
Setelah aksi percintaan panas dari pasangan pengantin baru yang baru saja melakukannya di dalam kamar mandi, kini keduanya sama-sama keluar dari sana dengan rambut basahnya. Tak lupa wajah yang bersinar dan tubuh yang lebih fresh.
Queen bermanja-manja pada pria yang digelayutinya. "My hubbiy, aku capek."
"Siapa tahu My hubbiy mau memijat tubuhku yang benar-benar remuk redam karena dihajarnya habis-habisan tadi dengan berbagai macam gaya. My hubbiy benar-benar sudah banyak berubah, karena hari ini dia sangat agresif sekali. Aku bahkan sampai kewalahan mengimbanginya, benar-benar gila," batin Queen.
Mendengar keluhan dari sang istri yang memang terlihat seperti seseorang yang kehilangan tenaga, membuat Aditya merasa bersalah telah membuat wanita cantik yang memakai dress di bawah lutut berwarna peach itu kecapekan.
"Maafkan aku Sayang, karena aku tadi tidak bisa menahan diri. Berbaringlah di ranjang, aku akan memijatmu untuk merilekskan otot-ototmu akibat perbuatanku."
Queen merasa sangat senang mendapat tawaran dari sang suami, namun ia merasa sangat kesal ketika melihat ranjang berukuran sedang yang menurutnya sangat tidak layak ditempati. Sehingga membuatnya sangat malas untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Nggak mau, nanti saja setelah sampai di hotel kita yang sebenarnya. Aku jijik tidur di situ, lebih baik kita segera pergi dari sini! Akan tetapi, sebelum itu kita mampir di gerai ponsel. Bukankah aku harus memenuhi janjiku? Ayo, kita pergi sekarang!"
Queen berniat menggandeng tangan sang suami untuk berjalan keluar dari kamar. Namun, tangannya ditahan oleh pria yang saat ini tengah menatapnya dengan intens.
"Sayang, tunggu sebentar!" ucap Aditya dengan menepuk lembut bahu istrinya.
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara sebentar, duduklah Sayang!" Aditya mengarahkan tangannya untuk menghela tubuh sang istri duduk di pinggir ranjang.
"Ada apa sih?" rengut Queen yang terpaksa duduk di ranjang.
"Apakah kamu tidak ingin mengetahui rumahku, Sayang?" tanya Aditya dengan tatapan penuh pengharapan.
"Rumahmu? Memangnya ada apa dengan rumahmu? Apakah itu penting?"
"Kalau bagiku, itu sangat penting Sayang. Karena aku ingin kamu mengetahui tentang semua hal mengenai aku. Bahwa suamimu ini adalah pria biasa yang berasal dari rakyat jelata. Aku sangat menyadari kalau kasta kita sangat berbeda, karena itulah setiap kali kamu menganggap sesuatu rendah atau bahkan jijik seperti sekarang, aku benar-benar merasa sangat terluka."
Aditya menampilkan ekspresi wajah kecewa bercampur sedih setelah mengungkapkan apa yang selama ini dirasakannya. Tentu saja dirinya ingin sedikit demi sedikit merubah sikap arogan sang istri agar lebih bisa menghargai hal sekecil apa pun dan yang terpenting adalah tidak menganggap rendah sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Queen merasa tidak enak begitu mendengar pengakuan dari sang suami. Tentu saja dirinya sangat tahu kalau sikapnya yang selalu tidak bisa menyembunyikan apa yang dirasakannya, memang telah menghina harga diri suaminya.
"Aku tidak bermaksud begitu, jadi jangan menganggap aku menghinamu My hubbiy. Seharusnya kamu juga mengerti aku, karena memang aku seperti ini. Maksudku, aku selalu menunjukkan respon apa pun sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Bukan bermaksud untuk merendahkan, tapi aku minta maaf jika sikapku selama ini menyakitimu."
__ADS_1
Queen melingkarkan tangannya untuk memeluk pinggang kokoh pria yang duduk di sebelahnya dan menaruh kepalanya di dada bidang sang suami. "Aku dulu sering menghinamu kan, maafkan aku My hubbiy."
Sudut bibir Aditya melengkung ke atas begitu mendengar kalimat penyesalan dan juga permohonan maaf dari wanita yang masih memeluknya dengan sangat erat.
"Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf padaku. Lagipula memang kenyataannya seperti itu, aku hanya orang miskin yang beruntung bisa menikah dengan seorang nona muda cantik yang sangat kaya."
"Jangan bilang begitu, aku jadi tidak enak kan jadinya. Setelah kamu masuk di keluarga Raharja, kamu bukanlah seorang pria miskin lagi. Akan tetapi, kamu sudah berubah menjadi konglomerat. Lagipula di keluargaku tidak ada yang mempermasalahkan tentangmu," sahut Queen yang mencoba mengubah pikiran dari sang suami.
"Aku tahu akan hal itu, Sayang. Aku hanya ingin kamu lebih bisa menahan diri dan tidak selalu menghina atau pun merasa jijik dengan sesuatu yang jauh di luar ekspektasimu." Aditya mengusap lembut rambut panjang sang istri yang berada di pelukannya.
”Jadi, kamu ingin aku bersikap munafik?" rengut Queen.
"Bukan munafik namanya saat kita mencoba untuk menghargai apa pun."
"Bukankah berkata bohong adalah salah satu ciri orang munafik? Termasuk jika aku mengatakan kamar ini sangat indah sekali padahal kenyataannya sangat tidak jelek," kesal Queen.
"Kalau begitu lebih baik kamu menahan diri untuk tidak berkomentar. Kamu tahu kan dengan istilah lidah lebih tajam dari pedang? Atau perlu aku jelaskan lagi padamu?"
"Aku bukanlah anak kecil, jadi tidak perlu menjelaskannya lagi," umpat Queen.
Aditya melepaskan pelukannya dan sedikit memundurkan tubuhnya untuk bisa menatap ekspresi wajah dari sang istri.
Queen refleks langsung ber-sitatap dengan netra pekat dengan silinder hitam yang terlihat sangat mempesona di hadapannya. Tangannya menjulur ke pahatan sempurna di depannya dan meraba setiap inci bagian wajah suaminya.
"My hubbiy ternyata sangatlah tampan."
"Aku paling malas kalau mendengar ceramah dari My hubbiy. Jadi, aku alihkan saja pembicaraannya," batin Queen.
Aditya menahan tangan Queen. "Sayang, jangan menggodaku! Aku sedang serius ini, tapi kamu malah bercanda. Apakah semua penjelasanku tadi tidak masuk di kepalamu?"
"Tentu saja masuk, nanti lah aku mencoba untuk memikirkan petuahmu itu. Bukankah kamu tadi barusan bilang kalau cinta sejati itu akan menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangannya? Sekarang malah kamu yang jadi orang munafik, karena berbohong," ucap Queen untuk menolak perkataan dari suaminya.
Kalimat skak mat dari sang istri, tentu saja membuatnya menjadi tidak berkutik untuk mengeluarkan bantahannya. Karena dirinya kini seolah terperangkap sendiri dalam perangkap yang dia buat.
Istriku benar-benar sangat cerdas sekali memainkan kata-kata. Sepertinya aku telah dikalahkan oleh istriku sendiri.
__ADS_1
"Sayang, ternyata kamu memang seorang wanita yang sangat jenius."
"Baru tahu ya?"
"Iya, aku pikir kamu tidak secerdas itu."
"Kalau aku tidak cerdas, mana mungkin aku bisa jadi dokter."
"Akan tetapi, kenapa kamu tidak secerdas itu saat menuduhku telah memperkosamu? Bahkan kamu tidak tahu apakah kamu masih perawan atau tidak saat itu," ejek Aditya dengan tersenyum tipis.
"Aku tidak pernah belajar tentang kevirginan My hubbiy, karena selama ini yang aku pelajari hanyalah tentang tulang dan tulang. Aku bahkan tidak pernah tahu kalau ternyata melakukan hubungan intim untuk pertama kalinya itu sangat sakit. Kalau tidak mencoba mana tahu aku," ucap Queen dengan malu-malu.
"Tapi sekarang sudah nggak sakit lagi kan? Karena kamu hanya sibuk mendesah dan melenguh saat aku melakukannya," goda Aditya dengan tersenyum tipis.
Wajah Queen sudah berubah seperti kepiting rebus saat mendengar kalimat pertanyaan bernada vulgar. Refleks ia mencubit paha pria yang masih mengarahkan tatapan nakalnya.
"Iiissh ... dasar mesum. Ayo, kita pergi dari sini!"
"Oh ya Sayang."
"Apa lagi?"
"Kamu punya janji 1 lagi."
"Janji apa lagi?"
"Cerita tentang hot Daddy, nanti ceritakan padaku!"
"Baiklah ... baiklah, tapi kita pergi dulu dari sini! Aku sudah muak ...."
Queen langsung membekap mulutnya dan tidak jadi melanjutkan perkataannya. "Maaf-maaf, aku keceplosan jadinya."
"Sepertinya aku harus membiasakan diri untuk mendengarnya," jawab Aditya dengan geleng-geleng kepala.
TBC ...
__ADS_1