Sistem Penguasa Dunia

Sistem Penguasa Dunia
CH 124 Rencana She Mo dan latih tanding dengan Qing Long


__ADS_3

*****


She Mo yang sedang bersantai di kamarnya dengan dua gadis dikiri kanannya mendapat laporan kalau bawahan yang ditugaskan mengawasi Xiao Feng terbunuh, namun dia tidak heran sebab Bao Huang saja bisa dikalahkan apalagi cuma mata-mata.


"Hmm menarik orang ini berasal darimana, sepertinya merepotkan"


"Apa kita harus meminta bantuan Ci Wuya tuan?" ucap seorang gadis sambil menyuapkan anggur ke mulut She Mo. She Mo tertawa sejenak sebelum menjawab.


"Belum saatnya kita menyuruh nenek tua itu, kita amati dulu keadaan kalau bisa hindari masalah dengan para peri, sudahlah kalian hibur aku sekarang" She Mo berkata sambil tangannya mengusap bagian belakang tubuh seorang gadis.


Sekitar dua jam kemudian She Mo telah selesai dengan aktivitas terkutuknya dia merebahkan diri sambil memandang langit-langit ruangan sementara dua gadis sudah terkapar setelah melayani She Mo. Pria itu kemudian bangkit dan memakai pakaiannya kemudian keluar ruangan menuju aula pertemuan.


She Mo kemudian duduk dikursi dan menjentikkan jarinya 3x, tak berselang lama muncul dua sosok pria berpakaian merah. Kedua pria itu kemudian membungkuk dan memberi hormat


"Hormat kami kepada yang mulia"


"Bangunlah, aku memanggil kalian karena ada tugas khusus untuk kalian"


"Kami siap menjalankan perintah"


"Kalian ku tugaskan untuk mencari seseorang, dia berpotensi menjadi ancaman. Dia memiliki mata emas dan seekor kucing putih dan seorang bawahan menurut informasi dia berada di kawasan Kerajaan Angin Utara" ucap She Mo


"Apa yang harus kami lakukan yang mulia?" tanya salah-seorang pria itu.


"Tangkap kalau melawan habisi saja"


"Baik yang mulia" ucap keduanya berbarengan lalu menangkupkan tangan dan kedua orang itu menghilang dengan cepat.


*****


Xiao Feng kini sedang berada di dunia jiwa bersama Bai Hu dan Qing Long, Xiao Feng ingin mencoba kekuatan barunya dengan latih tanding melawan Qing Long sementara Bai Hu asyik tiduran memperhatikan mereka.

__ADS_1


Qing Long sangat kagum melihat dunia jiwa Xiao Feng dengan qi lebih tebal berbeda jauh dengan qi yang ada di Alam Roh. Xiao Feng dan Qing Long saling bertukar pukulan dan teknik, Qing Long sangat mahir dalam elemen kayu sangat tangguh biarpun dia menurunkan tanahnya setara dengan Xiao Feng.


"Qing Long kita sudahi dulu latihan kita" ucap Xiao Feng lalu duduk di kursi dekat gazebo, Qing Long mengangguk dan dengan sigap menuangkan air ke dalam gelas.


"Teknik tuan sebenarnya merupakan teknik tingkat tinggi namun tuan harus lebih sering menggunakannya ketika dipertarungkan selain bisa lebih memahami, tuan juga bisa menjadi satu dengan teknik dan elemen tuan" ucap Qing Long memberi masukan.


"Apakah kau sudah bisa menyatu dengan teknik dan elemen mu?"


"Seperti yang tuan lihat tadi"


"Benar juga, biarpun cuma elemen kayu namun bagi seorang yang sudah menguasai dan menjiwai akan sangat kuat"


"Benar tuan"


Setelah berbincang sebentar Xiao Feng menuju istananya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, Qing Long dan Bai Hu menunggu di taman sambil mengobrol. Tak lama kemudian Xiao Feng muncul lalu mereka keluar dari dunia jiwa.


*****


Xiao Feng melewati hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan besar dan dari ukuran, pohon itu sudah tertanam lama sekali dengan banyak lumut dibagian dahannya. Dipinggiran hutan ada sebuah desa kecil yang terlihat asri namun tidak terlihat banyak orang yang beraktivitas layaknya desa atau kota pada umumnya. Xiao Feng kemudian turun dan berjalan memasuki desa.


Gerbang desa tampak terbuka tapi tidak ada seorang pun penjaga, Xiao Feng terus masuk ke dalam desa dan melihat kalau desa itu seperti sepi hanya beberapa orang saja yang terlihat diluar rumah melakukan pekerjaan sehari-hari.


Xiao Feng kemudian mendekati salahsatu penduduk yang sedang mengasah sebuah golok.


"Permisi tuan,, kalau boleh tahu desa apa ini" sapa Xiao Feng sambil menangkupkan tangan. Yang disapa menghentikan aktivitasnya lalu melihat ke arah Xiao Feng. Pria itu tidak segera menjawab dia melihat Xiao Feng yang sangat tampan dengan penampilan seperti bangsawan dan seekor kucing duduk dibahunya. Dibelakangnya ada pria tampan juga dengan wajah datar tidak berekspresi.


"Sepertinya kau datang dari jauh"


"Benar tuan, kami hanya pengelana kebetulan singgah di desa ini" ucap Xiao Feng.


"Desa ini bernama desa Wangi,"

__ADS_1


"Hmm desa Wangi, tapi penduduk disini sedikit sekali".


Pria itu mendesah dulu lalu dia menyimpan goloknya "Mari kita ngobrol diteras rumahku" ajak pria itu, Xiao Feng menganggukkan kepala dan mengikuti. Mereka kini duduk dikursi dan terdapat meja kecil ditengahnya.


"Sebenarnya penduduk disini lumayan banyak, namun kejadian tiga bulan lalu membuat penduduk takut jika keluar rumah, owh iya namaku Gao Han"


"salam kenalkan namaku Feng Xi dan ini bawahanku Qing Long, memangnya kejadian apa tuan Gao" ucap Xiao Feng dan Gao Han kemudian mulai bercerita.


*****


Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kerbau berkaki enam berlari kencang ditengah hujan rintik-rintik disore hari kusir itu dengan semangat beberapa kali melecutkan cambuk ke arah dua ekor itu agar berlari lebih cepat.


Didalam kereta ada dua pria paruh baya dan seorang wanita berumur sekitar 40 tahunan, wanita itu memangku sosok anak kecil yang berumur tujuh tahun terbujur kaku dengan mulut membiru.


"Tabib apakah benar anakku telah mati?" tanya wanita itu sambil terisak. Pria paruh baya disampingnya memeluk bahu wanita itu mencoba menenangkan.


"Bukan bermaksud lancang nyonya namun memang benar putramu telah meninggal, sebenarnya sakitnya tidak terlalu parah namun karena terlambat ditangani dia meninggal lima jam yang lalu" ucap tabib yang membuat wanita itu semakin mengucurkan air mata. Tangannya mengelus wajah anak kecil di pangkuannya.


"Malang benar nasibmu anakku, kau seorang yang cerdas harapan klan kita namun langit cemburu dan mengambilmu dariku"


"Sudahlah Yu'er ini mungkin takdir anak kita"


"Kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak mengandungnya dan melahirkannya, aku mengandung dia sembilan bulan dengan penuh suka cita dan berharap lahir dengan selamat dan ketika dia lahir dan tumbuh besar diberkahi kecerdasan harapanku kini sirna, hiks hiks"


Pria paruh baya yang merupakan suaminya menghela nafas berat "Aku juga ayahnya dia darah dagingku bagaimana mungkin aku tidak sedih"


Tabib yang melihat hanya diam saja bukannya tidak ingin menolong namun ketika nyawa sudah meninggalkan raga apa yang bisa dilakukan. Tabib bukan dewa yang bisa mengembalikan nyawa seseorang.


"Nyonya sebaiknya kita iklaskan dan menguburkannya dengan cepat" ucap tabib kemudian. Kereta itu terus berjalan dan memasuki sebuah desa.


**** bersambung

__ADS_1


__ADS_2