
Langkah Ayunda terhenti di depan kediaman Ega ketika melihat Firlan sedang memanaskan mobil. Menyadari kehadiran Ayunda, Firlan turun dari mobil lalu menghampiri wanita yang masih memiliki tempat khusus di hatinya.
“Bang Ilan kemana aja, jarang kelihatan,” sapa Ayunda.
“Abang lagi banyak kerjaan, jadi buat mempersingkat waktu, abang tinggal di apartemen.”
“Oh pantes. Eh iya, selamat ya bang, aku denger abang mau nikah sama Hanin.”
“Hmm..”
Ayunda menangkap perubahan wajah Firlan ketika dirinya menyinggung soal pernikahan. Melihat reaksi Firlan, Ayunda jadi mengkhawatirkan Hanin. Takut kalau gadis itu hanya dijadikan pelampiasan saja.
“Hanin gadis yang baik. Abang beruntung bisa nikah sama dia. Aku titip Hanin ya bang, dia udah aku anggap adik sendiri.”
“Doakan aja ya Yun, supaya abang bisa cepat melupakanmu dan menerima kehadirannya.”
Ayunda cukup tertohok mendengar pengakuan jujur Firlan. Perasaan bersalah kembali menyeruak dalam hatinya. Wajahnya berubah menjadi sendu. Firlan pun tak berusaha menutupi perasaannya. Pandangan matanya masih menatap Ayunda dengan hangat dan penuh cinta.
“Maaf bang. Sekali lagi aku minta maaf kalau sudah menyakiti hati abang. Aku tulus mendoakan kebahagiaan abang. Mudah-mudahan Hanin memang orang yang tepat untuk abang. Kalau abang belum bisa menerima Hanin saat ini, bukan berarti abang menutup hati untuknya kan.”
“Jujur, abang ngga tahu Yun. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu bahagia dengan Rey?”
“Alhamdulillah bang. Aku bahagia, maaf kalau aku bahagia di atas penderitaanmu.”
“Ngga Yun. Melihat kamu bahagia, abang juga bahagia.”
“Abang harus bahagia. Raih kebahagiaan abang, lupakan Yunda kalau perlu benci aja aku bang. Aku pantas buat abang benci.”
“Abang ngga mungkin bisa benci kamu Yun. Kamu itu pelangi terindah yang pernah datang di hidup abang.”
Ayunda memalingkan wajahnya, saat buliran bening hampir saja turun membasahi pipinya. Dengan gerakan pelan dihapusnya air yang menggenang di sudut matanya.
“Aku pulang dulu bang, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ayunda melangkah pergi meninggalkan Firlan. Pria itu terus saja menatap punggung Ayunda yang semakin menjauh. Tanpa mereka sadari, Reyhan melihat interaksi mereka berdua dari balkon kamarnya.
Tangan Ayunda bergerak membuka pintu kamar. Dilihatnya Reyhan sedang berdiri di balkon. Ayunda menghampiri suaminya. Reyhan membalikkan tubuhnya menghadap Ayunda dengan tubuh bersender pada pagar balkon.
“Sudah selesai ketemu ayah?”
“Udah mas.”
Reyhan memperhatikan wajah istrinya. Mata Ayunda sedikit memerah, pasti istrinya menangis setelah berbicara dengan Firlan.
“Ay.. akhir-akhir ini kamu sering banget ya menangisi laki-laki lain.”
“Maksud mas apa?”
Reyhan memilih tak menjawab pertanyaan sang istri. Dia melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Ayunda yang tak mengerti bergegas menyusul. Ditariknya tangan Reyhan yang hendak menuju walk in closet.
“Maksud mas apa?”
“Kamu tahu mas paling ngga bisa melihatmu menangis. Mas berusaha untuk selalu membuatmu tersenyum. Tapi dengan mudahnya kamu menitikkan airmata untuk laki-laki lain. Apa yang kamu tangisi tadi Ay? Bang Ilan? Kamu masih menyesali keputusanmu meninggalkannya?”
__ADS_1
“Ngga gitu mas. Aku cuma sedih begitu tahu kalau bang Ilan ngga mencintai Hanin. Aku cemas Hanin akan sakit nantinya. Aku minta bang Ilan ngga menyakiti Hanin.”
“Itu urusan mereka Ay. Hanin memutuskan untuk menikah dengan bang Ilan, pastinya sudah melalui pertimbangan matang. Dia juga tahu konsekuensi menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Jangan-jangan kamu ngga rela bang Ilan menikah, kamu masih punya perasaan padanya, iya?”
“Mas.. kamu ngomong apa sih? Mas cemburu?”
“Apa aku ngga boleh cemburu Ay? Melihatmu bicara dengannya, melihatmu menangis karenanya, apa aku ngga boleh cemburu?”
“Sebenarnya apa yang buat mas cemburu? Karena aku bicara dengan bang Ilan atau karena aku menangis?”
“Semuanya!”
“Mas kekanakan tahu ngga.”
“Ya, anggap aja aku kekanakan. Sudahlah..”
Reyhan memilih pergi menuju walk in closet, tak ingin meneruskan perdebatan mereka. Ayunda yang juga kesal dengan sikap suaminya memilih keluar dari kamar. Tak lama Reyhan menyusul keluar kamar setelah berganti pakaian kemudian menuruni anak tangga dengan tergesa.
Ayunda berjalan cepat keluar dari rumah, dia bermaksud kembali ke kediaman Irzal. Saat sedang berjalan, mobil yang dikendarai Reyhan melintas di sampingnya. Ayunda memandangi mobil tersebut. Pandangan Reyhan hanya lurus ke depan tanpa mau melihat ke arah istrinya yang berjalan tepat di samping mobilnya.
🍁🍁🍁
Ayunda duduk gelisah di atas sofa, matanya melihat ke arah televisi namun pikirannya melayang pada sosok suami yang sampai saat ini belum pulang ke rumah. Waktu sudah pukul delapan malam, namun Reyhan belum juga pulang. Padahal Ayunda tahu kalau hari ini Reyhan hanya mempunyai satu jadwal operasi.
Pikirannya melayang pada pertengkaran mereka tadi pagi. Ini pertengkaran pertama sejak mereka menikah dan sialnya Firlan yang menjadi topik pertengkaran. Pesan yang dikirimkan hanya dibaca saja tanpa ada balasan. Panggilannya pun diabaikan begitu saja oleh Reyhan. Ingin rasanya Ayunda berteriak mengeluarkan segala kekesalannya, toh tidak akan ada yang mendengar karena kamar mereka dilengkapi peredam suara. Namun Ayunda hanya dapat menghembuskan nafas kesal.
Diraihnya remote kontrol, tangannya terus memijit tombol di benda persegi empat itu, mencari tayangan yang bisa menghibur perasaannya. Lelah menunggu, lelah mengganti-ganti chanel, Ayunda tertidur di sofa.
Jam sembilan lebih sepuluh menit Reyhan tiba di rumah. Matanya langsung menangkap keberadaan istrinya yang tengah tertidur di sofa. Tubuhnya sedikit lelah, karena mendadak menggantikan operasi Fahri dan menghadiri seminar. Bahkan untuk membalas pesan sang istri saja tak sempat.
“Mas..”
Reyhan menghentikan langkahnya begitu mendengar suara lembut sang istri. Kepalanya menunduk melihat ke arah Ayunda. Untuk sesaat mata mereka saling menatap dan mengunci. Ayunda melingkarkan tangannya di leher Reyhan, kemudian menarik kepala suaminya lebih dekat padanya.
Bibir Ayunda mendarat lembut di bibir Reyhan. Dia terus me**mat dan memagut bibir suaminya. Reyhan pun membalas ciumannya seraya melangkahkan kakinya ke ranjang. Tanpa melepaskan pagutannya, Reyhan membaringkan Ayunda di kasur. Cecapan dan sesapan keduanya terus berlanjut dan semakin dalam saja.
Reyhan menghentikan ciumannya kemudian bibirnya bergerak menelusuri leher sang istri. Ayunda mendongakkan kepalanya, memberikan ruang lebih pada Reyhan mengeksplor lehernya. Tangan Reyhan membuka kancing piyama Ayunda, bibirnya kini sudah bermain di dada yang tidak terbungkus kain penutup.
“Euung.. mas... mandi dulu.”
“Ck.. mengganggu kesenangan.”
Ayunda tertawa kecil melihat wajah masam suaminya. Kesal ditertawakan, Reyhan kembali menciumi leher sang istri, tangannya meremat bulatan kenyal favoritnya hingga kembali terdengar lenguhan dari bibir Ayunda.
“Jangan tidur dulu.”
Reyhan mencium bibir Ayunda sekilas kemudian mengangkat tubuhnya dari atas Ayunda. Dia berjalan menuju kamar mandi setelahnya. Ayunda bangun lalu melangkah menuju walk in closet.
Sepuluh menit kemudian Reyhan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Reyhan terpaku di tempatnya ketika melihat sang istri tengah duduk santai di sofa. Tubuh Ayunda sudah terbalut lingerie tipis yang memperlihatkan setengah bukit kembarnya. Tidak hanya itu, tungkai kaki hingga pahanya tereksplor bebas dengan posisi duduknya yang menyilangkan sebelah kaki. Reyhan menelan ludahnya kelat.
Ayunda bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri Reyhan. Kakinya menjejak di atas kaki sang suami, lalu sambil berjinjit dia menyambar bibir Reyhan dengan kedua tangan melingkar di leher suaminya. Sebelah tangan Reyhan memeluk pinggang Ayunda hingga tubuh Ayunda sedikit terangkat, sebelah lagi menahan tengkuk untuk memperdalam ciuman mereka.
Puas saling me**mat, memagut dan bertukar saliva, Ayunda mengakhiri ciumannya. Wanita itu kemudian berjongkok di depan Reyhan. Melepas kain yang menghalangi bagian bawah tubuh suaminya. Tangannya mulai bergerak memainkan adik kecil Reyhan.
Reyhan menggeram ketika tangan Ayunda bergerak semakin nakal, bahkan kini lidah dan mulutnya sudah ikut bermain. Tangan Reyhan menekan kepala Ayunda agar ku**mannya lebih dalam lagi. Desisan dan racauan terus keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Setelah Ayunda berhasil memberikan kepuasan untuknya, kini giliran Reyhan yang mengambil alih permainan. Diangkatnya tubuh Ayunda kemudian membaringkan di atas kasur. Dengan tak sabar dilepaskannya lingerie yang membalut sang istri, kemudian bibirnya mulai mencecapi setiap jengkal tubuh Ayunda yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
Tubuh Ayunda tak berhenti bergerak menikmati sentuhan sang suami. Terkadang kepalanya mendongak, tubuhnya melenting ke atas atau kakinya bergerak resah saat Reyhan memberikan kenikmatan di bagian bawahnya dengan jari dan mulutnya. Lenguhan panjang Ayunda terdengar seraya meremat rambut Reyhan saat mencapai pelepasan pertamanya.
Reyhan merangkak naik ke atas Ayunda, dia akan memulai lagi cumbuannya. Tubuh Ayunda yang sedikit lemas setelah pelepasan kembali menegang saat menerima r**gsangan dari Reyhan. Hasratnya kembali naik, dengan penuh gairah dia membalas ciuman sang suami.
Mata keduanya bertemu setelah ciuman panjang mereka berakhir. Netra mereka sudah dipenuhi kabut gairah. Tanpa menunggu lama, Reyhan mulai mengarahkan kejantanannya ke lubang kenikmatan yang hanya miliknya seorang. Pinggulnya kemudian bergerak memulai permainan meraih kepuasan.
Udara panas berpendar di sekitar mereka yang masih belum mau mengakhiri pergulatan panjangnya. Tiga kali sudah tubuh Ayunda dibuat bergetar saat mencapai pelepasannya, sedang Reyhan belum berniat menyudahinya. Dia masih ingin bermain dengan tubuh sang istri untuk membayar pertengkaran mereka tadi pagi.
Waktu terus berlalu, bermacam gaya pun sudah mereka peragakan. Ayunda juga sudah hampir kehabisan tenaga. Dia mulai merengek meminta sang suami menyudahi permainan.
“Maaasss...”
“Sebentar lagi Ayang...”
Reyhan mempercepat gerakannya untuk segera menggapai kepuasannya. Ayunda memeluk erat punggung suaminya yang lembab oleh keringat.
“Mas.. aku mau keluar..”
“Bersama Ayang...”
Pergerakan Reyhan semakin kencang. Deru nafas keduanya saling memburu, mengejar kepuasan yang sebentar lagi akan diraihnya. Pelukan Ayunda semakin erat di punggung Reyhan saat gelanyar hangat menghantam dirinya. Pun dengan Reyhan yang telah sampai di puncaknya. Mulutnya menghisap bulatan kenyal Ayunda sedikit kencang ketika cairan panasnya menyembur ke dalam rahim sang istri.
Reyhan menjatuhkan diri di samping sang istri, nafasnya masih terdengar memburu. Sedang Ayunda tak mampu menggerakkan tubuhnya karena terlalu lemas. Reyhan mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Tangannya menarik pinggang Ayunda agar merapat padanya. Tubuh sang istri tak kalah lembab dengan dirinya. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Ayunda.
“Makasih sayang..”
“Mas masih marah?”
“Ngga.. mana bisa mas marah lama-lama sama kamu. Maaf kalau tadi pagi mas ngga bisa menahan cemburu.”
“Aku suka mas cemburu, tandanya mas cinta sama aku. Tapi jangan sampai marah-marah kaya tadi ya. Mas juga ngga balas pesanku.”
“Maaf.. tadi mas sibuk banget di rumah sakit. Ada operasi tambahan dan seminar dadakan. Tapi seharian ini mas ngga berhenti mikirin kamu, mas kangen sama kamu.”
Reyhan me**mat lembut bibir Ayunda yang sedikit bengkak karena sedari tadi tak henti dicecapnya. Pelukannya bertambah erat hingga tubuh keduanya sudah tak berjarak lagi. Dada Ayunda menempel pada dada Reyhan membuat adik kecilnya kembali terbangun. Reyhan mengakhiri ciumannya lalu bibirnya menciumi leher Ayunda.
“Mas..” rengek Ayunda.
“Sekali lagi ya Ayang.”
“Aku capek mas.”
“Kamu diem aja, biar mas yang kerja. Mas janji, yang ini ngga akan lama. Mau ya Ayang?”
Ayunda hanya bisa mengangguk pasrah. Kalau suaminya menginginkan lagi, dia bisa apa. Reyhan memulai kembali cumbuannya yang dalam waktu singkat mampu membuat sang istri bergairah kembali.
🍁🍁🍁
**Habis marah terbitlah gairah🙊
Hujan di Kuningan gaeeesssss.. jadi harap maklum kalau butuh yang hareudang😁
Rencananya tinggal 1 episode lagi tapi apa daya mamake harus tambah 1 episode lagi buat pasangan ini.
__ADS_1
Tunggu last episodenya ya sambil terus kasih dukungan buat mamake..😘😘**