
******
"Suamiku aku tadi sungguh tidak sengaja" ucap Xiao Lian ketika sudah berada dikediaman bersama Xiao Dong, Kasim sendiri tidak ikut dia hanya menunggu di teras.
"Aku tahu dan aku tidak menyalahkanmu" ucap Xiao Dong
"Tapi para pejabat dan mentri itu lancang, aku mana berani pada kakak Hua, hanya ceroboh kecil saja tapi mereka memperbesar masalah dan bersikeras kalau aku mempermalukan Youngzhou dihadapan utusan kekaisaran" Xiao Lian berkata dengan nada sedikit memelas.
"Aku akan menghukum mereka, kau sepertinya tidak sehat lebih baik beristirahat" ucap Xiao Dong sambil berjalan, Xiao Lian dengan cepat menahan Xiao Dong.
"Para rakyat juga jahat, mereka bilang kalau Dewa marah,, suami kau harus memberiku keadilan"ucap Xiao Lian, Xiao Dong melihat ke arah Xiao Lian sedikit tajam lalu menghela nafas kasar.
"Cukup!! Kau tidak terima dipermalukan seperti ini? Lalu bagaimana denganku? bukankah kemarin aku berpesan agar jangan ada kesalahan diupacara persembahan ini tapi kau malah tidak memegang arak dengan baik,, apa yang kau fikirkan" ucap Xiao Dong sedikit berteriak dan membuat Xiao Lian terperanjat kaget.
"Aa..aku hanya lelah, kuil juga sangat dingin" ucap Xiao Lian terbata-bata.
"Lebih dingin mana dengan ruangan pengasingan?"
"Suami jangan menakuti Lian'er"
"Apa kau tahu kenapa aku tidak marah padamu tadi?" tanya Xiao Dong yng hanya dijawab dengan gelengan kepala Xiao Lian.
"Karena aku butuh harga diri" teriak Xiao Dong "Kau hanya rakyat biasa yang berasal dari klan rendahan, aku melawan pejabat dan mentri selama satu tahun baru bersusah payah mengangkatmu menjadi ratu. Jika kau merasa malu maka aku yang selalu menanggungnya. Namun kerja keras dan jerih payahku tidak mendapat balasan darimu, sebaliknya kau semakin keterlaluan. Apa kau melupakan jati dirimu karena sudah terlalu lama menduduki posisi ratu?" Xiao Dong berkata dengan nada sedikit tinggi dan wajahnya memerah karena amarah
__ADS_1
"Aku memanjakan mu selama 17 tahun dan malah mengubahmu menjadi istri bodoh sedikit demi sedikit kau mengacaukan kekuasanku dan mencampuri urusan kerajaanku bahkan membuat malu Youngzhou. Aku mengasihani mu karena terlalu banyak menderita, jadi aku bersikap seolah tidak tahu dan membiarkanmu sampai sejauh mana mau bertindak. Namun ambisimu semakin besar dengan beraninya berencana mendapatkan penerus untuk Xiao Jun, apa kau berharap aku cepat mati hingga kau bisa menjadi ibu suri?"
"Raja,,, aku tidak berani" Xiao Lian berkata lalu dia berlutut di depan Xiao Dong.
"Lalu kenapa kau tidak mau berubah setelah aku ingatkan berkali-kali? Apa kau tidak takut aku menyelidiki kemana aliran uang pembelian kuda militer itu hah? Aku bisa memberikanmu semua hal didunia ini" ucap Xiao Dong lalu dia mencengkram pipi Xiao Lian dan menatapnya tajam.
"Tapi aku juga bisa mengambilnya kembali!" ucap Xiao Dong sambil menghempaskan Xiao Lian ke lantai, Xiao Dong kemudian berjalan meninggalkan Xiao Lian yang masih terduduk dilantai.
"Kasim buat titahku kalau Ratu Lian akan berdoa untuk mendiang Ratu Hua dan mengurung diri selama dua bulan dan tidak boleh meninggalkan istana" ucap Xiao Dong kepada kasin dan tentu saja Xiao Lian mendengar, Xiao Lian hanya diam sambil menangis.
*****
Malam hari Xiao Feng kembali mengunjungi kuil tempat diadakan upacara persembahan, dia bersujud satu kali lalu duduk dengan kaki dilipat, dia menatap papan altar mendiang ibunya.
"Sebenarnya sejak ibu meninggal aku seperti kehilangan pegangan, namun aku tidak mau mengikuti arus. Oh iya ibu aku memiliki kenalan, dia sama sepertimu cantik dan elegan walau terkadang bertingkah tidak sopan namun sejak bertemu dengannya hatiku dipenuhi kehangatan seperti yang aku rasakan ketika ibu masih hidup. Aku takut kalau dia mempengaruhi hatiku demi ambisiku tetapi pada akhirnya aku tidak bisa melepaskannya. Dia selalu membantuku dan menghiburku disaat aku sedang sedih dengan tingkah konyolnya. Aku merasa hidupku lebih berwarna,," ucap Xiao Feng, senyumnya tidak pupus dari wajahnya ketika menceritakan tentang gadis cantik berambut putih Feng Xi. Setelah bercerita banyak hal Xiao Feng kemudian meninggalkan kuil.
*****
Xiao Feng memilih berjalan santai setelah keluar dari kuil kebetulan cuaca malam hari ini sangat cerah dengan bintang bertaburan dan cahaya bulan purnama yang menggantikan matahari menyinari malam. Angin sejuk namun tidak dingin menerbangkan beberapa helai rambutnya yang panjang. Xiao Feng tidak langsung ke kediaman dia berencana mengunjungi paviliun pusat.
Saat sudah hampir sampai dipaviliun, Xiao Feng melihat ada seorang gadis sedang berdiri didekat pohon dan sedang berbicara dengan seorang pria berusia sekitar 40 tahunan dan membawa pedang dipunggungnya. Xiao Feng segera menyembunyikan auranya lalu melompat ke atas pohon.
"Xixi sedang apa malam-malam begini dia diluar dan siapa pria itu?" gumam Xiao Feng lalu mengaktifkan teknik matanya untuk melihat lebih jelas. Terlihat kalau pria itu memakai pakaian khas kultivator namun yang membuat Xiao Feng terkejut didadanya ada gambar yang melambangkan kerajaan Qingzhou. Xiao Feng segera menajamkan pendengarannya.
__ADS_1
"Tuan Putri, Raja menugaskan hamba untuk menyampaikan pesan" ucap pria itu kepada gadis dihadapannya yang tidak lain adalah Feng Xi.
"Hmm pesan apa?" tanya Feng Xi
"Raja menugaskan hamba untuk menjemput tuan putri ke Qingzhou, sebentar lagi tahun baru jadi Raja, Ratu dan Pangeran ingin merayakan tahun baru bersama Tuan Putri" jawab pria itu. Feng Xi berdecak pelan.
"Aku akan merayakan tahun baru kali ini di Youngzhou sampaikan saja kepada ayah dan ibunda kalau aku akan kembali nanti" ucap Feng Xi.
"Tapi ini perintah dari Raja"
"Cih kau ini,, sampaikan saja pesanku, ayah dan ibunda akan mengerti,, aku tidak terlalu suka di istana"
"Baiklah kalau begitu hamba menerima perintah, namun jika Tuan Putri berubah fikiran hamba akan menjemput Tuan Putri" ucap pria itu faham karena dia ditugaskan menyampaikan pesan dan sangat mengerti kalau tuan putrinya senang kebebasan. Setelah memberi hormat pria itu kemudian menghilang, Feng Xi lalu berjalan menuju paviliun.
Xiao Feng yang mendengar percakapan itu sangat terkejut, dia menampar pipinya.
"Plakk!"
"Sialan ini sakit,, ternyata bukan mimpi, Xixi adalah Putri Xiyun, sebentar aku perlu menghirup nafas dulu," ucap Xiao Feng sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Feng Xi... Feng Xiyun... kenapa aku sangat bodoh tidak bisa menebaknya,, bermarga sama dan rambut putih yang sama,, pantas ketika di gunung Thailong kemarin aku merasa ada hal aneh dengan Xixi,, ternyata dia adalah Xiyun yang aku temui dulu saat aku menjadi pendamping kakak" gumamnya. Dia tersenyum tipis karena hal ini, nama Xiyun dan Feng Xi yang terukir dihatinya ternyata orang yang sama. Xiao Feng melompat turun dan berjalan menuju paviliun.
**** bersambung
__ADS_1
(Maaf up cuma satu chapter, badan ngdrop lagi kalau kata orang Sunda karugrag deui 😁🙏)