
****
"Jadi bagaimana mereka sampai bisa mengejarmu?" Xiao Feng bertanya kepada Yue Han sambil menuangkan teh, aromanya begitu harum dan membuat rileks. Saat ini Xiao Feng, Lin Mei Ling dan Yue Han sedang duduk dipinggir danau dengan kursi santai dan meja.
"Yue Han minum dulu biar kau tenang!" ucap Lin Mei Ling sambil tersenyum, Yue Han kini sedang tidak memakai cadar karena cadar sebelumnya sudah robek dan Lin Mei Ling tidak memilikinya, setelah menyesap tehnya Yue Han pun melihat ke arah Xiao Feng dan Lin Mei Ling.
"Ceritanya begini, ketika aku memasuki situs warisan ini aku terpisah dengan kelompokku, aku sendirian dan hanya mengikuti langkah kaki sambil mengumpulkan beberapa sumber daya yang aku temui dan setelah 10 hari bertualang aku sampai disebuah hutan dan melihat kalau kelompokku sudah dibantai dengan sadis, aku datang terlambat ketika mereka sudah tidak bernyawa" Yue Han menghentikan sejenak ceritanya, air matanya lolos mengalir dipipi putih halusnya. Lin Mei Ling mengusap bahunya menenangkan.
"Tuan muda Feng, nona Lin aku sahabat yang tidak berguna datang terlambat disaat mereka membutuhkanku hiks hikss!" Yue Han pun menangis dan Lin Mei Ling yang pada dasarnya memiliki sifat lembut juga ikut menitikkan air mata, dia memeluk Yue Han. Xiao Feng yang tadinya merasa sedikit tersentuh sontak menahan tawanya ketika melihat ekspresi Yue Han dan Lin Mei Ling yang menangis dengan hidung memerah dan jangan lupakan bentuk mulut mereka yang menangis dan itu membuat Xiao Feng ingin tertawa, Xiao Feng merasa itu terlalu berlebihan atau menggelikan bagi para kultivator, dia bangkit berdiri.
"Yue Han kau ceritakan saja kepada Mei Ling aku ingin memeriksa sesuatu" ucapnya dan diangguki kedua gadis cantik itu, Xiao Feng berjalan menjauh setelah dirasa cukup dia mengeluarkan tawanya yang sejak tadi ditahan sambil memegangi perutnya.
"Hahaha,, hah itu sangat menggelikan astaga, bisa-bisanya seorang kultivator bersikap seperti itu" ucap Xiao Feng lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Ketika Xiao Feng hendak kembali dia teringat lagi ekspresi kedua gadis cantik yang menangis tadi dan dia tertawa lagi.
"Hahah sudahlah,, sebaiknya aku menemui mereka" ucap Xiao Feng lalu kembali menemui Yue Han dan Lin Mei Ling yang sedang duduk, kini keduanya sudah tidak menangis malah saling bercerita disertai tawa ringan, Xiao Feng alisnya berkedut melihat pemandangan itu.
"Ini,, mereka cepat sekali berubah tadi nangis sekarang tertawa" gumam Xiao Feng.
"Bagaimana apa kau sudah lebih baik Yue Han?" Tanya Xiao Feng dan Yue Han menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih atas bantuan Tuan Feng dan nona Lin, Budi baik kalian akan selalu ku ingat!" Ucap Yue Han tulus, Lin Mei Ling pun tersenyum.
"Nona Yue, budi itu hanyalah kata-kata saja karena sejatinya baik sipenerima maupun pemberi tidak merasakan kerugian" ucap Lin Mei Ling.
__ADS_1
"Tapi tetap saja kau harus mengucapkan terimakasih"
"Sudahlah, sekilas aku mendengar kalau kau sebelumnya mengunjungi suatu tempat dan itu ada monster nya?" Ucap Xiao Feng dan Yue Han menganggukkan kepala,
",Benar Tuan muda Feng aku menemukan tempat itu dan melihat ada ginseng darah api tumbuh subur namun dijaga oleh sosok monster menyeramkan" ucap Yue Han dan mata Xiao Feng berbinar, Lin Mei Ling menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Dimana tempatnya?"
"Kalo dari sini ke arah timur dan untuk jarak, aku tidak tahu yang jelas aku terbang dengan kecepatanku baru tiga hari sampai sebelum bertemu para pria bajingan itu" ucap Yue Han.
"Baiklah ayo berangkat sekarang dan tunjukan jalannya" ucap Xiao Feng.
"Apa tuan yakin?" Tanya Yue Han sedangkan Lin Mei Ling sudah menebak kalau Xiao Feng akan mendatangi tempat itu.
"Sudah ikut saja sekalian biar aku ada teman di perjalanan dan kita bisa saling melindungi satu sama lain" ucap Lin Mei Ling sambil tersenyum, Yue Han hanya menghela nafas pasrah dan akhirnya menganggukkan kepala. Lebih baik ikut Xiao Feng dan Lin Mei Ling yang jelas-jelas sudah menolongnya daripada berjalan sendiri bertemu musuh malah susah sendiri. Begitulah fikir Yue Han, Xiao Feng menyimpan kembali kursi dan mejanya lalu mereka bertiga terbang ke arah timur dimana Yue Han bertindak sebagai penunjuk jalan.
****
Sementara itu para tetua maupun Patriak memendam marah karena batu giok kehidupan milik muridnya yang memasuki situs warisan padam yang menandakan kalau pemiliknya telah mati didalam sana, salahsatu Patriak dari sekte menengah pun lantas berbicara kepada tuan kota.
"Tuan, apa maksudnya ini kenapa didalam situs warisan muridku bisa mati" ucap Patriak itu dengan sedikit kesal.
"Bukankah sudah jelas peraturannya dari awal kalau mereka memasuki situs warisan harus siap dengan kematian, sebab disana banyak sumberdaya dan tentu akan terjadi perebutan. Bukan mustahil kalau muridmu itu bertemu lawan kuat" jawab tuan kota.
__ADS_1
"Maaf bukan maksud menyinggung tapi memang benar begitulah keadaan disitus warisan, Patriak mungkin sudah lupa dengan hal itu.
"Baiklah kalau begitu"
Patriak dari sekte Golok Kuning yang ternyata sudah berada disana pun memilih menunggu keluarnya para peserta yang masuk, setelah sebelumnya giok kehidupan anaknya hancur yang menandakan Han Di telah mati, maka Patriak Golok Kuning pun segera menuju lokasi pertandingan bela diri, karena anaknya sebelum pergi memberitahunya kalau Han Di ikut kompetisi.
"Akan ku tunggu siapa yang membunuh anakku,, hutang ini harus ku bayar cepat atau lambat" gumamnya lalu kembali menyesap arak.
****
Xiao Feng, Lin Mei Ling dan Yue Han terus terbang dengan cepat, Xiao Feng sebenarnya tidak terlalu penting juga ginseng darah api karena dia menemukan banyak herbal lebih baik di menara yang kemarin dimasukinya, dia hanya ingin bertualang saja disitus warisan ini sambil mencari keberuntungan, bahkan keberuntungan itu kadang berada di area berbahaya.
Xiao Feng tampak melihat terus ke depan sambil melihat peta ditabel sistem untuk memperbarui tampilan peta sistemnya, sementara Lin Mei Ling dan Yue Han terlibat pembicaraan kecil.
"Nona Yue setelah dari sini kau hendak kemana?" Tanya Mei Ling.
"Hmm aku sendiri tidak tahu, mungkin kembali ke sekte" jawab Yue Han."kalau nona Lin bagaimana?"
"Sama sepertimu aku kembali ke sekte sambil menunggu Ayah menjemputmu" ucap Lin Mei Ling.
"Wanita memang cepat sekali akrab, pantas saja Xixi gampang akrab dan Bai Hu serta Qing Long yang terlihat tidak akrab, karena wanita selalu benar" gumam Xiao Feng didalam hatinya ketika mengingat ucapan Feng Xi yang menurutnya lucu.
"Aaahh aku jadi ingin memelukmu Xixi, bersabarlah sebentar lagi kau akan ikut bersamaku menjelajahi dunia" lanjutnya.
__ADS_1
*** bersambung ***