
Keramaian di kediaman Irzal telah selesai setelah acara pengajian 40 hari Irzal dan Poppy tuntas digelar. Suasana rumah kembali tenang. hanya menyisakan sampah yang sedikit berserakan di halaman rumah. Petugas kebersihan segera membersihkan sisa-sisa sampah yang ada di halaman. Tenda pun masih belum di bongkar, seperti esok hari mereka baru membongkarnya.
Semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Rena dan Dimas beserta keluarganya memutuskan menginap di sini. Begitu pula dengan Ayunda dan Farel. Mereka kini sedang berbincang di ruang tengah. Atmosfer duka perlahan menghilang di rumah ini. Sejak kehadiran baby Irzal, suasana rumah kembali ramai. Aslan dan Yumna juga sangat menyayangi adiknya ini.
Ayunda keluar dari kamar mandi, wajahnya sedikit pucat. Sudah dua hari dia kehilangan selera makan. Hanya air putih dan coklat saja yang masuk ke perutnya. Reyhan segera menghampiri sang istri yang berjalan sempoyongan. Baru saja Reyhan sampai di dekatnya, Ayunda sudah ambruk.
“Ay!!”
Pekik Reyhan, membuat semua orang di ruang tengah melihat ke arahnya. Dengan sigap Reyhan menangkap tubuh sang istri kemudian membopongnya ke kamar. Selama menginap di sini, Ayunda memilih tidur di kamar bekas orang tuanya dan Elang juga tidak keberatan dengan itu.
Ara bergegas mengammbil minyak kayu putih lalu memberikannya pada Reyhan. Aslan datang membawakan air putih untuk tantenya. Hatinya sedikit cemas, takut kalau Tuhan kembali mengambil salah satu anggota keluarganya.
Tak lama Ayunda tersadar. Reyhan segera memeriksa kondisi sang istri. Elang dan Farel masuk ke dalam kamar. Mereka langsung naik ke atas kasur menghampiri sang adik yang masih terbaring lemas.
“Rey... Yunda kenapa?” tanya Elang cemas.
“Apa perlu dibawa ke rumah sakit.”
“Iya mas, bang. Tapi ngga usah sekarang, besok aja.”
“Kenapa ngga sekarang? Lebih cepat lebih baik kan?”
“Kalau sekarang juga percuma, dokternya ngga ada,” jawab Reyhan santai.
“Maksudnya.”
“Alhamdulillah, Yunda hamil mas, bang.”
“Apa??” seru Farel dan Elang bersamaan.
Bukan hanya kedua kakaknya, Ayunda juga terkejut mendengar penuturan suaminya. Dia melihat ke arah Reyhan yang hanya dijawab dengan anggukan. Mata Ayunda berkaca-kaca, Reyhan langsung memeluknya.
“Wah kita mau punya keponakan lagi El,” seru Farel senang seraya merangkul Elang.
“Iya bang. Alhamdulillah. Abang sendiri kapan nambah?”
“Kalem.. sayang, nanti kita gass poll ya jangan mau kalah sama mereka,” ucap Farel pada Ara seraya mengedipkan matanya. Ara hanya melotot pada sang suami.
“Rakan mau punya dede bayi lagi?”
“Iya.. mas Rakan seneng?”
“Iya ma. Tapi dedenya perempuan ya. Udah cukup Aqeel yang nakal.”
__ADS_1
Ucapan polos Rakan langsung disambut gelak tawa yang lainnya. Aqeel yang jadi bahan pembicaraan cuek saja. Dia merangsek maju lalu mengusap perut mamanya yang masih rata. Setelah serangkaian kesedihan yang melanda keluarga ini, akhirnya mereka mendapatkan kabar baik. Anggota keluarga Ramadhan akan kembali bertambah.
🍁🍁🍁
Tak terasa tiga tahun sudah berlalu. Seiring berjalannya waktu, hubungan keluarga besar Irzal semakin erat saja. Mereka semakin kompak dan solid saja. Anggota keluarga juga terus bertambah. Keinginan Rakan untuk memiliki adik perempuan tak menjadi kenyataan. Dia kembali mendapatkan adik laki-laki yang diberi nama Daffa. Farel juga sudah memiliki anak kedua berjenis kelamin laki-laki, yang diberi nama Arial. Nama tersebut perpaduan dari nama Ara dan Farel, sesuai dengan wajahnya yang perpaduan orang tuanya.
Kebahagiaan bertambah ketika Deski mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Helga. Si blacan yang sering membuat Ayunda cemburu berat dan uring-uringan. Kini Deski sudah dikaruniai seorang bayi cantik yang diberi nama Shakira.
Tapi tak semua hal berjalan mulus. Beberapa bulan lalu Gala Corp yang kini dipegang oleh Firlan sempat goyah karena pihak-pihak yang ingin menjatuhkan perusahaan tersebut. Keadaan sempat kacau saat itu. Harga saham Gala Corp terjun bebas mencapai titik terendah. Elang, Reyhan dan Liam serempak membantu. Kefan, kakak Yoshi pun tak tinggal diam. Lewat pengaruh Baihaqi Group dia membantu perusahaan adik iparnya ini. Bahkan Deski juga ikut turun tangan. Bahu membahu mereka membantu hingga akhirnya perusahaan dapat keluar dari krisis.
Setiap satu bulan sekali mereka menggelar acara gathering. Tempat berkumpul digilir, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seperti hari ini mereka sedang berkumpul di kediaman Ega. Kursi di ruang tengah juga ruang tamu dikeluarkan, supaya mereka bisa bebas duduk lesehan. Di halaman belakang, suara anak-anak terdengar memekakkan telinga. Gemma dan Nanaz yang bertugas menjadi baby sitter hanya bisa tepok jidat melihat kumpulan bocah yang tidak bisa diam.
Ega mendekati Firlan dan para sahabatnya yang asik mengobrol di ruang tamu. Dia ingin mendiskusikan sesuatu yang membuat kepalanya pening akhir-akhir. Elang menggeser tubuhnya, memberikan tempat untuk Ega duduk di sampingnya.
“Tumben pi gabung di mari. Biar muda lagi ya? Percuma pi, udah turun mesin mah ngga bisa di up grade lagi. Spare partnya mahal,” celetuk Azriel.
“Dasar bocah gemblung.”
“Bocah udah bisa bikin bocah ini pi,” Azriel tergelak, dia memang senang sekali mengganggu sang papi.
“Kamu ke Singapura ya Ziel, urusin Orchid Company. Alfian mau mundur katanya. Dia harus ngurus perusahaan istrinya.”
“What?” Azriel terkejut, tawanya langsung hilang.
Firlan langsung menimpali. Gara tak bisa menahan tawanya, dia sampai memegangi perutnya. Azriel mendelik sebal ke arahnya.
“Ya salah papi. Orang ngga bakat bisnis disuruh ngurus bisnis,” Azriel mencoba membela diri.
“Ya udah Gara aja yang ke sana. Papi ngga percaya kalau orang lain yang urus. Itu perusahaan uyut kamu loh. Cikal bakal Gala Corp.”
“Jangan Gara pi. Kalau Gara ditarik ke sana terus yang bantu aku siapa? Papi tahu sendiri kondisi perusahaan baru pulih. Kalau Gara ditarik, bisa-bisa aku begadang di kantor. Apalagi Hanin lagi hamil tua.”
“Ya terus gimana? Ngga mungkin kan papi minta El atau Farel. Liam juga pasti ngga bisa. Kasihan Adam.”
“Ck.. suruh aja cucu papi.”
“Gemma?”
“Ya iyalah masa Desta, aneh-aneh aja papi. Gemma tuh pinter pi. Bulan depan kan dia lulus, suruh dia kuliah di sana sambil pelan-pelan belajar ngelola perusahaan. Minta Edward, asistennya Alfian bimbing dia, beres.”
“Bener juga, papi mau ngobrol dulu sama Ily dan Dimas.”
Ega bangun dari duduknya lalu menghampiri Dimas yang sedang berbincang dengan Adit di teras. Tanpa basa-basi Ega mengutarakan keinginannya menarik Gemma untuk mengurus Orchid Company. Usul Ega disambut baik oleh Adit. Sedang Dimas menyerahkan semua keputusan di tangan Gemma.
__ADS_1
Dimas memanggil Gemma yang sedang mengurus kumpul bocah. Duplikat Dimas itu segera datang menghampiri. Ega merangkul cucunya ini yang tahun ini genap berusia 18 tahun.
“Gem.. kamu mau ngga bantuin opa?”
“Bantu apa?”
“Kamu kuliah di Singapura ya sambil belajar ngurus perusahaan di sana. nanti kalau kamu udah lulus, kamu yang langsung pegang perusahaan. Gimana, mau ngga?”
Gemma terdiam sebentar, menimbang-nimbang apa yang ditawarkan sang kakek padanya. dia melihat ke arah Dimas. Papanya itu menyerahkan keputusan pada Gemma. Akhirnya Gemma mengangguk setuju. Ega begitu lega Gemma menyetujui usulnya.
Gemma memang lebih menyukai hal-hal yang berkaitan dengan manajemen atau bisnis. Berbeda dengan Gavin yang mengikuti jejak sang papa. Kalau Gibran masih belum bisa ditebak kemana arahnya.
"Aku sendiri aja gitu di sananya?"
"Kan nanti ada om Edward yg nemenin. Anaknya om Adam, Arik juga kuliah di sana?"
"Kenapa bukan bang Arik aja?"
"Arik ngga minat. Dia lebih senang dunia seni daripada bisnis."
"Paling dua tahun kamu sendirinya di sana. Nanti Nanaz mau kuliah di sana juga," timpal Adit.
Mendengar nama Nanaz, Gemma cukup senang. Gemma memang dekat dengan gadis itu. Akhirnya dia menerima usulan Ega dengan senang hati.
Gemma pamit kembali ke taman belakang setelah memberi keputusan. Dia tak tega meninggalkan Nanaz kerepotan sendiri mengurus para bocil.
“Ga, lusa aku sama Debby mau ke Guangzhou. Ada urusan dikit di sana sambil jalan-jalan.”
“Hati-hati kang. Aku dengar di sana lagi menyebar penyakit aneh.”
“Iya... ngga lama kok, cuma seminggu juga.”
“Ya udah, aku hubungi Syarif buat siapin pesawat.”
Adit hanya mengangguk. Dia dan Debby memang sudah merencanakan perjalanan ini dari jauh hari. Selain ada urusan bisnis, Debby ingin mengunjungi temannya di sana.
🍁🍁🍁
**Khusus part ini happy² aja ya.. Anggota keluarga besar Ramadhan nambah terus ya. Hayo ada yang kepikiran ngga, mamake bakal jodohin Deski Ama Blacan😂
Buat yang belum cuss ke karya baru mamake, yuk ah ke sana. Lihat kisah Nina & Abi, Abi yang jutek harus ketemu perawat antik model Nina😉
Biar ada karya baru, dukungannya di sini jangan kasih kendor ya, love you😍**
__ADS_1