
*****
Dibelantara hutan disebuah jalan setapak sosok pria company camping dengan pakaian robek dimana-dimana berjalan tertatih-tatih, sesekali tangannya menggapai dahan pohon untuk membantunya berjalan, ketika sampai di tepi sungai kecil dia jatuh berlutut dan menyemburkan darah. Pria itu menyeka darahnya lalu mengepalkan tinjunya.
"Feng Xi bedebah sialan, hutang ini harus kau bayar dengan nyawa busukmu!" ucap pria itu lalu kembali berjalan. Pria itu adalah She Mo, dia meledakkan bola kegelapan untuk menghabisi Xiao Feng namun ketika tahu Xiao Feng menghilang sesaat bola itu akan meledak, She Mo berusaha membatalkan serangan namun karena qi sudah keluar dan bola itu meledak. She Mo terlempar cukup jauh dan berhasil melarikan diri, dia berencana kembali dulu ke kediamannya dan menyusun rencana baru.
*****
Xiao Feng, Lin Mei Ling beserta Qing Long dan Bai Hu sesaat sebelum ledakan bola kegelapan She Mo, mereka sudah berteleportasi sejauh 10 kilometer dan kini sedang berada di pinggir sungai kecil. Lin Mei Ling sudah mengganti pakaiannya, dia memakai pakaian pemberian Xiao Feng. Dengan pakaian itu Lin Mei Ling tampak sangat anggun dan cantik apalagi rambutnya kini digelung keatas dan belakangnya terurai leher putih jenjangnya menambah daya tarik. Membuat semua orang terpana sejenak melihatnya, kecuali Qing Long wajahnya tetap datar dan dingin tidak berekspresi seolah langit runtuh saja dia tidak peduli.
Bai Hu mencolek lengan Xiao Feng dengan cakarnya.
"Ssstt,,, tuan nona Mei sangat cantik" bisik Xiao Feng ketika Lin Mei Ling sudah duduk bergabung dengan para lelaki itu, senyumnya tidak pernah pupus dari wajahnya. Xiao Feng melirik Bai Hu lalu menjewer tengkuknya dan melempar ke belakang.
"Meooww,, aduh tuan kau jahat sekali"
Lin Mei Ling tertawa melihat itu lalu dia mengambil Bai Hu dan memangkunya, Bai Hu senang saja tubuhnya dielus-elus Lin Mei Ling.
"Tuan muda Feng terima kasih sudah menolongku lagi, Budi baikmu pasti akan dibalas oleh dewa" ucap suara merdu Lin Mei Ling, matanya menatap lembut Xiao Feng yang tersenyum kecil.
"Jangan sungkan aku hanya kebetulan lewat dan tidak mungkin aku membiarkanmu celaka" ucap Xiao Feng, padahal maksud Xiao Feng sebenarnya menolong karena Mei Ling adalah sahabatnya, namun Lin Mei Ling salah mengartikan, diam-diam pipinya merona.
"Dia memperhatikanku, apa yang harus kulakukan" gumamnya dalam hati. Lin Mei Ling terdiam menunduk sambil tersenyum dalam hatinya seolah ada kupu-kupu beterbangan.
__ADS_1
"Nona Mei,, nona Mei?" Xiao Feng berseru ketika melihat Mei Ling diam saja.
"Eh,, iya kenapa tuan muda?"
"Kenapa kau diam, apa ada yang terluka?"
Mei Ling menggelengkan kepalanya "luka ku tidak parah dan aku sudah menelan pil" ucap Mei Ling. Xiao Feng menganggukkan kepalanya. Memang setelah melihat Lin Mei Ling, Xiao Feng tidak menemukan luka serius jadi Xiao Feng merasa sedikit lega.
"Nona Mei kenapa bisa bertemu dengan She Mo dan terlibat pertarungan" tanya Bai Hu. Lin Mei Ling kemudian menatap Bai Hu lalu mengarahkan pandangannya ke Xiao Feng.
"Aku tadinya ingin mencari informasi mengenai jati diriku, namun ditengah jalan tidak sengaja aku bertemu dua orang berpakaian merah dan disusul She Mo. Dia memaksaku mengikutinya dan aku menolak lalu terjadilah pertarungan sampai tuan muda datang"
"Maaf bukannya aku ingin mencampuri urusanmu tapi aku ingin mendengar alasan kau bertualangan mencari informasi yang kemungkinan sangat sulit didapat" ucap Xiao Feng. Lin Mei Ling kemudian menghela nafas sebentar lalu menetap Xiao Feng.
**flashback**
Disebuah hutan belantara yang lebat dan gelap menandakan malam akan turun, cuaca sedikit mendung disertai hujan rintik-rintik. Seorang nenek tua sedang berjalan dengan tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu kecil.
Ketika melewati deret pepohonan besar nenek itu menghentikan langkah dan hidungnya bergerak membaui sesuatu "Hmm bau busuk darimana ini?" ucap si nenek sambil memutar pandangannya. Ketika melihat ke arah atas sebelah kanan matanya membulat dengan mulut terbuka.
"Demi dewa,, penglihatan ku masih normal betulkah apa yang kulihat" seru nenek itu, tangannya digunakan untuk menggosok matanya berulangkali. Di atas pohon tidak terlalu tinggi tergantung mayat wanita. Tali menjerat lehernya yang sudah mulai membusuk. Dan didadanya ada kantung kain bergerak-gerak seolah ada sesuatu yang hidup.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam kantung itu, nenek tua kemudian melesat ke atas dan memotong tali yang menggantung mayat wanita itu. Nenek tua kemudian meletakkan mayat di atas tanah dan memeriksa kantung kain. Tangannya bergetar ketika membuka kantung dan menyembul kepala kecil seorang bayi perempuan yang cantik menangis keras.
__ADS_1
"Astaga,, seorang bayi perempuan!" seru nenek tua itu tidak percaya. Lalu dia keluarkan bayi dari kantung dan menggendongnya menenangkan bayi.
"Bayi cantik yang malang dilihat dari usiamu sepertinya belum berumur dua bulan dan siapa yang tergantung itu? Ibumu,,? kasihan sekali" nenek tua itu tersenyum dan mengelus pipi bayi dipangkuan nya.
"Baiklah mulai hari ini kau akan ku bawa" Lalu dia melihat mayat perempuan muda. Nenek tua menghentakkan kakinya ke tanah, tiba-tiba tanah bergemuruh dan bergetar. Kemudian lubang persegi tercipta, nenek tua meletakkan mayat wanita dan menimbunnya dengan tanah. Dia memotong pohon kecil dan mulai membuat kayu papan pendek lalu ditancapkan dibagian sisi kuburan.
Nenek tua membungkuk tiga kali "Wanita malang, tubuhmu terbujur kaku namun aku tahu jiwamu masih ada, izinkan aku membawa anakmu dan akan kuurus dia" Nenek itu kemudian mengambil kantung kain dan dia terhenti sejenak ketika melihat hiasan rambut berupa tusuk konde dari perak berukir indah. Nenek itu beranggapan mungkin peninggalan ibu dari bayi, dia menyimpan benda itu lalu membungkus bayi cantik dan melesat menghilang. Didekat pohon tinggi tempat tergantungnya mayat wanita, samar-samar muncul sosok bayangan putih seorang wanita yang sangat cantik tersenyum menatap kepergian nenek tua itu lalu sosok samar itu menghilang ditiup angin.
Sembilan belas tahun di suatu lembah dekat gunung tinggi ada sebuah rumah besar berdiri di tengah pepohonan yang terbuat dari jamur raksasa. Dihalaman rumah terlihat dua sosok wanita sedang bertarung. Satu wanita tua dan satu gadis sangat cantik dengan hiasan rambut dari perak tertancap menyanggul rambutnya.
"Gunakan langkahmu seirama Mei'er, cari kelemahan lawan"
"Gunakan elemen angin untuk menambah kecepatan"
Suara nenek tua itu terdengar berkali-kali memberi petunjuk kepada gadis muda didepannya. Gadis itu menganggukkan kepala dan terus menyerang nenek tua itu dengan lincah layaknya seorang penari dan gerakannya seolah kupu-kupu yang beterbangan di atas bunga.
Gadis itu adalah Lin Mei Ling sigadis pemilik lesung pipi dan nenek tua itu gurunya yang menemukan dia dihutan. Rupanya dia tengah berlatih tanding dengan nenek tua itu.
"Mei'er sudah cukup kita istirahat dulu, kau bersihkan diri setelah itu temui aku di gazebo dekat danau" ucap si nenek lalu dia menghilang. Lin Mei Ling menganggukkan kepal lalu mengusap keringat didahinya. Dia kemudian meninggalkan halaman dan masuk ke rumah untuk membersihkan diri.
Setelah berpakaian rapi Lin Mei Ling kini menemui nenek tua digazebo. Terlihat nenek itu sudah duduk meminum teh, Lin Mei Ling kemudian duduk didepan nenek itu.
***** bersambung
__ADS_1