
*****
Dua hari berlalu dengan cepat
Saat ini di kediaman klan Lin kota Matahari suasana meriah terlihat, beberapa orang sibuk berlalu lalang dan dikediaman sudah ramai dengan hiasan dominan berwarna merah.
Seluruh anggota keluarga Lin sudah berkumpul beberapa meja bundar besar tampak dipenuhi makanan dan minuman, sekelompok orang memainkan alat musik dan tarian yang semakin menambah semarak di kediaman.
Ya hari ini adalah hari pernikahan Lin Mei Ling dan tuan muda keluarga Ming ditetapkan. Pihak keluarga Ming sendiri masih dalam perjalanan.
"Patriak keluarga Ming sedang dalam perjalanan dan diperkirakan akan sampai sekitar tiga puluh menit" ucap tetua pertama, Lin Feng menghembuskan nafasnya panjang dia tidak berkomentar namun wajahnya tampak muram.
"Feng'er harusnya kau berbahagia hari ini dengan adanya pernikahan dengan keluarga Ming maka aliansi keluarga akan semakin kuat dan dikota Matahari siapa yang berani mengusik kita" Lin Chang berkata dingin ketika melihat reaksi Lin Feng.
"Aku tahu kau tidak setuju tapi kau harus mengutamakan klan itu adalah tugas seorang Patriak harusnya kau tahu!" lanjutnya.
"Biarpun aku tidak setuju apa aku bisa menolak?" ucap Lin Feng.
"Baguslah kalau kau tahu akan hal itu, sudahlah tidak usah berdebat nanti kau dan anakmu sendiri yang mendapat manfaat sebaiknya kita tunggu saja keluarga Ming"
Sementara Lin Mei Ling sendiri berada di kamarnya sedang dirias oleh tiga orang wanita. Tiga orang penjaga berdiri didepan pintu kamar dengan pedang terlampir dipinggangnya.
"Nona muda sungguh sangat cantik beruntung sekali tuan muda Ming bisa menikahi nona" ucap salahsatu wanita kagum setelah selesai mendandani Lin Mei Ling, dia sebagai wanita merasa iri dengan kecantikan Lin Mei Ling namun dia juga sekaligus merasa prihatin karena tuan muda Ming terkenal dengan reputasi buruknya terhadap wanita.
Wanita itu tidak habis berfikir mengapa mau mengorbankan nona muda nya untuk kepentingan klan, ya dia sebagai pelayan tidak memiliki hak untuk berbicara.
Lin Mei Ling tersenyum mendengar itu "Aku malah berharap tidak ingin tampil cantik" ucapnya lirih.
"Nona jangan seperti itu bagaimanapun kecantikan adalah berkah"
Lin Mei Ling tidak berkomentar dia memalingkan pandangannya ke arah jendela dan bergumam dalam hati.
"Feng,, sebaiknya kau tidak datang aku tidak sanggup jika harus menikah dengan orang lain di depanmu"
"Kalian keluar dulu" perintah Lin Mei Ling dan dengan patuh ketiga wanita menganggukkan kepala dan berjalan keluar kamar.
****
__ADS_1
"Keluarga Ming tiba!"
Dihalaman kediaman sebuah teriakan penjaga terdengar dan bunyi gong serta drum dipukul menyambut kedatangan keluarga Ming, semua orang langsung berdiri.
Tak lama kemudian dari arah gerbang muncul rombongan keluarga Ming, didepan tampak sekali patriak Ming dan tuan muda duduk disebuah kereta yang diusung oleh empat orang berbadan kekar. Wajah patriak Ming terlihat angkuh ketika memasuki kediaman.
"Salam Patriak Ming!" ucap Lin Feng
"Salam Patriak Lin!"
"Silahkan duduk!"
Rombongan keluarga Ming pun duduk di kursi yang sudah disediakan, keluarga Ming sendiri membawa sekitar 50 orang termasuk Patriak, Tuan Muda dan tetua sekte Serigala Hitam yang merupakan guru tuan muda Ming.
"Cepat panggil nona muda" seru Lin Chang
"Baik leluhur"
"Haha leluhur Lin hari ini adalah hari yang membahagiakan" ucap patriak Ming.
"Leluhur Lin, kami tidak terlalu banyak membawa hadiah kuharap leluhur bijaksana,, antarkan hadiah!" seru patriak Ming.
Segera beberapa orang membawa kotak-kotak mewah didalamnya berisi batu roh, herbal, senjata dan beberapa barang berharga lainnya.
"Haha keluarga Ming sungguh bermurah hati"
"Leluhur ini tidak sebanding dengan nona muda Lin, bagaimana hadiah ini bisa dibandingkan dengan nona, Rou'er sungguh beruntung haha"
Kedua keluarga berbincang ringan dengan disuguhi alunan musik dan makanan, Lin Feng sedari tadi hanya diam dan sesekali ikut berbicara. Tak lama kemudian muncul sosok gadis sangat cantik mengenakan pakaian mewah biru muda dengan hiasan dirambutnya, gadis itu di iringi tiga gadis dan tiga pemuda. Semua orang takjub sampai tidak bisa berkata-kata melihat siapa yang datang.
Tak lain gadis itu adalah Lin Mei Ling dia menangkupkan kedua tangan sekaligus membungkukkan badannya sedikit.
"Salam leluhur, patriak, tetua dan keluarga Ming" ucap Lin Mei Ling dengan senyum khasnya yang menimbulkan lesung pipi yang sangat memikat.
Ming Qinrou melihat Lin Mei Ling tidak bisa tidak terkesima, walaupun dia mendengar kalau gadis klan Lin terkenal akan kecantikannya baru kali ini dia melihat gadis secantik didepannya tatapan matanya tampak serakah, dia ingin sesegera mungkin menikahinya dan menindihnya di ranjangnya.
"Rou'er berkediplah" ucap patriak Ming, Ming Qinrou tersadar dan menundukkan kepalanya, patriak Ming tertawa mengekeh.
__ADS_1
"Haha sepertinya kau sudah tidak sabar"
"Itu ayah tahu"
"Baiklah karena calon pengantin sudah berkumpul sebaiknya kita lakukan acara pernikahan" ucap Lin Chang dan seorang pria tua berpakaian putih menganggukkan kepalanya.
"Calon pengantin pria dan calon pengantin wanita silahkan berdiri dipanggung" serunya dengan keras.
Qinrou langsung berdiri dan berjalan dengan cepat ke atas panggung kecil, sementara Lin Mei Ling masih duduk.
"Istriku ayo cepat naik!" ucap Ming Qinrou.
"Tuan muda kita belum menikah jadi belum seharusnya tuan muda memanggilku demikian" ucap Mei Ling.
"Mei'er ayo cepat naik kita harus segera melakukan acaranya" seru Ling Chang mau tidak mau dengan anggukan kepalanya Lin Mei Ling perlahan berdiri dan berjalan menuju panggung. Ming Qinrou tersenyum bangga sekaligus senang karena keindahan didepannya akan segera menjadi miliknya.
Sesaat sebelum sampai ke panggung sebuah suara keras terdengar dari arah gerbang.
"Berhenti,,"
Semua orang sontak terkejut dan memalingkan pandangan ke arah gerbang, Lin Mei Ling yang mendengar suara familiar itu jantungnya berdegup kencang.
"Feng,,,,"
Tak lama kemudian muncul dua pria muda dari arah gerbang. Pria didepannya memiliki wajah sangat tampan memakai pakaian mewah berwarna hitam dengan hiasan garis emas dikerah dan diikat pinggangnya, ditangan kanan sebuah kipas terkembang tampak bergoyang aura agung dan aroma wangi dari tubuhnya terpancar. Dibelakang pria itu seorang pria tampan juga berjalan tegap dengan pedang di pinggangnya, setiap langkah mereka menimbulkan aura kuat.
Mereka adalah Xiao Feng dan Yuan Li, awalnya Xiao Feng ingin bersama Feng Xi tapi ada sesuatu hal yang hendak dibicarakan dengan Xiao Tianjun maka Xiao Feng berangkat terlebih dahulu baru Feng Xi menyusul.
Xiao Feng berdiri tidak jauh dari meja tempat berkumpul kedua keluarga, Yuan Li dengan sigap mengambil kursi dan Xiao Feng duduk. Yuan Li berdiri dibelakang Xiao Feng.
Xiao Feng kemudian mengeluarkan rokoknya dan menaruh satu batang dibibirnya, Yuan Li dengan sigap memunculkan api di jarinya dan membungkukkan badan menyalakan rokok Xiao Feng lalu kembali berdiri dibelakangnya.
"Shhhh,, fiuhh"
Xiao Feng menyesap dan menghembuskan asap rokok, cincin asap tampak membumbung dari mulutnya. Semua gerakan Xiao Feng tidak lepas dari pandangan semua orang dalam hati mereka siapa kedua orang ini dan kalau melihat dari penampilannya seperti tuan muda klan atau bangsawan besar.
****bersambung****
__ADS_1