
****
Xiao Feng memang tidak mendapatkan ingatan lokasi sekte Sembilan Bintang dari kelompok Tengkorak Hitam, tapi sebagai pemimpin organisasi informasi dunia jelas dia tahu semua informasi dibelahan dunia apalagi hanya lokasi tiap sekte. Xiao Feng terbang menuju ke arah Utara kerajaan Bingzhou memang letak sekte Sembilan Bintang tidak terlalu jauh dengan sekte Teratai hanya sekitar 100 kilometer dan tentu Xiao Feng sampai disana dengan cepat.
Xiao Feng sudah sampai di sekte Sembilan Bintang, sekte yang tidak terlalu besar dan hanya memiliki total sekitar 100an murid.
"Berhenti tunjukan identitas!" ucap murid penjaga gerbang menghentikan Xiao Feng, murid lelaki itu berusia sekitar 15 tahun.
"Jika aku tidak menunjukan apa yang hendak kau lakukan?" tanya Xiao Feng.
"Berarti kau tidak boleh masuk!" ucap penjaga gerbang tegas.
"Cerewet!" Xiao Feng menusuk titik syaraf didekat lehernya dengan dua jari yang sudah dialiri qi dan langsung membuat murid penjaga itu mematung diam tidak bisa bergerak dan berbicara. Xiao Feng menepuk pundaknya seraya tersenyum.
"Aku masuk dulu!"
Xiao Feng melangkah ke dalam dan melihat sekte yang lumayan bersih dengan beberapa murid ada yang berlatih teknik, menulis dan sebagian lain bercengkrama, tentu Xiao Feng tidak serta Merta membantai seluruh sekte dia hanya berurusan dengan Patriaknya dan anaknya.
"Tuan tampan, hendak kemana? apakah anda tamu Patriak?" tanya seorang murid gadis kepada Xiao Feng.
"Benar, aku tamu Patriak dan dimana kediaman Patriak?" tanya Xiao Feng sambil tersenyum.
"Oh kediaman Patriak ada diujung, tuan bisa berjalan lurus lalu belok kiri nah nanti ada halaman luas disitu kediaman Patriak!" ucap murid wanita menjelaskan
"Terimakasih!" ucap Xiao Feng lalu berjalan sesuai petunjuk murid tadi. Tak lama kemudian Xiao Feng sampai di kediaman Zhao Li, suasana kediaman tampak sunyi dan Xiao Feng menggunakan teknik matanya untuk melihat keadaan. Terlihat Zhao Li dan Zhao Yunhai sedang berbincang di bagian belakang rumah.
Xiao Feng tanpa berlama-lama segera melesat ke bagian belakang rumah tempat Zhao Li dan Zhao Yunhai mengobrol.
"Ayah,, orang yang kita suruh kenapa belum memberi kabar?"
"Kau sabar dulu mereka bertindak pasti perhitungan dulu mencari informasi baru mengeksekusi!"
"Aku sungguh tidak sabar melihat mayat Hei Feng Xi itu dan otomatis Bai Feng Xi akan menjadi milikku!" ucap Zhao Yunhai dengan seringainya. Namun mereka dikejutkan oleh suara yang muncul dibelakang mereka.
__ADS_1
"Apa kalian mencariku?" ucap Xiao Feng dan tentu membuat Zhao Li dan Zhao Yunhai kaget.
"Kaa,, kau bagaimana bisa masuk?" ucap Zhao Li
"Bisa saja,, sangat mudah bagiku untuk masuk ke sekte ini dan kalian mencari ini?" ucap Xiao Feng lalu mengeluarkan bungkusan kain dari cincin penyimpanan dan melemparnya ke arah Zhao Li dan Zhao Yunhai.
Bungkusan kain menggelinding dan terbuka dan terlihat sebuah kepala berlumuran darah yang sudah mengering, Zhao Yunhai sangat kaget sebab dia mengenali kepala itu. Dia langsung merasakan firasat buruk.
"Kalian berani bermain api denganku?" ucap Xiao Feng.
"Ayah daripada mati sia-sia lebih baik melawan!" ucap Zhao Yunhai lalu melesat menyerang Xiao Feng, Zhao Li juga langsung bergerak menyerang.
"Cih,, kalian benar-benar nekat!" ucap Xiao Feng, dia mengulurkan tangan kanan menangkap tinju Zhao Yunhai yang diarahkan kepadanya, lalu tanpa lama-lama dia mengalirkan qi elemen es ke tangan kiri dan muncul es runcing dan tajam. Xiao Feng langsung menusukkan es itu hingga tembus ke punggung Zhao Yunhai. Zhao Li yang melihat anaknya terbunuh dalam satu gerakan menjadi murka dia mengalirkan seluruh qi ke dalam tangan kanannya lalu dipukulkan ke depan.
"Bajingan aku akan membalas kematian Yunhai!" teriak Zhao Li, sebuah bola api besar tercipta dari tangan Zhao Li menuju Xiao Feng, namun Xiao Feng tenang saja dia menggunakan teknik matanya untuk melenyapkan bola api.
"Wusshh!"
"Ka,, kau bagaimana mungkin bisa menyerap bola api ku?" seru Zhao Li kaget. Xiao Feng hanya tersenyum tipis lalu pupil matanya berputar kembali dan tiba-tiba muncul bola api milik Zhao Li yang kini Xiao Feng gunakan untuk menyerang. Zhao Li kaget melihat serangannya digunakan untuk menyerangnya dia segera membuat pertahanan namun terlambat, bola api itu melesat dengan cepat dan menghantam tubuhnya.
"Wuushhh!"
"Buumm!"
Tidak ada jerit kematian, tubuh Zhao Li tampak menghitam hangus dan mengepulkan asap, Xiao Feng yang melihat kedua mayat itu lantas menulis surat dan kantung kain berisi koin emas. Setelah selesai dia melesat terbang meninggalkan sekte Sembilan Bintang.
Sepeninggal Xiao Feng keadaan sekte Sembilan Bintang gempar dengan ditemukannya mayat dari Patriak dan anaknya, Tetua Agung langsung turun tangan menangani masalah ini.
"Cepat selidiki siapa yang berbuat seperti ini!" perintah Tetua Agung lalu dia mendekati mayat dan melihat ada secarik kertas terlipat dan kantung kain yang terlihat agak berat. Tetua Agung mengambil kertas itu lalu membacanya, setelah beberapa saat kemudian dia menghela nafas faham dengan apa yang terjadi.
"Tetua bagaimana ini?" tanya seorang murid
"Sudahlah lebih baik kita urus dulu mayat Patriak dan Tuan Muda, nanti masalah ini biar aku yang urus!" ucap Tetua Agung, para murid segera mengurus mayat Patriak dan Tuan mudanya lali kediaman itu untuk sementara ditutup dengan alasan penyelidikan.
__ADS_1
Dikediamannya Tetua Agung duduk memikirkan sesuatu.
"Dia telah menyinggung orang harusnya tidak boleh disinggung dan kenapa Patriak bodoh itu sudah tahu orang itu mengerikan malah mendukung!" gumamnya dalam hati kemudian memanggil salah seorang murid yang sedang menyapu halaman.
"Hai kau kemari!" ucap Tetua Agung dan murid yang dipanggil segera mendekat.
"Ada apa Tetua?"
"Kau datang ke Tetua Zi dan sampaikan berita kalau kita akan menutup sekte selama beberapa hari ke depan dan untuk masalah Patriak jangan dibahas lagi, nanti aku menyelidiki sendiri!" perintah Tetua Agung.
"Baik Tetua!" ucap murid itu lalu segera berlari menuju kediaman Tetua Zi. Tetua Agung sepeninggal murid itu lantas melesat terbang menuju sebuah hutan kecil di sebelah tenggara sekte dan tak lama kemudian setelah sampai dia melihat seorang pria muda berpakaian putih sedang berdiri dibawah pohon.
"Tidak kusangka kau datang juga!" ucap pria itu yang tak lain Xiao Feng.
"Tuan Muda Feng terimakasih karena tidak memusnahkan sekte kami!" ucap Tetua Agung.
"Aku bukan iblis yang suka membunuh yang tidak bersalah aku menyuruhmu kesini karena ada dua hal, yang pertama kematian Patriak adalah peringatan dan yang kedua aku memberi penawaran kepada sekte Sembilan Bintang" ucap Xiao Feng.
"Penawaran apa tuan muda?"
"Menjadi bawahanku dan sebagai cabang paviliun Gagak Hitam, tenang saja sekte kalian tidak berubah nama dan akan mendapat gaji dan sumberdaya seperti bawahanku yang lain" ucap Xiao Feng, Tetua Agung memikirkan hal itu. Sebenarnya dia tidak mau menjadi bawahan orang namun menjadi salahsatu Paviliun Gagak Hitam juga menguntungkan.
"Baiklah Tuan Muda aku menerima!" ucap Tetua Agung lalu Xiao Feng melemparkan batu giok.
"Ini giok komunikasi kau teteskan darah dan kau bisa mengirim dan menerima pesan denganku!" ucap Xiao Feng lalu Tetua Agung segera meneteskan darahnya ke atas batu giok itu.
"Baiklah kurasa kantung kain yang kuberikan kau bisa pakai untuk keperluan sekte, aku pergi dulu dan kau ku percayakan mengurus sekte!" ucap Xiao Feng.
"Saya menerima perintah Tuan Muda!"
Xiao Feng pun seketika menghilang dan Tetua Agung kemudian melesat terbang kembali ke sektenya.
***** bersambung
__ADS_1