
*****
Setelah menyelesaikan urusannya Xiao Feng kembali melanjutkan perjalannya, sementara berita kematian Patriak sekte Sembilan Bintang dan anaknya tidak menyebar karena Tetua Agung dengan sigap melarang anggota sekte untuk membicarakan kematian mereka.
Xiao Feng terbang santai menyusuri hutan dan gunung, dia sangat menikmati keindahan alam dibawahnya.
"Ketika dibumi dulu aku tidak pernah terbang naik pesawat, kini disini bisa terbang bebas seperti burung sungguh perbedaan yang sangat besar!" gumamnya sambil tersenyum. Fikirannya melayang mengingat dulu dibumi sampai hari ini semuanya seperti mimpi. Tidak terasa dia memasuki sebuah kota lumayan besar dan Xiao Feng kemudian turun memasuki kota.
"Identitas!" ucap penjaga menghentikan Xiao Feng. Xiao Feng kemudian mengeluarkan token pengenalnya.
"Ohh, maafkan kami Tuan Muda sudah menganggu perjalanannya silahkan masuk" ucap penjaga setelah mengetahui token dari Paviliun Gagak Hitam. Xiao Feng masuk dan melemparkan kantung kain berisi 20 koin emas.
"Ambil buat anak istrimu!" ucap Xiao Feng, penjaga itu menangkap kantung kain dengan perasaan senang.
"Terimakasih Tuan Muda!"
Xiao Feng hanya tersenyum lalu memasuki kota, kota yang lumayan ramai dan dipenuhi orang-orang berlalu lalang ada yang menawarkan dagangan, ada juga yang sekedar jalan-jalan bersama keluarga. Xiao Feng menyaksikan pemandangan itu dengan hati senang.
"Hmm kapan aku bisa seperti mereka, hidup tanpa beban dan tanggung jawab dan tidak direpotkan dengan urusan berbahaya!" gumam Xiao Feng ketika melihat sebuah keluarga kecil suami istri menggandeng tangan anak kecil di kiri kanannya sedang berjalan-jalan. Seketika ingatannya langsung terbayang kepada Feng Xi. Xiao Feng tertawa kecil lalu berjalan memasuki sebuah rumah makan.
"Selamat datang di rumah makan Angsa Putih!" ucap pelayan wanita menyambut Xiao Feng.
"Aku ingin memesan hidangan dan arak terbaik disini" ucap Xiao Feng.
"Baik akan kami siapkan silahkan tuan muda menunggu sebentar" ucap pelayan itu sambil mengantar Xiao Feng ke meja kosong dekat jendela. Xiao Feng pun duduk menunggu hidangannya sambil mendengarkan percakapan para pengunjung.
"Hei apa kau tahu kalau beberapa waktu lalu Master Tianji mengumumkan akan menurunkan teknik pedangnya yang berada di tingkat semesta kepada siapa saja yang berjodoh!" ucap salah satu pengunjung kepada temannya.
"Bukankah Master Tianji selalu menutup diri, semua orang bahkan tidak tahu dimana keberadaannya!" ucap temannya menimpali.
__ADS_1
"Kudengar Master Tianji berdiam di Gunung Thailong yang berada di perbatasan barat Bingzhou dan Qingzhou, namun tepatnya dimana aku juga tidak tahu!"
"Wah aku juga ingin mempelajari itu namun kemampuanku tidak seberapa hahaha!"
"Master Tianji tidak sembarangan memilih orang hanya yang berjodoh saja yang beruntung mendapat warisan teknik pedang itu!"
"Sudahlah tidak perlu difikirkan aku yakin ada banyak orang yang akan datang!"
Xiao Feng mendengarkan itu mengangguk faham, dia tertarik dengan teknik pedang yang berada di level semesta sebab di toko sistem teknik hanya dari fana sampai surgawi. Mungkin setelah diupgrade akan menyediakan teknik tingkat semesta bahkan tingkat kuno.
"Hmm sepertinya teknik pedang master Tianji lumayan bagus sampai orang-orang ingin mempelajarinya namun teknik tingkat semesta tentu akan sudah dipelajari!" gumam Xiao Feng, tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan Xiao Feng.
"Silahkan dinikmati Tuan Muda!" ucap pelayan setelah menyajikan makanan dan seguci arak di meja. Xiao Feng tersenyum lalu mulai menyantap makanannya dengan santai, setelah selesai Xiao Feng meninggalkan rumah makan dan keluar dari kota menuju bagian timur Bingzhou, sebelumnya dia mengirimkan pesan kepada Mu Lan cabang Paviliun Gagak Hitam untuk mengirim anggotanya memantau keadaan gunung Thailong yang dikabarkan adalah tempat berdiamnya Master Tianji.
****
Di tempat lain kabar tentang Master Tianji yang akan mewariskan teknik pedangnya sudah menyebar bahkan sampai ke kekaisaran Huangzhou. Pangeran Huang Zhi Yan pun bersiap untuk menuju gunung Thailong bersama Ling Xu Yuan.
"Menurut kabar dari orang yang ku kirim seharusnya benar, apakah Pangeran akan kesana?" ucap Ling Xu Yuan.
"Tentu saja, sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan hanya saja siapa tahu aku berjodoh dan menerima warisan itu"
"Kalau begitu aku akan menemani pangeran ke gunung Thailong!"
Tak lama kemudian muncul sosok gadis cantik yang tak lain Huang Xiwen mengentikan kegiatan kedua pria itu.
"Gege apakah kalian akan pergi lagi?"tanya Huang Xiwen, Huang Zhi Yan tersenyum sejenak
"Tentu saja Meimei siapa tahu aku berjodoh mendapat warisan itu!" jawab Huang Zhi Yan
__ADS_1
"Lalu Yuan Gege juga akan ikut?" ucap Xiwen malu-malu.
"Tentu saja dia akan menemaniku ke sana"
"Yuan Gege sangat jarang bisa berkunjung dan akan pergi lagi, sebelum pergi aku ingin menghabiskan waktu sebentar dengan Yuan Gege!" ucap Huang Xiwen, Huang Zhi Yan tertawa dan berdiri lalu dia berjalan meninggalkan Ling Xu Yuan dan Huang Xiwen.
"Pangeran ini!" ucap Ling Xu Yuan.
"Ayo Yuan Gege ikut aku bukankah kau dulu berjanji akan mengajariku bermain kecapi" ucap Huang Xiwen sambil menarik tangan Ling Xu Yuan, pria itu hanya pasrah saja dan mengikuti Huang Xiwen ke kediamannya.
Ling Xu Yuan tampak mengajari Huang Xiwen bermain kecapi, namun ingatannya malah melayang teringat dia bermain kecapi dipinggir danau dan muncul Feng Xi, sebenarnya Huang Xiwen juga cantik namun Ling Xu Yuan sudah jatuh hati kepada Feng Xi sejak pertama bertemu.
"Gege kenapa melamun?"
"Ah tidak tuan putri aku sedang memikirkan lagu apa yang cocok untuk kau mainkan" ucap Ling Xu Yuan sambil tersenyum, mereka melanjutkan kegiatannya sampai sore menjelang.
*****
Di kerajaan Yongzhou Perdana Mentri Wang kembali menghadap Ratu Xiao Lian.
"Aku sebenarnya sudah membantu namun Xiao Feng ternyata bergerak satu langkah dariku dan tindakan bodoh adikmu juga yang membuat semua usahaku sia-sia, untuk apa dia menghadap Raja dan mengusulkan memeriksa kuda itu!" ucap Ratu Xiao Lian dingin.
"Lalu apa yang harus kita lakukan ratu, adikku dihukum pancung aku tidak mungkin berdiam diri atas penghinaan ini!" ucap perdana Mentri Wang.
"Berarti kalau sudah begini kita gunakan cara lain kau hubungi bangsawan Lin kirimkan undangan lamaran pernikahan untuk Xiao Chen" ucap Xiao Lian.
"Ratu ingin menggunakan Pangeran Pertama, tapi apakah pangeran pertama akan setuju?"
"Chen'er adalah anakku dia pasti akan menurutiku, sudah kau lakukan saja apa yang kuperintahkan sisanya aku yang mengurus" ucap Ratu Xiao Lian.
__ADS_1
"Baik Ratu, aku menerima perintah!" ucap Perdana Mentri Wang sambil mengalirkan tangan lalu meninggalkan kediaman Ratu Xiao Lian.
***** bersambung