Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Penyelidikan


__ADS_3

Akhtar termenung di kamarnya sendirian. Bayang-bayang Rain terus saja mengikutinya. Kehilangan sosok istri yang begitu dicintainya benar-benar membuatnya terpuruk. Dia teringat percakapannya tadi dengan sang papa. Nino yang mengetahui persoalan anaknya, cukup kesal dengan sikap Akhtar.


Flashback On


Nino masuk ke ruangan Akhtar. Setelah mendengar kabar dari Regan, dia langsung mendatangi anaknya. Ingin rasanya dia menghajar anak bodohnya itu. Lagi dan lagi dia membuat menantunya menangis. Akhtar yang tengah melamun terkejut dengan kedatangan Nino. Pria paruh baya itu melambaikan tangannya meminta Akhtar duduk dengannya di sofa. Akhtar bangun lalu menghampiri Nino.


“Ada masalah apalagi antara kamu dan Rain?”


“Papa tahu dari mana?”


“Ngga penting papa tahu dari mana? Apa yang sudah kamu lakukan hah?”


“Aku juga bingung pa. Aku juga sakit, aku ngga tahu harus melakukan apa.”


Melihat wajah anaknya yang memelas membuat emosi Nino sedikit mereda. Dia merangkul pundak Akhtar, menepuknya pelan.


“Coba cerita sama papa, ada apa sebenarnya?” suara Nino mulai terdengar melunak.


Akhtar mengambil nafas panjang. Sebenarnya dia ingin menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan orang lain, terutama orang tuanya. Tapi sepertinya dia memang membutuhkan orang lain untuk meringankan bebannya. Akhtar mulai menceritakan apa yang terjadi. Nino menyimaknya tanpa ada keinginan untuk menyela.


Cerita Akhtar berakhir ketika mengatakan Rain meninggalkannya. Wajahnya tertunduk, punggungnya bergetar, dia tak bisa menahan tangisnya. Nino mengeratkan rangkulannya, anaknya terlihat begitu rapuh saat ini. Dia membiarkan Akhtar mengeluarkan semua kesedihannya. Setelah kondisinya tenang, Nino mulai berbicara.


“Papa tahu kamu pasti marah, kecewa dan sedih dengan apa yang menimpamu. Tapi coba kamu pikirkan lagi, apakah Rain bisa melakukan itu semua? Apa menurutmu Rain adalah perempuan yang bisa dengan mudahnya berpaling pada laki-laki lain, tidur dengannya demi mendapatkan seorang anak?” tak ada jawaban dari Akhtar.


“Papa tahu kamu pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan Lissa. Tapi Rain bukan Lissa. Rain adalah seorang wanita yang mampu menjaga kehormatannya. Jika selama ini dia selalu menutupi kelakuanmu di awal pernikahan kalian, apa mungkin dia mengkhianatimu?”


“Tapi hasil pemeriksaan itu ngga mungkin salah pa.”


“Hasil pemeriksaan itu mungkin ngga salah, tapi tidak menutup kemungkinan itu bukan milikmu. Apa kamu tidak merasa janggal dengan hal ini. Dari dua dokter kamu dinyatakan mandul tapi ternyata Rain hamil. Papa yakin betul anak yang dikandung Rain adalah darah dagingmu. Ada yang tidak beres dengan ini semua. Sepertinya ada orang lain yang berusaha memisahkan kalian.”


Akhtar tersentak, kepalanya seperti baru saja disiram seembar air dingin. Mengapa hal ini tak terpikirkan olehnya. Dia menatap wajah Nino lekat-lekat.


“Temui Rain sebelum semuanya terlambat. Cari tahu akar permasalahan ini. Kamu anak papa, kebanggaan papa. Papa yakin kamu bisa menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai kamu menyesal karena sudah melepaskan wanita baik seperti Rain.”


Flashback Off


Akhtar meremat rambutnya dengan kencang. Sedari sore dia berusaha menghubungi Rain, tapi selalu terhubung pada kotak suara. Akhtar bangun dari duduknya lalu bergegas keluar dari kamarnya. Tekadnya sudah bulat untuk menemui Rain malam ini. Apapun yang terjadi akan dia hadapi, termasuk kemarahan Regan sekalipun.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam ketika Akhtar sampai di kediaman Regan. Dengan tak sabar dia memencet bel rumah. Tak lama pintu rumah terbuka, muncul wajah Regan dari baliknya. Dokter bedah yang masih terlihat tampan ini baru saja kembali dari London sore tadi. Akhtar meraih punggung tangan Regan dan menciumnya.


“Pa, aku mau bertemu dengan Rain.”


“Rain tidak ada di sini.”


“Pa aku mohon, aku mau bertemu dengan Rain.”


“Kenapa baru sekarang? Kemana saja kamu selama ini? Kenapa baru sekarang kamu datang?” suara Regan terdengar begitu dingin.


“Pa...”


“Akhtar, ayo masuk dulu.”


Sarah muncul dari arah belakang. Akhtar mencium punggung tangan Sarah, kemudian mengikuti mertuanya itu ketika menarik tangannya. Regan menghela nafas panjang lalu menyusul mereka menuju ruang tamu.


“Bagaimana kabarmu?”

__ADS_1


“Seperti yang mama lihat.”


Sarah memperhatikan menantunya ini. Tak ada Akhtar yang selalu terlihat rapih. Keadaannya sungguh kacau, bahkan bulu-bulu halus kini sudah mulai tumbuh di wajahnya. Terlihat lingkaran hitam di matanya dan tubuhnya juga sedikit kurus.


“Aku mau bertemu Rain ma.”


“Rain tidak ada di sini,” tukas Regan.


“Rain sedang menenangkan diri. Nanti kalau keadaannya sudah membaik, mama akan membawanya menemuimu.”


“Maafin aku ma. Aku salah, aku sudah menyakiti hatinya.”


“Kamu memang selalu saja menyakiti hatinya dan membuatnya menangis.”


Sarah memegang tangan Regan, kepalanya menggeleng pelan. Akhtar duduk bersimpuh di hadapan Sarah dan Regan, matanya memanas dan perlahan buliran bening jatuh membasahi pipinya.


“Maafkan aku ma, pa kalau selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik untuknya. Aku selalu menyakitinya, maafkan aku. Tapi tolong pertemukan aku dengannya, aku ingin meminta maaf padanya. Aku sadar telah menyakiti hatinya dengan tuduhanku. Aku bodoh tidak mempercayai istriku sendiri. Pikiranku pendek, tidak mampu berpikir logis, aku benar-benar bodoh.”


Akhtar menangis tersedu di hadapan mertuanya. Sarah yang tak tega segera menarik tubuh Akhtar lalu mendudukkannya lagi di sofa. Akhtar menghapus airmatanya dengan kasar. Dia berusaha menguasai dirinya.


“Apa keadaan Rain baik-baik aja ma? Akhir-akhir ini dia ngga mau makan kalau ngga aku suapi. Harusnya aku sadar dengan kondisinya.”


“Dia sedang menenangkan diri. Mama harap kamu bisa bersabar menunggunya sampai tenang.”


“Sampai kapan pun aku akan menunggunya ma. Aku juga akan mencari tahu siapa orang telah berusaha memisahkanku dengan Rain.”


“Akhirnya kamu sadar juga kalau masalah kalian tidak sesederhana yang kalian pikir.”


“Iya pa. Aku benar-benar bodoh tak menyadarinya sama sekali.”


“Sekarang lebih baik kamu istirahat. Besok kita akan mencari tahu bersama.”


“Papa akan membantumu,” tegas Regan yang mengetahui arti tatapan Akhtar.


“Makasih pa. Besok aku akan ke sini lagi,” Akhtar berdiri, baru saja dia akan melangkah keluar. Suara Regan kembali terdengar.


“Kamu mau kemana? Ini sudah malam dan keadaan kamu juga kacau. Lebih baik kamu menginap di sini. Tidurlah di kamar Rain.”


Akhtar melihat lagi ke arah Regan lalu ke arah Sarah, wanita itu hanya menganggukkan kepalanya. Akhtar menuruti perkataan mertuanya. Dia melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


Aroma khas Rain langsung menyapa indra penciumannya ketika pintu kamar terbuka. Hati Akhtar semakin teriris, kerinduannya pada sang istri begitu mendera. Dia duduk di sisi ranjang, membayangkan terakhir kalinya mereka menginap di sini. Direbahkan tubuhnya di atas kasur dengan mata mengarah ke langit-langit kamar. Pikirannya menerawang membayangkan wajah cantik Rain tengah tersenyum padanya. Perlahan Akhtar menutup matanya.


🍁🍁🍁


Paginya setelah sarapan Regan mengajak Akhtar berbicara di ruang kerjanya. Sebelumnya dia meminta hasil pemeriksaan Akhtar. Bergegas Akhtar menuju mobilnya, mengambil hasil lab dari dua rumah sakit yang disimpannya di dashboard mobil kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


Akhtar menyerahkan hasil pemeriksaannya pada Regan. Untuk sesaat Regan membaca hasil pemeriksaan tersebut. Kemudian tangannya meraih ponsel untuk menghubungi Jayden. Dia meminta Jayden meretas rekaman cctv di rumah sakit Ibnu Sina dan juga Permata Medika dalam rentang waktu pemeriksaan sampai keluarnya hasil.


“Siapa dokter yang kalian datangi?”


“Dokter Trevor dan dokter Pramana.”


Regan manggut-manggut saja. Walaupun tidak terlalu mengenal dokter Trevor tapi dia adalah dokter di rumah sakit yang sama dengannya. Sedang dokter Pramana adalah teman seangkatannya dulu.


“Sekarang kita ke rumah sakit. Kita temui dokter Trevor lebih dulu. Kita mulai dari sana penyelidikannya. Kamu ngga ada yang penting kan di kantor?”

__ADS_1


“Ngga pa, aku udah ijin ke papa.”


“Ayo.”


Kedua pria berbeda generasi itu keluar dari ruang kerja. Mereka berjalan menuju mobil Akhtar yang terparkir di depan rumah. Tak lama kendaraan tersebut melaju menuju rumah sakit Ibnu Sina yang jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk mereka sampai di rumah sakit.


Ketika memasuki rumah sakit, di saat yang bersamaan Jayden mengirimkan rekaman cctv yang diminta Regan. Tak ada yang mencurigakan di rumah sakit Ibnu Sina. Namun tidak di rumah sakit kedua. Tampak perawat yang membantu dokter Trevor memberikan sebuah amplop kepada perawat dokter Pramana.


Regan dan Akhtar saling berpandangan. Kecurigaan mereka benar adanya. Ada pihak yang sengaja melakukan ini semua. Regan beserta Akhtar bergegas menuju ruangan dokter Trevor. Namun sesampainya di sana, mereka terkejut karena dokter Trevor sedang cuti dan perawat yang membantunya, suster Nia sudah mengundurkan diri seminggu yang lalu. Regan kembali menghubungi Jayden.


“Assalamu’alaikum pa.”


“Waalaikumsalam. Tolong cari perawat yang ada di cctv, di mana dia sekarang.”


“Yang mana pa?”


“Dua-duanya cari tahu keberadaannya dan sekalian cari tahu di mana dokter Trevor sekarang.”


“Siap pa.”


Regan memutuskan panggilan kemudian mengajak Akhtar menuju rumah sakit Permata Medika untuk menemui dokter Pramana. Jarak kedua rumah sakit itu cukup jauh, ditambah kemacetan yang terjadi, memakan waktu sekitar satu jam untuk sampai di sana.


Mereka sampai ketika dokter Pramana baru saja akan memulai jam prakteknya. Dokter Pramana segera mengajak Regan dan Akhtar ke ruangannya. Bertemu dengan teman seangkatannya yang sukses menjadi dokter bedah sekaligus pengusaha terang saja membuat dokter kandungan tersebut senang.


“Aku baru tahu kalau Akhtar adalah menantumu,” ucap dokter Pramana membuka percakapan.


“Langsung saja dok, takutnya pasienmu menunggu. Bisa saya bertemu dengan perawat yang biasa mendampingimu?”


“Suster Rani maksudnya?”


“Iya.”


“Dia sudah mengundurkan diri seminggu yang lalu. Aku juga kaget dengan keputusannya yang mendadak. Sudah empat tahun dia bekerja denganku dan kinerjanya sangat baik. Ada masalah apa kamu mau bertemu dengannya?”


“Ada yang ingin aku tanyakan terkait hasil pemeriksaan menantuku.”


“Maksudnya?”


Regan memperlihatkan rekaman cctv pada dokter Pramana. Dokter kandungan tersebut tampak terkejut, tak menyangka perawat kepercayaannya akan melakukan hal seperti itu.


“Maaf, aku benar-benar minta maaf. Tapi sungguh ini di luar pengetahuanku.”


“Ya aku tahu. Kalau suster Rani ada menghubungimu, tolong kabari.”


“Baiklah. Apa kamu mau diperiksa lagi?” tawar dokter Pramana pada Akhtar.


“Tidak usah, aku takut masih ada mata-mata lain di sini.”


“Baiklah. Aku doakan masalah kalian cepat selesai.”


Baik Regan, Akhtar dan dokter Pramana sama-sama berdiri. Mereka saling berjabat tangan sebelum Regan dan Akhtar keluar ruangan.


🍁🍁🍁


**Akhirnya bisa up juga. Maafkan mamake, karena kesibukan di RL, mamake belum sempat up tadi pagi.

__ADS_1


Menurut kalian siapa dalang yang udah nuker hasil lab Akhtar?


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, comment dan vote nya😉**


__ADS_2