
“El.”
Elang mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Farel yang barus saja masuk ke dalam ruangan. Farel duduk di kursi depan meja kerja Elang.
“Kamu serius mau gandeng PT. Alam Semesta buat ekspor hasil pertanian di Sinjay?”
“Mereka ngajuin proposal penawaran bang. Aku juga masih pelajari dulu. Masih belum fix juga, dalam tahap pertimbangan.”
“Bukannya kita udah kontrak dengan perusahaannya tante Putri ya?”
“Kalau tante Putri pegang wilayah Jawa Barat bang. Aku butuh yang lain buat di Sinjay.”
“Bener cuma itu alasannya? Kalau tambah sinjay doang, kayanya sanggup deh.”
Farel menatap curiga pada Elang. Dia tak bisa begitu saja percaya perkataan adiknya ini. Farel merasa kalau keputusan Elang ada hubungannya dengan pertemuan dengan Teddy tempo hari. Dia tahu betul bagaimana garangnya sang adik kalau ada yang berani menghina dirinya.
“Suudzon amat bang. Beneran itu alasannya. Seperti yang aku bilang, masih dalam pertimbangan. Abang pelajari aja dulu proposal mereka. Soal ini tanggung jawab abang ya. Virzha udah kasih tahu supaya mereka langsung berhubungan dengan abang.”
Farel menghela nafasnya, ternyata benar keputusan Elang berkaitan dengan dirinya. Sepertinya Elang ingin memberi pelajaran melalui dirinya. Tahu Elang keras kepala, Farel akhirnya mengikuti kemauan sang adik. Namun dia belum berpikir untuk bertemu Teddy lagi dalam waktu dekat. Mungkin Farel akan mengirim Fitria sebagai pengganti dirinya di awal-awal pertemuan.
🍁🍁🍁
Azkia dan Nara asik berbincang di ruang tengah lantai tiga. Istri dari Gara itu sedang menerangkan bagaimana meracik daun-daunan yang dibawanya jadi ramuan yang bisa merawat daerah intim wanita. Dia juga membawakan beberapa bunga yang diyakini mampu membangkitkan gairah sang suami. Ditambah dengan lilin aroma therapy.
Azkia kesal karena Elang belum saja memberinya lampu hijau untuk memiliki momongan lagi, padahal sebentar lagi usia Aslan tiga tahun. Walaupun Azkia tidak menggunakan alat kontrasepsi, namun Elang secara konsisten menjalankan KB alami pada istrinya. Dia tidak akan menyentuh Azkia selama empat hari sebelum dan sesudah siklus bulanannya. Elang hafal betul jadwal tamu bulanan Azkia. Dan ini terbukti efektif, sampai saat ini Azkia tidak kebobolan.
Atas usul Ayunda, Azkia meminta saran Nara yang merupakan titisan Rena. Anak pertama Rena itu ternyata memiliki bakat seperti ibunya. Benar saja, berbicara dengan Nara adalah keputusan yang tepat.
Setelah paham bagaimana cara meracik bahan-bahan yang diberikan Nara. Kini Azkia harus memikirkan bagaimana agar Elang jatuh dalam jebakannya. Tak dapat dipungkiri suaminya itu tipe orang yang teliti dan sulit sekali dikadali.
“Pake jebakan maut kak. Kira-kira mas El pulang jam berapa?”
“Katanya sih abis Isya.”
“Nanti pas mas El pulang, siapin air hangat di bathtub, terus masukin ramuan yang aku bilang tadi. Jangan lupa pasang lilin di kamar mandi. Di kamar juga jangan lupa dipasang. Kakak mandi pake ramuan yang bunga-bunga ini, sama jangan lupa di uap **** *-nya pake ramuan yang ini. Baju jahanamnya juga dipake ya kak. Pose seseksi mungkin di tempat tidur. Tapi yang lebih penting, Aslan diungsiin dulu hahaha...”
“Tenang soal Aslan mah. Nanti sore Aslan bakal dijemput bang Deski.”
“Sip lah kalau begitu. Gasskeun kak.. aku yakin mas El ngga bakalan nolak. Malah bisa-bisa ngga ngijinin kakak turun dari kasur.”
“Ngga apa-apa Ra. Demi bisa punya anak lagi.”
Kedua ini wanita itu terkikik geli. Perbincangan berlanjut membahas hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Nara juga mengatakan kalau sudah membuat ramuan untuk Hanin. Nara menyarankan Hanin membawa ramuan itu saat bulan madu.
“Yang bulan madu dikasih begituan, alamat ngga keluar dari kamar hotel Ra.”
“Hahaha... iya juga sih kak.”
“Eh kandungan kamu berapa bulan?”
__ADS_1
“Sekarang jalan empat kak.”
“Beda tiga bulan aja ya sama Yunda.”
“Iya kak. Harusnya nih si Ziel married terus bikin hamil bininya biar anak-anak kita bisa sobatan lagi.”
“Wah iya bener-bener. Sekarang Ziel lagi deket sama siapa?”
“Kata Khayra sih lagi naksir anaknya om Andri.”
“Serius? Pinter banget milihnya yang bening-bening.”
“Tapi belum tentu juga ceweknya mau kak hahaha..”
Perbincangan mereka terhenti ketika Nara mendapat telepon dari Gara. Suaminya itu sudah menunggunya di bawah. Mereka akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya.
Sepeninggal Nara, Azkia segera meracik bahan-bahan yang diberikan oleh Nara tadi. Azkia terus saja tersenyum membayangkan usahanya nanti kalau berhasil. Sekarang adalah masa suburnya, jadi akan langsung uji coba malam ini juga.
🍁🍁🍁
Kepulangan Elang disambut dengan senyuman manis dari Azkia. Diraihnya jas dan juga tas kerja suaminya. Setelah menaruh tas ke ruang kerja Elang. Azkia menyusul suaminya ke kamar. Elang nampak duduk di sisi ranjang sedang melepaskan dasi yang dikenakannya.
Azkia berdiri di depan Elang lalu membantu melepaskan dasi dari leher sang suami. Azkia sengaja berdiri dengan jarak yang begitu dekat. Elang mencium aroma lain dari tubuh sang istri dan aroma ini sangat memabukkan.
“Mandi dulu mas, aku udah siapin air hangat di bathtub. Nanti aku bantu gosok punggung mas.”
“Aslan nginep berapa hari di rumah papa?”
Elang mengangguk saja. Dia berdiri agar memudahkan Azkia melepaskan kemejanya. Lagi, Azkia sengaja mendekatkan dirinya pada Elang. Dia sengaja menyentuh beberapa bagian tubuh sang suami, tentu saja dengan gerakan tak sengaja yang sudah direncanakannya.
Elang mengendus aroma tubuh Azkia. Aroma itu mampu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Rasanya dia ingin menerkam sang istri saat ini juga. Namun nalar Elang terus mengingatkan dirinya untuk tidak menyentuh Azkia karena masih dalam masa subur. Elang bergegas masuk ke kamar mandi untuk menenangkan hasratnya. Dia juga menolak Azkia menggosok punggungnya. Bisa-bisa acara mandi mereka berlangsung lama.
Elang memejamkan matanya, mencoba merilekskan tubuhnya dalam rendaman air hangat. Lagi-lagi dia mengendus aroma yang begitu memabukkan. Pria itu tak sadar sudah masuk dalam jebakan sang istri. Bukannya tenang, Elang justru bertambah gelisah. Bayang-bayang Azkia terus saja menari-nari di pelupuk matanya.
Seberapa keras Elang mencoba, namun akhirnya takluk juga. Bergegas dia keluar dari bathtub untuk membasuh tubuhnya di shower. Pikirannya kini hanya tertuju pada Azkia, Azkia dan Azkia saja.
Selesai mandi, Elang mengeringkan tubuhnya dengan cepat lalu membalut pinggangnya dengan handuk. Begitu keluar, Elang terpaku melihat Azkia berbaring di ranjang dengan pose yang sangat menggoda. Ditambah tubuhnya terbalut lingerie berbahan sangat tipis yang memperlihatkan bagian inti tubuhnya yang memang tidak memakai da**man lagi.
Melihat sang suami hanya terpaku di tempatnya. Azkia turun dari ranjang kemudian menghampiri Elang. Suhu ruangan tiba-tiba menjadi sangat panas. Azkia mendekat lalu melingkarkan tangannya di leher Elang. Sambil berjinjit dia berbisik di telinga suaminya.
“Mau aku bantu berpakaian mas?”
Azkia menggigit kecil telinga Elang. Tubuh Elang menegang, dia seperti baru saja tersengat aliran listrik ribuan volt. Dengan cepat disambarnya bibir Azkia lalu me**matnya dengan rakus. Azkia langsung membalas ciuman Elang tak kalah ganas. Ciuman panas nan menggelora segera terjadi.
Elang mengangkat tubuh Azkia lalu menjatuhkannya ke kasur. Dengan tak sabar dirobeknya lingerie tipis itu lalu melahap bulatan kenyal yang selalu menggodanya. Azkia m**d*sah pelan. Demi apapun, de**han Azkia terdengar seperti permohonan agar Elang melakukan hal lebih.
Semua berjalan sesuai dengan prediksi Nara. Elang sudah tidak mempedulikan masa subur sang istri. Setelah puas mencumbu dan membuat Azkia pelepasan, Elang segera memasuki milik istrinya. Dia kembali dibuat terkejut.
“Sayang.. kenapa sempit banget?”
__ADS_1
“Mas suka?”
“Suka banget sayang.”
Elang memacu tubuhnya di atas Azkia. Beberapa kali terdengar racauannya. Dirinya semakin menggila merasakan milik Azkia yang menjepitnya erat. Dia dengan cepat meraih kepuasannya. Namun tak bisa berhenti begitu saja. Lagi dan lagi Elang menerkam tubuh istrinya.
Elang menjatuhkan dirinya di samping sang istri setelah lelah bermain. Mereka baru saja selesai setelah lewat tengah malam. Bahkan Elang sampai tiga kali menyemburkan lahar panasnya dalam rahim sang istri.
Azkia pun tak kalah letihnya, namun puas rencananya berhasil. Dia tidur dengan posisi membelakangi Elang. Azkia mengusap perutnya sambil bergumam pelan.
“Cepat hadir dalam perut bunda ya nak.”
Elang memeluk perut Azkia kemudian mendekatkan tubuhnya pada sang istri. Dikecupnya puncak kepala sang istri beberapa kali.
“I love you Az..”
“I love you mas El..”
🍁🍁🍁
Efek ramuan yang diberikan memang luar biasa. Sehabis shubuh Elang kembali menerkam istrinya. Tubuh Azkia benar-benar menjadi candu baginya. E**ngan, lenguhan dan d**ahan terus memenuhi kamar pasangan suami istri ini. Pukul tujuh lebih lima menit, Elang baru berhenti menggempur istrinya.
Tangan kekarnya masih saja melingkar di perut sang istri. Azkia berusaha melepaskan diri karena harus menyiapkan sarapan.
“Mas.. lepas dulu. Aku mau siapin sarapan. Mas juga mandi sana, udah jam tujuh lebih ini.”
“Mas udah telpon bang Farel. Semua urusan di kantor dia yang handle hari ini. Mas bakal kerjain sisanya di rumah. Mas masih belum puas sama kamu sayang.”
“Apa mas lupa kalau sekarang masa suburku? Kalau aku hamil gimana?”
“Kenapa bingung? Kamu hamil anak mas, sudah pasti mas akan tanggung jawab. Lagi pula udah waktunya Aslan punya adik.”
Senyum terbit di wajah Azkia. Diciuminya wajah suaminya sebagai bentuk terima kasih. Akhirnya Elang bersedia memiliki momongan lagi.
“Kamu sengaja kan jebak mas kaya gini, ayo ngaku?”
“Iya hehehe...”
“Tapi kalau jebakannya kaya gini mas suka. Lagi ya sayang, kamu harus tanggung jawab. Kamu sudah membangunkan singa tidur.”
“Siapa takut.”
Tentu saja Azkia menyambut senang ancaman Elang. Membayangkan rasa letihnya akan terbayar dengan kehadiran sang buah hati membuatnya siap melayani sang suami selama apapun.
🍁🍁🍁
**Siapa yang kangen pasangan ini🙋
Kalau mamake kangen mas El💃💃💃
__ADS_1
Semakin mendekat ke garis finish ya gaaeess.. selesai cerita ini In Syaa Allah akan meluncur cerita berikutnya. Buat penggemar Wild Romance, sabar ya, novel itu juga mau tamat sekarang lagi proses penggarapan🤗
Dukungannya jangan lupa ya😉**