
Tak puas hanya mendapatkan informasi dari suster yang dibayarnya, Chalissa memutuskan untuk melihat keadaan Akhtar secara langsung. Chalissa menutupi setengah wajahnya kemudian menuju lantai 11, tempat Akhtar dirawat. Dengan sabar dia menunggu Rain keluar dari ruang perawatan Akhtar yang tak pernah sepi penjenguk.
Setelah menunggu hampir dua jam lamanya akhirnya kesempatan itu datang juga. Para sahabat Rain pamit pulang. Ibu hamil itu pun memutuskan mengantarkan mereka sambil mampir ke kantin rumah sakit untuk membeli camilan. Tak ingin membuang kesempatan, Chalissa langsung masuk ke dalam kamar.
Ditatapnya wajah pria yang masih dicintainya itu. Hatinya menangis mengingat kecerobohan Didi hingga Akhtar yang harus terkena tusukan. Akhtar yang tidak menyadari kedatangan Chalissa, masih berbaring tenang seraya memejamkan mata. Tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya mudah merasakan lelah. Sedari pagi, sahabat dan rekan kantornya tak henti bekunjung.
Sementara itu Rain yang lupa membawa dompet harus kembali ke kamar. Pintu lift terbuka, hampir saja dia bertabrakan dengan seorang koas yang hendak memasuki lift. Koas tersebut memandangi wajah Rain sejenak, mencoba mengingat di mana dia pernah melihat wanita cantik tersebut. Tanpa mempedulikan koas tersebut, Rain melewatinya dan terus berjalan menuju kamar rawat suaminya.
Rain membuka pintu, matanya membulat melihat Chalissa yang hampir mendekati bed suaminya. Dengan cepat dia berjalan ke arah Chalissa lalu menarik tangannya. Refleks Chalissa melepaskan cekalan tangan Rain lalu mendorong ibu hamil itu. Untung saja Rain dapat menahan tubuhnya hingga tidak sampai terjatuh.
“Apa yang kamu lakukan di sini hah?”
“Aku hanya ingin melihat keadaan kekasihku.”
“Kekasih? Sadarlah Lissa, dia bukan kekasihmu lagi. Dia suamiku! Pergi!”
Mendengar suara ribut, Akhtar membuka matanya. Dia terkejut melihat istrinya dan Chalissa sedang bersitegang. Dengan susah payah Akhtar bangun dari tidurnya lalu turun dari bed. Dengan terseok-seok Akhtar berjalan ke arah dua wanita yang masih bersitegang dan belum menyadari pergerakannya.
“Rain, aku mohon lepaskan Akhtar. Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang akan menyayangimu dan anakmu dengan tulus. Tapi aku, hanya Akhtar yang bisa menerimaku apa adanya. Hanya dia yang mencintaiku dengan tulus.”
“Dasar gila! Kalau kamu memang mencintainya harusnya kamu tidak meninggalkannya saat akan menikah dulu. Harusnya kamu memperjuangkannya. Dan sekarang kamu mau aku meninggalkannya? Sampai dunia terbalik aku tidak akan melakukannya. Mas Akhtar adalah suamiku sampai maut memisahkan kami, ingat itu! Sebaiknya kamu pergi sekarang!”
“Jangan memaksaku berbuat kasar Rain. Aku pastikan akan mendapatkan kembali Akhtar apapun caranya. Harusnya kamu yang tertusuk saat itu, harusnya kamu mati saat itu juga!”
“Jadi kamu dalang dibalik penusukan itu? Dasar perempuan brengsek!”
Tak terima dengan kata-kata Rain, Chalissa mengepalkan tangannya lalu mengarahkan pada perut Rain. Di saat yang bersamaan Akhtar mendekat dan menghalangi Rain. Kepalan tangan Chalissa mendarat di luka bekas tusukan. Akhtar mengerang merasakan nyeri, lukanya kembali terbuka, darah merembes keluar membasahi perban yang membalut lukanya.
PLAK!!
Tamparan keras mendarat di pipi Chalissa hingga tubuhnya terhuyung. Sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah. Rain memapah Akhtar menuju bed. Tak terima diperlakukan kasar, Chalissa menarik rambut Rain dengan kencang. Sekuat tenaga Akhtar berusaha menjauhkan Chalissa dari Rain seraya menahan sakit di perutnya. Didorongnya tubuh Chalissa hingga tersungkur di lantai.
“Akhtar...”
“Jangan pernah berani menyentuh apalagi menyakiti istriku. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri kalau kamu berani membuatnya terluka!”
Mata Akhtar penuh dengan kobaran amarah. Sudah tak ada lagi sisa cinta di hatinya untuk wanita tersebut. Hanya kebencian dan kemarahan yang menguasai hatinya saat ini. Airmata Chalissa berlinang mendengar kata-kata Akhtar. Secepatnya dia bangun lalu menyerang Akhtar dan Rain dengan membabi buta. Akhtar melindungi Rain dengan tubuhnya tanpa mempedulikan lukanya yang terus mengeluarkan darah.
“Kalau aku tidak bisa memilikimu maka dia juga tidak bisa! Lebih baik kita mati bersama!”
Akhtar memegangi tangan Chalissa yang terus berusaha menyakiti Rain. Karena syok mendadak Rain merasakan sakit di perutnya. Dia merintih sambil memegangi perutnya. Mendengar rintihan sang istri, Akhtar menoleh hingga melonggarkan cengkeramannya. Hal ini dimanfaatkan Chalissa untuk melepaskan diri. Dengan kuat didorongnya tubuh Akhtar hingga menabrak sisi bed. Lalu merangsek ke arah Rain yang masih nampak kesakitan.
Chalissa mengepalkan tangannya erat kemudian hendak melayangkan tinjunya ke arah perut Rain. Akhtar bangun lalu memeluk Rain, pukulan keras Chalissa mendarat di punggungnya. Terdengar pekikan Rain saat melihat suaminya mendapat pukulan bertubi dari Chalissa.
“LISSA!!!”
Kebrutalan Chalissa terhenti ketika terdengar teriakan Nino. Secepat kilat Nino menarik Chalissa menjauh, mengunci kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Kalila dan Reyhan yang masuk bersamaan dengan Nino segera membantu Akhtar naik ke atas bed. Pakaian Akhtar sudah ternoda oleh darah dari lukanya yang terbuka.
“Rey, panggil papa!”
__ADS_1
Reyhan segera menghubungi Regan. Kalila membantu Rain duduk di kursi, sementara Nino menarik paksa Chalissa keluar dari kamar rawat. Chalissa terus meronta sambil berteriak, membuat semua orang yang ada di lantai itu melihat ke arahnya. Nino tak peduli, dia terus menyeret Chalissa masuk ke dalam lift.
Sekuat tenaga Chalissa berusaha melepaskan diri dari Nino, namun usahanya sia-sia. Nino menyeretnya keluar dari kotak besi itu sesampainya di lantai dasar. Ega yang hendak menjenguk Akhtar dibuat terkejut melihat keponakannya diperlakukan kasar oleh Nino.
“Mas, ada apa ini?”
“Ga.. urus keponakanmu ini engan baik. Dia mencoba mencelakai anak dan menantuku. Kalau bukan karenamu, aku sudah melaporkannya ke kantor polisi.”
Nino mendorong Chalissa ke arah Ega. Dengan sigap Ega menangkap tubuh keponakannya itu.
“Om tolong Lissa om. Lissa cuma mau Akhtar.”
“Lissa sadarlah, kamu sudah berbuat terlalu jauh. Ayo om antar kamu pulang.”
“Ngga mau! Aku ngga mau pulang. Aku cuma mau Akhtar!”
Ega tak punya pilihan selain menggendong Chalissa di pundaknya layaknya karung beras tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang dilewatinya. Dua orang tim keamanan yang selalu mengawal Ega dengan cepat membukakan pintu mobil untuk tuannya. Ega memasukkan Chalissa ke kursi penumpang kemudian ikut duduk di sampingnya. Sang supir yang telah siap segera menjalankan kendaraannya.
Reyhan dan seorang temannya memperhatikan dengan serius apa yang dilakukan Regan. Dengan cekatan dokter bedah senior itu menutup kembali luka Akhtar. Reyhan tak lupa memakai masker, seperti kebiasaannya ketika berdekatan dengan sang papa saat di rumah sakit. Temannya sendiri tak ambil pusing dengan penampilan Reyhan. Matanya terus memandangi Rain, Akhtar dan Reyhan bergantian. Dia adalah koas yang tadi bertemu dengan Rain di lift.
“Untuk sementara jangan banyak bergerak dulu. Ingat lukamu belum kering.”
“Iya pa.”
“Dan kamu Rain, apa perutmu masih sakit?”
“Ngga pa. Alhamdulillah udah ngga sakit lagi. Kayanya tadi aku shock aja makanya mendadak kram perutku.”
“Ngga usah ma. Aku baik-baik aja.”
Teman Reyhan yang bernama Aldi itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pikirannya terus menerka hubungan apa yang dipunyai Regan dengan Akhtar juga Rain. Setahunya, Rain adalah kekasih dari Reyhan.
“Bagaimana kalian sudah melihat tadi bagaimana cara menutup luka?” pertanyaan Regan sukses membuyarkan lamunan Aldi.
“Sudah dok,” jawab Reyhan dan Aldi bersamaan.
“Besok kalau ada pasien seperti ini, saya ingin kalian mencobanya.”
“Baik dok,” jawab keduanya.
“Papa tinggal dulu.”
Regan menepuk pundak Akhtar pelan. Dia memberi kode pada Nino untuk mengikutinya. Sementara suster yang mendampingi Regan segera membereskan peralatan yang tadi digunakan. Reyhan dan Aldi pun menyusul keluar. Aldi segera menarik Reyhan ketika sudah berada di luar.
“Eh yang anaknya dokter Regan itu pak Akhtar atau istrinya?”
“Kepo banget sih lo.”
“Eh, itu istrinya pak Akhtar kan yang waktu itu nemuin elo di kantin kan?”
__ADS_1
Reyhan terbatuk mendengarnya, ternyata temannya ini masih mengingat kekonyolan Rain saat itu.
“Wah gila lo. Lo selingkuh sama istri orang? Kalau dokter Regan sampe tahu, tamat riwayat lo. Mending ngga usah diterusin Rey, lo mau usaha lo selama ini sia-sia? Gimana kalau dokter Regan ngehancurin peluang elo buat jadi dokter? Sebagai temen, gua cuma mau ngingetin, berhenti sebelum elo menyesal. Ingat penyesalan itu selalu datang di akhir, kalau di awal pendaftaran namanya.”
Aldi menggelengkan kepalanya, kemudian berlalu meninggalkan Reyhan seraya menepuk-nepuk bahunya. Reyhan menghela nafas panjang. Karena ulah iseng sang kakak, temannya sampai salah paham seperti ini. Bahkan gosip dirinya menjadi berondong simpanan sudah menyebar di kalangan koas.
Sementara itu di dalam ruangan, setelah memastikan keadaan anak dan menantunya baik-baik saja, Kalila memutuskan untuk pulang. Dia ingin memberikan waktu bagi pasangan yang baru saja berdamai itu untuk menghabiskan waktu berdua. Sepeninggal Kalila, Akhtar meminta Rain naik ke atas bed.
“Sayang, sini tiduran sama mas.”
“Aku takut luka mas terbuka lagi.”
“Ngga akan sayang. Sini, mas pengen tidur sambil meluk kamu.”
Rain menuju bed kemudian naik ke atasnya. Ukuran bed yang cukup besar memungkinkan keduanya tidur bersama. Akhtar mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Tangannya mengusap perut sang istri yang belum terlalu menonjol. Bibirnya mengecup kening Rain penuh kasih sayang.
“Anak papa baik-baik aja kan?”
“Iya mas. Dia anak yang kuat.”
“Kapan kita bisa tahu jenis kelaminnya sayang?”
“Kalau kata dokter nanti kalau sudah lima bulan. Mas mau anak perempuan atau laki-laki?”
“Apa saja, yang penting anak kita lahir dengan kondisi normal, sehat dan tidak kekurangan apapun.”
“Kalau aku ingin anak perempuan mas.”
“Kalau anak kita perempuan, pasti cantiknya kaya kamu.”
“Mas, terima kasih. Sekali lagi kamu mengorbankan diri untuk melindungiku,” tangan Rain bergerak mengusap rahang Akhtar.
“Kamu istri mas. Sudah kewajiban mas melindungimu. Terima kasih kamu mau memberikan kesempatan kedua untuk mas. I love you.”
“I love you too mas.”
Akhtar mendekatkan wajahnya lalu menciumi wajah sang istri tanpa terlewat seinci pun. Terakhir dia membenamkan bibirnya ke bibir Rain. ******* dan pagutan langsung terjadi di antara keduanya. Akhtar melepaskan pagutannya lalu mencium kening Rain cukup lama.
“Tidur sayang, kamu pasti lelah.”
Rain menyurukkan kepalanya ke dada Akhtar. Aroma tubuh suaminya ini dengan cepat mengantarnya tidur. Akhtar tersenyum melihat Rain yang sudah tertidur pulas. Sesekali dirapihkannya anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. Puas memandangi Rain, Akhtar pun menutup matanya. Tak lama dengkuran halus terdengar, pertanda dirinya sudah masuk ke alam mimpi.
🍁🍁🍁
**Itu Lissa ganas juga ya kaya lagi kesambet jin ifrit😂
Kira2 apa yang bakalan terjadi sama Lissa ya🤔
Jangan lupa ya buat tinggalin jejak kalian, like, comment and vote nya selalu mamake tunggu, karena itu yang bikin mamake semangat untuk up tiap harinya😘😘**
__ADS_1