Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Reyhan vs Sammy


__ADS_3

Staf IGD rumah sakit Ibnu Sina disibukkan dengan berdatangannya korban kecelakaan kerja dari proyek pembangunan apartemen yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tersebut. Korban dari mulai cedera ringan sampai berat terus dilarikan ke unit daurat ini. Hampir semua dokter yang bertugas diperbantukan di IGD.


Aldi, Friska dan Sammy yang memang sedang bertugas dengan cepat berlari menuju IGD. Mereka tercengang melihat semua bed telah terisi, bahkan ada pasien yang harus dirawat sambil duduk di kursi tunggu. Mereka bergegas membantu dokter yang bertugas di unit ini. Beberapa koas dan dokter residen turut diterjunkan untuk membantu.


Sebuah ambulans kembali berhenti di depan IGD. Tak lama dua orang petugas menurunkan blankar dengan seorang korban yang bersimbah darah. Dengan cepat petugas itu mendorong blankar memasuki IGD. Dokter Cahya segera memandu petugas menuju ruang tindakan. Dia memberi kode pada dokter Friska untuk mengikutinya.


Friska tertegun memandangi pasien yang terdapat luka bolong di bagian kiri perutnya. Darah terus keluar dari luka tersebut. Beberapa perawat segera memasangkan peralatan medis di tubuhnya. Dokter Cahya terlihat berusaha untuk menghentikan pendarahan.


“Dokter Friska!!”


Friska tersentak ketika dokter Cahaya berteriak memanggilnya. Kesadarannya kembali kemudian bergerak cepat menuju pasien. Dikarenakan banyaknya darah yang keluar, keadaan pasien sudah tidak sadarkan diri. Dengan cekatan Friska segera melakukan intubasi untuk membantu korban tetap bernafas.


“Suster, panggil dokter Sammy!”


Seorang suster bergegas keluar dari ruang tindakan untuk mencari Sammy. Tak lama suster tersebut kembali bersama dengan Sammy.


“Apa yang terjadi?”


“Pasien terkena luka tusukan besi di perut bagian kirinya. Diperkirakan limpa dan lambungnya terluka. Dia juga kehilangan banyak darah, karena besi yang menancap terlepas saat sedang evakuasi. Sepertinya kita harus secepatnya melakukan operasi.”


Sammy terdiam, dia menimbang-nimbang kemungkinan pasien dapat bertahan atau tidak. Dilihatnya luka yang telah berhasil dihentikan pendarahannya oleh dokter Cahya. Kemudian tanpa berkata, Sammy keluar dari ruang tindakan tanpa mempedulikan panggilan dokter Cahya.


“Dokter Sammy! Kita harus segera mengopearsi pasien.”


“Lupakan. Kondisi pasien sudah seperti itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”


“Setidaknya kita harus mencoba!”


“Kalau begitu kamu saja yang mencoba."


Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama berdebat dengan Sammy, dokter Cahya bergegas kembali ke dalam ruang tindakan. Di sana Aldi sudah bergabung dan sedang berusaha menghentikan pendarahan yang kembali keluar. Seragam biru yang dikenakan Aldi sudah berlumuran darah. Dokter Cahya sempat terkesiap saat melihatnya.


“Pasien harus segera dioperasi. Mana dokter Sammy?”


“Dia tidak bersedia.”


“Haaiissshh sial.. di mana dokter Reyhan?”


“Dokter Reyhan masih berada di ruang operasi 1.”


“Cepat hubungi ruang operasi 1, minta dokter Reyhan mengatasi pasien ini. Suster, segera persiapkan ruang operasi 3.”


“Baik dok.”


Friska beserta suster tadi bergegas melakukan tugasnya masing-masing. Dokter Cahya bersiap membawa pasien menuju ruang operasi 3. Aldi kembali ke IGD untuk menangani pasien lain. Dokter Cahya mendelik ke arah Sammy yang berpura-pura sibuk menangani pasien.


Ruang operasi 1


Reyhan telah selesai melakukan operasi pengangkatan tumor jinak. Dia sedang bersiap menjahit bekas luka sayatan. Salah satu suster yang membantunya menghampiri kemudian menyampaikan pesan dokter Cahya. Reyhan hanya mengangguk. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sepuluh menit kemudian Reyhan keluar. Dia kembali berganti pakaian untuk mengoperasi serta membersihkan kedua tangannya. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang operasi 3. Saat pintu terbuka, semua tim sudah bersiap, termasuk dokter Cahya.


“Bagaimana situasi pasien?”


“Pasien terkena tusukan besi di tempat kerja. Limpa dan lambungnya terluka, pasien juga kehilangan banyak darah karena besi terlepas saat evakuasi.”


Reyhan mengangguk, kemudian mulai bersiap untuk mengoperasi korban. Seperti dugaan dokter Cahya, limpa dan lambung terluka cukup parah. Reyhan menangani luka di bagian lambung lebih dulu. Suster yang membantunya terus menyodorkan peralatan yang diperlukan dokter bedah tersebut.


Saat operasi baru berjalan sepuluh menit, tiba-tiba kondisi pasien shock. Layar monitor yang menunjukkan tanda vitalnya mulai berbunyi menandakan kondisi pasien menunjukkan tanda-tanda penurunan.


“Dokter, pasien mengalami henti jantung.”


“Siapkan debrifilator!”

__ADS_1


Reyhan segera naik ke atas blankar kemudian melakukan CPR. Setelah alat siap, dia turun, disusul dokter Cahya yang memberikan kejutan. Masih belum ada reaksi dari pasien.


“Suntikan epinephrine! Naikkan 200 joule!”


Suster segera memberikan suntikan epinephrine, Reyhan kembali naik ke atas blankar dan memberikan CPR. Dokter bersiap dengan defribilatornya, setelah Reyhan turun dia kembali memberikan kejutan.


“Belum kembali dok.”


“300 joule!”


Suster kembali menyiapkan defribilator, Reyhan lagi-lagi naik untuk melakukan CPR. Dokter Cahya maju memberikan kejutan. Detak jantung pasien tetap tak kembali. Reyhan kembali melakukan CPR. Dia terus melakukan kompresi bergantian dengan dokter anestesi.


Sepuluh menit berlalu, namun pasien tetap bergeming. Tak ada tanda-tanda detak jantungnya kembali. Dokter Cahya menggelengkan kepalanya pada Reyhan yang masih melakukan CPR, keringat sudah bercucuran membasahi rambut dan wajahnya. Dengan berat hati Reyhan menghentikan kompresi.


“Waktu kematian pukul 11.45,” ucap dokter Cahya dengan suara lemah.


Perawat yang bertugas di ruang operasi segera membereskan peralatan dan membersihkan tubuh korban. Reyhan keluar dari ruang operasi bersama dengan dokter Cahya.


“Apa yang terjadi? Kamu tahu setiap detik itu berharga untuk pasien yang kehilangan banyak darah seperti tadi.”


“Maaf dok, tadi saya memang sempat berdebat dengan dokter Sammy karena dia menolak untuk mengoperasi pasien. Karena tidak cepat dibawa ke ruang operasi, luka yang berhasil saya tutup kembali terbuka dan mengeluarkan darah lagi.”


Rahang Reyhan mengeras, dia sudah cukup muak dengan sepak terjang rekan seprofesinya itu. Dengan langkah panjang dia bergegas keluar operasi. Namun sesampainya di ruang tunggu, Reyhan tercenung melihat sepasang orang tua renta menghampirinya.


“Bagaimana dengan anak saya dok? Apakah dia selamat?”


“Anak bapak?”


“Yang kecelakaan konstruksi, dia anak saya dok. Suster bilang dia sedang dioperasi.”


“Maaf pak.. anak bapak tidak bisa diselamatkan. Dia kehilangan banyak darah.”


“Tiddaaakkk... dokter bohong kan? Pak.. dokter ini bohong kan? Danu kita baik-baik saja kan?”


“Dokter... anak saya baik-baik saja kan?”


Belum sempat Reyhan menjawab, pintu terbuka. Dua orang perawat mendorong blankar membawa tubuh pasien tadi yang bernama Danu sudah tertutup oleh kain putih. Wanita tua itu mendekat lalu menyibak kain putih tersebut. Tangisnya seketika pecah ketika melihat anaknya sudah terbujur kaku.


Suami wanita itu segera memeluk istrinya yang masih histeris. Reyhan menengadahkan kepalanya ke atas. Hatinya mencelos melihat pemandangan di depannya. Penyesalan mulai menghinggapi hatinya, kenapa dia sampai gagal menyelamatkan pasien tadi. Kedua orang tua itu mengikuti blankar yang membawa jenazah anaknya.


“Suster..”


“Iya dok.”


“Tolong segera diurus kepulangan pasien tadi. Siapkan ambulans untuk mengantarkan jenazahnya. Saya yang akan bertanggung jawab untuk semuanya.”


“Baik dok.”


Reyhan beranjak dari tempatnya. Tujuannya kini adalah mencari Sammy. Tangannya sudah terkepal kuat. Tak sabar untuk melayangkan pukulan pada rekannya itu.


BRAK!!


Dengan kasar Reyhan membuka pintu ruang istirahat dokter mengejutkan semua yang ada di dalam. Kebetulan sekali, orang yang dicari ada di sini. Reyhan segera menghampiri Sammy.


“Kenapa kamu menolak mengoperasi pasien tadi?”


“Dia sudah tidak ada harapan. Buat apa membuang tenaga dan waktu. Lihatlah, kamu juga tidak bisa menyelamatkannya. Harusnya kamu berpikir dengan jernih Rey. Sebentar lagi waktu evaluasi untuk kita, kita membutuhkan track record baik apalagi menjelang program fellowship. Kehilangan pasien di meja operasi itu membuat penilaian performamu menurun. Aku tidak ingin mengalami itu.”


“Brengsek!!!”


Reyhan yang sudah dikuasai emosi, mencengkeram leher kemeja Sammy. Membuat pria yang sedang duduk itu berdiri kemudian mendorongnya ke tembok. Semua yang ada di sana berusaha melerai namun Reyhan bergeming.


“Kamu adalah seorang dokter, tugasmu adalah menyelamatkan nyawa!!”

__ADS_1


“Seorang dokter juga harus memikirkan reputasinya. Mana ada pasien yang mau dioperasi oleh dokter yang kehilangan pasiennya di meja operasi.”


“Dasar brengsek!!”


BUGH


Sebuah pukulan menghantam wajah Sammy hingga dokter itu jatuh tersungkur. Darah keluar dari sudut bibirnya yang terluka. Aldi segera menahan Reyhan yang hendak memukul Sammy lagi. Dokter yang lain segera membantu Sammy untuk berdiri. Namun pria itu malah sengaja memancing emosi Reyhan lagi.


“Sebagai seorang dokter kamu terlalu cengeng. Hanya karena kehilangan pasien kamu merengek seperti ini.”


Reyhan menghempaskan tangan Aldi yang memegangi tubuhnya. Kemudian dia kembali berjalan menuju Sammy. Saat akan kembali melayangkan pukulan. Pintu ruangan terbuka.


“REY!!”


Reyhan menghentikan pergerakannya ketika mendegar suara Regan yang menggelegar di ruangan. Semua dokter yang ada di ruangan langsung tertunduk. Dengan sorot mata tajam Regan memandang ke arah sang anak.


“Ikut saya!!”


Regan keluar dari ruangan. Tak lama Reyhan menyusulnya. Semua yang di dalam dapat bernafas lega. Sammy terlihat tersenyum misterius. Dia berencana menggunakan kejadian tadi untuk menjatuhkan Reyhan. Aldi yang memahami jalan pikiran Sammy segera mendekati pria itu kemudian berbisik pelan di telinganya.


“Kalau kamu berencana menjadikan peristiwa tadi untuk menjatuhkan Rey, sebaiknya hentikan. Kalau tidak kasus pelecehan seksual yang menimpa salah satu pasienmu akan terungkap ke publik.”


Sammy membelalakkan matanya. Kini giliran Aldi yang tersenyum ke arah Sammy.


“Kamu pikir tidak ada yang tahu soal kejadian itu? Aku dan Rey tahu soal itu, bahkan Rey memiliki buktinya. Jadi, pilihan ada di tanganmu.”


Aldi menepuk bahu Sammy kemudian memberikan sedikit tekanan di sana. Selanjutnya dengan tenang dia keluar dari ruangan. Sammy mengusap wajahnya dengan kasar. Ucapan Aldi barusan cukup membuatnya cemas.


🍁🍁🍁


“Rey.. ada apa denganmu? Tidak biasanya kamu bersikap emosional seperti tadi.”


“Maaf pa.”


Reyhan menatap lurus ke depan. Memandangi deretan gedung yang ada di hadapannya. Saat ini Regan dan Reyhan sedang berada di rooftop. Regan sengaja membawa anaknya ke sini untuk berbicara secara pribadi.


“Apa karena pasien yang tidak bisa kamu selamatkan itu?”


“Kalau saja Sammy tidak mengulur waktu, mungkin dia bisa diselamatkan.”


“Rey.. kita adalah dokter, bukan Tuhan. Kita hanya berusaha menyelamatkan pasien dengan kemampuan yang kita miliki tapi tetap Tuhan yang menentukan hidup matinya seseorang. Jika memang waktu orang itu berakhir hari ini, walaupun Sammy bersedia mengoperasinya, nyawanya tetap tidak akan tertolong.”


Reyhan menundukkan kepalanya. Walaupun apa yang dikatakan papanya itu benar adanya, tetap saja rasa kecewa masih menghinggapi hatinya. Regan merangkul bahu anaknya.


“Papa tahu apa yang kamu rasakan. Ini pertama kalinya kamu kehilangan pasien di meja operasi. Berat pastinya, tapi kamu harus ingat itu adalah resiko yang harus kita hadapi sebagai dokter bedah. Papa dulu juga seperti itu. Saat pertama kali kehilangan pasien di meja operasi, papa terguncang. Kamu tahu siapa korban pertama papa?”


“Siapa pa?”


“Kakakmu, Rakan. Dia meninggal sebelum papa sempat melakukan apapun padanya. Papa sempat terpuruk beberapa saat bahkan enggan masuk ruang operasi. Tapi akhirnya papa dapat melewati itu semua. Kamu juga harus bisa menyikapi ini semua dengan bijak. Oleh karenanya jangan berhenti belajar supaya kamu bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa.”


“Iya pa. Terima kasih untuk nasehatnya. Maaf kalau tadi aku sudah bersikap kasar.”


“Hmm.. sekali-kali orang itu memang perlu dikasih pelajaran. Papa sudah dengar desas-desus tentang reputasinya.”


Regan terkekeh, Reyhan menoleh ke arah sang ayah lalu ikut terkekeh. Ayah dan anak itu masih berdiam di rooftop untuk beberapa saat. Regan juga menanyakan tentang keputusan Reyhan untuk mengambil program fellowship di Munich.


🍁🍁🍁


**Orang kalem syerem juga ya kalau marah. Part sekarang ngga ada melownya kok, jd pada ngga nangis kan?


Intermezo dulu ya, sebelum masuk lagi ke bagian yang bikin gaslau, melow dan uwu.


Dukungannya jangan kasih kendor ya, like, comment and vote. In Syaa Allah tar malem mamake up lagi😘**

__ADS_1


__ADS_2