
****
Xiao Feng melihat pedang ditangan Jian Duanhu mengeluarkan kekuatan besar dan api yang membalutnya semakin besar dan tanpa menunggu lama Jian Duanhu langsung menebaskan pedangnya.
"Wusshh!"
Semburan api merah yang sangat panas menerpa Xiao Feng dengan kekuatan penuh ranah Dewa Hitam, semburan api melebar ke sisi kiri kanan hingga membentuk seperti gelombang ombak.
"Matilah bocah sialan!"
Xiao Feng menyimpan pedangnya lalu mengalirkan elemen es ke kedua tangan tak hanya sampai disitu, kedua telapak tangan disatukan dan seketika sebuah dinding es tebal berbentuk mangkok terbalik menutupi seluruh tubuh Xiao Feng.
"Wusshhh!"
Api langsung menghantam perisai es dan berusaha untuk melelehkannya, Xiao Feng tenang saja berada didalam perisai es karena elemen esnya tidak pernah ada yang bisa mencairkannya dengan elemen api apapun kecuali elemen api emas miliknya. Sementara Jian Duanhu terus menambah energinya supaya api membakar lebih hebat.
"Wusshhh!"
Gelombang api yang seperti ombak itu terus menerus menghantam perisai es dan menyebar ke segala arah hingga membakar beberapa pepohonan dan bangunan disekitarnya. Setelah beberapa saat api pun padam, terlihat Jian Duanhu nafasnya terengah-engah karena menghabiskan seluruh energi Qi miliknya.
Dia melihat ke depan dan kedua matanya terbelalak kaget melihat perisai es yang diserangnya masih utuh disertai munculnya Xiao Feng yang telah berjalan keluar dari balik perisai es. Belum sempat bersiap kembali, Xiao Feng dengan sangat cepat melesat dan dengan tebasan pinggiran kipasnya yang sangat tajam Xiao Feng memenggal kepala Jian Duanhu tanpa Jian Duanhu sempat menghindar.
"Crasss!"
"Plukkk!"
__ADS_1
Sebuah kepala jatuh dan menggelinding di atas tanah dengan mimik wajah yang seolah tidak percaya akan kematiannya di tangan seorang anak muda.
[Ding,, selamat tuan telah membunuh di level Dewa Hitam tahap awal mendapatkan 40 juta PS dan 4 milyar PP]
"Hmm lumayan!" ucap Xiao Feng sambil menyimpan Pedang Api Hitam dan cincin penyimpanan milik Jian Duanhu, semua orang termasuk para tetua yang menyaksikan dari jauh tidak bisa berkata-kata dengan kematian patriak mereka. Mereka tidak percaya kalau Jian Duanhu yang seorang tokoh terkemuka di bagian luar pusat alam dewa dan memiliki kekuatan tinggi dikalahkan oleh anak muda seumuran anaknya.
Xiao Feng kemudian melihat ke sekeliling dan berkata "Hari ini klan Jian sudah kalah, aku memberi pilihan kalian tunduk kepada klan Xiao atau kalian memilih mati seperti patriak kalian!" dengan lantang.
Para tetua yang mendengar itu merasa sulit disatu sisi mereka marah namun tidak bisa melawan karena patriak saja bisa kalah apalagi tetua.
"Tetua kedua bagaimana ini, jika kita tunduk maka klan Jian mengakui kekalahan dan jika menolak klan Jian dimusnahkan" ucap tetua ketiga, yang lain juga mengeluarkan pendapat karena dengan kematian patriak dan tetua pertama maka otomatis pengambilan keputusan berada ditangan tetua kedua.
Tetua kedua menghela nafasnya, fikirannya rumit untuk saat ini, dia melihat ke arah Xiao Feng sosok anak muda yang mengalahkan patriak mereka.
"Anak muda apa untung ruginya kalau klan Jian tunduk kepada klan Xiao?" ucap tetua kedua.
"Apakah kau bisa menjamin perkataan mu aku takut kau memainkan muslihat" ucap tetua kedua.
"Muslihat adalah sifat iblis dan aku bukan iblis,, tentu saja jika kalian tidak yakin aku dengan senang hati membuat klan Jian menghilang sepenuhnya malam ini" ucap Xiao Feng.
Para tetua berdiskusi sejenak sebelum akhirnya diputuskan mereka akan tunduk kepada klan Xiao, Xiao Feng memang sengaja melakukan ini tadinya dia ingin meratakan seluruh kediaman namun setelah menimbangkan beberapa hal memang lebih baik kalau klan Jian tunduk. Selain memiliki ekonomi yang stabil juga dari kekuatan akan sangat membantu apalagi mengingat kalau klan Xiao belum sepenuhnya bangkit dan dikhawatirkan akan mengundang musuh kuat maka dari itu dengan adanya tambahan kekuatan klan Jian Xiao Feng merasa kalau klan Xiao sedikit lebih aman.
Xiao Feng kemudian mengeluarkan sebuah gulungan dan meminta para tetua meneteskan darahnya, itu adalah kontrak jiwa, Xiao Feng tidak begitu percaya begitu saja sebab ada kemungkinan klan Jian akan memberontak jadi sebagai pencegahan dia membuat kontrak jiwa.
"Baiklah ini adalah kontrak jiwa, jika kalian berniat buruk kepada klan Xiao maka kalian akan tersambar petir hingga menjadi abu delapan generasi" ucap Xiao Feng.
__ADS_1
"Kami bersedia tunduk dan membantu klan Xiao serta tidak berniat buruk!" ucap tetua kedua, Xiao Feng menganggukkan kepalanya.
"Bagus jika seperti itu, kalian tetap sebagai klan Jian namun mengenai segala keputusan ada di tangan leluhurku Patriak Xiao, kalian bisa menemui leluhur besok untuk membicarakannya!" ucap Xiao Feng lalu sosoknya menghilang.
"Kukira dia akan menguras harta kita ternyata dia langsung pergi" ucap tetua ketiga.
"Aku memang memiliki firasat buruk sejak patriak menargetkan klan Xiao dan terbukti benar tapi kita juga patut bersyukur setidaknya anak muda itu tidak membunuh kita semua dan wanita serta anak-anak" ucap tetua kedua "Baiklah kita bereskan sisa kekacauan ini dan makamkan patriak dengan layak" lanjutnya.
Xiao Feng memang tidak ingin menguras gudang harta klan Jian karena paling hanya beberapa hal saja lagipula kekayaan Xiao Feng sudah cukup banyak, jadi dia membiarkan saja harta klan Jian untuk digunakan sebagai mana mestinya. Tentunya juga akan berefek bagus bagi klan Xiao.
****
Sosok Xiao Feng yang sudah menghilang kini muncul didalam dunia jiwa, dia sudah ditunggu Feng Xi dan anak-anak seperti Sun Xie, Sun Guan, Sun Ling'er dan Li Ying mereka sedang asyik bercengkrama dengan ditemani cemilan. Begitu melihat Xiao Feng mereka sontak merasa senang.
"Huh kakak akhirnya kau menemui kami" ucap Li Ying dengan cemberut, dia sudah di gendong oleh Xiao Feng.
"Hehe adik kakak yang cantik ini sedang marah ya, tentu saja ada urusan diluar" ucap Xiao Feng sambil mencubit pipi putih Li Ying lalu duduk dikursi.
"Enak sekali ya kau bersenang-senang sedangkan kita terkurung disini" ucap Feng Xi dengan senyum sinis.
"Tidak seperti itu Xixi, aku memiliki beberapa urusan"
"Yasudah sebagai kompensasi kau harus memasak untuk kami!"
"Ya benar ayo kakak masak sesuatu untuk kami, sudah lama sekali kami ingin makan masakan kakak!" ucap Li Ying menimpali.
__ADS_1
"Haha baiklah, aku juga ingin merayakan karena kalian sudah naik tingkat" ucap Xiao Feng lalu berdiri dan berjalan ke dapur dengan diikuti Li Ying dan Sun Ling'er. Sedangkan Feng Xi kembali berbincang dengan Sun Xie dan Sun Guan.
**** bersambung ****