Sistem Penguasa Dunia

Sistem Penguasa Dunia
CH 104 Alam Roh Manusia Peri dan Siluman


__ADS_3

****


"Maafkan aku Jing Mi, namun kabar itu benar adanya. Aku merasa bersalah tidak ikut menolong suamimu, musuh sangat kuat. Aku sendiri kalau tidak cerdik melarikan diri pasti sudah dihabisi mereka. Suamimu terpojok untuk menahan agar pasukan yang tersisa bisa menyelamatkan diri dan melihat kalau suamimu dikurung lalu dibantai. Maafkan aku Jing Mi"


Sesaat sepasang mata Jing Mi membuat menatap Ying Chan didepannya, lalu mata itu berkaca-kaca. Isaknya tersendat "Suamiku Ao Xuan seorang yang kuat bagaimana mungkin dia mengalami nasib buruk seperti itu"


"Aku tahu kehebatan suamimu, namun pemberontak itu sangat kuat karena dibantu oleh She Mo"


"She Mo?" Jing Mi mengulang kata itu dengan terkejut, air mata mulai menetes jatuh ke pipinya yang pucat " antara suamiku dan She Mo tidak ada permusuhan, mengapa dia berbuat jahat"


"Kau tahu Jing Mi, She Mo itu kejahatannya setinggi langit sedalam lautan, sekarang teman besok lawan, hatinya tidak bisa ditebak. Apalagi saat dia menyebut dirinya sebagai Pemimpin Alam Roh yang dihuni oleh ras manusia peri dan siluman , Sambil kita menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam kuharap kau bisa tabah"


Jing Mi tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ratapannya menyayat hati " Langit memberikan nasib yang buruk sekali padaku, ayah tidak punya ibu tiada, belum lagi kami merasakan rasa bahagia pengantin baru, Ao Xuan terbunuh. Kejam sekali hidup di alam ini"


"Suamimu mati dalam keadaan terhormat Jing Mi, sebagai pahlawan. Aku sudah meminta orang untuk menguburkan mayatnya disuatu tempat.


"Aku ingin melihat dia yang terakhir kali..."


"Aku mohon jangan lakukan itu.."


"Kenapa Ying Chan?" tanya Jing Mi heran


"Ao Xuan, keadaannya sangat rusak, aku khawatir kalau kau melihatnya bayangan ngeri akan menghantui seumur hidupmu" ucap Ying Chan.


"Aku bersumpah atas nama dewa untuk membalas dendam"


"Sebelum kau bersumpah aku terlebih dahulu mengucapkan sumpah itu, namun saat ini hanya satu pintaku..."


Kepala Jing Mi yang tertunduk terangkat sedikit "Apa itu Ying Chan?"


"Kau tahu perasaanku padamu selama ini. Kasihku sedalam lautan cintaku setinggi langit, namun nasib kurang beruntung. Kasihmu sudah kau berikan pada Ao Xuan, sekarang Ao Xuan sudah tidak ada apakah kau berkenan mengambil diriku sebagai gantinya" ucap Ying Chan, matanya menatap Jing Mi dengan ekspresi rumit. Jing Mi menatap mata Ying Chan dalam-dalam


"Mayat suamiku saja belum kulihat, bagaimana mungkin aku berbuat tega seperti itu"

__ADS_1


"Maafkan aku Jing Mi aku hanya mengikuti adat di Alam Roh, jika seorang wanita telah menjadi janda dirinya harus segera mendapatkan suami baru, jangan ditunggu sampai lewat tujuh hari atau nanti akan terkena kutukan dan harus menunggu sampai dua puluh empat bulan purnama. Jangan lupakan itu Jing Mi, jika paman dan bibiku tidak ikut campur, diriku sekarang ini pasti adalah suamimu satu-satunya, sekarang kesempatan terbuka bagiku walau kau adalah seorang janda" Ying Chan berkata sedikit dingin matanya menatap ke arah mata Jing Mi seolah hendak menembus kepalanya.


"Aku tidak mungkin melupakan tradisi negeri ini, namun aku saat ini tidak ingin memikirkan itu, aku ingin melihat mayat suamiku bagaimanpun keadaannya"


"Kalau begitu aku akan menyuruh orang untuk membawa Ao Xuan, kuharap kau berjanji. Malam ini aku akan menghubungi Nenek Liu sebagai juru nikah, kita cari saksi lalu menuju Bukit Cinta, disitu kita akan memadu kasih sebagai sepasang suami istri. Sebelum matahari terbit kita sudah berada disini lagi"


Jing Mi hanya diam dengan mulut terkancing mendengar itu seolah tidak percaya. Air mata semakin mengucur deras.


"Ying Chan aku tahu kau mencintaiku, kita dulu pernah saling berkasih tapi aku tidak bisa menolak pesan ayah bundaku melalui paman dan bibiku untuk menikah dengan Ao Xuan"


"Yang lalu biarlah berlalu Jing Mi saat ini aku perlu menunggu jawabmu, jika kau tidak berkenan aku akan pergi meninggalkan Alam ini dengan kehancuran hati" ucap Ying Chan.


"Aku perlu berbicara dengan paman dan bibiku"


"Jing Mi pujaan hatiku, jangan kau lupa jika seorang wanita sudah bersuami itu lepas dari ikatan orangtuanya, apalagi kau saat ini hanya dengan paman dan bibiku. Kau berhak menentukan kehidupanmu sendiri"


"Ying Chan, aku,,,"Jing Mi menangis keras dan tidak sadar menjatuhkan diri ke pelukan lelaki yang memang pernah si cintainya.


"Ying Chan ketahuilah, walau aku seorang janda Ao Xuan belum menyentuh diriku keseluruhan"


"Bagaimana mungkin bukankah waktu itu di Bukit Cinta..?"


"Dia tidak melakukan itu, Ao Xuan terlalu sayang padaku jadi dia sengaja menunggu sampai di rumah. Namun sampai terbunuh dia belum sempat melakukannya."


"Jing Mi maksudmu kau saat ini masih perawan?" tanya Ying Chan dengan nafas memburu. Jing Mi menganggukkan kepalanya didalam pelukan Ying Chan.


"Ah nasibku tidak seburuk yang dikira" ucap Ying Chan, dia memeluk Jing Mi dengan erat dan penuh nafsu. Ketika dia mencoba menekankan tubuh Jing Mi ke dinding dan hendak menyentuh dadanya. Jing Mi mendorong Ying Chan.


"Dengar Ying Chan, aku tidak akan memberikan apapun padamu sampai kita berada di Bukit Cinta"


"Maafkan aku Jing Mi, aku terlalu gembira sampai lupa diri"


"Sebaiknya kau kembali dulu, aku ingin menyendiri"

__ADS_1


"Aku akan menunggumu" ucap Ying Chan lalu mencium kening Jing Mi dan melesat turun ke bawah.


******


Dalam gelapnya malam dan cuaca yang dingin, empat orang sedang duduk mengelilingi sebuah perapian kecil. Orang itu adalah Ying Chan, Jing Mi serta Nenek Liu si juru nikah di Alam Roh dan seorang saksi. Mereka duduk membelakangi batu besar setinggi lutut dan terdapat dua buah bantal di atasnya.


Nenek Liu merapal mantra, mulutnya bergerak-gerak meracau mengeluarkan suara aneh, tak lama kemudian wanita tua itu berhenti meracau. Mulutnya mengucap pertanyaan.


"Kalian yang dipertemukan langit untuk meminta pernikahan apakah sudah siap?"


"Kami siap nek" ucap Ying Chan dan Jing Mi bersamaan.


"Sebutkan nama satu persatu"


"Aku Ying Chan"


"Aku Jing Mi"


Nenek Liu memandang kedua orang itu dengan mata membesar lalu mendongakkan kepala menatap langit dan berseru keras.


"Wahai Ying Chan apa kau bersedia menjadi suami Jing Mi?"


"Aku bersedia karena mencintainya"


"Wahai Jing Mi janda tiga hari apa kau bersedia menjadi istri Ying Chan?"


"Aku bersedia" jawab Jing Mi.


Nenek Liu menyeringai kepada dua orang itu lalu mengangkat tinggi kedua tangannya dan berseru " Aku Liu Zhi hanya seorang juru nikah, segala apa yang terjadi di tempat ini menjadi tanggung jawabku, tapi apa yang terjadi setelah itu akan menjadi tanggung jawab kalian, apakah kalian bersedia menerima tanggung jawab itu?"


"Kami bersedia nek" Ying Chan dan Jing Mi menjawab.


***** bersambung

__ADS_1


__ADS_2