
TOK
TOK
TOK
“Rain, boleh papa masuk?”
Rain yang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya, menolehkan wajahnya ke arah datangnya suara. Regan berdiri menyender di dekat pintu. Dia segera merubah posisi menjadi duduk. Regan masuk lalu duduk di sampingnya.
“Tumben papa udah pulang jam segini,” Rain melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 15.20. Tampak sisa-sisa air wudhu di rambut hitam Regan yang mulai ditumbuhi uban.
“Papa udah pulang dari siang.”
“Masa? Kok Rain ngga lihat mobil papa.”
“Lagi diservice. Rain, papa boleh tanya sesuatu sama kamu?”
“Soal apa pa?”
“Kamu ada hubungan apa sama Elang? Papa lihat hubungan kalian akhir-akhir ini dekat. Ngga seperti ke Gara atau Ilan.”
“Kenapa? Papa ngga suka aku terlalu dekat sama El?”
Regan tersenyum, diusapnya puncak kepala anak gadisnya ini. Rain memeluk lengan Regan lalu menyandakan kepalanya ke lengan kekar sang papa.
“Bukan ngga suka cuma penasaran aja, kok kalian kelihatan dekat banget. Lagian papa setuju aja kalau kamu sama Elang. Dia anak yang baik, sopan, bertanggung jawab, cerdas dan juga menjaga dirinya dengan baik ketika berhadapan dengan lawan jenis. Calon suami idaman kayanya.”
“Dih papa, kode nih pengen jodohin Rain sama El?”
Regan tergelak, tapi dalam hati kecilnya sungguh ingin menjadikan Elang menantunya. Namun semua kembali ke anak-anak. Dia tak ingin memaksakan kehendaknya.
“Jadi, apa hubunganmu dengan El?”
“Kalau Rain cerita, janji ya papa jangan marah.”
“Hmm..”
Rain mengeratkan pelukannya pada lengan Regan. Setelah mengambil nafas panjang, barulah dia mulai bercerita. Mulai dari Regan yang memberitahunya tentang Rakan. Kerinduannya ingin memiliki seorang kakak, kebiasaannya jika sedang bersedih sampai perjanjian dirinya dengan Elang.
“Papa ngga marah kan sama Rain?” tanya gadis itu di akhir ceritanya.
“Maafkan kami ya Rain. Karena kecerobohan kami, kamu tidak bisa mengenal sosok kakak kamu. Papa ngga marah sayang, papa senang El bisa menggantikan Rakan untukmu. Tapi, apa kamu tidak percaya papa sampai kamu lebih senang curhat sama El?”
“Maaf pa, bukan Rain ngga percaya papa. Cuma Rain malu aja kalau harus curhat masalah Rain sama papa.”
“Kalau bukan El, terus siapa laki-laki yang kamu suka?”
“Ng.. ngga ada.”
“Papa ngga percaya. Akhir-akhir ini papa sering lihat kamu ngobrol lama sama El, pasti kamu lagi curhat sama dia kan?”
“Ngga penting juga papa tahu. Ini cuma cinta sepihak aja pa. Rain udah mutusin ngelupain dia.”
“Jangan terlalu bergantung pada El, sayang. Karena suatu hari kamu juga El akan bertemu dengan pasangan masing-masing. Saat El sudah memiliki seorang pasangan, maka pasangannya yang akan menjadi prioritasnya. Lagi pula sebentar lagi dia akan melanjutkan studi ke London, tanggung jawab dia semakin berat. Jangan bebani dia dengan sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
Papa tidak melarang kalau kamu ingin berbagi cerita dengan El, hanya saja jangan terlalu tergantung dan jangan terlalu membebaninya. El adalah tipe orang yang memegang teguh janjinya. Janjinya padamu pasti akan ditepatinya. Papa hanya takut ini membebaninya, kamu mengerti kan maksud papa.”
“Iya pa.”
“Ya sudah, kamu istirahat. Papa mau ke kamar dulu,” Regan mencium kening Rain kemudian beranjak pergi. Rain terdiam merenungi kata-kata papanya.
Regan masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Sarah sedang duduk di kasur dengan punggung menyandar pada head board. Regan merangkak naik kemudian merebahkan diri dengan kepala berada di pangkuan istrinya.
__ADS_1
“Sayang, apa kamu tahu siapa laki-laki yang disukai Rain?”
“Hmm...”
“Siapa?”
“Kepo deh mas.”
“Mas serius sayang. Ternyata cuma mas yang ngga tahu siapa laki-laki yang disukainya. Kamu juga Elang tahu.”
“El tahu?” Regan mengangguk.
“Apa kamu tahu sayang kalau ada perjanjian antara Rain dengan El?”
“Perjanjian apa?”
“El berjanji akan menjadi pengganti Rakan untuknya.”
Sarah tertawa kecil. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun silam. Ketika dirinya shock mendengar berita kecelakaan yang menimpa Regan. Elang bersedia menjadi Rakan untuknya.
“Anak itu... benar-benar mirip Irzal.”
“Hmm... dulu Irzal menjagamu, Debby dan Alea. Sekarang El yang menjaga putri kita. Kalau mas boleh meminta, mas mau El yang jadi pendamping Rain.”
“Mudah-mudahan saja mereka berjodoh mas.”
“Terus siapa laki-laki yang dicintai anak kita?”
“Ra-ha-sia.”
Regan bangun lalu menarik tengkuk Sarah kemudian mendaratkan bibirnya di bibirnya. Kini sebelah tangannya sudah menarik pinggang Sarah hingga mereka tak berjarak. Ciuman mereka semakin dalam. Perlahan tangan Regan menurunkan resleting gamis sang istri. Sarah mengakhiri ciumannya lalu menepuk pelan dada suaminya.
“Mas iih, masih sore.”
“Siapa?” tangan Regan meremat bulatan kenyal milik Sarah.
“Euugghh... Akh... tar.”
Regan terkejut, refleks dia menghentikan aktivitasnya. Ditatapnya dalam-dalam wajah sang istri, mencoba memastikannya.
“Kenapa mas?”
“Akhtar, dia punya hubungan dengan Chalissa, keponakan Ega. Bagaimana kalau Rain sampai kecewa.”
“Mas, percaya padanya. Anak kita bukan anak yang lemah. Ketika dia siap untuk jatuh cinta, maka dia sudah siap untuk terluka. Aku percaya, rasa sakit akan membentuknya menjadi gadis yang kuat. Yang terpenting kita tetap berada di belakangnya untuk mendukungnya. Percayalah mas, anakmu tidak selemah itu. Ditambah ada El di sampingnya, mas tidak usah khawatir.”
“Ya, mudah-mudahan saja.”
Regan menatap lembut istrinya. kemudian pandangannya tertuju pada gamis yang sudah turun hingga memperlihatkan bahu putihnya. Dada Regan berdesir, ditariknya lagi pinggang sarah lalu bibirnya sudah mendarat sempurna di bahu mulus itu.
“Mas...”
“Sebentar ya sayang, mas kangen.”
Sarah hanya bisa pasrah. Regan membaringkan tubuh Sarah dengan posisinya berada di atasnya. Dengan lembut, dia mulai mencumbu sang istri.
🍁🍁🍁
Rain terus saja menangis, rasanya tak rela melepas sahabat sekaligus kakaknya pergi keluar negeri. Sedari tadi Firly berusaha untuk menenangkannya. Hati Gara panas melihat kesedihan Rain berpisah dengan Elang. Akhtar yang juga ikut mengantar, cukup bingung melihat reaksi Rain.
“Udah Rain, lo nangis mulu,” gerutu Gara.
“Ya ampun Rain, kamu segitunya nangisin kepergian si es balok,” goda Akhtar, tangannya merangkul bahu Rain. Kesedihan yang dirasakan Rain seketika berubah menjadi debaran di dadanya.
__ADS_1
“El, tanggung jawab lo bikin Rain nangis. Tenangin dulu nih kembaran lo,” seru Akhtar. Elang yang sedang berbincang dengan Dimas mendekati sahabatnya.
“Rain.”
Elang mengendikkan kepalanya, lalu berjalan menuju kursi tunggu. Rain melepaskan diri dari rangkulan Akhtar lalu ikut duduk di samping Elang. Elang menyodorkan tisu pada sahabatnya. Sambil sesenggukan Rain menghapus airmatanya.
“Lo kenapa sih nangis mulu?”
“Lagian elo ngga bisa apa S2 di sini aja? Ngapain jauh-jauh ke London?”
“Sayang Rain beasiswanya kalau ditolak. Lagian gue juga sekalian belajar bisnis manajemen di sana. Gue diminta om Dimas ngurus restorannya yang ada di London sama di Milan. Tar lo nyusul aja kuliah di sana bareng gue.”
“Gue nyusul lo udah selesai kali kuliahnya.”
Elang terkekeh, kalau saja menyentuh Rain tidak terlarang untuknya mungkin sudah diacak-acak rambut sahabatnya ini atau dicubitnya pipi dan hidungnya itu.
“Nanti kalau gue mau curhat gimana? Lo lihat sendiri tadi sikap kak Akhtar ke gue. Gimana gue bisa move on kalau dianya selalu bersikap manis sama gue.”
“Rain, denger gue. Lo harus jadi gadis yang kuat, semanis apapun sikap bang Akhtar ke elo, tapi di hatinya saat ini udah ada Lissa. Berusahalah untuk tetap berpikir rasional, walaupun gue tahu itu sulit tapi bukan berarti mustahil. Hindari kontak fisik dengannya, karena semakin sering kita melakukan kontak fisik maka akan semakin cepat perasaan berkembang dalam diri kita. Semakin sulit juga untuk lo move on nantinya.”
Rain terdiam masih ingin mendengar ceramah dari sahabatnya yang mungkin tidak akan dia dengar dalam waktu lama.
“Wanita baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Dan wanita keji hanya untuk laki-laki yang keji, itu janji Allah pada kita. Kalau lo mau dapet jodoh yang baik, maka yang dikejar baiknya dulu bukan laki-lakinya. Jadi gue harap lo bisa menjadi wanita yang baik. In Syaa Allah lo akan dapat jodoh yang baik nantinya.
Lo harus jaga diri dengan baik, karena gue ngga bisa berada di dekat lo lagi mulai sekarang. Jaga tubuh lo dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim, ini nasehat gue sebagai kakak lo, Rain. Kurangi intensitas ketemu sama bang Akhtar, cari kesibukan yang bermanfaat. In Syaa Allah sedikit demi sedikit perasaan yang lo miliki akan berkurang.”
“Gue bakalan kangen denger ceramah elo El,” Rain menyusut cairan di hidungnya.
“Tinggal telpon gue apa susahnya sih, lebay lo.”
“Kan beda waktu El, lo melek, gue tidur.”
“Cuma beda 8 jam Rain.”
“El!”
Panggilan Irzal menginterupsi pembicaraan mereka. Melihat isyarat dari ayahnya, Elang tahu kalau sudah waktunya untuk pergi. Bersama Rain, dia menuju keluarganya. Elang memeluk sang bunda erat, kemudian memeluk Ayunda, Rena, Nara dan Khayra bergantian. Tak lupa mencium punggung tangan para orang tua yang turut mengantar keberangkatannya. Irzal memeluk anaknya seraya menepuk punggungnya pelan.
“Jaga diri di sana, jangan tinggalkan shalat. Belajar yang rajin, kalau ada libur sempatkan pulang. Ayah dan bunda akan meluangkan waktu untuk menengok kalian.”
“Iya yah, titip bunda dan Yunda. Ayah juga jaga kesehatan, jangan terlalu sering lembur.”
Irzal mengurai pelukannya, memegang rahang anaknya kemudian menepuknya pelan. Hal yang sama dia lakukan pada Farel.
“Om titip pengawasan restoran padamu El, Farel,” ucap Dimas seraya menepuk pelan bahu kedua keponakannya.
“In Syaa Allah om.”
Elang dan Farel kemudian berpamitan dengan para sahabatnya. Tangis Rain kembali pecah, Regan menarik Rain dalam pelukannya. Elang dan Farel berjalan menuju boarding pass, sebelum menghilang di balik pintu mereka berbalik lalu melambaikan tangan. Poppy mengusap pipinya yang basah, berat rasanya melepaskan dua anaknya untuk hidup jauh darinya untuk beberapa waktu. Irzal memeluk istrinya erat.
🍁🍁🍁
**Babay Elang, hati-hati ya. Ingat ada mamake yang setia menantimu di sini😋
Jangan lupa ya readers terkecehku ditunggu terus dukungannya buat mamake.
Like..
Comment..
Vote..
Love you😍**
__ADS_1