
Tepat di belakang Azriel, Teddy ditemani istri dan Rendra masuk ke dalam ballroom. Mata Teddy berkeliling mencari keberadaan Fitria. Dia ingin diperkenalkan pada Farel. Entah mengapa dia tak bisa mendapatkan gambar Farel di mesin pencarian. Pria itu tak tahu kalau Elang sudah meminta Jayden menutup semua informasi tentang Farel berikut gambar dirinya.
Di atas panggung Irzal sedang memberikan ucapan perpisahan pada karyawan dan rekan bisnisnya. Secara resmi dia mengundurkan diri dari posisi CEO yang dijabatnya sekarang. Estafet kepemimpinan akan beralih pada sang putra, yakni Elang. Irzal meminta Elang naik ke atas panggung untuk serah terima jabatan secara simbolis.
Gemuruh tepuk tangan terdengar ketika dua pria yang memiliki kemiripan wajah 80% berjabat tangan setelah Irzal menyerahkan kotak beludru berisi kunci sebagai simbol penyerahan jabatan.
Setelah menyerahkan tampuk kepemimpinan pada sang anak, Irzal turun dari panggung. Memberikan kesempatan pada Elang untuk mengucapkan kata sambutan. Elang menerima mic dari MC kemudian berdiri di tengah panggung. Kata sambutan meluncur mulus dari mulutnya. Di akhir sambutannya, Elang memperkenalkan Farel yang akan menjadi wakilnya.
“Perkenankan saya mengenalkan orang yang akan membantu saya mengemban amanat memimpin perusahaan ini. Kepada kakak saya sekaligus wakil CEO Humanity Corp, Muhammad Farel Ramadhan dimohon kesediaannya naik ke atas panggung.”
Tepuk tangan kembali terdengar mengiringi langkah Farel naik ke atas panggung. Teddy terus maju mendekati panggung. Dia ingin melihat dengan jelas sosok pria yang dicarinya sedari kemarin.
Teddy terkesiap melihat pria yang berdiri berdampingan dengan Elang adalah pria yang menemuinya beberapa waktu lalu. Pria yang mengaku anak kandung dari adiknya, Erika. Pria yang dia perlakukan layaknya pengemis. Bukan hanya Teddy, istri dan anaknya pun ikut terkejut.
Mereka tak dapat dengan jelas mendengar apa saja yang kedua pria itu katakan di atas panggung. Ketiganya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lamunan mereka buyar ketika Irzal dan Poppy menghampirinya.
“Selamat datang pak Teddy. Maaf saya terlambat menyambut anda.”
Irzal mengulurkan tangannya kepada Teddy. Dengan kikuk Teddy menjabat tangan Irzal. Dari sudut matanya dia melihat Elang dan Farel turun dari panggung. Irzal melambaikan tangannya ke arah mereka. Dada Teddy berdebar kencang ketika Farel berjalan mendekat ke arahnya.
“Pak Teddy, perkenalkan anak-anak saya. Ini Farel anak pertama saya dan ini Elang adiknya. Kalau anak perempuan saya sedang bersama suaminya.”
“Fa..rel.”
“Apa kabar pak Teddy?”
Farel mengulurkan tangannya ke arah Teddy. Dengan sedikit bergetar, Teddy membalas uluran tangan Farel.
“Apa pak Teddy mengenal Farel? Sepertinya bapak terkejut melihatnya.”
“Ma.. maaf pak Irzal. Apa benar Farel anak bapak? Bukannya saya lancang, tapi beberapa waktu yang lalu dia datang menemui saya dan mengatakan kalau dia anak dari mendiang adik saya, Erika.”
“Farel memang memiliki dua orang ibu. Erika adalah ibu yang mengandung juga melahirkannya dan saya adalah ibu yang mengurusnya. Saya sangat menyayangi Farel, begitu pula dengan suami dan anak-anak saya. Kami tidak butuh ikatan darah untuk menjadikan Farel bagian dari kami.”
Teddy menelan ludahnya kelat mendengar kata-kata Poppy. Wajahnya sedikit pucat melihat tatapan tajam dari nyonya Irzal itu. Poppy menarik tangan Irzal meninggalkan Teddy. Dia takut tak bisa mengendalikan dirinya berhadapan dengan orang yang sudah menghina anaknya.
“Farel maafkan om... soal kejadian tempo hari.”
“Maaf pak Teddy, kita tidak punya hubungan apa-apa. Saya memang anak kandung dari ibu Erika. Tapi seperti yang bapak katakan, kalau tidak ada ikatan lagi di antara kalian. Lagi pula saya sudah memiliki keluarga lengkap yang sangat menyayangi saya. Saya sudah tidak peduli dengan keluarga kandung saya. Jadi, saya bukanlah keponakan anda. Kita hanya dua orang asing yang dipertemukan karena kepentingan bisnis. Bapak tidak perlu khawatir, saya akan bersikap profesional dalam kerjasama kita. Saya permisi dulu.”
Farel melangkahkan kakinya dengan tenang meninggalkan Teddy dengan sejuta penyesalannya. Elang tersenyum sinis pada Teddy, dia berhasil memberikan pukulan telak pada orang sombong itu. Tanpa berkata-kata Elang beranjak meninggalkan Teddy dan keluarganya.
Tak jauh dari sana Ara menyaksikan semua yang terjadi. Dia tersenyum puas melihat Teddy dibuat mati kutu oleh Poppy juga suaminya. Sepertinya Ara harus mengucapkan terima kasih pada Elang. Kalau bukan karena campur tangan sepupunya itu, mungkin Farel akan membiarkan saja orang sombong itu. Lamunan Ara buyar ketika Farel mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.
“Menikmati pertunjukkan hmm..”
“Pertunjukkan apa?”
“Kamu kan yang udah kasih tahu El soal kejadian di Jakarta,” Farel menyentil pelan kening istrinya.
__ADS_1
“Iya, aku puas si orang sombong itu kena batunya. Aku ngga rela ya suamiku dihina-hina. Kalau waktu itu abang ngga nahan aku. Aku pasti udah bejek-bejek mulut pedesnya itu.”
“Kalau kamu ngga berhenti ngomong, abang bakal sumpel mulut kamu pakai bibir.”
“Ish abang.. di kamar aja kalau mau sumpel pake bibir biar sekalian main kuda-kudaan.”
Ara menutup mulutnya untuk menahan suara tawanya keluar. Farel gemas sekali melihat sang istri yang bertambah mesum saja. Entah siapa yang sudah mengkontaminasi otak polosnya itu.
“Ara.”
Ara menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, begitu pula dengan Farel.
“Papa!”
Ara segera menghambur ke arah Dimas. Dipeluknya sang papa yang sudah sangat dirindukannya. Dari arah belakang muncul Gemma dan Gavin yang disusul oleh Firly.
“Mama Ily hamil lagi?”
“Ya ampun om, rajin banget,” ledek Farel.
“Papa!” Dimas menepak belakang kepala Farel.
“Papa... jangan pukul-pukul suamiku.”
“Cie suami.. jadi udah mengakui nih,” goda Dimas.
Wajah Ara memerah digoda oleh Dimas. Untung saja Gemma dan Gavin langsung mengajaknya berkeliling mengambil makanan. Ara terselamatkan dari rasa malunya.
Kartini, istri dari Teddy bergegas menghampiri Dimas. Dia memang penggemar chef terkenal itu. Tanpa malu Kartini mengajak Dimas berfoto. Firly hanya mendelik sebal melihat wanita itu memeluk pinggang sang suami. Farel mengusap punggung Firly seraya berbisik.
“Sabar mama mertua.”
“Dih gelay dengernya.”
Farel tergelak melihat ekspresi Firly. Namun tawanya hilang begitu melihat Teddy menghampiri Kartini dan Dimas. Mereka nampak berjabat tangan tanda perkenalan. Dimas memanggil Firly juga Farel.
“Kenalkan ini istri saya Firly, dan ini menantu saya Farel.”
Teddy kembali dibuat terkejut. Bukan hanya Irzal. Tapi Dimas juga menjadi bagian keluarga keponakannya itu. Teddy menjabat tangan Firly dengan cepat kemudian segera mengajak istrinya pergi. Dimas dan Firly yang tak tahu menahu hubungan Farel dan Teddy kebingungan melihat sikap mereka. Farel sendiri enggan menceritakan apa hubungannya dengan Teddy. Baginya, masa lalu dan keluarga kandungnya sudah tak penting lagi.
Kartini memandang kesal ke arah Firly yang membawa pergi Dimas. Dia juga semakin tak menyukai Farel.
"Cih, anak haram itu beruntung juga dipungut oleh Irzal, dijadikan menantu oleh chef Dimas. Pokoknya papa harus bisa dapetin proyek kerjasama dengan Humanity. Setidaknya anak haram itu harus berguna buat kita. Atau ancam saja untuk membuka status anak itu ke publik supaya Elang menyetujui kerjasama."
"Hmm.. ide bagus. Tapi kalau kita melakukan itu, kamu harus siap hidup sebagai gembel karena papa yakin Irzal tidak akan diam. Apalagi Elang, dari yang papa dengar, dia itu lebih kejam dari ayahnya. Bagaimana? Mama mau menjalankan rencana mama tadi?"
"Huh! Menyebalkan! Kenapa anak haram itu beruntung sekali. Rendra! Pokonya kamu harus dapet istri yang lebih dari Farel!"
Ayunda dan Reyhan yang kebetulan berada di dekatnya mendengar apa yang baru saja Kartini katakan. Dengan kesal, Ayunda mendekati wanita itu.
__ADS_1
"Maaf, tadi saya mendengar menyebut nama Farel. Kenalkan, saya Ayunda, adik dari bang Farel."
Ayunda mengulurkan tangannya pada Kartini, Teddy juga Rendra yang disusul oleh Reyhan. Rendra tertegun memandangi wajah cantik Ayunda. Namun dia segera mengalihkan pandangannya ketika mendapat tatapan tajam dari Reyhan.
"Saya peringatkan sama tante ya, jangan pernah berani mengganggu kakak saya. Sekali lagi saya dengar tante menyebut kakak saya dengan sebutan anak haram, saya akan membuat tante menyesal. Semoga mas El ngga mendengar apa yang tante bilang barusan. Kalau dia sampai tahu siap-siap saja mengalami nasib seperti Miracle Group!"
Setelah menebar ancamannya Ayunda menarik Reyhan pergi. Kartini bertambah kesal melihat sikap Ayunda padanya. Teddy mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya mereka baru saja masuk ke kandang binatang buas.
"Ayo kita pulang saja, sebelum ada orang lagi yang mengancam kita."
"Cih.. sombong benar anak itu! Harus dikasih pelajaran anak bau kencur seperti dia."
"Jangan macam-macam ma! Suami Ayunda adalah Reyhan, saat ini dia adalah komisaris di Rakan Putra Group. Jangan menambah masalah dengan mereka. Ayo pulang!"
Teddy menarik tangan sang istri keluar dari ballroom. Sebenarnya Rendra masih ingin berada di tempat ini tapi apa daya dia harus mengikuti kedua orang tuanya.
Sementara itu, di meja paling sudut, Regan, Irzal, Ega, Adit dan Nino duduk bersama sambil menikmati makanan. Seiring bertambahnya usia, kedekatan mereka semakin erat saja.
“Ngga kerasa ya mas, kita sudah bersama selama ini,” terdengar suara Irzal membuka pembicaraan.
“Iya. Aku beruntung bertemu dengan kalian. Sebagai anak tunggal, aku bahagia memiliki saudara seperti kalian.”
“Kita dipertemukan oleh takdir,” sahut Adit.
Semua terdiam mengenang awal-awal pertemuan mereka dulu. Bersama-sama saling membantu mengatasi permasalahan yang terjadi hingga mempererat hubungan dengan mempersatukan anak-anak mereka dalam ikatan pernikahan.
“Zal, dulu kamu menjaga Sarah untukku sebelum kami bersatu lagi. Kalau aku pergi lebih dulu, aku titip Sarah dan anak-anak padamu. Begitu juga kamu Nin, aku titip Rain. Aku berharap Ega dan Adit juga mau menjaga mereka.”
“Mas ngomong apa sih,” protes Ega.
“Aku juga mas. Kalau aku lebih dulu dipanggil, aku titip Poppy dan anak-anak. Aku juga minta tolong sama kamu Ga, No, Dit.”
“Udah deh jangan ngomongin yang kaya gitu, bikin takut aja.”
“Umur manusia ngga ada yang tahu Ga. Cepat atau lambat kita pasti akan berpulang, hanya waktu dan tempatnya yang masih rahasia. Aku bicara seperti ini untuk jaga-jaga saja, seandainya aku pergi lebih dulu.”
“Iya mas aku ngerti. Tanpa mas minta aku pasti bakal jagain mereka. Tapi kalau aku boleh minta. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan kalian semua.”
Regan tersenyum ke arah Ega. Di antara mereka, Ega yang paling muda dan manja. Walaupun sekarang sudah berumur dan sudah mempunyai dua orang cucu, sikap manjanya tak pernah hilang jika sedang bersama dengan mereka.
Tak terasa waktu bergulir semakin malam. satu per satu tamu yang datang undur diri. Sebelum meninggalkan ballroom, Ega mengajak semua untuk berfoto. Panggung sudah penuh dengan keluarga Regan, Irzal, Ega, Adit dan Nino. Setelah memberikan aba-aba sang fotografer mengabadikan foto keluarga besar Ramadhan.
Baik Regan, Ega, Adit atau Nino tidak keberatan menyebut mereka bagian keluarga Ramadhan. Karena mereka adalah anak-anak ummi, wanita berhati besar yang menyayangi mereka dengan tulus. Wajah bahagia terekam dalam jepretan kamera. Berharap gambar yang diambil bisa menjadi bukti kenangan indah kebersamaan mereka.
🍁🍁🍁
**Aaiihh.. mamake sedih, cerita ini sudah mendekati garis finish🤧
Hanya tinggal beberapa episode lagi, mamake harus mengucapkan selamat tinggal sama mereka🥺
__ADS_1
Tapi tenang aja, mamake bakal hadir lagi dengan karya selanjutnya😘**