
Ballroom Humanity Corp yang disewa untuk pelaksanaan konferensi pers sudah dipenuhi wartawan yang diundang. Para kuli tinta itu mulai menyiapkan alat perekam dan juga laptop mereka untuk menulis secara langsung apa yang akan disampaikan oleh pemegang saham terbesar di Rakan Putra Group dan juga Direktur Utama Traum Design. Damar yang ditunjuk mengatur jalannya acara memberikan pengumuman kalau konferensi pers akan segera dimulai. Suasana yang semula riuh perlahan mulai mereda.
Pintu terbuka, Regan, Nino, Ridho dan Rain memasuki ruangan dan menempati kursi yang telah disiapkan sebelumnya. Posisi Rain berada di antara Regan dan Nino. Ridho yang bertindak sebagai moderator mulai membuka jalannya konferensi pers.
“Selamat siang bapak ibu sekalian. Kehadiran kami di sini untuk mengklarifikasi pemberitaan tentang adanya konspirasi terselubung berkaitan dengan GC Group dan upaya mendeskreditkan bapak Tombak tidak benar adanya. Bukti-buktinya dapat bapak, ibu lihat di lembar press release yang telah kami berikan.”
Ridho membuka acara dengan mempersilahkan para wartawan membaca lembaran press release yang telah mereka buat berupa pernyataan sangkalan berita yang beredar belakangan ini berikut bukti-bukti terkait.
“Bisa bapak dan ibu lihat sendiri kalau tuduhan itu tidak benar adanya. Bahkan pihak kami yang sangat dirugikan dalam hal tersebut. Jika ada hal yang ingin kalian tanyakan, kami persilahkan.”
Beberapa wartawan mengangkat tangannya meminta kesempatan untuk bertanya. Ridho menunjuk seorang wartawan pria berusia muda untuk bertanya lebih dahulu.
“Bagaimana dengan informasi tentang latar belakang Akhtar yang bapak Regan sampaikan pada pak Tombak apakah betul untuk menggagalkan pernikahan Akhtar dengan Chalissa dan mencegah Traum Design bekerjasama dengan Golden Chains Group?”
Ridho menoleh ke arah Regan, pria itu tampak begitu tenang dan menganggukkan kepala pertanda setuju untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan santai Regan mengambil mic dan mulai berbicara.
“Saya memang sudah lama tahu tentang latar belakang Akhtar, karena saya yang membantu saudara Nino mencari keberadaan orang tua kandung Akhtar. Tapi bukan berarti saya yang telah memberikan informasi tersebut pada bapak Tombak.”
Suasana sedikit ricuh karena jawaban Regan tentu saja tak sesuai dengan prediksi para pencari berita tersebut. Sebagian dari mereka sudah termakan berita yang disebarkan oleh Chalissa juga Tombak.
“Kalau bukan anda lalu siapa yang telah membocorkan berita tersebut?”
“Silahkan kalian tanya sendiri pada yang bersangkutan. Itu tidak ada hubungannya dengan kami.”
“Bukankah anda sengaja mengabarkan berita tersebut supaya bapak Tombak membatalkan pernikahan Chalissa dengan Akhtar sehingga anda bisa menikahkan putri anda dengan Akhtar seperti keinginan putri anda?”
Rain yang sedari tadi diam akhirnya tak tahan juga. Dengan kesal dia menggebrak meja hingga membuat yang hadir cukup terkejut. Rain berdiri lalu menghampiri wartawan yang baru saja bertanya.
“Pembatalan pernikahan Chalissa dengan Akhtar dilakukan oleh pihak calon perempuan lalu kenapa anda menyalahkan kami atas hal tersebut?”
“Karena anda sengaja melakukannya agar calon mertua Akhtar membatalkannya dengan membocorkan informasi tentang ayah kandung Akhtar yang ternyata juga hasil rekayasa anda. Bukan begitu nona Rayna?”
“Apa anda mempunyai buktinya?” tantang Rain.
“Hanya polisi yang bisa menghadirkan bukti di sebuah kasus.”
“Tapi seorang wartawan juga harus menulis berdasarkan fakta bukan asumsi semata. Saya meminta pertanggung jawaban atas pertanyaan anda barusan. Bisa anda berikan buktinya pada saya? Bukti kalau saya yang sudah memanipulasi informasi tentang Akhtar dan membuat bapak Tombak membatalkan pernikahan anaknya. Saya berikan waktu 1x24 jam untuk membawakan bukti itu ke hadapan saya. Jika tidak bersiaplah, saya akan menuntut anda juga media tempat anda bernaung.”
“Anda mengancam saya nona Rayna? Anda sadar sedang berhadapan dengan siapa? Bahkan pererintah pun tidak bisa membungkam kebebasan pers yang kami miliki tapi anda begitu sombong sekali.”
“Saya tidak mengancam, saya menuntut bukti! Sebagai wartawan anda seharusnya memberitakan sesuatu secara cover both side tapi yang terjadi kemarin sampai hari ini hanya pihak kami yang dipojokkan. Bahkan setelah ada konferensi pers seperti ini, pendirian kalian tidaklah berubah. Kalian adalah wartawan yang harusnya menulis berita berdasarkan fakta yang sesungguhnya tapi kalian menulis hanya berdasarkan apa yang kalian inginkan saja, apa saya salah?”
Ridho segera menghampiri Rain yang sudah hampir kehilangan kesabarannya berhadapan dengan salah satu pencari berita tersebut. Suasana kembali menjadi gaduh, dan di saat seperti itu pintu terbuka. Akhtar masuk ke dalam setengah berlari.
__ADS_1
“Rain!”
Semua menoleh ke arah Akhtar, bahkan Nino dan Regan dibuat terkejut dengan kehadirannya. Begitu pula dengan Rain yang hanya diam membeku melihat kedatangan suaminya. Di belakangnya Halbi berjalan dengan tenangnya.
“Rain.. kamu ngga apa-apa sayang?”
Akhtar membingkai wajah Rain dengan kedua tangannya. Tentu saja momen tersebut tak luput dari perhatian awak media. Beberapa dari mereka dengan cepat mengabadikan gambar mereka.
“Mas.. bagaimana mas bisa tahu?”
“Sssttt... maaf sudah membuatmu juga papa susah.”
Akhtar memeluk Rain tanpa mempedulikan banyaknya pasang mata yang melihat ke arah mereka. Jepretan kamera terus menerus mengabadikan kebersamaan mereka. Akhtar mengurai pelukannya, lalu menggenggam tangan sang istri. Dipandanginya wajah para pencari berita satu per satu.
“Saya tegaskan untuk terakhir kalinya, pembatalan pernikahan Chalissa dengan saya tidak ada hubungannya dengan istri atau mertua saya. Justru istri saya yang telah berkorban untuk menyelamatkan nama baik keluarga kami. Dan orang yang telah memberitahu saya perihal orang tua kandung saya tak lain adalah bapak Tombak yang terhormat. Karena tak ingin nama keluarganya tercoreng, dia membatalkan pernikahan kami.”
“Tapi anda tidak mencintai Rayna bukan? Anda dijebak untuk menikah dengannya?”
“Saya tidak mungkin menikahinya kalau tidak mencintainya.”
“Tapi anda sebelumnya akan menikah dengan Chalissa, bagaimana mungkin anda bilang menikahi Rayna karena mencintainya?”
“Kalau begitu anggap saja saya lelaki brengsek yang tidak bisa menjaga hati pada satu wanita. Atau bisa jadi wanita tersebut memang tidak layak mendapatkan cinta saya. Yang pasti saat ini dan seterusnya saya hanya mencintai istri sah saya, Rayna Kamaliya Vaughan. Saya harap tidak ada lagi pemberitaan miring tentang istri saya. Jika saya masih mendapatinya maka saya tidak segan-segan akan menuntut kalian.”
“Sayang, maaf mas harus melakukan ini untuk membungkam mereka semua.”
“Lakukan apa mas?”
Akhtar menarik tengkuk Rain lalu ******* bibir yang begitu dirindukannya akhir-akhir ini. Bibir yang hanya bisa dia lihat melalui panggilan video. Semua yang hadir dibuat terhenyak dengan ulah pasangan suami istri tersebut. Rain pun menyingkirkan rasa malunya dan membalas ciuman suaminya. Untuk sesaat keduanya tenggelam dalam ciuman berbalut kerinduan.
Regan dan Nino hanya mampu menunduk melihat tingkah anak-anak mereka. Ridho pun memilih untuk menyingkir, Halbi mengalihkan pandangannya ke arah lain. Akhtar mengakhiri ciumannya lalu menyatukan kening mereka.
“I miss you sweetheart.”
“I miss you too.”
“Shall we go now?”
Rain mengangguk, dengan cepat Akhtar menarik tangan Rain keluar dari ballroom diikuti jepretan kamera dari para pencari berita. Halbi segera berinisiatif untuk menenangkan suasana dibantu oleh Ridho. Regan dan Nino memilih meninggalkan tempat karena merasa tak ada yang perlu disampaikan lagi. Yang tersisa adalah kehebohan yang akan segera menggempar media lewat konferensi pers fenomenal ala Akhtar dan Rain.
🍁🍁🍁
Tanpa mempedulikan pemberitaan yang menghebohkan dunia nyata dan dunia maya, dua insan yang tengah dilanda asmara itu malah asik bergumul di atas kasur menuntaskan kerinduan yang terpendam selama beberapa hari ini.
__ADS_1
Desahan dan erangan keduanya terdengar memenuhi kamar junior suite room yang baru saja mereka sewa beberapa saat setelah mereka meninggalkan ballroom Humanity Corp. Akhtar sengaja menyewa sebuah kamar hotel demi menghabiskan waktu bersama sang istri.
Mereka berusaha saling memuaskan satu sama lain. Berkali-kali Akhtar membuat istrinya pelepasan begitu pula Rain yang tak henti memancing suaminya untuk terus bergelut di atas tubuhnya tanpa mempedulikan berapa banyak peluh yang mereka hasilkan. Akhtar melupakan rasa letih bekerja lembur di negeri orang demi bisa pulang lebih cepat menjumpai istri tercinta.
“Maasss..”
Rain memeluk erat punggung Akhtar saat pelepasan terakhirnya. Akhtar masih belum sampai ke puncaknya. Dia terus bergerak di atas tubuh Rain. Keringat membasahi tubuhnya seiring pergerakannya yang semakin cepat.
“Rain.. aah.. sayang..”
Tubuh Rain sudah tidak bertenaga lagi, entah sudah berapa lama pergulatan mereka namun sang suami masih belum mengakhirinya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki dia ikut bergerak membantu suaminya mencapai puncak. Hingga akhirnya lewat satu hentakan keras Akhtar mengakhiri semuanya.
Tubuh Akhtar ambruk di sisi Rain dengan nafas tersengal. Dilihatnya Rain yang pasrah tak berdaya terbaring di ranjang dengan mata terpejam. Akhtar menarik tubuh Rain hingga menghadap padanya. Dirapihkannya anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Kemudian dengan penuh kelembutan mendaratkan ciuman di keningnya.
“I love you Rain, love you so much.”
“Mas.”
“Hmm..”
“Kenapa bisa pulang lebih cepat?”
“Aku sengaja lembur siang malam supaya bisa pulang lebih cepat.”
“Lalu bagaimana mas bisa tahu soal konferensi pers?”
“Kamu bisa blokir hp mas tapi ngga dengan Halbi. Waktu mas ngga mendapatkan notif pesan yang sama seperti Halbi, mas curiga kamu pasti yang nyuruh si bule songong blokir nomor mas. Makanya mas buru-buru pulang.”
“Maafin aku mas.”
“Kali ini mas maafkan tapi ngga lain kali. Jangan pernah menghadapi apapun sendirian. Kita adalah pasangan layaknya tangan dan kaki yang berjalan dan berayun beringinan. Salah satu akan meraskan sakit jika salah satunya terluka, mengerti sayang?”
“Iya mas, maaf.”
“Tidurlah, maaf sudah membuatmu lelah.”
Rain menelusupkan wajahnya ke dada Akhtar dan tak lama kemudian dengkuran halusnya mulai terdengar disusul oleh Akhtar. Keduanya tidur sambil berpelukan.
🍁🍁🍁
**Aduh Akhtar pagi2 udah bikin hareudang🙈
Jangan lupa ya gaess ritual setelah bacanya di like, di comment dan di vote kalau masih ada.
__ADS_1
Happy weekend😎**