Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Irzal's Ultimatum


__ADS_3

Ringgo menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Baru saja dia mendapat kabar kalau kedua investor yang mendanai proyek pembangunan SMK membatalkan proyek kerjasama mereka. Mereka bahkan meminta pengembalian dana yang telah dipakai dan menuntut ganti rugi karena dianggapnya Artha Boga melanggar perjanjian yang telah disepakati.


Dimas pun tak kalah pusing. Di saat masalah korupsi di restorannya belum beres, kini masalah baru sudah muncul. Dia tahu pasti siapa orang dibalik semua masalah yang menimpa perusahaannya. Namun dia masih belum bisa memutuskan langkah apa yang harus diambilnya.


“Dim, lo udah putusin mau gimana?”


“Masih gue pikirin. Berapa kerugian kita?”


“Kalau dana yang sudah kita keluarkan untuk perijinan dan lainnya mungkin sekitar 5M. Tapi kalau harus mengembalikan dana investasi plus tuntutan mereka, kita harus keluar uang sampai 80M.”


Dimas memijit pelipisnya pelan. Dia tak menyangka Alea benar-benar membuktikan ucapannya untuk menghancurkan dirinya. Bahkan dia sampai bekerja sama dengan salah satu pegawainya untuk membuat laporan palsu yang membuat sang investor menuntut balik mereka.


“Minta bantuan kak Irzal aja gimana?”


“Jangan. Biarin gue cari solusi diri sendiri.”


“Solusi gimana bro? Perusahaan ini terancam bangkrut. Dana segar kita semakin menipis, karena kemarin dipake untuk menutupi kerugian restoran. Lebih parahnya lagi ngga ada bank yang mau minjemin kita uang. Kalau lo ngotot pake dana kita yang ngga seberapa buat kembaliin dana investor, karyawan kita ngga akan dapet gaji, biaya operasional juga ngga akan ada lagi. Udah deh singkirin ego lo sekali aja. Minta bantuan dari kak Irzal.”


“Gue udah terlalu sering nyusahin kak Irzal, dari dulu sampai sekarang.”


“Itu gunanya keluarga kan? Tempat kita berbagi susah dan senang. Lagian kalau sampe kak Irzal tahu lo kena masalah seperti ini terus ngga kasih tahu dia, lo pikir dia ngga akan ngamuk? Pikirin lagi Dim.”


“Ck.. gue baru tau ternyata kebawelan elo tuh melebihi emak-emak kompleks,” Dimas terkekeh mencoba mengalihkan pikirannya yang kacau.


Ringgo menghela nafasnya melihat sikap keras kepala sahabatnya ini. Kalau bisa ingin rasanya dia membenturkan kepala Dimas ke tembok supaya duda anak satu itu bisa berpikiran jernih.


“Dim, pikirin nasib banyak karyawan. Coba lo lihat bu Elin. Dia terpaksa bekerja meninggalkan anak-anaknya yang masih di bawah lima tahun demi memenuhi kebutuhan keluarga. Terus bu Lastri yang harus menjadi kepala rumah tangga setelah suaminya cacat gara-gara kecelakaan kerja. Pikirin mereka semua Dim, lo ngga boleh egois. Mereka menggantungkan hidupnya di perusahaan ini.”


“Dasar drama king.”


“Gini nih kalau ngomong sama duda karatan, susah dan bikin emosi jiwa.”


Ringgo bangun dari duduknya kemudian menghampiri Dimas di meja kerjanya. Kedua tangannya bertumpu pada meja. Dengan mimik serius dia berkata lagi pada Dimas.


“Gue tahu alasan lo ngga mau minta bantuan kak Irzal bukan karena ngga enak. Tapi lo ngga mau kalau kak Irzal tahu dalang dari semua ini kan? Setelah apa yang dia lakuin lo masih aja ngelindungin dia Dim. Bahkan dia memperlakukan elo seperti hama yang harus dibasmi. Gue ngga nyangka Alea akan seperti itu. Sama elo yang udah deket banget dan banyak bantu dia, dia tega banget ngelakuin ini apalagi kalau sama orang lain. Dia itu udah kaya jelmaan iblis.”


“Nggo!”


Dimas meninggikan suaranya, tak suka mendengar ucapan sahabatnya itu kendati apa yang dikatakannya benar.


“Terserah elo Dim. Yang pasti gue ngga akan tinggal diem. Gue ngga mau kerja keras lo selama ini hancur begitu aja. Lo setuju atau ngga gue bakal bilang semua ke kak Irzal.”

__ADS_1


Ringgo membalikkan badannya kemudian berjalan menuju pintu. Tapi kemudian ucapan Dimas menghentikan langkahnya.


“Lo boleh minta bantuan kak Irzal tapi tolong jangan bilang kalau kak Alea di belakang semua ini.”


Ringgo membalikkan badannya kembali melihat ke arah sahabatnya yang masih duduk di belakang meja kerjanya.


“Lo pikir kak Irzal bakal diem aja gitu setelah tahu masalah ini? Gue kasih tahu atau ngga dia pasti bakalan tahu juga. Jadi ngga usah minta sesuatu yang lo tahu jawabannya.”


Tanpa menunggu jawaban Dimas, Ringgo keluar dari ruangan. Tekadnya sudah bulat untuk mendatangi Irzal. Hanya dia yang bisa menolong Dimas keluar dari situasi rumit ini. Masa bodoh dengan hubungan di antara mereka, yang dia pikirkan saat ini menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.


🍁🍁🍁


Begitu menerima kunjungan Ringgo, Irzal bergegas menuju kantor Gala Corp. Rasa kesal dan marah yang ditahannya sejak beberapa hari lalu sudah tidak bisa dibendung lagi. Andri bergidik ngeri melihat wajah Irzal yang sudah seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya. Yang lebih membuatnya ketar-ketir, Irzal tidak mau ditemani. Akhirnya dia memilih menghubungi Adit, takut kalau emosi Irzal meledak di sana.


Dengan tangan mengepal keras Irzal berjalan menuju ruangan Ega. Rimba yang hendak melarang Irzal masuk mengurungkan niatnya begitu melihat wajah tak bersahabat CEO Humanity tersebut. Dengan kasar Irzal membuka pintu ruangan mengagetkan Ega yang sedang membaca beberapa dokumen.


“Mas, tumben datang ngga kasih kabar dulu.”


Irzal mendekati meja Ega kemudian membanting dengan keras amplop coklat di tangannya. Ega cukup terkejut melihat ekspresi Irzal yang nampak garang.


“Sampai kapan kamu mau membiarkan istrimu bertingkah memuakkan seperti itu?”


“Maksud mas apa?”


Ega membuka amplop coklat di mejanya. Matanya membalalak melihat lembaran kertas di tangannya. Kertas itu berisi bukti kejahatan Alea membuat restoran Dimas mengalami kerugian besar juga laporan palsu proyek pembangunan SMK hingga penarikan investasi dari proyek tersebut ditambah beberapa lembar foto pertemuan Alea dengan antek-anteknya.


“Kalau bukan karena hubungan baik dan persahabatan kita, aku sudah membuat istrimu mendekam di penjara. Kalau kalian tidak menyetujui hubungan Ily dan Dimas bukan seperti ini caranya! Alea sudah berani menyakiti Dimas, dia itu adikku. Apa perlu kuingatkan kepadamu kalau aku akan melakukan apapun pada orang yang berusaha menyakiti keluargaku?!”


“Maaf mas, aku benar-benar ngga tahu kalau Alea berbuat sejauh ini.”


“Lalu kemana saja kamu selama ini??!! Ingat Ga, Alea itu istrimu! Kamu bertanggung jawab atas semua kesalahan yang dia buat dunia dan akherat. Aku kecewa padamu Ga. Bahkan kamu ngga menyadari kalau anak-anakmu tertekan karena sikap istrimu! Kalau kamu memang kepala keluarga yang baik maka bersikaplah tegas. Bagaimana mungkin kamu membiarkan istrimu keluar dari jalur yang semestinya? Aku beri waktu 1x24 jam, kalau kamu tidak bisa mengatasi masalah ini jangan salahkan aku kalau aku menyeret Alea ke penjara!”


Irzal keluar dari ruangan seraya membanting pintu. Lebih baik keluar dari ruangan itu dari pada dirinya tak bisa menahan emosi dan menghajar Ega. Di dekat lift dia berpapasan dengan Adit.


“Zal.”


“Katakan pada adik bodohmu itu untuk menyelesaikan permasalahan yang dibuat istrinya secepat mungkin sebelum aku yang bertindak.”


Adit melongo mendengar ucapan Irzal lengkap dengan ekspresinya yang menyeramkan. Entah hal apa yang telah membangunkan harimau tidur itu. Adit memandangi punggung Irzal sampai hilang ketika memasuki lift.


Ega meremas lembaran kertas yang tadi diberikan Irzal. Rasa marah, malu dan kecewa bercampur jadi satu. Dia mengangkat gagang telepon untuk menghubungi Rimba, sekretarisnya.

__ADS_1


“Panggil Dima ke ruangan sekarang!!”


Tepat setelah Ega menutup teleponnya, Adit masuk ke dalam ruangan. Melihat wajah kusut Ega, bisa dipastikan ini berkaitan dengan Irzal. Andri memang mengatakan ada masalah antara Irzal dan Ega tapi dia tak menjelaskan apa masalah yang dimaksud.


“Ga, lo kenapa? Apa ada masalah sama Irzal?”


“Alea kang.”


“Kenapa Alea?”


Ega memberikan lembaran kertas berikut foto yang diperolehnya dari Irzal. Adit tak percaya dengan berkas yang dibacanya. Dia tak henti menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak percaya Alea melakukan hal senekad ini.


“Gila Ga! Ini kriminal namanya. Lo tahu, dengan bukti-bukti ini dengan mudahnya Irzal nyeret Alea ke penjara. Kalau yang melaporkan orang biasa mungkin dia bisa menghindar. Tapi ini Irzal, dia akan melakukan apapun untuk mengejar orang sudah menyakiti keluarganya. Dan lo harus berterima kasih sama Dimas yang masih menutupinya sampai saat ini. Gila! Lo kemana aja sampai kecolongan kaya gini hah!”


“Aku juga ngga nyangka kang,” Ega menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan frustrasi.


“Itu karena lo selalu mendiamkan apa yang Alea lakukan belakangan ini. Bucin boleh Ga tapi bego jangan. Sebagai kepala keluarga lo harus bisa bersikap tegas. Lo bahkan ngga tahu kan kalau Ziel nangis-nangis di depan Irzal karena tertekan dengan sikap kalian.”


“Kang...”


Ucapan Ega terhenti ketika Dima masuk ke dalam ruangan. Asisten Ega itu terlihat bingung dengan wajah-wajah tegang atasannya.


“Kumpulkan semua orang yang terlibat proyek kerjasama dengan Artha Boga sekarang! Dan cari orang ini sampai ketemu!”


Dima mengambil semua lembaran foto dari tangan atasannya. Setelah itu dia bergegas keluar. Aura di ruangan tersebut sungguh sangat menyeramkan.


“Biar gue yang handle masalah ini di kantor. Lo lebih baik ketemu dengan pak Ali dan jelaskan semua kesalahpahaman ini. Minta dia mencabut tuntutannya pada Artha Boga kalau dia ngga mau perusahaannya dibuat bangkrut oleh Irzal.”


Adit mengambil semua berkas yang berkaitan dengan proyek Artha Boga lalu bergegas keluar ruangan menuju meeting room. Dia harus segera menyelesaikan semua masalah ini sebelum semuanya bertambah runyam.


🍁🍁🍁


**Irzal lope.. lope.. deh. Paling seneng kalo lihat Irzal udah ngamuk🤣


Alea.... jeng... jeng... jeng...


Tunggu giliranmu ya.


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote..


Danke😘😘😘**


__ADS_2