Sistem Penguasa Dunia

Sistem Penguasa Dunia
CH 351


__ADS_3

***


"Tuan muda Feng terimakasih telah mengobati cucuku,, aku tidak tahu harus berkata apa!" ucap Chu Yang sambil menangkupkan kedua tangan, Xiao Feng tersenyum.


"Huan'er sudah ku anggap adikku sendiri Patriak, tidak mungkin aku diam saja!" ucapnya lalu melihat ke arah tabib yang sudah berkeringat dingin.


"Anak muda,, tidak tuan muda tidak disangka kau memiliki ilmu pengobatan hebat aku mengaku kalah,, kalau begitu aku pamit dulu!" ucap tabib.


"Tunggu,,!" ucap Xiao Feng dan tabib menghentikan langkahnya, Xiao Feng menyeringai tipis.


"Karena kalah bukankah tabib harus membayar taruhan!"


"Ini,,, baiklah apa yang kau inginkan!" ucap tabib, Xiao Feng mengelus dagunya.


"Hmmm aku ingin cincin penyimpanan mu!" ucap Xiao Feng, tabib berkeringat dingin mendengarnya sebab semua hartanya ada didalam cincin itu.


"Kau jangan keterlaluan,, aku murid tabib Ni jika kau menindasku, kau akan bermusuhan dengan asosiasi Xuanhuan!" ucap tabib mencoba mengancam.


"Aku menindasmu?? bukankah kau yang memulai taruhan Patriak Chu menjadi saksinya!" ucap Xiao Feng, tabib itu tidak bisa berkata lagi akhirnya dengan pasrah dia meloloskan cincin penyimpanan dari jarinya dan melemparkan kepada Xiao Feng lalu pergi dengan perasaan dongkol.


"Awas saja kau bocah,, tidak akan kubiarkan kau pergi dari kota ini dengan selamat!" gumamnya dalam hati sementara Xiao Feng tertawa kecil lalu bersama Chu Yang mereka berdua meninggalkan kamar menuju ruang tamu.


Diruang tamu Xiao Feng dan Chu Yang duduk berdua sambil bercerita, pelayan menyajikan arak dan makanan ringan.


"Sebenarnya Huan'er demam karena kondisi tubuhnya, karakteristik tubuh Yin Yang dia sudah mulai bangkit,, Patriak jujur saja Huan'er cucu kandungmu atau bukan?" ucap Xiao Feng, Chu Yang menghela nafasnya panjang lalu menyesap arak.


"Sebenarnya anakku dan istrinya saat sedang bertualang menemukan bayi di dekat hutan, karena sudah sepuluh tahun menikah belum memiliki keturunan akhirnya mengambil bayi itu menjadi anak. Namun nasib naas dialami anakku dan istrinya, saat Huan'er berumur satu tahun terjadi penyerangan terhadap keluargaku dan sebagian besar anggota keluarga Chu tewas hanya aku dan Huan'er serta beberapa orang yang berhasil selamat!" ucap Chu Yang.


"Apakah Patriak berasal dari kerajaan ini?" tanya Xiao Feng, Chu Yang menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Bukan,, kami berasal dari pinggiran pusat alam dewa aku bisa meloloskan diri dengan mengorbankan kultivasiku, hingga aku turun menjadi raja berlian dan melarikan diri ke kerajaan ini, setelah lima tahun baru aku perlahan bisa membangkitkan lagi keluarga Chu!" ucap Chu Yang, Xiao Feng menyimak cerita itu.


"Apakah keluarga Chu memiliki musuh?" tanya Xiao Feng setelah mendengar cerita Chu Yang.


"Seingatku aku tidak memiliki musuh, keluarga Chu hanya pedagang sayuran dan herbal"


"Lalu apakah Patriak tahu siapa yang menyerang keluarga Chu waktu dulu?"


"Aku tidak tahu mereka darimana yang jelas aku hanya mengingat kalau kelompok itu memiliki tanda kapak bersilang berwarna merah!" ucapnya, Xiao Feng sedikit terkejut mendengar itu sebab kelompok yang menggunakan lambang kapak bersilang itu juga memang dia cari.


"Hmm sepertinya aku memang harus ke pusat alam dewa" gumam Xiao Feng dalam hati, sedang asyik berbincang tak lama kemudian Feng Xi muncul dengan menggendong Chu Huanran.


"Kakek!" seru Chu Huanran nyaring dia turun dari pangkuan Feng Xi lalu berlari dan memeluk Chu Yang, Chu Yang mengelus kepala gadis kecil itu. Feng Xi pun duduk disebelah Xiao Feng, sementara Bai Hu dan Qing Long dari tadi berdiri saja dibelakang Xiao Feng seperti patung.


"Salam Patriak!" sapa Feng Xi, Chu Yang menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Istri tuan muda Feng ternyata sangat cantik sekali, cocok dengan tuan muda"


"Kakek,, tadi kakak cantik memberiku manisan gula dan hiasan rambut ini bagaimana cantikkan??" ucap Chu Huanran sambil menunjukan hiasan rambut perak indah.


"Tentu saja sangat cocok dengan Huan'er yang cantik!" ucap Chu Yang, Chu Huanran tertawa mengekeh mendengar pujian kakeknya.


"Sudah bilang terimakasih kepada kakak cantikmu?" ucap Chu Yang.


"Tentu saja sudah,, kakak cantik memang sangat baik kelak kalau sudah besar aku ingin seperti kakak cantik,," ucap Chu Huanran, Xiao Feng yang mendengar itu tersedak ketika menyesap arak lalu bergumam dalam hati.


"Huan'er jangan sampai kau menjadi gadis sembrono seperti Xixi" gumamnya sambil tertawa kecil, Feng Xi yang melihat itu seketika menatap tajam Xiao Feng.


"Aku tahu kau mengumpatku kan?" ucap Feng Xi mengirimkan pesan suara

__ADS_1


"Kau ini,,selalu berprasangka buruk terhadapku!" balas Xiao Feng.


"Baiklah tuan muda jika kau tidak merasa tidak apa-apa" ucap Feng Xi sambil tersenyum manis, namun bukannya terpesona Xiao Feng malah merinding melihat senyuman itu.


"Tidak Xixi,, aku mana mungkin mengumpatmu,, kau adalah yang tercantik dan kecintaanku mana tega aku mengumpatmu!" ucap Xiao Feng, Feng Xi hanya memutar bola matanya malas mendengar gombalan receh Xiao Feng. Mereka kemudian melanjutkan perbincangan sampai hari menjelang malam, karena hari sudah malam Xiao Feng dan Feng Xi memutuskan menginap dulu di kediaman keluarga Chu tentunya setelah Patriak Chu Yang menawarkan.


***


Didalam kamar Xiao Feng dan Feng Xi memasuki dunia jiwa.


"Haaahh aku rindu sekali dengan dunia ini,, Feng Ge aku kelaparan lihatlah perutku ini rata!" ucap Feng Xi memasang wajah memelas. Xiao Feng sendiri merasa aneh, gadis cantiknya hobi makan banyak tetapi bentuk tubuhnya tetap bagus, entah kemana makanan yang dia makan perginya.


"Haaiiss bukankah kau baru saja makan malam dua jam yang lalu?" ucap Xiao Feng.


"Huhu ibu,, rubah hitam sudah tidak menyayangiku,, tidak sudah tidak mau memasak lagi untukku!" ucapnya, Xiao Feng menghela nafasnya panjang.


"Haaaahh ayo ikut aku!" ucap Xiao Feng lalu memasuki istananya dan langsung menuju dapur, Feng Xi langsung bersorak dan memeluk lengan Xiao Feng sambil berjalan mengikutinya. Feng Xi memang sudah lama sekali dia rindu masakan Xiao Feng jadi dia begitu lahap menghabiskan makanannya.


"Pelan-pelan Xixi sayang tidak akan ada yang merebutnya darimu!" ucap Xiao Feng sambil mengusap saus disudut bibir gadis cantik itu, Feng Xi sejenak mematung mendapat perlakuan Xiao Feng apalagi memanggilnya dengan kata sayang, tidak terasa semburat merah timbul dipipinya.


"Hahaha kau bisa tersipu juga!" ucap Xiao Feng tertawa kecil.


"Ish kau ini,,," Feng Xi merenggut lucu dan malah membuat Xiao Feng gemas.


"Ishh otak ini perlu dibersihkan!" gumam Xiao Feng mengusir fikiran kotornya ketika melihat bibir Semerah Cherry milik Feng Xi.


"Kau bicara apa?"


"Hehe tidak,, cepat kau habiskan makananmu!"

__ADS_1


Mereka berdua menghabiskan makanannya dan berbincang di gazebo belakang istana, Xiao Feng sudah lama rindu dengan Feng Xi baru sekarang dia bisa berduaan tanpa ada yang menganggu.


*** bersambung ***


__ADS_2