Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Gathering


__ADS_3

Reyhan baru saja berganti pakaian di loker ketika ponselnya bergetar. Tertera nama ‘papa’ di layar ponselnya. Reyhan menarik nafas sebentar sebelum menjawab panggilan. Dia yakin akan segera menerima dampratan sang ayah. Reyhan menggeser icon berwarna hijau, saat ponsel menempel di telinganya.


“Rey! Di mana kamu?!”


“Di rumah sakit pa. Ini aku mau berangkat sekarang.”


“Cepat!!”


Panggilan pun berakhir. Reyhan mencari nomor pak Amin kemudian menelpon pria paruh baya itu untuk mengantar mobilnya.


“Halo pak Amin, tolong antarkan mobil saya. Saya tunggu di pom bensin dekat rumah sakit.”


“Baik mas Rey.”


Reyhan mengakhiri panggilannya kemudian bergegas pergi. Saking terburu-burunya dia tak sempat membalas sapaan Friska padanya. Tanpa menggunakan helmnya, Reyhan memacu motornya menuju pom bensin yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dari rumah sakit.


Reyhan memasuki area SPBU, langsung menuju toilet yang berada di bagian dalam SPBU. Tanpa disadari dia melintasi Ardi yang sedang mengisi angin ban mobilnya. Ardi yang mengenali motor Reyhan langsung mengikuti Reyhan dengan pandangan matanya. Tak lama berselang Audi Sport yang dikendarai pak Amin melintasi Ardi kemudian berhenti di dekat Reyhan.


Pak Amin bergegas turun dari mobil, kemudian mengeluarkan tuxedo yang tergantung di bagian belakang mobil. Reyhan menerima tuxedo beserta kunci mobil dari pak Amin. Dia juga memberikan kunci motor pada pria paruh baya tersebut. Tak lama pak Amin berlalu menggunakan motor Reyhan.


Reyhan masuk ke dalam toilet. Lima menit kemudian dia keluar dengan mengenakan tuxedo yang tadi diterimanya. Mulut Ardi menganga melihat penampilan Reyhan yang begitu tampan dan gagah dibalik tuxedo berwarna hitam itu. Keterkejutannya masih berlangsung ketika melihat Reyhan menaiki mobil sport tersebut.


Melihat hal mencurigakan dari teman seprofesinya itu, jiwa kepo Ardi meronta. Dengan cepat dia menaiki mobilnya kemudian mengikuti mobil Reyhan. Ardi terus menempel pada mobil yang dikendarai Reyhan. Sepertinya Reyhan juga tidak menyadari Ardi tengah mengikutinya.


Mobil yang dikendarai Reyhan memasuki pelataran parkir hotel Prama kemudian berhenti di depan lobi. Reyhan keluar kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet. Ardi pun melakukan hal yang sama karena tak ingin kehilangan jejak temannya itu.


Reyhan terus berjalan menuju ballroom. Ardi tetap mengikuti sambil matanya melihat-lihat sekeliling. Kemudian pandangannya tertuju pada Rain yang bersama Akhtar hendak memasuki ballroom. Segala macam pikiran berkecamuk dalam diri pemuda itu.


Set dah si Rey, bela-belain sewa mobil sama tuxedo cuma buat ketemu bu Rayna. Ngga bisa didiemin nih. Bisa-bisa karir tuh anak hancur sebelum berkembang.


Ardi mengambil langkah panjang untuk menghentikan temannya itu. Di depan pintu masuk dia melihat Regan berdiri menghadang Reyhan. Ardi menelan kelat ludahnya melihat pemandangan di depannya. Tapi demi menyelamatkan hidup dan karir Reyhan, Ardi memberanikan diri mendekat.


“Dasar anak nakal, dari mana saja?!” sembur Regan.

__ADS_1


Regan kesal karena beberapa tahun belakangan Reyhan kerap mangkir dari acara gathering ini. Ada saja alasan yang dikatakannya. Tapi tidak dengan tahun ini. Reyhan akhirnya setuju untuk datang. Bukan karena omelan sang papa tapi karena dia tahu, Ayunda juga ikut menghadiri acara tersebut.


“Tadi habis ngecek pasien dulu pa.”


“Cepat masuk, ada beberapa orang yang harus kamu temui. Kakakmu juga sudah datang.”


Reyhan mengangguk kemudian mengikuti langkah Regan memasuki ballroom. Ardi yang tadi posisinya sudah dekat menghentikan langkahnya ketika mendengar perbincangan keduanya. Beberapa kali dia mengorek telinganya, untuk memastikan kondisi telinganya baik-baik saja dan apa yang didengarnya tadi benar adanya.


Jadi si Rey anaknya dokter Regan? Kenapa gue ngga ngeh ya, kan muka mereka mirip banget. Ya ampun selama ini gue udah tertipu. Terus bu Rayna berarti kakaknya si Rey. Sue bener tuh anak bener-bener nipu gue.


Sambil mendengus kesal Ardi keluar dari hotel. Selama ini dia kerap mengkhawatirkan hubungan terlarang antara Reyhan dengan Rayna yang ternyata itu hanya keisengan mereka saja. Ardi benar-benar telah dikadali oleh temannya itu.


Awas ajo lo Rey. Besok gue bakal bikin perhitungan sama elo.


🍁🍁🍁


Ayunda duduk menyendiri di meja paling sudut seraya memandangi lalu lalang orang di depannya. Matanya memperhatikan ayah dan kedua kakaknya yang asik bercengkrama dengan para koleganya. Sedari tadi dia belum melihat keberadaan Firlan.


Dari arah pintu masuk Ayunda melihat Firlan masuk beserta Ega dan Alea. Tak ada Azriel di sana, karena sahabatnya itu tengah berada di Perancis untuk mengikuti turnamen French Open. Karir Azriel sebagai atlet bulu tangkis kian meroket. Kini dia menyandang gelar tunggal putra nomor dua dunia.


Mata Ayunda terus mengikuti pergerakan Firlan sedang menemui para koleganya. Sesekali dia berhenti untuk berbincang sejenak. Tiba-tiba datang sosok yang tidak ingin Ayunda lihat. Dari arah pintu masuk muncul Salsa menggunakan long dress press body berwarna maroon dengan belahan hingga ke paha. Rambut panjangnya dicepol sederhana hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Beberapa lelaki yang dilintasi langsung melihat ke arah wanita itu. Sungguh penampilan Salsa terlihat begitu seksi dan menggoda. Stileto yang digunakannya terdengar mengetuk lantai yang diinjaknya. Kaki jenjangnya melangkah mendekati Firlan yang berdiri tak jauh di depannya. Begitu berada di samping Firlan, dengan cepat Salsa memeluk lengan Firlan membuat pemuda itu terjengit.


Firlan menatap kesal ke arah Salsa yang hanya dibalas dengan senyuman tanpa dosanya. Sebelum lelaki itu mengusirnya, buru-buru Salsa memperkenalkan diri pada kolega Firlan. Beberapa kali Firlan menarik nafas panjang untuk meredam amarah yang menguasainya. Dia mencoba bersabar dengan sikap Salsa, karena tak mungkin berbuat kasar pada mantan kekasihnya ini. Mau taruh di mana kehormatan keluarganya jika terjadi kegaduhan di tempat seperti ini.


Mata Ayunda memanas melihat pemandangan menyakitkan itu. Ingin rasanya dia pergi dari neraka ini, namun tak berani. Bisa-bisa Poppy menceramahinya panjang lebar. Ayunda menundukkan pandangannya, memilih mengalihkan mata dan pikirannya dengan berselancar di dunia maya.


Di sudut lain, setelah berkenalan dengan beberapa kolega Regan, akhirnya Reyhan dapat melepaskan diri dari papanya itu. Dia menuju sebuah meja yang menghidangkan minuman lalu mengambil segelas orange juice dingin. Reyhan duduk di salah satu kursi seraya menghabiskan minumannya.


Hampir saja dia tersedak ketika melihat Firlan tengah berjalan bersama dengan Salsa. Dengan cepat pandangannya beredar ke seluruh penjuru ruangan, mencari keberadaan Ayunda. Reyhan menemukan Ayunda tengah duduk sendiri di sebuah meja paling sudut. Dengan cepat dia menghampiri gadis tersebut.


“Ay..”

__ADS_1


Ayunda mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Reyhan berdiri di samping Ayunda. Untuk sejenak Ayunda terpana melihat penampilan Reyhan yang nampak gagah dalam balutan tuxedo.


“Ngapain sendirian di sini?” Reyhan menarik kursi di samping Ayunda.


“BT aja. Mas El sama kak Kia, bang Farel sama ayah. Bunda juga asik banget ngegosip sama mama Sarah juga mama Debby.”


Reyhan tertawa kecil mendengarnya. Ayunda melirik ke arah Reyhan. Malam ini, pemuda itu terlihat begitu tampan di matanya. Reyhan menyadari lirikan Ayunda dan sedikit membuatnya salah tingkah. Sesekali dia berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


“Ay.. kita pergi yuk. Aku juga BT di sini. Mending disuruh seharian di ruang operasi dari pada dateng ke acara kaya gini.”


“Aku sih mau aja kak, tapi takut dimarahin bunda sama ayah.”


“Tenang aja, aku yang bakal minta ijin.”


Tanpa menunggu jawaban Ayunda, Reyhan bangun dari duduknya. Dia bergegas menemui Irzal, berbicara sebentar dengan sahabat papanya itu. Terlihat Irzal menganggukkan kepalanya. Setelah mendapat ijin dari Irzal, Reyhan kembali menghampiri Ayunda.


“Ayo Ay.”


Mata Ayunda nampak berbinar, tanpa menunggu lama dia segera bangun lalu berjalan bersama Reyhan keluar dari ballroom. Mata Firlan terus memandangi punggung Ayunda yang menjauh. Walau kesal, tapi dia tak berdaya mencegah kepergian gadis itu karena Salsa terus saja menempel padanya.


“Ayo kita pergi Sa,” ajak Firlan.


“Ayo.”


Salsa begitu bahagia begitu Firlan mengajaknya pergi. Sambil terus menggamit lengan Firlan, Salsa mengikuti langkah mantan kekasihnya itu. Senyum bahagia tercetak di wajahnya, merasa telah berhasil menalukkan kembali cinta masa lalunya.


🍁🍁🍁


**Yakin nih pendukung Rey sama Ay seneng banget. Tapi tak semudah itu Marisol hahaha..


Mamake lagi jadi tokoh antagonis yang ada di sinetron²🤭


Biar jadi protagonis lagi, kasih dukungan dulu dong. As always like, comment and vote jangan lupa untuk diriku😉**

__ADS_1


__ADS_2