
Sore harinya sesuai kesepakatan Ega datang menemui Dimas. Arini mempersilahkan Ega dan Dima masuk ke ruangan. Dimas keluar dari ruangan pribadinya setelah membersihkan diri. Hari ini dia sibuk meninjau cafe bersama Ringgo dan Arini. Dimas memilih duduk berhadapan dengan Ega.
“Sore pak Dimas,” sapa Dima.
“Sore. Mau membicarakan soal La Premiere ya?”
“Iya pak,” Dima sedikit tidak nyaman dengan suasana canggung di antara mereka. Ega masih belum berbicara sedikit pun. Dia memilih menyibukkan diri dengan ponselnya ketimbang menyapa Dimas.
“Hmm.. jadi begini pak. Salah satu klien kami ingin jamuan makannya diadakan di La Premiere dan meminta bapak sendiri yang memasaknya. Tapi menurut pak Ringgo bapak harus berangkat ke Menado.”
Dimas meminta ijin keluar. Dia menghampiri Arini ke meja kerjanya untuk mendiskusikan sesuatu. Arini tampak tidak setuju dengan keputusan Dimas memundurkan jadwalnya ke Menado karena itu akan berdampak pada jadwal mereka selanjutnya.
“Ngga bisa Dim, kalo lo mundurin jadwal lo kerjaan kita bakalan molor. Urusan cafe pasti bakal ketunda.”
“Gimana kalo Ringgo aja yang ke Menado?”
“Tapi pak Jimmy maunya ketemu sama elo. Inget loh dia kan investor restoran kita di sana.”
“Ya kalau gitu mundurin aja jadwalnya.”
“Lo ambil keputusan ini sebagai pemilik La Premiere apa sebagai bakal calon mantunya pak Ega?”
“Rin, mereka juga dalam keadaan terdesak. Ngga ada salahnya kan kalau kita bantu mereka.”
“Ya tapi kita juga ada masalah dan ini masalah serius Dim. Please deh sekali ini lo egois. Lo tuh kelewat baik jadi orang. Belum tentu juga mereka bakal ngasih lo restu sama Ily. Jadi please tolong pisahin masalah bisnis dengan pribadi.”
Arini memang mengetahui masalah yang dialami Dimas dan Firly dari anaknya. Dia cukup kesal dengan penolakan yang dilakukan oleh Ega dan Alea. Dan inilah yang membuatnya meminta Dimas tidak memenuhi permintaan mereka.
“Tolong jadwal ulang buat ke Menado ok.”
“Ya ampun Dim, gue ngga tahu deh mau ngomong apalagi sama elo. Setidaknya lo nego lah. Minta mereka restuin hubungan lo sama Ily.”
“Dilarang mencampuradukkan masalah pribadi dengan bisnis. Lo sendiri yang bilang.”
Sebelum Arini menyemburkan kembali kata-katanya Dimas bergegas masuk ke dalam ruangan. Posisi Ega masih tidak berubah, dia yang membutuhkan Dimas tapi dia tampak tak peduli. Dimas hanya tersenyum getir.
“Silahkan dijadwalkan dengan Mr. Lambert, saya akan memundurkan jadwal ke Menado.”
“Terima kasih pak Dimas. Terima kasih karena sudah meringankan beban kami. Sebenarnya masih ada empat klien kami yang akan kami jamu di La Premiere, kalau bapak berkenan bisa sekalian bicarakan jadwalnya.”
“Silahkan.”
Dima dengan cepat memberitahukan tentang jadwal jamuan klien mereka lengkap dengan hidangan apa yang akan disajikan nanti. Tanpa berpikir panjang Dimas langsung saja menyetujui semuanya. Urusan tempat yang sudah di booking sebelumnya biarlah menjadi urusan Ringgo dan Arini.
Pembicaraan selesai, kesepakatan pun sudah didapat. Dima melirik Ega yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia semakin tak enak hati pada Dimas. Beberapa kali dia berdehem memberi kode pada Ega, tapi atasannya itu tampak tak peduli.
“Baiklah pak Dimas, saya permisi dulu. Terima kasih atas pengertiannya. Mohon maaf hari ini pak Ega memang kurang enak badan. Bapak juga terkena sariawan, hampir di semua bagian mulutnya jadi tidak bisa bicara,” sindir Dima sambil menatap keki pada atasannya.
Dimas mengangguk seraya melemparkan senyum tipis. Setelah bersalaman Dima berdiri, diikuti oleh Ega. Sebelum mereka mencapai pintu, suara Dimas kembali terdengar.
“Bang, bisa kita bicara sebentar?”
“Saya tunggu di luar ya pak.”
Dima bergegas keluar ruangan. Dimas menghampiri Ega yang masih betah menutup mulutnya.
“Bang...”
“Terima kasih karena sudah menolongku kali ini. Tapi keputusanku ngga berubah Dim. Aku ngga mengijinkanmu menikahi Ily.”
“Bukan hanya soal Ily yang ingin kubicarakan tapi juga soal Ilan dan Ziel. Tolonglah lebih peduli dan peka lagi dengan anak-anak bang. Aku ngga tahu apa yang terjadi dengan kak Al, tapi sepertinya anak-anak kecewa dengan perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Aku minta maaf kalau terkesan ikut campur. Tapi aku cukup terkejut mendengar cerita dari El kalau Ziel memutuskan untuk berhenti bermain bulu tangkis. Dia juga kelihatan tertekan. Abang tahu kalau Ziel itu bukan anak cengeng, tahu dia menangis aku cukup kaget bang.”
__ADS_1
“Tahu apa kamu tentang keluargaku? Jangan sok mengguruiku. Aku cukup mengerti keadaan anak-anakku. Jangan karena kamu biasa mengasuh mereka saat kecil kamu mengetahui segalanya tentang mereka. Dan lupakan soal Ily, selagi aku memintanya dengan baik-baik.”
“Maaf kalau abang tersinggung. Aku juga minta maaf kalau dulu aku tidak memahami perasaan abang. Ternyata sekarang aku merasakan apa yang abang rasakan.”
“Apa maksudmu?”
“Akhirnya aku tahu bagaimana rasanya jadi abang. Mendapat tentangan dari orang tua wanita yang disukai. Seperti halnya abang yang bersabar dan bertahan, aku juga akan bersabar dan bertahan sampai abang dan kak Al merestui kami.”
Ega berdehem kemudian keluar dari ruangan tanpa berbicara lagi. Dimas menatap kepergian Ega dengan mata sendu. Mendapat penolakan dan penghinaan dari orang terdekat sungguh-sungguh menyakitkan. Beberapa kali Dimas menepuk dadanya yang terasa sesak.
🍁🍁🍁
Malam hari di kediaman Adit. Gara sedang asik menonton televisi sambil tiduran dengan kepala berada di pangkuan sang mama. Adit yang keluar dari ruang kerjanya berdecak kesal melihat kelakuan anak semata wayangnya. Sudah bukan rahasia lagi kalau ayah dan anak ini kerap berebut perhatian Debby.
Adit menjatuhkan bokongnya di samping sang istri lalu merangkul bahunya mesra. Gara yang tak terima, bangun dari tidurnya lalu memeluk pinggang mamanya. Adit melepaskan tangan Gara dari pinggang istrinya, tapi Gara malah mempererat pelukannya. Debby yang kesal dengan kelakuan keduanya segera menghadiahkan jeweran di telinga mereka.
“Aaaaawwww,” pekik Adit dan Gara bersamaan.
“Bapak sama anak udah kaya Tom and Jerry. Yang muda ngeyel, yang tua ngga tahu diri,” sembur Debby. Namun dua lelaki yang sangat dicintainya itu hanya melemparkan cengiran kuda.
“Pa, Gara mau nagih hadiah.”
“Hadiah apaan?”
“Lah papa kan udah janji kalau IPK Gara bisa lebih dari standar yang papa kasih, Gara bakal dapet hadiah.”
“Heleh cuma lebih 0,03 doang bangga,” ledek Adit.
“Tetap aja sudah melebihi pa, dan papa harus menepati janji.”
“Emang kamu mau minta apa?”
Gara melepas tangannya dari pinggang Debby kemudian duduk tegak menghadap Adit. Wajahnya mulai terlihat serius. Debby yang gemas melihat tingkah anaknya, mengusap wajah Gara dengan tangannya.
“Pa, aku minta 3 hadiah.”
“Dih banyak bener.”
“Kan lebihnya 0,03 pa.”
“Kalau lebihnya 0,3 boleh bangga. Ini cuma 0,03 sombong bener,” Adit memang senang menjahili anaknya.
“Ya udah, papa kabulin. Emangnya kamu mau minta apa?”
“Satu, tolong bujukin tante Alea dan om Ega buat restuin hubungan Ily dengan om Dimas.”
“What??? Ily sama Dimas?” Debby dan Adit sama-sama terkejut. Mereka memang belum mendengar kabar soal pasangan berbeda generasi itu.
“Astogeh, bonyok gue kuper bin kudet. Berita seviral ini mereka ngga tahu.”
Gara menepuk keningnya. Sebuah jeweran kembali mendarat di telinganya, membuatnya kembali menjerit kesakitan. Adit mulai menangapi serius ucapan anaknya ini. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Gara.
“Maksud kamu Ily sama om Dimas pacaran gitu?”
“Ceritain yang jelas,” titah Debby yang juga mulai serius.
Berita ini benar-benar mengejutkannya. Dimas yang selalu menutup diri kini mulai membuka hatinya untuk wanita lain, tentu saja ini membuatnya penasaran.
Gara mulai menceritakan tentang hubungan Firly dan Dimas. Awal mula kedekatan keduanya terjalin, Firly yang mengejar-ngejar Dimas dengan bantuan Rena hingga akhirnya Dimas bertekuk lutut. Tak lupa dengan penolakan Ega dan Alea saat Dimas meminta restu mereka. Sampai pada sikap Alea yang melarang anak-anaknya berhubungan dengan orang-orang yang berkaitan dengan Dimas.
Adit menghela nafas panjang, kini dia mengerti sikap Ega yang enggan bertemu dengan Dimas kemarin. Debby menggeleng-gelengkan kepalanya, kalau tidak mendengar langsung dari mulut anaknya mungkin dia akan menganggap kabar itu hoax semata.
__ADS_1
“Aku ngga nyangka Ega sama Al bisa begitu. Harusnya mereka belajar dari pengalaman sendiri, ini malah mengulangi kesalahan yang sama.”
“Makanya mama sama papa tolong bicara sama mereka. Kasihan Ily juga om Dimas. Ngga ada yang salah kan dengan hubungan mereka? Om Dimas single, Ily juga. Om Dimas juga baik, perhatian dan sayang banget sama Ily. Aku percaya kok om Dimas bisa bahagiain Ily. Aku kecewa, cuma karena umur dan status om Dimas mereka ngga setuju? Emangnya duda satu anak itu aib apa?
Yang lebih parahnya tante Al ngejodohin Ily sama anaknya kolega om Ega. Dan laki-laki yang dijodohin itu punya track record jelek, dia terkenal playboy bin penjahat kelamin. El yang tahu soal dia karena mereka satu jurusan,” cerocos Gara panjang lebar.
“Nanti papa bakal ngobrol sama om Ega. Anak itu bener-bener,” Adit mendesis kesal.
“Alea emang berubah akhir-akhir ini bi. Sejak dia gaul sama gank sosialita yang dibawa sama mantan kakak iparnya itu, dia jadi berubah. Sama aku atau Sarah juga jadi jarang ketemu atau ngobrol.”
“Udah-udah.. sekarang fokus sama permintaan kedua aku,” Gara menginterupsi pembicaraan orang tuanya.
“Apa? Mobil?”
“Hmmm.. no.. no.. aku minta papa lamarin Rain buat aku.”
Uhuk.. uhuk..
Adit tersedak mendengar permintaan anaknya. Debby refleks menepak belakang kepala anaknya ini.
“Ngga ada! Masih kuliah udah minta kawin. Mau dikasih makan apa nanti anak orang?”
“Ily aja mau nikah, kenapa Gara ngga boleh?”
“Ily itu perempuan, suaminya yang akan menanggung semua kebutuhannya. Lagi pula om Dimas itu udah mapan, dia bisa memberikan kehidupan yang layak buat Ily. Nah kamu, kuliah belum beres. Belum bisa cari uang sendiri,” Debby gemas dengan kelakuan anaknya ini. Sejak kecil Gara memang sudah menyukai Rain.
“Dan belum tentu Rain mau sama kamu. Dari kecil kalian itu bareng terus, yang ada dia eneg lihat muka kamu hahaha.”
Gara mendengus kesal. Mulut papanya ini lancar sekali melontarkan ejekan untuk dirinya. Dia mencoba mencari dukungan pada Debby tapi sia-sia.
“Rain itu bukannya sama El,” terka Debby.
“Mana ada! El ngga suka sama Rain, si Rain juga sama,” sewot Gara.
“Ya udah, beresin kuliah kamu. Nanti papa bakal lamarin Rain buat kamu,” Adit mengalah dari pada melihat anaknya uring-uringan.
“Bener pa?” mata Gara nampak berbinar. Debby hanya memutar bola matanya. Dia tahu persis siapa lelaki yang disukai Rain, karena beberapa kali anak itu curhat padanya.
“Jangan terlalu ngarep Gara, nanti kamu patah hati,” nasehat Debby. Biar bagaimana pun dia adalah seorang ibu yang tak ingin melihat anaknya patah hati.
“Gara bakal kejar cinta Rain. Kalau Rain belum cinta, Gara bakal buat dia jatuh cinta sama Gara,” Gara optimis sekali dengan ucapannya.
“Iya.. iya.. yang penting beresin dulu kuliahmu. Terus apa permintaan ketiga kamu?”
Adit yang sudah lelah mendengar celotehan anaknya ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. Gara menyeringai licik pada kedua orang tuanya, setelah menarik nafas panjang dia membuka mulutnya.
“Permintaan ketiga.... Gara pengen punya adik.”
Bertepatan dengan itu Gara langsung ngacir meninggalkan mama dan papanya. Debby melemparkan bantal sofa pada anaknya dengan gemas. Adit memijat pelipisnya, Gara tidak pernah berhenti merengek minta diberi adik. Memangnya memberinya adik itu perkara mudah seperti membeli permen. Dasar Gara, anak gesrek titisan Adit dan Debby.
🍁🍁🍁
**Ampun Gara minta adik kaya minta permen. Gara kebalikan Elang nih. Klo Elang ngga mau punya adik lagi🤣
Buat penggemar Ri-Ri Couple mohon maaf belum nongol aja karena masih proses review pihak NT.
Terus dukung mamake ya
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Hatur nuhun😘😘😘**