
Ara terdiam di depan kedai sambil berpikir sejenak, uang di dompetnya sudah habis. Sekarang bagaimana caranya dia pulang. Ara terjengit ketika merasakan tepukan di bahunya. David sudah berdiri di sampingnya.
“Kamu mau pulang? Ayo aku antar.”
“Ngga usah, makasih.”
“Kamu dijemput?”
“Ngga.”
“Mending aku antar. Kamu udah ngga punya uang kan. Uang kamu yang tadi ada selotipnya pasti ngga akan laku.”
Ara mendengus sebal, laki-laki di sebelahnya ini benar-benar membuatnya malu sekaligus keki. Dia merogoh ponselnya lalu memesan ojeg online. Setelahnya Ara mengirimkan pesan pada Jayden. Gadis itu meminta Jayden menunggu di depan kantor untuk membayarkan ojeg online pesanannya. Ara tak mau menghubungi Farel. Takut terkena ceramahnya. Bisa minum di kedai kopi tapi tak bisa membayar ongkos ojeg.
Tak berapa lama ojeg pesanannya tiba. Tanpa mempedulikan David, Ara bergegas naik ke atas motor. David terus memandangi Ara sampai motor yang membawa gadis itu menghilang ditelan lalu lalang kendaraan. Dalam hatinya berharap bisa bertemu kembali dengan Ara.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit. Ojeg yang dinaiki Ara berhenti di depan gedung Humanity Corp. Dia segera turun dari motor seraya mencari keberadaan Jayden. Namun bule tengil itu tak terlihat batang hidungnya. Justru Farel yang kini berjalan ke arahnya.
“Berapa ongkosnya pak?” tanya Farel begitu sampai di dekat pengemudi ojeg.
“Dua puluh ribu pak.”
Farel mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya lalu memberikannya pada driver tersebut.
“Ambil aja kembaliannya pak.”
“Makasih pak.”
Setelah meletakkan helm yang tadi dikenakan Ara, sang driver segera memacu motornya meninggalkan gedung perkantoran tersebut. Tinggalah Ara yang mendapat tatapan tajam dari Farel.
“Kenapa ke sini bukannya pulang ke rumah?"
“Uangku habis. Kalau pulang ke rumah siapa yang bayar ongkos ojegnya.”
“Terus kenapa telpon Jay? Suamimu itu Jayden apa abang?”
“Iya maaf.. maaf.... jangan marah-marah napa. Kan jadi hilang gantengnya.”
“Hilih ngerayu ada maunya.”
Farel memutar tubuhnya kemudian berjalan masuk ke dalam gedung. Ara berlari kecil menyusul di belakangnya. Setelah menaiki lift, akhirnya pasangan suami istri itu tiba di lantai sebelas. Farel langsung melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Ara memilih istirahat di sofa sambil memainkan ponselnya.
Dari sela-sela ponselnya, Ara mengintip Farel yang tengah sibuk di belakang meja kerja. Sungguh suaminya ini terlihat lebih tampan saat sedang bekerja. Ara memperhatikan wajah Farel dengan seksama. Mengapa selama ini dia tak menyadari wajah tampan suaminya. Bahkan Yama tak ada apa-apa dibanding Farel. Mata Ara terus melihat ke arah bibir Farel yang cukup tebal dan menurutnya itu sangat seksi. Ara menggelengkan kepalanya ketika membayangkan mencium bibir seksi itu.
Lamunan Ara buyar ketika pintu ruangan terbuka. Fitria masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Farel mempersilahkan Fitria duduk di depan meja kerjanya lalu keduanya mulai berdiskusi tentang pekerjaan yang Ara tidak mengerti.
Ara memandangi Fitria yang masih serius berdikusi dengan Farel. Sekretaris suaminya itu memang cantik. Walaupun postur tubuh Fitria tidak terlalu tinggi namun bentuk tubuhnya proporsional. Ditunjang dengan wajah cantiknya, Fitria memiliki pesona yang tidak bisa ditolak para pria.
Tiba-tiba Ara merasa insecure melihat Fitria. Dia memandangi tubuhnya sendiri. Ukuran dada Ara tidaklah besar, bisa dikatakan kecil. Tidak sebanding dengan milik Fitria yang lumayan besar. Timbul ketakutan dalam dirinya kalau Farel tertarik pada sekretarisnya itu. Sebenarnya Ara tak mengerti dengan perasaannya akhir-akhir ini. Yang jelas dia tak suka melihat ada perempuan lain yang memuja atau berdekatan dengan suaminya.
Beberapa menit berlalu, diskusi antara Farel dan Firtia berakhir. Wanita itu keluar dari ruangan. Ara memandang Farel yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Sepertinya pria itu lupa kalau ada Ara di ruangannya.
“Bang..”
__ADS_1
“Hmm..”
“Laper.”
“Kamu belum makan siang?”
“Tadi baru makan kue aja.”
“Minta ke Fitria pesenin makan.”
“Abang mau juga?”
“Boleh.”
Farel berbicara dengan Ara tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Ara bangun dari duduknya lalu keluar ruangan. Dia menuju ruangan di sebelah Farel. Nampak Fitria sedang menyusun beberapa dokumen.
“Mba Fit..”
“Ya?”
“Kata bang Farel pesenin makan siang.”
“Mba Ara mau makan apa?”
“Nasi padang pake rendang buat bang Farel pake cincang.”
“Ok mba.”
Fitria mengangkat gagang telepon di mejanya kemudian menghubungi pantry. Dia meminta salah satu OB untuk membelikan makan siang. Setelah meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, Fitria melanjutkan pekerjaannya.
“Mba Fit..”
“Ya?”
Fitria menghentikan kegiatannya lalu menatap Ara dengan intens. Keningnya berkerut tanda tak mengerti dengan pertanyaan gadis itu.
“Hubungan saya sama pak Farel ya sebatas atasan dengan bawahan mba.”
“Cuma itu? Ngga ada hubungan lain gitu?”
Fitria tertawa memperlihatkan deretan giginya berderet rapih. Dada Ara cukup berdebar menunggu jawaban dari wanita cantik itu.
“Saya sudah menikah mba.”
Fitri memperlihatkan cincin di jari manisnya. Ara menghembuskan nafasnya lega, ternyata kekhawatirannya sia-sia saja. Fitria tak memiliki hubungan spesial dengan suaminya. Ara baru saja akan beranjak pergi ketika seorang wanita cantik menghampiri Fitria.
“Hai Fit.. Farel ada?”
“Oh bu Diandra. Ada bu, silahkan masuk.”
Diandra tersenyum manis ke arah Fitria kemudian masuk ke dalam ruangan. Ara mengernyitkan keningnya melihat Diandra. Dia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.
“Mba Fit, itu siapa?”
__ADS_1
“Itu bu Diandra. Dia anaknya pak Bayu, mantan CEO Rakan Putra Group.”
Kecemasan langsung melanda Ara, dengan cepat dia masuk ke dalam ruangan Farel. Kedatangan Ara yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu sontak saja mengagetkan Farel dan Diandra yang tengah berbincang. Dengan wajah juteknya Ara menatap ke arah Diandra. Dadanya bergemuruh hebat melihat Farel duduk santai di atas meja kerja dan posisinya begitu dekat dengan Diandra.
“Dia siapa Rel?”
“Masa kamu lupa? Itu Ara, anaknya om Dimas.”
“Ya ampun. Ara, udah besar ya ternyata.”
“Iyalah, kan dikasih makan,” sarkas Ara. Farel melotot ke arah Ara, tapi gadis itu tak menghiraukannya.
“Ok deh Rel. Aku pergi dulu ya.”
“Kok buru-buru.”
“Iya masih ada urusan. Aku ke sini cuma mau kasih itu aja kok. Salam ya buat El.”
Farel hanya mengangguk. Diandra bangun lalu menghampiri Ara sebentar. Diusapnya puncak kepala gadis itu lalu melangkah keluar ruangan. Tak lama berselang pintu Farel kembali terketuk. Fitria masuk membawakan pesanan Ara lalu meletakkannya di atas meja.
Farel segera mengajak Ara makan. Gadis itu mengunyah makanannya dengan pikiran masih melayang pada Diandra. Menerka-nerka apa hubungan antara wanita itu dengan suaminya.
🍁🍁🍁
Sepulang dari kantor Farel, Ara terus saja termenung memikirkan Diandra. Untuk mengalihkan pikirannya, dia memutar drama Korea di ruang tengah. Tak butuh waktu lama, Ara langsung ternggelam dalam adegan drama yang ditontonnya. Gadis itu tak menyadari Farel sudah berada di sampingnya.
“Bukannya belajar malah nonton drakor.”
“Suntuk belajar mulu. Refreshing sekali-kali boleh kan.”
“Ceritanya tentang apa?”
“Soal cowok ngga peka. Dia ngga sadar udah bikin baper cewek eh ditinggal gitu aja pas si cewek udah bucin.”
“Oh..”
Hanya itu yang keluar dari mulut Farel. Tangannya meraih toples dari atas meja kemudian meraup kacang dari dalamnya. Ara mendesis kesal seraya melirik ke arah Farel. Kemudian kembali memfokuskan perhatian pada layar datar di depannya.
Ara semakin serius menonton ketika drama yang ditontonnya menampilkan adegan romantis pasangan kekasih. Mata Ara tak berkedip ketika pasangan di layar kaca tengah berciuman.
“Duh.. kapan ya bisa ngerasain dicium sama oppa-oppa,” gumam Ara pelan tapi masih bisa didengar oleh Farel.
“Ra..”
“Hmm..”
Ara terus menatap ke layar televisi. Farel menyentuh dagunya kemudian mengarahkan wajah Ara menghadapnya. Farel mendekatkan wajahnya kemudian me**mat bibir Ara. Gadis itu hanya terdiam merasakan sentuhan bibir suaminya. Farel terus memagut bibir Ara dengan lembut.
🍁🍁🍁
**Jawaban yg bener Ara naik ojeg yg bayarin bang Farel😂
Eh ternyata Abang udah berani cium Ara ya.. abis cium ngapain ya🙈
__ADS_1
Met pagi readers.. selamat beraktivitas. Mudah²an kisah pasangan Tom & Jerry ini bisa jadi penyemangat kalian ya😉**