
"Tuan, Nona, kamar sudah siap. Mari saya antar kan." ucap pelayan penginapan berbarengan dengan Xiao Lei dan Mira yang kemudian mengikutinya menuju lantai atas.
"Silahkan Tuan, Nona." ucap pelayan itu sembari membukakan pintu untuk mereka berdua dan kemudian pergi meninggalkan mereka. Mira masuk dan Xiao Lei menutup pintu.
"Mira, bagaimana jika kita makan dulu? Didepan ada restoran yang ramai" ajak Xiao Lei dan Mira menganggukkan kepalanya.
"Di tempat seperti ini aku dapat mencari informasi." kata Xiao Lei di dalam batinnya.
Mereka berangkat menuju ke restoran.
"Selamat datang Tuan, Nona, ingin memesan apa?"
"Mira, kamu pesan aja, aku sama sepertimu."
"Baiklah, Kak Lei."
Sembari Mira memilih menu dan memesan untuk mereka berdua makan, Xiao Lei justru mendengarkan baik-baik obrolan orang-orang di restoran itu, hingga ada satu meja yang menarik untuk Xiao Lei.
"Meme bagaimana aku bisa mendengar suara mereka yang berada di sebelah utara bertiga."
" Bisa menggunakan alat mendengar 30 poin per 5 menit, bisa menggunakan sadap suara 50 poin per 5 menit, bisa dengan pil peningkat pendengaran 5 poin per 1 menit, Tuan bisa memilih."
"Meme kau mau merampok?"
"Tidak Tuan itu memang harga yang harus di bayar."
"Aku mau pil peningkat pendengaran untuk 1 menit dulu saja."
"Baik Tuan, silahkan." ucap Meme sembari memberikan, dan Xiao Lei memakannya.
"aj syjwkusgv suksksg kansgz...." membuat telinga Xiao Lei menjadi ingin pecah.
"Meme apaan ini berisik sekali! Cabut!" ucapnya marah
"Baik Tuan." Meme menghilangkan efek pil.
"Meme kenapa kau mengerjaiku lagi di saat penting. Kau tidak memberitahuku lagi."
"Maaf Tuan, Tuan tidak tanya."
__ADS_1
"Ganti yang bagus."
"Baik Tuan ini alat sadap suara." Meme memberikan dan memasangnya.
Kemudian terdengar pembicaraan di meja yang terdiri dari 3 orang lelaki.
"Dia begitu hebat untuk besar di negara Laozi."
"Tapi bagaimana pun, dia bukan jenius satu-satunya disana."
"Ya... aku pernah mendengar ada jenius di negara Laozi dari keluarga Xiao, tapi sepertinya memang bukan dia."
"Keluarga Xiao kau bilang? Bukankah mereka telah jatuh, bukankah itu artinya tak ada yang jenius."
"Sttt, kemaren dia sempat keceplosan marga nya sebenarnya juga Xiao."
"Apakah begitu? Sangat mengejutkan."
"Ya itu mengejutkan, bukankah harusnya dia disana untuk membantu keluarganya bangkit. Mengapa malah disini dan menjadi bagian keluarga Meng?"
"Yah, mungkin dia telah di rekrut oleh keluarga Meng bagaimanapun Meng Yiyi kini menjadi permaisuri negara Laozi."
"Cihh... itu kedoknya."
"Hati-hati bicaramu jika terdengar di telinga mereka bisa gawat nanti."
"Kita berbicara pelan tak akan ada yang mendengar."
"Sudah kita bersulang lagi saja."
"Kak Lei... Kak Lei..." panggil Mira berkali-kali hingga Xiao Lei tersadar.
"Maaf Mira, aku tadi terpikir sesuatu. Kamu makan dulu ak ke meja sana dulu ada urusan penting."
"Apa masalah serius?"
"Tidak juga, kamu jangan berpikir berlebih."
Xiao Lei pun menghampiri meja itu dan berniat menanyakan sesuatu kepada mereka.
__ADS_1
"Hei bro... boleh aku bertanya siapa dia yang kalian maksut tadi."
Ketiga orang itu tidak menjawab hanya saling bertatapan dan tidak menjawab.
"Meme, carilah cara untuk membuat mereka jujur."
"Baik Tuan, aroma kejujuran 50 poin untuk 3 menit. Sudah oke Tuan?"
"Baiklah itu saja, buruan!" perintah Xiao Lei membuat Meme memecahkan aura itu.
Seketika mereka yang menghirup aroma akan berkata jujur tanpa mereka sadari selama 3 menit.
"Tadi kita membicarakan Meng Wang pembela diri yang asal sebenarnya dari negara Laozi."
"Ya dia pembela diri jenius yang kemari walaupun terlihat baik tapi sebenarnya sangat licik itu terbukti karena terungkapnya marga dia yang sebenarnya Xiao."
"Meng Wang ini kemari bergabung dengan keluarga Meng yang berpengaruh dan di angkat menjadi Tuan Muda hanya saja keluarga nya di negara Laozi terpuruk."
"Kita hanya mendengar ceritanya bahwa dia berkhianat."
"Walaupun begitu, itu hanya cerita. Sewaktu itu dia membuktikan dan menolak gosip yang beredar."
"Ya, kita hanya tahu ini saja. Hanya saja kita pernah melihat dia tertawa licik ketika membunuh dan sesaat kemudian dia berakting seperti manusia yang baik."
"Ya, itu benar. Hanya saja kita tak berani menghadapinya. Sehingga kita diam saja dan lebih berfikiran positif bahwa semuanya adalah salah."
"Efek akan habis Tuan." sela Meme.
"Baiklah bro, makasih atas info nya." pamit Xiao Lei meninggalkan mereka dan kembali ke meja Mira berada.
Seketika suasana langsung ricuh karena kejujuran-kejujuran yang terungkap. Ketiga orang itu pun ber getaran karena mengungkapkan itu yang dapat membahayakan nyawanya. Mereka menghampiri Xiao Lei dan memohon pertolongannya agar melindunginya.
"Santai saja bro... mereka semua tak mendengar, dan hanya kita saja yang tau dan aku berjanji tak akan membocorkannya."
"Baiklah, kami mempercayaimu. Mohon pamit." ucap serentak mereka dan buru-buru pergi meninggalkan restoran.
Apa benar itu Xiao Wang? Mengapa dia berada disini? Apa benar dia berkhianat?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Xiao Lei.
__ADS_1
Walaupun begitu Xiao Lei dan Mira tetap melanjutkan makannya diantara mereka yang masih mempeributkan kejujuran masing-masing.