Sistem Penguasa Dunia

Sistem Penguasa Dunia
CH 118 Berpisah


__ADS_3

****


Keesokan harinya Ao Xuan, Xiao Feng dan Lin Mei Ling sudah meninggalkan penginapan. Ao Xuan setelah berpamitan dia langsung menuju kerajaannya, kini tinggal berdua Xiao Feng dan Lin Mei Ling.


"Tuan Feng aku juga akan pamit untuk mengurus masalahku, apakah kita masih akan bertemu" Lin Mei Ling berkata, dia menatap Xiao Feng dengan pandangan sulit diartikan seolah seorang istri yang akan mengantar suaminya pergi. Xiao Feng tersenyum melihatnya.


"Selama matahari masih menyapa pagi dan musim selalu berganti selama itu pula kita masih akan bertemu"


"Hmm,, baiklah aku harap tuan Feng menjaga diri baik-baik dan semoga dewa melindungi tuan Feng"


"Ya kau juga jaga diri baik-baik jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi"


Mei Ling mengangguk dalam hati dia senang mendengar ucapan Xiao Feng seolah memperhatikannya, lalu dia terbang dan melihat Xiao Feng sekali lagi dengan pandangan mesra, Xiao Feng melambaikan tangannya dan melihat kepergian Mei Ling sampai menghilang dari pandangannya.


"Tuan kenapa membiarkan gadis cantik berkeliaran sendiri?" tiba-tiba Bai Hu berkata. Xiao Feng melirik


"Dia kuat dan bisa menjaga diri lagipula aku siapanya sampai harus mengikuti dia"


"Tapi sepertinya dia menaruh hati padamu tuan"


"Sudahlah kau jangan menggodaku, sebaiknya kita mencari sesuatu untuk meningkatkan kekuatan kita" ucap Xiao Feng seketika dia ingat perkataan Raja Obat Yao Wang dan Xiao Feng tersenyum kecil.


Bai Hu mengaum kecil lalu membesarkan tubuhnya, Xiao Feng melompat ke punggungnya lalu Bai Hu mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi menuju ke arah barat.


*****


Xiao Feng terbang tidak terlalu cepat dia menikmati pemandangan yang berada dibawahnya tampak masih sangat alami berbeda jauh dengan wilayah di benua Awan Biru, disini hutan masih sangat lebat bahkan rumah penduduk masih seperti jaman dulu berupa gubuk dengan jendela dari kayu. Dikejauhan Xiao Feng melihat air terjun besar dengan pelangi dibawahnya.

__ADS_1


"Bai Hu tampaknya air terjun itu sangat bagus bagaimana kalau kita kesana siapa tahu ikan disana besar-besar"


"Baik Tuan" Bai Hu segera menuju ke arah air terjun itu dan terlihat didekat air terjun ada dua orang sedang duduk sambil membakar ikan. Tampang dua orang itu lumayan seram dengan tubuh tinggi dan di punggungnya tergantung sebuah senjata berupa sabit besar. Bai Hu tidak langsung turun namun melayang tertahan diatas mengamati dahulu.


"Ah sudah lama kita menunggu tapi orang itu tidak datang juga" ucap salah satu orang itu sambil meniup-niup perapian. Temannya menggigit dulu ikan sebelum menjawab.


"Kita tunggu saja sebentar lagi pasti dia akan muncul, ketika sudah muncul kita ringkus langsung"


Disaat sedang berbincang tiba-tiba seorang kakek tua muncul ditempat itu, ditangannya memegang sebuah benda persegi panjang yang dibungkus kain. Dua orang yang sedang membakar ikan kemudian berdiri dan langsung mencegat kakek itu.


"Hahaha,, akhirnya kau muncul juga orangtua kami sudah seminggu menunggumu"


Kakek tua itu sedikit terkejut dia menatap dua orang bertampang seram didepannya.


"Kalau aku tidak salah, kalian berdua adalah Xie Kun dan Xie Mo dua saudara" ucap kakek itu.


Pria yang disebelah kiri tertawa sejenak lalu menepuk-nepuk tangannya "Tidak disangka kau bisa mengenali kami pak tua Ying Sun tampaknya kau sangat berpengetahuan"


"Karena kau tidak suka berbasa basi, baiklah keinginan kami adalah lukisan" pria bernama Xie Kun berkata, dia menyodorkan tangan kanannya seolah meminta sesuatu.


"Bagaimana kalau aku tidak memberikan?"


"Disini bukan kau yang membuat keputusan"


Xiao Feng dengan bantuan sistem menganalisa kalau dua Xie berada diranah Raja Perunggu *5 satu tingkat diatasnya dan berelemen angin dan api sedangkan kakek tua berada di raja Perunggu *3, Xiao Feng ingin melihat dulu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Sudahlah tidak usah panjang lebar kita serang saja" ucap Xie Mo duluan menyerang dengan teknik elemen anginnya, gerakannya sangat cepat siuran angin serangan menderu mengarah ke bagian vital tubuh Ying Sun.

__ADS_1


Dalam lima gerakan kakek Ying Sun terdesak hebat dan hanya mampu menghindar saja, kesempatan itu tidak disia-siakan Xie Kun dia juga maju berniat merampas benda terbungkus kain.


Meski dalam keadaan terdesak kakek tua itu sempat melihat pergerakan Xie Kun, dia melompat ke atas lalu mendorongkan tangan kanannya. Sebuah asap hitam keluar dari tangannya dan ketika asap itu menyebar tiba-tiba asap itu berubah menjadi ledakan api menyerang dua orang Xie.


"Sialan ini teknik Asap Pembakar Raga cepat menyingkir kalau tidak tubuhmu akan membusuk" teriak Xie Mo sambil melompat ke samping, asap itu menabrak pohon dibelakangnya dan langsung terbakar namun ketika api padam dengan cepat pohon itu langsung membusuk menjadi debu.


"Hmm tampaknya itu gabungan dari elemen api dan racun" gumam Xiao Feng yang memperhatikan. Xie Kun yang mencoba merampas langsung membatalkan niatnya karena tahu itu sangat berbahaya.


Baru saja mendarat ke tanah Xie Kun kini menyergap, dia menusukkan tangannya ke arah dada dengan dua jari diluruskan dan ada api kecil di ujung jarinya. Xie Kun menembakkan bola api kecil bertubi-tubi, namun kakek Ying Sun dengan lihay menghindari.


Xie Kun merasa kesal sebab kakek tua itu biarpun kultivasinya dibawah dia namun bisa menghindari semua serangannya. Melihat itu Xie Mo segera membantu, dia mencabut senjatanya berupa sabit besar lalu menerjang.


Ying Sun terkejut merasakan Sambaran angin dari samping dia dengan cepat menghindari dengan melompat ke belakang namun Xie Kun mengejar dengan teknik api nya. Ying Sun terdesak hebat kini kakek tua itu hanya mampu bertahan. Xiao Feng yang melihat pengeroyokan ini langsung melesat ke bawah untuk membantunya.


Disaat Xie Kun dan Xie Mo hampir mendaratkan serangannya keduanya dikejutkan oleh siluet seekor naga merah besar diselimuti api keemasan muncul dari udara. Dengan cepat keduanya mundur dan siluet naga itu menghantam tanah dan menimbulkan lubang besar.


"Buuuummm!!"


Debu beterbangan menutupi pandangan, Xie Kun dan Xie Mo dengan wajah pucat melihat ke depan. Ketika debu lenyap tampaklah sosok pria muda bermata emas sedang berdiri dengan kipas hitam ditangannya.


"Kau siapa berani ikut campur" teriak Xie Kun.


"Apa kalian tidak malu mengeroyok kakek tua" balas Xiao Feng. Ying Sun juga kaget dengan kemunculan Xiao Feng yang tiba-tiba namun dia sedikit lega dan juga waspada apakah pria ini berniat mengambil sesuatu juga darinya.


"Tidak ada hujan tidak ada angin rupanya ada lagi yang minta digebuk" ucap Xie Mo. Xiao Feng hanya tersenyum mendengarnya.


"Majulah kalian berdua biar aku cepat menyelesaikannya"

__ADS_1


"Cih,, ternyata omongmu besar juga, baiklah jika kau ingin segera mampus kami akan mengabulkan" Lalu Xie Kun dan Xie Mo menghunus sabitnya dan melesat ke arah Xiao Feng. Xiao Feng juga sama dia mengembangkan kipasnya dan melesat ke depan menyongsong serangan kedua saudara Xie.


**** bersambung


__ADS_2