampun pa. Dompetku ketinggalan, aku tadi lari bareng Yunda tapi lupa bawa dompet. Tuh anak minta dibeliin bubur.”


Adit memandangi Firlan dari atas sampai bawah. Dilihat dari penampilannya, tak menunjukkan tanda-tanda kalau anak ini berniat olahraga pagi. Namun tak ayal dia memanggil istrinya.


“Yang.. mama sayang..”


Firlan berdecih mendengar panggilan Adit pada Debby yang sok mesra. Tak lama Debby keluar dari dalam rumah. Dia cukup terkejut melihat kehadiran Firlan. Firlan menghampiri Debby lalu mencium punggung tangannya.


“Yang.. tuh anakmu minta uang jajan.”


“Hah?”


“Iya ma, minta uang dong. Ilan ngga bawa dompet nih.”


“Iih kamu tuh. Bentar.”


Debby masuk ke dalam rumah kemudian kembali keluar dengan selembar uang seratus ribu di tangan lalu memberikannya pada Firlan.


“Makasih mama sayang,” Firlan mencium pipi Debby.


“Eh jangan cium-cium istri papa ya.”


“Sok posesif.. ngga pantes pa.”


Firlan langsung ngeloyor pergi. Adit hanya tergelak melihat kelakuan keponakannya itu. Debby kembali masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan. Sebentar lagi pasti suaminya merengek minta makan.


Firlan kembali pada Ayunda seraya membawa dua mangkok bubur di tangannya. Dengan senang Ayunda mengambil bubur tersebut lalu memakannya dengan lahap. Bubur mang Dedi memang sudah terkenal kelezatannya di seantero kompleks.


Sehabis bubur, Ayunda kembali minta dibelikan otak-otak, cakwe dan martabak mini. Firlan sampai geleng-geleng, terbuat dari apa perut gadis ini. Terakhir, Ayunda minta dibelikan bobba.


“Yun.. itu perut kamu ngga meledak dari tadi makan mulu,” Firlan memperhatikan Ayunda yang sedang menyeruput bobba.


“Kenapa? Bang Ilan nyesel udah jajanin Yunda?”


“Ngga.. Cuma aneh aja. Biasanya kan kalau cewek suka jaga porsi makan karena takut gendut.”


“Yunda ngga takut gendut. Lagian udah ada orang yang janji mau nikahin Yunda walaupun Yunda gendut.”


“Oh ya? Siapa?”


“Kak Rey.”


Firlan terdiam, ada rasa tak suka sekaligus cemburu ketika Ayunda menyebut nama Reyhan. Padahal dia berharap Ayunda akan menyebut namanya.


“Abang juga akan tetap nikahin kamu walau badan kamu segede truk molen nantinya.”


“Abang!! Teganya doain Yunda kaya truk molen.”


Firlan tergelak, tangannya terangkat lalu mengusap puncak kepala gadis itu. Kemudian dia berdiri, dengan isyarat kepala mengajak Ayunda untuk pulang. Sebelum pulang, Ayunda menyempatkan diri membeli gulali baru kemudian melangkah pulang menuju rumahnya.


🍁🍁🍁


**Jiiiaaaah bang Ilan nembaknya juga sama kaya kak Rey, kaga romantis. Memang nasibmu Yunda😂


Bang Ilan harus tahu, ususnya Ayunda tuh panjangnya 200 km makanya dia mah masuk aja mau makan apapun🤣


Tetiba nih jempol khilaf, malah ngetik lagi. Mudah²an readers yg cuma baca doang tapi kaga ninggalin jejak ikutan khilaf dan sadar terus kasih dukungannya buat mamake.


Yang selalu kasih dukungan, terus dukung ya jangan kasih kendor😁🙏

__ADS_1


Kalau jempol mamake khilaf lagi, bisa jadi mamake up satu bab lagi buat kalian semua😘**


__ADS_2