Sistem Penguasa Dunia

Sistem Penguasa Dunia
CH 116 Xiao Feng bertemu Bai Hu


__ADS_3

****


Ketika masih terheran dengan tingkah harimau putih itu dari luar dua orang menerobos masuk. Satu sosok besar dan satu sosok kecil setinggi lutut. Harimau putih langsung berdiri dia membalikkan badan lalu tubuhnya mengecil dan menubruk sosok kecil yang baru masuk dan menjilati wajahnya.


Ternyata yang baru masuk adalah Ao Xuan dan Xiao Feng. Mereka yang tadinya hendak melanjutkan perjalanan namun ketika Xiao Feng merasakan aura familiar dan sistem mengatakan kalau Bai Hu tidak terlalu jauh, Xiao Feng menyuruh Ao Xuan untuk menuju aura itu. Kebetulan sekali mereka datang sebelum Bao Dan berbuat tidak pantas kepada Mei Ling.


"Haha Bai Hu kau kemana saja aku merindukanmu" Xiao Feng tertawa dia memeluk erat Bai Hu sejenak lalu berdiri.


"Tuan,, maafkan aku,, ketika aku berada di portal aku terhempas dan muncul di sebuah tempat aneh yang ditumbuhi pohon besar. Aku mencoba mendeteksi aura Tuan sampai ke wilayah ini, namun aku merasakan ada aura hitam dari klan siluman macan" ucap Bai Hu menjelaskan. Xiao Feng menganggukkan kepala.


"Sudahlah kita juga telah bertemu kembali aku sudah sangat lega"


"Ehem tuan tuan bisakah ditunda dulu pembicaraan kalian" sebuah suara gadis menghentikan Xiao Feng dan Bai Hu yang sedang berbincang. Ao Xuan juga terkejut namun ketika melihat ke sumber suara mereka lebih terkejut karena ada seorang gadis yang terbaring lemas. Segera mereka mendekati gadis itu.


"Mei Ling" ucap Xiao Feng, Lin Mei Ling tersenyum melihat Xiao Feng pandangan matanya tetap sama, Ao Xuan yang melihat itu hanya tersenyum penuh arti.


"Kau jangan bicara dulu" Xiao Feng dengan cepat meletakkan tangan kanan nya ke luka Mei Ling, Mei Ling yang baru pertama kali tubuhnya disentuh pria sontak bergetar dia memejamkan matanya.


"Jangan takut aku akan mengeluarkan racun itu"

__ADS_1


Mei Ling mengangguk, tiba - tiba dia merasakan hawa panas memasuki tubuhnya lalu hawa itu perlahan tersedot keluar dari luka. Xiao Feng dengan ukuran tubuh yang kecil harus mengeluarkan tenaga dalam extra dia sampai berkeringat. Setelah beberapa saat Xiao Feng selesai menyerap racun lalu memberikan pil. Lin Mei Ling mengambil pil yang sangat kecil itu lalu duduk.


"Pil apa ini kenapa sangat kecil sekali?"


"Itu untuk memulihkan lukamu, telanlah" ucap Xiao Feng sambil tersenyum yang membuat Lin Mei Ling salah tingkah, tanpa lama-lama Mei Ling menelan pil lalu bersila menyerap esensi pil. Ao Xuan dan Xiao Feng menunggu, Ketika sudah selesai dia bangkit berdiri dan membungkukkan badan.


"Terima kasih Tuan Feng telah menolongku dan juga harimau putih terima kasih"


"Tidak masalah aku hanya kebetulan lewat" ucap Bai Hu, Ao Xuan dan Lin Mei Ling yang baru sadar kalau harimau itu bisa berbicara seketika kaget.


"In,,ini,, na,, bagaimana mungkin seekor harimau bisa bicara" Ao Xuan berkata gugup sambil menunjuk, namun Lin Mei Ling setelah pulih dari kagetnya dia melangkah ke depan dan berjongkok didepan Bai Hu yang saat ini ukuran tubuhnya sebesar Xiao Feng. Tangan putihnya mengelus kepala Bai Hu.


"Mei Ling apa yang terjadi sebenarnya?" Xiao Feng bertanya. Lin Mei Ling kemudian berdiri dan menatap lembut Xiao Feng.


"Akan ku ceritakan riwayat hidupku, mungkin kalian bisa membantuku mendapatkan petunjuk"


Lin Mei Ling keluar dari gubuk diikuti Ao Xuan dan Xiao Feng. Bai Hu kembali mengecilkan tubuhnya dan melompat ke bahu Xiao Feng. Setelah berada dipinggir sungai berair jernih mereka duduk diatas batu besar. Lin Mei Ling kemudian memulai menuturkan kehidupannya.


*****

__ADS_1


Sore hari cuaca gelap sekali disertai hujan deras dan kilatan petir, suara gemuruh sesekali terdengar menambah suasana mencekam sore itu. Seorang nenek sedang berjalan diantar pepohonan ditangan kanannya memegang bungkusan kain berisi roti. Ketika tangannya hendak memasukkan roti ke dalam mulut, hidungnya bergerak mencium sesuatu.


"Bau busuk apa ini?" nenek tua itu berjalan menuju sumber bau, ketika semakin dekat sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi diantara Sambaran petir.


"Aku belum tuli dan sangat jelas itu tangisan bayi, ada bayi menangis dihutan"


Dengan langkah cepat si nenek sampai di depan pohon besar tinggi, dia sangat kaget melihat pemandangan didepannya, dua kaki serasa dipaku ke tanah mata melotot dengan mulut terbuka. Bagaimana tidak kaget nenek itu melihat sosok wanita tergantung didahan pohon rendah. Seutas tambang melilit lehernya yang sudah membusuk. Didada wanita itu ada sebuah kantong kain yang bergerak-gerak. Curahan air hujan mengucur jatuh membasahi mayat itu dari kepala sampai ke kakinya. Nenek tua itu tersentak ketika dari dalam kantong ada tangisan bayi.


"Ada bayi didalam kantong" Dengan cepat nenek tua melompat dan menyambar kantong, setelah mendarat di tanah nenek tua itu dengan tangan gemetar membuka kantong.


"Ya dewa,, tidak dapat kupercaya" si nenek jatuh berlutut dan memangku bayi itu yang sedang menangis. Ternyata bayi itu adalah bayi perempuan.


"Berkah apa yang diberikan dewa kepadaku hingga mendapati dirimu dihutan ini,, lalu wanita yang tergantung itu siapa? Ibumu? sungguh malang sekali"


"Berapa lama kau tergantung dipohon itu bayi cantik,, aduh bagaimana ini,, sebaiknya kau kubawa saja" nenek tua itu meletakkan kembali bayi itu ke dalam kantong dan mendapati ada sebuah token bergambar bunga Peony mekar. Namun dia heran tidak merasakan bau manusia siluman atau ras peri. Nenek itu tidak terlalu memikirkan dia mendekap bayi itu lalu mengalirkan qi untuk menghangatkan tubuh bayi. Nenek tua menatap mayat wanita tergantung lalu mengambil batu dan melemparnya ke arah tali yang menjerat leher. Tali itu putus dan mayat itu jatuh ke bawah. Si nenek dengan sigap menahan dengan qi nya lalu mayat yang sudah kaku itu dibaringkan diatas tanah.


"Kasihan sekali,, kau masih sangat muda tapi mati mengenaskan, anak ini akan kubawa meskipun kau sudah mati tapi aku yakin jiwamu masih bisa melihat. Aku membawa anakmu bukan untuk mencuri namun untuk ku urus layaknya cucuku sendiri, semoga kau bisa tenang di alam akhirat sana dan bisa bertemu anakmu suatu saat nanti setelah kau bereinkarnasi" setelah berkata seperti itu, si nenek menghentakkan kakinya dan lubang besar terkuak di tanah. Dengan hati-hati si nenek meletakkan mayat dan menutupnya dengan tanah, sebuah batu ditancapkan di atas gundukkan tanah.


"Baiklah semoga kau tenang aku akan pergi dan percayakan anakmu ditanganku" si nenek kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


**** bersambung


__ADS_2