
Queen terlihat sangat gelisah, bahkan wajahnya tampak semakin pucat dan penampilannya pun semakin berantakan. Jauh dari kesan glamor seorang nona muda seperti biasanya yang terlihat selalu berpenampilan rapi, seksi dan make up ringan yang selalu terlihat menghiasi wajah cantiknya dan membuat semua orang yang menatapnya selalu memuji dan mengagumi kecantikannya.
Namun, penampilannya yang sekarang adalah rambut acak-acakan, wajah tanpa make up yang dihiasi bulir air mata yang tidak berhenti mengalir dari bola matanya. Di tambah lagi dengan pakaian yang ia kenakan sudah tak berbentuk lagi karena sangat kusut dan dipenuhi oleh noda darah suami yang sudah mulai mengering.
Bahkan dirinya sama sekali tidak merasa jijik meskipun dirinya adalah seorang dokter yang selama ini selalu mengutamakan kebersihan demi sesuatu yang steril. Seolah dirinya kini seperti seseorang yang berbanding terbalik menjadi 180 derajat setelah mengalami peristiwa naas di hari bulan madunya yang seharusnya merupakan momen yang paling berkesan seumur hidupnya.
Momen yang diharapkannya berkesan berubah menjadi momen yang paling menakutkan dan benar-benar sudah menghancurkan seluruh kebahagiaan yang baru saja ia reguk. Queen berkali-kali menatap ke arah ponselnya dan menunggu kabar dari semua anak buahnya. Berharap ada sebuah telfon dari para pengawal yang membawa sebuah kabar gembira, yakni membawa darah O- untuk pria yang sedang kritis di ruang operasi.
Sudah setengah jam dirinya berjalan mondar-mandir tidak tentu arah, karena merasa sudah tidak bisa menunggu terlalu lama karena tidak mau bermain-main dengan urusan nyawa. Apalagi nyawa dari pria yang sangat dicintainya, akhirnya dirinya memutuskan untuk mencoba sekali lagi menghubungi pria yang sangat tidak disukainya.
Jari lentiknya mulai membuka daftar riwayat panggilan dan langsung menggulir ponselnya untuk menghubungi kontak dengan nama Reynaldi. Karena merasa sangat gugup menunggu jawaban, Queen terlihat tengah menggigit kuku jari telunjuknya. Dirinya bahkan sudah seperti anak kecil yang kehilangan arah dan tersesat yang tidak tahu arah jalan pulang.
Sehingga dirinya mau tidak mau menghubungi pria yang dirinya tahu mungkin akan menjadi penyebab kehancurannya. Karena ia sadar diri telah menghancurkan perasaan pria yang dihubunginya itu.
"Angkat Rey! Kau ada di mana sebenarnya," keluh Queen dengan suaranya yang bergetar.
Tak berapa lama kemudian, bunyi suara bariton dari pria yang sangat diharapkannya mulai tertangkap indera pendengarannya. Dan suara itu benar-benar membuatnya sangat frustasi dan terlihat mengepalkan tangannya.
"Halo Ratuku yang paling cantik."
Hening untuk beberapa saat, seolah Queen benar-benar sedang berusaha menahan amarahnya.
"Sabar, Queen. Jangan mengandalkan emosi, karena nyawa suamimu ada di tangan pria berengsek yang tak lain adalah adik tiri dari suamimu dan merupakan adik iparmu," batin Queen.
"Halo Nona muda, apakah kamu menghubungiku hanya untuk berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun? Kalau begitu aku tutup telfonnya!"
"Tunggu Rey!"
"Akhirnya kamu mengeluarkan suara indahmu itu Ratuku. Aku sangat merindukan suaramu yang merdu."
"Jangan bercanda Rey, aku ingin meminta bantuanmu! Apakah Tante Nayla sudah menghubungimu?"
"Mama? Memangnya kenapa Mama harus menghubungiku?"
__ADS_1
"Jadi, Tante Nayla benar-benar telah membuang putranya sendiri."
"Apa maksudmu Ratuku?"
"Rey, dengarkan aku baik-baik dan buka hati nuranimu! Aku yakin kamu masih mempunyai hati, jadi aku mohon padamu untuk menolongku!"
"Waah ... sungguh sangat luar biasa karena seorang nona muda Queen yang selama ini sangat arogan mau merendahkan dirinya untuk memohon kepada pria yang telah dipermalukannya."
"Rey, kamu adalah adik dari suamiku karena Mamamu lah yang melahirkannya dari pernikahan sebelumnya. Dan kenyataannya adalah kamu adik dari suamiku. Jadi, kalian berdua adalah bersaudara."
"Bersaudara? Aku adalah anak tunggal dan sama sekali tidak mempunyai saudara, jadi jangan pernah menyebut pria berengsek itu adalah saudaraku! Atau aku tutup telfonnya!"
"Rey, buka mata hatimu! Meski kamu mencoba menolaknya, di tubuhmu mengalir darah yang sama dengan darah suamiku."
"Aku muak mendengar perkataanmu!"
"Jangan matikan telfonnya! Karena ada hal penting yang ingin aku katakan padamu!"
"Hal penting apa lagi? Cepatlah, aku beri waktu kamu 1 menit untuk berbicara!"
"Jadi, kamu ingin aku mendonorkan darahku pada pria yang telah merebut tunanganku? Kamu benar-benar tidak tahu malu Queen. Bukankah kamu adalah seorang wanita yang jenius? Tidak mungkin kamu tidak tahu kalau aku tidak akan pernah sudi mendonorkan darahku untuk pria berengsek yang telah merebutmu dariku. Biarkan saja dia mati, lalu kita menikah!"
"Kamu benar-benar pria yang tidak punya hati Rey! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu pada Abangmu sendiri. Dan kamu menghina suamiku adalah pria berengsek padahal kamu jauh lebih berengsek. Karena hal inilah yang membuatku sama sekali tidak tertarik padamu dan sangat membencimu!"
"Terima kasih atas pujiannya, Ratuku. Apa sudah selesai? Aku sedang sibuk!"
"Reeeeeeeey ...."
Queen seketika langsung berteriak karena tidak bisa lagi untuk menahan diri, bahkan dirinya yang awalnya dalam posisi duduk langsung berdiri dan wajahnya seketika dikuasai oleh emosi yang seolah sudah membakar habis tubuhnya.
"Apa lagi Ratuku? Jangan berteriak padaku, itu tidak sopan!"
"Ini benar-benar gila, bagaimana mungkin tercipta manusia sepertimu."
__ADS_1
"Terima kasih sekali lagi atas pujiannya Ratuku, apakah ada lagi?"
"Astaga, Rey cepat datang ke Bali untuk mendonorkan darahmu pada suamiku. Apa pun akan lakukan untuk bisa menyelamatkan nyawa suamiku."
"Apa pun? Apakah kamu berpikir darahku yang sangat berharga ini gratis?"
"Aku akan membayar setiap tetes darah yang kamu keluarkan untuk suamiku."
"Sangat menarik."
"Kamu minta berapa? Katakan saja! Aku akan langsung men-transfer uangnya."
"Kamu benar-benar telah menghinaku Ratuku. Aku bukanlah pria miskin seperti pria tidak berguna itu. Jadi, aku tidak butuh uangmu."
Queen refleks langsung menelan salivanya dan jantungnya seketika berdetak sangat kencang saat mendengar kalimat ambigu yang ia sendiri bisa memprediksi apa yang akan dikatakan oleh pria playboy yang merupakan pemain cinta itu.
"Halo ... apakah kamu masih ada di sana Ratuku?"
"Tentu saja, aku masih di sini. Lalu, kamu butuh apa Rey?"
Suara tawa dari Rey bisa di dengar oleh Queen, dirinya benar-benar merasa ingin melempar pria yang tengah terbahak itu karena sengaja mengejeknya habis-habisan. Namun, ia mencoba sekuat tenaga untuk menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya serta gerahamnya yang mengeras.
"Pertanyaan yang sangat aku suka Ratuku. Kamu tahu kan kalau di dunia ini tidak ada yang gratis? Termasuk dengan darahku yang sangat berharga ini."
"Jangan bertele-tele Rey, cepat katakan padaku!"
"Sebenarnya kamu sudah tahu Ratuku, tapi kamu berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi, aku akan berbaik hati untuk mengatakannya padamu."
Queen langsung menutup kedua matanya dengan diiringi suara detak jantungnya yang berdetak sangat kencang saat menunggu kalimat menakutkan yang bisa diketahuinya adalah sebuah kehancuran untuk hubungannya dengan pria yang sangat dicintainya.
Hingga tubuhnya seketika lunglai dan ponsel yang berada di tangannya langsung jatuh meluncur bebas ke lantai berwarna putih itu saat mendengar suara dari Reynaldi yang menyebutkan keinginannya.
"Aku ingin kamu bercerai dengan pria miskin itu dan menikah denganku!"
__ADS_1
TBC ...