
****
Baru saja Xiao Feng berkata seperti itu seorang penjaga datang dan melaporkan bahwa ada tamu yang datang berasal dari klan Jian, Xiao Tianjun terkejut lalu menatap Xiao Feng yang menganggukkan kepalanya.
"Hmm baik suruh mereka menunggu di aula, aku akan kesana sebentar lagi" ucap Xiao Tianjun.
"Baik patriak!"
"Feng'er kau ikut aku sekarang aku ingin melihat apa yang hendak dilakukan klan Jian" ucap Xiao Tianjun, dia tidak tahu maksud kedatangan perwakilan dari klan Jian namun Xiao Feng hanya tersenyum saja karena tahu maksud tujuan klan Jian ke klan Xiao. Keduanya pun berdiri dan berjalan menuju aula pertemuan.
****
Didalam aula pertemuan sudah berkumpul patriak klan Xiao dan lima tetua serta Xiao Feng. Diseberang duduk tiga orang yang merupakan tetua kedua klan Jian dan kedua pengawalnya.
"Langsung saja apa tujuan klan Jian mendatangi klan Xiao ku?" ucap Xiao Tianjun dengan penuh wibawa, tetua kedua klan Jian menarik nafasnya lalu mengeluarkan sebuah gulungan.
"Salam patriak saya Jian Chi mewakili klan Jian mulai hari ini dan seterusnya akan mengabdi kepada klan Xiao" ucap tetua kedua yang bernama Jian Chi, sontak saja pernyataan ini membuat semua orang terkejut.
"Apa motif kalian, aku yakin klan Jian tidak semudah ini?" ucap tetua pertama klan Xiao, Jian Chi melirik terlebih dahulu kepada Xiao Feng sementara Xiao Tianjun masih diam menyimak apa yang akan dikatakan Jian Chi selanjutnya.
"Tentu saja karena kemurahan hati tuan muda klan Xiao maka kami memutuskan untuk tunduk kepada klan Jian dan ini mohon terima" Jian Chi memberikan gulungan yang dipegangnya, seorang pengawal yang berdiri dibelakang Xiao Tianjun menerima gulungan dan menyerahkan kepada Xiao Tianjun.
Kedua mata Xiao Tianjun terbuka lebar ketika membaca isinya "Hmm dengan ini aku yakin kalau klan Jian bersedia memgikutiku tapi aku tidak lepas tangan begitu saja kalian akan tetap diawasi" ucap Xiao Tianjun.
"Terimakasih atas kebaikan patriak, itu saja yang bisa kami sampaikan mengingat banyak hal yang harus dikerjakan kami pamit dulu" ucap Jian Chi, setelah memberi hormat dia bersama dua pengawalnya bergegas meninggalkan kediaman klan Jian.
****
"Patriak apakah klan Jian yakin tunduk dengan begitu mudah?" ucap tetua pertama.
"Tentu didalam gulungan ini, ada kontrak darah dan keterangan kalau klan Jian bersedia tunduk dan menyerahkan sekitar setengah keuntungan pendapatan klan diberikan untuk klan Xiao setiap tahun" ucap Xiao Tianjun, semua orang tentu terkejut mendengar itu bahkan Xiao Feng sendiri sedikit terkejut.
"Tak disangka klan Jian begitu murah hati" gumam Xiao Feng.
__ADS_1
"Tapi bagaimana bila klan Jian berkhianat?"
"Kalian tidak perlu khawatir akan hal itu, kontrak darah membuktikan jika klan Jian berniat buruk maka akan disambar petir surgawi delapan generasi lagipula kematian Jian Duanhu itu memang ada sangkut pautnya dengan kita" ucap Xiao Tianjun.
"Maksud patriak?"
"Jian Duanhu dibunuh oleh Feng'er dan kedatangan mereka kali ini dengan penyerahan diri itu pasti karena Feng'er" ucap Xiao Tianjun dan melirik ke arah Xiao Feng "Feng'er aku sangat bangga kepadamu, hal yang kau lakukan ini mencerminkan Budi luhur klan Xiao yang tidak menghabisi sembarang orang"
Semua orang terkejut sekaligus kagum
"Benarkah tuan muda?"
"Tuan muda sungguh hebat bisa membunuh Jian Duanhu, kelak klan Xiao akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di bagian luar pusat alam dewa"
"Benar sekali tuan muda memang keberuntungan klan Xiao kita.
Berbagai ucapan kagum dan selamat di tujukan kepada Xiao Feng tetapi pemuda itu hanya tersenyum saja. Xiao Tianjun menatap bangga Xiao Feng, klan Xiao selalu tertekan oleh klan Jian namun dengan begitu cepatnya Xiao Feng bisa menyelesaikannya.
"Baiklah begitu saja pertemuan hari ini, kalian boleh kembali melanjutkan aktifitas"
****
Setelah pertemuan selesai Xiao Tianjun kembali ke ruang kerjanya untuk mengurus hal yang baru diterima, Xiao Feng menyusul Feng Xi dan yang lainnya kini mereka sedang berjalan-jalan di pusat kota Bukit Patah dengan Li Ying dan Ling'er menggandeng tangan Feng Xi di sisi kiri kanannya.
Mereka sangat antusias melihat keramaian dan keindahan kota Bukit Patah yang berkali lipat lebih megah daripada kota di alam manusia, Feng Xi dan kedua gadis bahkan berbelanja beberapa barang.
Ketika hari sudah sore menjelang malam, mereka memasuki sebuah rumah makan cukup besar dan mewah untuk mengisi perut.
"Kakak makanan disini biarpun enak tapi tidak lebih enak dari masakan kakak" Li Ying berkata dengan mulut penuh makanan.
"Kau ini bilang tidak terlalu enak tapi sudah habis tiga piring" ucap Xiao Feng.
"Hehehe"
__ADS_1
"Tidak kusangka kota disini lebih megah daripada kota di kerajaan Zhu" ucap Feng Xi.
"Tentu saja sebagai pusat alam dewa tentu saja keadaannya lebih baik"
Saat sedang makan dengan ceria, masuklah beberapa orang salahsatunya memakai pakaian mewah dan terkesan arogan.
"Tuan Muda Qi mau makan disini yang tidak berkepentingan silahkan keluar" seru seseorang yang sepertinya pengawal. Para pengunjung yang mendengar langsung ketakutan bahkan pelayan dan pemilik rumah makan pun ketakutan.
"Gawat itu tuan muda keluarga Qi sial sekali kita bertemu dengannya"
"Keluarga Qi? Keluarga kelas dua di kota ini?"
"Benar dia sangat arogan lebih baik kita segera pergi"
Beberapa orang langsung bergegas pergi, orang dari keluarga Qi tampak puas namun seketika mengerutkan keningnya melihat masih ada yang belum pergi dan itu adalah rombongan Xiao Feng, tuan muda keluarga Qi yang tadinya hendak marah namun ketika melihat Feng Xi, Li Ying, dan Ling'er yang begitu muda, cantik dan menawan amarahnya lenyap digantikan dengan senyum mesum.
Tuan muda keluarga Qi langsung berjalan mendekati meja Xiao Feng.
"Nona muda sungguh cantik apakah kalian bersedia menemani tuan muda ini makan" ucapnya sambil menatap ketiga gadis dengan tatapan mesum.
"Menyingkirlah jangan ganggu kami ketika makan" ucap Feng Xi dengan ketus tetapi tuan muda keluarga Qi tidak marah malah tertawa.
"Gadis ******, berani sekali kau menolak. Bisa diajak tuan muda adalah berkah bagimu, kau..." seru penjaga, ucapannya terputus ketika tiba-tiba tubuhnya ambruk ke lantai dengan darah memancar deras dari lehernya. Terlihat sebuah sumpit menancap di salahsatu sisi lehernya.
"Aku paling benci ketika makan ada anjing menggonggong didepanku" suara dingin itu berasal dari Xiao Feng, ketika mendengar pengawal itu berkata tidak pantas kepada Feng Xi dia langsung membunuhnya tanpa ampun. Tuan Muda keluarga Qi dan semua orang terkejut.
"Sialan, kau berani sekali membunuh didepanku!" seru tuan muda Qi marah, beberapa orang yang belum sempat keluar menyaksikan rombongan Xiao Feng dengan tatapan iba.
"Habislah sudah, orang itu akan hancur ditangan tuan muda Qi"
"Benar, sayang sekali gadis-gadis cantik itu masih muda kudengar tuan muda Qi sering mempermainkan wanita"
"Benar sekali"
__ADS_1
**** bersambung ****