Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Romantisme


__ADS_3

Azkia terbangun ketika merasakan benda kenyal menyentuh wajahnya. Matanya terbuka dan mendapati suaminya tengah menciuminya. Senyum mengembang di bibirnya. Azkia kembali teringat percintaan panas mereka tadi malam. Seketika dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Elang menarik tangan Azkia lalu mendaratkan kecupan di bibirnya.


“Mandi sayang, sebentar lagi shubuh.”


Masih dengan wajah merona, Azkia mengangguk. Saat bangun selimut yang menutupi tubuhnya luruh hingga tubuh bagian atasnya terlihat. Dia segera mengambil selimut dan menutupi tubuhnya yang ternyata masih polos. Elang terkekeh melihat istrinya yang masih malu-malu, padahal semalam mereka sudah melihat semuanya satu sama lain.


Masih dengan tubuh terbalut selimut, Azkia mencoba berdiri namun kembali duduk ketika merasakan sakit di bagian bawahnya.


“Sebentar sayang.”


Elang bergegas turun dari kasur kemudian masuk ke kamar mandi. Dia memutar kran, mengisi bath tub dengan air hangat. Elang kembali ke kamar kemudian membopong tubuh istrinya. Azkia terpekik ketika Elang mengangkat tubuhnya, refleks dia mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Perlahan Elang mendudukkan Azkia di dalam bath tub.


“Jangan terlalu lama berendamnya sayang.”


Elang mengusap puncak kepala istrinya lalu mendaratkan kecupan di sana. Dia berdiri kemudian masuk ke bilik shower dan memulai mandi wajibnya. Wajah Azkia merona melihat tubuh polos suaminya di bawah pancuran. Bilik shower memang tersekat oleh kaca transparan.


Aktivitas mandi mereka selesai bertepatan dengan kumandang adzan shubuh. Kali ini Elang memutuskan shalat di rumah, berjamaah bersama sang istri. Selesai shalat, Azkia mencium punggung tangan suaminya dengan takzim yang dibalas dengan kecupan di keningnya.


“Masih ngantuk?”


“Laper mas.”


Elang terkekeh melihat raut wajah istrinya. Kegiatan mereka semalam memang menguras banyak tenaga, karena Elang tak cukup sekali bermain dengan sang istri. Dia segera mengganti baju kokonya lalu beranjak keluar kamar. Elang membuka kulkas, mencari-cari bahan makanan yang hendak dibuatnya.


Roti tawar, telur, smoke beef dan keju slice sudah tertata di meja. Pertama-tama Elang mengocok telur, kemudian memotong roti tawar menjadi dua bagian. Setelah pan panas, dia memasukkan telur ke dalam pan, tak berapa lama memasukkan roti tawar. Dengan hati-hati Elang membalikkan telur beserta roti lalu menyusun smoke beef dan keju slice di atasnya kemudian diberi mayonaise dan saos. Dilipatnya roti tawar menjadi satu bagian lalu mengangkatnya.


Dia mengulanginya untuk roti yang kedua. Tanpa disadari, Azkia terus mengamati apa yang dilakukannya. Perlahan Azkia melingkarkan tangannya ke pinggang sampai perut suaminya. Elang membalikkan tubuhnya.


“Ayo, sarapan sudah siap.”


Azkia membawa piring berisi roti sedang Elang membawa dua gelas susu kemudian meletakkannya di atas meja makan. Ditariknya kursi untuk istri tercinta. Azkia tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya.


“Aku ngga suka susu mas.”


“Ini susu kedelai bukan susu sapi. Coba dulu sayang.”


Elang menyodorkan gelas susu ke arah Azkia. Ragu-ragu Azkia mencobanya. Ternyata rasa susu kedelai cocok di lidahnya. Tak seperti susu sapi yang langsung membuatnya mual.


“Gimana? Enak?”


“Iya mas, enak, ngga bau anyir. Mas tahu dari mana aku ngga suka susu sapi?”


“Apa sih yang mas ngga tahu soal kamu hmm..”


Elang memotong roti yang tadi dibuatnya, menggigit pinggir roti dengan bibirnya lalu mendekatkan wajahnya ke arah istrinya. Malu-malu Azkia mengambil roti di mulut Elang dengan mulutnya. Setelah roti masuk ke dalam mulut Azkia, Elang memagut sebentar bibir Azkia.


“Mas, aku ngga nyangka dibalik sikap mas yang dingin, cuek, kaku ternyata mas romantis juga ya.”


“Sisi romantisku hanya untuk perempuan yang kucintai bukan untuk sembarang perempuan.”


“So sweet. I’m so lucky to be your wife.”

__ADS_1


“And I love you so much.”


Elang kembali menyambar bibir Azkia. Mereka saling ******* dan memagut untuk sesaat kemudian kembali melanjutkan makan. Sepanjang makan, Elang terus menyuapi sang istri, baik dengan tangan maupun dengan mulutnya. Hati Azkia dipenuhi kebahagiaan, baru kali ini dia merasa begitu dimanjakan. Matanya nampak berkaca-kaca.


“Kenapa sayang?”


“Ngga apa-apa mas. Aku cuma terharu aja. Baru kali ini merasakan benar-benar dimanjakan. Ibu memang menyayangiku tapi aku tidak berani bermanja padanya karena takut bapak akan marah.”


“Mulai sekarang dan seterusnya mas akan memanjakanmu. Jangan pernah merasa sungkan untuk bermanja pada mas. Jika ada sesuatu yang mengganjal dan membuatmu sedih jangan dipendam sendiri. Berbagilah dengan mas.”


“Terima kasih mas. Ich liebe dich (aku mencintaimu).”


“Ich liebe dich auch (aku juga mencintamu).”


Elang menarik Azkia duduk di pangkuannya. Matanya menatap dalam ke wajah sang istri. Jarinya menyusut sudut mata yang sedikit membasah. Kemudian menyatukan kening mereka berdua.


“Jangan menangis sayang. Mas hanya ingin melihatmu tersenyum.”


“Aku menangis karena bahagia. Allah sudah memberikanku suami yang begitu baik dan mencintaiku dengan tulus.”


Elang menciumi seluruh wajah istrinya tanpa tertinggal seinci pun. Kemudian menyesap bibir yang telah menjadi candu untuknya. Cecapan keduanya terdengar memenuhi seisi ruangan. Elang mengakhiri ciumannya lalu merapihkan rambut sang istri yang sedikit berantakan karena ulahnya.


“Hari ini kamu ada kuliah?”


“Ada mas, tapi aku mau bolos aja.”


“Kenapa?”


“Jadi rencana hari ini apa? Mas juga ngga akan ke kantor.”


“Di rumah aja mas, istirahat. Aku juga masih ngantuk.”


“Hmm.. ide bagus. Kita di kamar aja ya, sekalian ngga usah turun dari kasur.”


“Mas...” rengek Azkia tapi tak didengar oleh suaminya.


Elang kembali memagut bibir Azkia, memberikan ciuman yang dalam dan menuntut. Kini Azkia sudah bisa membalas ciuman sang suami. Elang memasukkan lidahnya ke rongga mulut sang istri, membimbingnya untuk melakukan hal yang sama. Saling menarik dan melilit hingga bertukar saliva. Azkia yang terbawa suasana mengubah posisi duduknya dari menyamping menjadi berhadapan.


Elang bangun dari duduknya kemudian melangkah menuju kamar dengan Azkia berada dalam gendongannya dan bibir mereka yang masih saling memagut. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang. Tangannya mulai bergerak melucuti pakaian sang istri hingga bagian atasnya tak tertutup lagi. Kemudian men*u**m, me**mat dan memberi gigitan kecil di bukit kembar favoritnya.


Azkia meremat rambut Elang seraya mendorong kepala suaminya itu terbenam sempurna di dadanya. Lenguhan dan ******* tak henti keluar dari mulutnya. Elang merebahkan Azkia di kasur. Pandangan keduanya bertemu, mata mereka sudah berkabut dipenuhi oleh hasrat yang membara.


Elang melepaskan satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya juga Azkia. Pasangan suami istri itu sudah siap untuk saling memuaskan satu sama lain. Cecapan, erangan, *******, lenguhan serta keringat mengiringi penyatuan mereka di pagi hari ini.


🍁🍁🍁


CUP


CUP


CUP

__ADS_1


Elang tak henti mengecupi punggung sang istri. Menjelang matahari terbenam keduanya masih asik bergelung di bawah selimut. Azkia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Tangannya mengusap rahang tegas Elang, lalu mengecup bibirnya singkat. Kini dia sudah berani mengekspresikan perasaannya lewat sentuhan.


“Mandi sayang.”


“Mas duluan aja.”


“Bareng aja, biar cepet.”


“Ngga mau, yang udah-udah mas ngajak main terus di kamar mandi. Mas ngga cape apa setiap mau shalat kita mandi terus.”


“Janji sekarang cuma mandi aja. Tenang aja nanti pas shalat isya ngga pake mandi lagi kok.”


Azkia hanya mencebikkan bibirnya. Ternyata Elang membuktikan ucapannya untuk tidak turun dari kasur. Dia sengaja mematikan ponsel mereka berdua agar tidak ada yang mengganggu. Seharian ini mereka habiskan di atas pembaringan, melakukan aktivitas ranjang. Bahkan sempat menonton film bergenre erotis untuk mempelajari macam-macam gaya bercinta. Mereka juga sampai melewatkan jam makan siang.


Karena terus didesak akhirnya Azkia setuju untuk mandi bersama. Elang menepati janjinya untuk tidak mengajak bermain, namun masih tetap mencumbu istrinya selama aktivitas mandi. Setengah jam kemudian mereka selesai membersihkan diri dan bersiap menunaikan ibadah shalat maghrib.


“Mas.. laper,” rengek Azkia setelah mereka selesai shalat berjamaah.


“Sebentar sayang.”


Elang mengambil ponselnya, menyalakannya kemudian menghubungi bi Diah. Elang minta dibawakan makan malam oleh asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama dua puluh tahun lebih itu.


Bi Diah segera menyiapkan makanan yang diminta Elang. Tak tanggung-tanggung dia membawakan makanan menggunakan troli bukan nampan. Semua diletakkan di atas troli, mulai dari nasi, lauk pauk, pencuci mulut hingga buah-buahan. Poppy yang baru masuk ke dapur melihat heran ke arah asisten rumah tangganya itu.


“Bi, itu buat apa?”


“Tadi mas El telepon minta dibawakan makanan bu. Sekalian saja saya bawakan yang banyak. Kayanya neng Azkia butuh banyak energi sehabis tempur,” bi Diah terkikik geli, begitu pula dengan Poppy.


Saat akan mengantarkan makanan, Poppy menahannya. Dia bergegas menuju kamar dan tak lama kemudian kembali datang dengan membawa obat lalu menyerahkannya pada bi Diah.


“Bi.. ini kasih ke Elang, bilang Kia suruh minum ini terus olesi gel di daerah sensitifnya.”


“Iya bu. Pantes ya bu neng Kia ngga mau turun, malu kali jalannya ngangkang.”


Kedua wanita itu kembali tertawa. Tanpa membuang waktu lagi bi Diah segera mendorong troli ke arah lift. Hanya dalam hitungan detik dia telah sampai di lantai tiga. Elang sudah menunggunya di depan pintu.


“Ya ampun bi niat banget ini,” Elang tersenyum melihat bi Diah mengantarkan makanan menggunakan troli.


“Anggap aja pelayanan hotel bintang lima mas. Terus ini kata ibu, obat buat neng Kia sama ini gel buat di oles di ‘itu’ nya neng Kia.”


Wajah Elang memerah saat menerima obat dari tangan bi Diah. Tanpa sadar mengusap tengkuknya saking malunya. Selesai mengantarkan makanan, bi Diah bergegas pergi meninggalkan pasangan pengantin baru yang masih ingin menghabiskan waktu berdua.


Elang mendorong troli makanan ke dalam kamar. Azkia terkejut melihatnya namun tak ayal bibirnya menyunggingkan senyuman. Melihat aneka makanan yang tersaji, air liurnya serasa ingin menetes ditambah dengan rontaan cacing-cacing di dalam perutnya. Tak menunggu lama dia langsung menyantap makanan tersebut. Mengisi tenaga karena sudah pasti malam ini suaminya akan kembali mengajaknya bermain sampai tengah malam.


🍁🍁🍁


**Ya ampun mas El rajin banget sih sampe tiap mau shalat mandi lagi😂


Pagi² mamake udah baper aja nih sama mas El. Minta doanya ya, anak mamake lagi sakit. Mudah²an bisa up lagi tapi ngga janji ya.


Minta dukungannya juga ya, seperti biasa like, comment n votenya juga. Love you all😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2