
*****
Xiao Feng dan Feng Xi memutuskan berjalan-jalan di ibukota Qingzhou, mereka berdua tampak menikmati suasana kota yang tidak terlalu ramai.
"Apa kau tidak lelah berjalan-jalan seharian?" ucap Feng Xi sambil menggigit daging bakar yang ditusuk lidi.
"Tidak,, aku suka keramaian yang seperti ini" jawab Xiao Feng, pria itu tersenyum memandang sekeliling.
"Cih,, tampaknya tidak sesuai dengan sifatmu yang suka menyendiri,, eh lihat ada taman bunga indah" ucap Feng Xi sambil berlari kecil menuju taman dipinggir sungai kecil. Xiao Feng hanya melihat gadis itu berlari ke arah taman dan menciumi beberapa bunga anggrek.
"Aku tidak akan lelah jika bersamamu" gumam Xiao Feng lalu berjalan menyusul Feng Xi.
"Feng Ge lihat bunga ini indah sekali" ucap Feng Xi sambil memetik satu bunga berwarna merah muda cerah, Xiao Feng tersenyum lalu mengambil bunga itu dan menyelipkan di telinga Feng Xi.
"Hmm tetap saja bunga ini tidak bisa menandingi keindahan gadis cantik berambut putih ini" Xiao Feng berkata sambil mengelus dagunya, Feng Xi sontak memerah wajahnya dan jantungnya berdebar keras.
"Ish,, kau gombal sekali"
Tidak lama kemudian seorang pria tua mendatangi mereka sambil tersenyum ramah.
"Tuan dan Nona Muda benar, semua bunga ini memang indah namun tetap tidak bisa mengalahkan keindahan nona muda, aku bisa membantu melukis nona agar keindahan dan kecantikan nona tidak pudar dimakan usia" ucap pria tua itu.
"Benarkah?" ucap Feng Xi dengan raut muka penasaran.
"Benar,, nona silahkan duduk aku akan melukis nona" ucap pria itu lalu Feng Xi kemudian duduk dikursi kecil dekat bunga. Pria tua juga berjalan ke kursinya dan didepan kursi sudah ada kanvas dan beberapa alat untuk melukis. Xiao Feng kemudian berjalan mendekati pria tua itu.
"Tunggu paman,," ucap Xiao Feng menghentikan kegiatan pria tua itu yang hendak mencelupkan kuas
"Iya ada apa tuan muda?"
Xiao Feng mengulurkan satu koin emas "Biar aku saja" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Hoho baiklah,, kalau begitu aku akan menggosokkan tinta buat tuan muda"
Xiao Feng kemudian duduk dan mengambil kuas.
"Aku tidak yakin kau bisa melukis" ucap Feng Xi dan Xiao Feng hanya tersenyum.
"Kau duduk saja dengan benar!" ucapnya dan Feng Xi sedikit terkejut malu lalu merapatkan kakinya dan menaruh kedua tangan diatas lutut dengan gaya anggun sambil tersenyum manis, Xiao Feng mencelupkan kuas dan mulai melukis.
Xiao Feng tampak asyik dengan kegiatannya dan Feng Xi sesekali melihat dengan tersenyum. Tak berselang lama sekitar setengah jam Xiao Feng selesai dengan lukisannya. Pria tua itu sangat kagum sebab lukisan Xiao Feng tampak sangat hidup.
"Aku sungguh salut dengan teknik melukis tuan muda" ucap pria tua memuji sambil menangkupkan kedua tangan, Feng Xi kemudian bangkit dan berjalan mendekati Xiao Feng. Dia juga kagum melihat lukisan dirinya yang tampak sangat cantik dan seolah hidup.
"Bagaimana?"
"Tentu saja lukisannya bagus karena aku cantik" ucap Feng Xi sambil mengambil lukisan.
"Hai bukan kah memang lukisanku yang bagus" seru Xiao Feng.
"Sama saja!" Feng Xi tidak berhenti menatap lukisannya dengan senyum senang karena dia diberikan lukisan bagus oleh orang yang dicintai dan diidolakannya sejak dulu. Tiba-tiba ada tetesan air turun dari langit.
"Tunggu sebentar!" ucap Xiao Feng sambil berlari menuju toko kecil.
"Bos,, payungnya dua" ucap Xiao Feng.
"Wah kebetulan hanya tersisa satu"
"Hmm baiklah aku ambil berapa harganya?"
"hanya 10 perak saja tuan muda"
Xiao Feng memberikan satu koin emas "Kembaliannya ambil saja" ucapnya dan membuat penjaga toko sangat senang.
__ADS_1
"Baik terimakasih tuan muda ini payungnya" ucap penjaga toko sambil memberikan payung, Xiao Feng menerimanya dan langsung berjalan menuju ke arah bangunan tempat Feng Xi berteduh. Gadis itu tersenyum cantik melihat Xiao Feng.
"Kau tidak boleh basah, dunia masih membutuhkanmu" ucap Feng Xi lalu mengeluarkan kain dan mengelap wajah Xiao Feng yang sedikit basah. Xiao Feng tersenyum dan memberikan payungnya, lalu dia membelakangi Feng Xi.
"Ayo,, karena payung nya hanya satu kau ku gendong dan memegang payung" ucap Xiao Feng, gadis cantik berambut putih itu menganggukkan kepala dan tersenyum malu-malu lalu dia memeluk Xiao Feng dari belakang. Xiao Feng kemudian memegang kaki gadis itu dan melingkarkan ke pinggangnya. Mereka kemudian berjalan santai dibawah guyuran air hujan yang tidak terlalu deras dengan satu payung, sinar matahari senja yang kekuningan menyinari dan menambah kesan romantis. Senyum terukir di bibir mereka dan orang-orang yang melihat juga kagum dan iri melihat keromantisan muda mudi yang sangat tampan dan cantik itu.
"Lihat suamiku, mereka saja romantis masa kamu tidak seperti pria tampan itu" ucap salah seorang wanita yang sedang berteduh.
"Maklumlah mereka masih pengantin baru, jadi seperti itu" jawab pria disebelahnya.
"Aku ingin seperti mereka, ayo"
"Ishh,, kau ini tidak lihatlah badanmu sebesar gajah bisa remuk aku menggendongmu!"
"Oh kau mengejekku,, malam ini tidur diluar"
"Eh sayang jangan begitu,, iya sini aku gendong"
Semua pasangan yang melihat Xiao Feng dan Feng Xi juga mengikuti apa yang dilakukan kedua muda mudi itu, Xiao Feng dan Feng Xi sama-sama tertawa mendengar percakapan dari beberapa orang-orang yang dilewatinya, mereka terus berjalan menuju istana Qingzhou.
"Xixi aku berharap kedamaian dunia berlangsung lama, kau lihat bagaimana bahagianya para rakyat disini" ucap Xiao Feng.
"Tentu maka dari itu kita harus segera mewujudkannya, aku yakin kau bisa dan aku akan selalu mendukungmu!" ucap Feng Xi sambil tersenyum.
"Kau tahu Xixi aku sangat beruntung bisa bersamamu yah walaupun kau dulu sangat menyebalkan dan tidak ada anggun-anggunnya sebagai seorang gadis namun aku malah semakin suka dan terlebih ketika tahu kau adalah Putri Xiyun"
"Feng Ge aku mau bertanya apakah benar kau mengidolakan ku sejak dulu"
"Tentu saja, bahkan sebelum mengenal Feng Xi aku lebih dulu mengenal Xiyun. Namun kini aku berhasil mendapatkan hati dan cintanya dari seorang wanita paling cantik setelah ibu" ucap Xiao Feng sambil tersenyum. Feng Xi karuan saja memerah mukanya dan tiba-tiba dia mengecup pipi Xiao Feng.
"Aku juga tidak menyangka kalau seorang Pangeran yang aku idolakan sejak dulu ternyata kini bisa kudapatkan hati dan cintanya" lalu menyembunyikan wajahnya dipunggung Xiao Feng karena malu. Xiao Feng hanya tertawa melihat sifat malu-malu Feng Xi yang biasanya tidak tahu malu
__ADS_1
**** bersambung ****
Maaf author ini lagi liburan dulu,, jadi cuma up satu chapter🤭🤭🙏🙏 dan selamat Tahun Baru 2023 semoga kita dilimpahkan rezeki, kesehatan dan semua yang kita targetkan tercapai aamiin🤲🤲