Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Sebuah peringatan kecil


__ADS_3

Flashback on ...


Di sebuah perumahan elite yang ada pada kawasan pusat kota, terlihat seorang wanita tengah sibuk mengamati rumah mewah lantai 2 tersebut. Sosok wanita yang tak lain adalah Dewi baru beberapa menit yang lalu tiba di perumahan yang merupakan hadiah dari nona muda keluarga Raharja. Awalnya ia merasa sangat terkejut saat pertama kali tiba di sana, karena hadiah rumah mewah itu menurutnya terlalu berlebihan. Namun, ia merasa sangat senang bisa tinggal di rumah mewah seperti layaknya orang kaya.


Begitu memasuki rumah yang lengkap dengan berbagai macam furniture berkualitas tinggi tersebut, membuatnya ingin berjingkrak-jingkrak untuk mengungkapkan perasaan bahagianya. Hingga suara dari dering ponselnya terdengar dan ia pun sibuk berbicara dengan sahabatnya Ririn, agar segera datang ke rumahnya untuk tinggal bersamanya.


Dewi sengaja menyuruh supir untuk membelikannya makanan karena ia malas untuk memasak, meski sudah memiliki stok makanan lengkap di lemari pendingin. Hari ini ingin sekali ia hanya bersantai layaknya orang-orang kaya yang selalu dilayani oleh pelayan.


Akan tetapi, Dewi tidak ingin ada pelayan di rumah, karena tidak mau ada orang yang mendengar pembicaraannya saat menyusun rencana dengan sahabatnya. Sehingga ia tidak menyetujui keinginan dari sang nona muda untuk mengirimkan 1 pelayan di Mansion dengan alasan sudah ada sahabatnya yang akan menjadi teman di rumah dan membantunya.


Dewi sudah memeriksa kamar utama yang menjadi ruangan pribadinya dan terlihat langsung berbinar saat melihat tempat tidur super mewah dengan dilengkapi barang-barang berkualitas tinggi tersebut. Ia refleks menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar.


"Aku sudah jadi konglomerat beneran ini, meskipun aku tahu ini hanya sementara saja. Begitu nona muda itu sudah mengetahui bahwa aku berencana menghancurkan rumah tangganya, aku pasti akan langsung diusir olehnya. Jadi, sekarang ini lebih baik aku menikmati semua kemewahan ini."


"Aah ... nyamannya," Dewi memeluk erat guling yang ada di atas ranjang sambil memejamkan kedua matanya. Rasa lelah teramat sangat dirasakan tubuhnya dan membuat ia tertidur pulas.


Satu jam kemudian, suara dari bel pintu yang berbunyi, membuat Dewi tersadar dari tidurnya. Beberapa saat ia mencoba mengumpulkan kesadarannya sebelum bangkit dari ranjang. Hingga suara dering ponsel miliknya berbunyi. Dewi meraih ponsel yang ada di tas selempang miliknya dan mengeluarkan suaranya begitu menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo."


"Cepat buka pintunya, aku sudah ada di depan."


"Baiklah."


Dewi mematikan sambungan telefon dan mulai bangkit dari ranjang king size tersebut dan berjalan dengan malas. Begitu sampai di pintu utama, ia memutar kunci dan langsung membukanya.


Manik bening miliknya sudah ber-sitatap dengan netra kecoklatan wanita yang tak lain adalah sahabat yang akan ia ajak kerja sama untuk menghancurkan keluarga pewaris dari keluarga Raharja sesuai perintah dari bosnya.

__ADS_1


"Ririn, akhirnya kamu datang juga." Dewi langsung ber-cipika-cipiki dengan sahabat yang sudah lama tidak ia temui selama lebih dari 1 tahun.


"Iya, aku kangen banget sama kamu, Dewi," ucap Ririn yang langsung memeluk erat tubuh Dewi.


"Iya, sama. Ayo, masuk-masuk," ucap Dewi yang sudah mengajak sahabatnya untuk masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya untuk duduk di sofa yang ada ruang tamu. "Oh ya, kamu mau minum apa? Biar aku ambilkan."


"Tidak perlu, biar aku nanti ambil sendiri. Lagi pula aku bukan tamu," jawab Ririn yang sudah menarik pergelangan tangan dari sahabatnya agar kembali duduk di sebelahnya. "Aku tadi bertemu dengan nona muda itu."


Dewi membulatkan kedua matanya, "Astaga, kenapa kamu sangat ceroboh. Seharusnya dia tidak boleh melihatmu tadi. Bagaimana kalau dia merasa curiga dan rencana kita gagal?" sahut Dewi dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Ririn menggelengkan kepalanya, "Tenang saja, si nona muda arogan itu tadi terlihat sangat buru-buru. Karena itulah ia hanya melihatku sekilas dan tidak akan mengingatku. Jadi, jangan kuatir."


"Benarkah? Semoga saja begitu, karena aku tidak ingin ada yang mencurigaimu saat bekerja di perusahaan Raharja. Kita harus meyakinkan semua orang terlebih dahulu, baru kita bisa menjalankan rencana." Dewi menoleh ke arah pintu keluar begitu mendengar suara dari bel pintu yang berbunyi. "Aku buka pintu dulu, sepertinya supir sudah datang. Aku tadi menyuruhnya untuk membelikan makanan, karena aku malas masak."


"Wah ... kamu benar-benar sudah jadi seorang konglomerat. Bahkan punya seorang supir," jawab Ririn dengan mengarahkan 2 ibu jarinya.


Begitu membuka pintu, Dewi menatap ke arah pria paruh baya yang terlihat sangat kacau di depannya. "Kenapa penampilan Bapak berantakan seperti ini?"


"Maaf, Nona saya datang terlambat karena tadi ban mobil pecah. Karena itulah saya sibuk untuk mengganti ban mobil terlebih dahulu. Baru saya membelikan makanan untuk, Nona." Pak Budi langsung menyerahkan bungkusan makanan di tangannya pada wanita di depannya.


"Oh ... tidak masalah, Pak. Lagipula saya tadi tertidur dan tidak menunggu Bapak. Kalau begitu, Bapak kembali saja ke Mansion, lagipula teman saya sudah datang. Dia yang akan menemani saya tinggal di sini dan membantu pekerjaan rumah," jawab Dewi yang ingin segera mengusir pria di depannya. Semua itu dikarenakan ia tidak ingin membuat pria tersebut mendengar pembicaraan dengan sahabatnya.


Pak Budi menganggukkan kepalanya, "Baiklah, Nona. Kalau begitu saya kembali ke Mansion dulu. Jika ada apa-apa atau perlu saya, Anda hubungi nomor ponsel saja."


"Iya, Pak Budi. Terima kasih," sahut Dewi yang menatap ke arah pria paruh baya tersebut sudah berjalan masuk ke mobil dan melajukannya meninggalkan rumah.


Saat Dewi menutup pintu dan hendak berbalik badan untuk menghampiri sahabatnya, ia sangat terkejut ketika Ririn sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


"Astaga, kamu buat aku terkejut," ujar Dewi yang sudah memegangi dadanya.


Ririn hanya terkekeh geli melihat ekspresi terkejut dari Dewi. "Maaf, aku tadi penasaran dengan supirmu, karena itulah aku ingin melihatnya. Ternyata hanya seorang pria paruh baya."


"Dasar keganjenan," ucap Dewi yang sudah berjalan ke arah sofa. Meletakkan makanan di atas meja dan membuka bungkusan makanan yang ada di dalam kantong plastik. "Ayo, kita makan. Akan tetapi, berbagi makanan, karena aku tadi tidak tahu kalau kamu akan datang."


"Tidak perlu, makan saja sendiri. Aku sudah makan. Oh ya, kamu punya nomor dari pria tampan yang jadi suami nona muda arogan itu kan? Sini, aku minta," ucap Ririn dengan tatapan menyeringai.


"Aku memang punya, tetapi kamu mau apa?" tanya Dewi dengan tatapan menyelidik.


"Kita buat si nona arogan kebingungan seperti cacing kepanasan. Aku akan berpura-pura menjadi penelfon salah sambung," ucap Ririn dengan tersenyum menyeringai.


"Apa ini tidak terlalu cepat? Bagaimana jika si nona muda merasa curiga dan menyelidikinya. Kalau kamu ketahuan sebelum bertanding bagaimana? Jangan ceroboh," ujar Dewi dengan tegas.


"Tenang saja, aku punya banyak nomor tanpa identitas dan sekali pakai. Tidak akan ada yang tahu kalau itu aku," jawab Ririn dengan percaya diri.


"Benarkah?"


"Iya, kamu tenang saja."


"Ada di ponselku dengan nama tuan muda Aditya," jawab Dewi dengan dagu mengarah pada ponsel yang ada di atas meja.


Ririn tersenyum tipis dan langsung mengambil ponsel milik sahabatnya untuk menyalin nomor telepon dari pria tampan yang mulai menarik hatinya, serta melakukan serangan pertama. sebagai sebuah peringatan kecil.


Flashback off ...


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2