Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Wanita pertama


__ADS_3

Perut Sabrina menegang dan desiran gairah mengalir di tubuhnya begitu bibir tebal itu menguasai bibirnya. Rasa panas dan bagian inti yang berdenyut begitu hebat, membuatnya sangat mendamba ciuman dari pria yang semakin menguasainya. Bahkan tangannya pun sudah berada di balik leher belakang pria yang sudah sibuk dengan tubuhnya.


Keduanya saling memagut dan membelit dengan penuh gairah. Sementara itu, tangan Dave sudah sibuk melepaskan pengait belakang penutup dua benda membusung yang membuatnya ingin bermain-main di sana. Hingga penutup berenda berwarna merah itu lolos dan jatuh ke atas lantai dingin tempat mereka berpijak.


Tentu saja tanpa membuang waktu, Dave sudah melepaskan pagutannya dan berpindah ke sana dan memainkannya dengan mulutnya. Sedangkan tangan satunya sudah asyik memainkan yang satunya.


Sementara itu, suara desahan lolos dari bibir Sabrina saat merasa tubuhnya bergelinjang hebat akibat perbuatan dari pria yang sudah ia remas rambutnya. Bahkan tubuhnya seolah lunglai saat merasakan gairah yang berapi-api di dalam tubuhnya. Dengan suaranya yang serak, Sabrina mencoba memberitahu pria yang sudah berhasil membuatnya ingin segera menyelesaikan gairahnya.


"Dave, a-aku ...."


Dave mendongak menatap ke arah wajah Sabrina yang sudah berubah merah karena dikuasai oleh hasrat. "Katakan sekarang, Sabrina. Katakan bahwa kamu menginginkanku," ucap Dave dengan tatapan yang menyiratkan gairah berapi-api.


Sabrina bisa melihat tatapan Dave sudah melahap habis dirinya. Warna gelap mewarnai pipi Dave ketika ia melihat tangan kekar itu menarik celana ke bawah dan melepaskan penutup terakhir tubuhnya. Sedangkan ia hanya diam tak berkutik seolah tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Hingga ia hanya pasrah dan diam saat Dave sedikit membungkuk dan menggendongnya untuk membawanya ke atas ranjang.


Dave yang sudah terbakar gairah, tidak mampu lagi untuk berlama-lama dan sudah menjelajah untuk bermain-main di bagian paling sensitif yang menjadi kelemahan Sabrina. "Aku menginginkanmu Sabrina. Apakah kamu juga menginginkanku? Katakanlah sesuatu!"


Kalimat tegas dari Dave, seolah sebuah titah yang harus dijawab oleh Sabrina. Sehingga saat Sabrina sudah melenguh panjang saat merasakan puncak kenikmatan, akibat perbuatan Dave yang sudah bermain-main dengan bagian intinya, membuatnya sudah tidak mampu lagi menolak.

__ADS_1


"Dave, lakukan sekarang! Aku menginginkanmu," seru Sabrina yang sudah merintih saat Dave lagi-lagi membuatnya melayang karena telah melakukan cumbuan di setiap titik-titik sensitif miliknya.


Sudut bibir Dave terangkat ke atas dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan karena merasa sudah di atas angin, ia langsung melepaskan penutup terakhir dari wanita yang sudah bergerak seperti cacing kepanasan. Tentu saja ia kembali membuat Sabrina sudah melenguh dan mendesah atas perbuatannya, seolah ia ingin menyiksanya terlebih dahulu. Karena ingin mendengar suara dari Sabrina yang selalu menyerukan namanya.


"Dave ...." Sabrina benar-benar menggelinjang hebat saat pria yang berada di bawahnya itu masih sibuk memainkan bagian intinya. "Lakukan sekarang! Aku mohon, Dave," ujar Sabrina dengan suara seraknya. "Aku menginginkanmu."


Dave yang dari tadi menunggu kata-kata itu keluar dari bibir Sabrina, akhirnya bisa tersenyum puas begitu mendengar kalimat penuh permohonan dari wanita yang sudah sangat menginginkannya. Sehingga ia langsung menekan tubuh polos yang bagaikan sebuah makanan dan ingin segera disantapnya.


Ia pun mulai mendesak masuk, meskipun agak kesusahan. Rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya, membuat Dave merasakan sebuah kenikmatan yang amat luar biasa begitu melakukan momen akhir. Yaitu, penyatuan diri dengan wanita yang sudah merintih kesakitan dengan mata yang membeliak.


Sabrina merintih, matanya melebar dan seketika menarik napas ketika merasakan rasa sakit saat Dave sudah mendesak masuk tanpa henti dan ia pun mendekap erat tubuh kekar yang sudah mulai berpeluh tersebut.


"Lihat aku, Sabrina," titah Dave yang seolah memerintah dengan kasar.


Indera pendengaran Sabrina yang menangkap suara dari pria yang sudah terlihat menggertakkan rahang dengan tatapan tajam yang seolah ingin melahap habis dirinya, membuat Sabrina menuruti. Sehingga ia sudah mengunci tatapannya pada satu titik, di mana netra dengan silinder hitam itu melahap habis dirinya.


"Dave ...."

__ADS_1


Dave masih sibuk bergerak memuaskan hasrat dan juga membuat wanita yang memeluknya erat itu menyebut namanya berkali-kali. Seolah suara itu adalah suara paling seksi yang pernah ia dengar. "Sabrina, kamu sangat cantik hari ini. Teruslah seperti ini."


Sabrina seolah melayang begitu mendengar pujian dari Dave. Ia semakin mendekap tubuh Dave, bahkan kakinya masih melingkari tubuh kekar berotot itu. Dalam hitungan detik, tubuhnya menegang hingga ke titik terendah.


Dave tersenyum penuh kepuasan saat melihat Sabrina terlihat menggelinjang hebat dalam gelombang kenikmatan yang spektakuler saat berhasil mencapai orgasme. "Kamu sudah mencapai klimaks, Sayang."


Sabrina yang semakin mengeratkan pelukannya, saat seluruh urat syarafnya meregang hingga ke titik tak tertahankan. Seolah saat ini ia kehilangan kendali dirinya ketika mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah dirasakannya dan membuatnya seolah gila. Gila pada setiap sentuhan dan perbuatan dari pria yang semakin bergerak cepat di atas tubuhnya.


Seolah tidak memberi sebuah kesempatan untuk menikmati kenikmatannya sendiri. Sabrina tidak berkedip menatap wajah tampan dengan rahang tegas yang masih bergerak sesuai irama tersebut. Ia bisa melihat Dave menggertakkan rahang, ekspresi wajah yang sangat intens dan juga penuh konsentrasi dan mendengar suara parau lolos dari mulut Dave dan merasakan tubuh sixpack itu menegang saat mencapai klimaks.


Dave yang tadinya semakin mempercepat gerakannya, mulai melenguh panjang saat berhasil meledakkan cairan di rahim wanita yang berhasil membuatnya merasakan puncak kenikmatan. Sehingga ia kembali mendaratkan ciuman penuh hasrat di mulut Sabrina saat mencapai puncak kenikmatan yang membawanya ke surga yang hakiki.


Deru napas yang memburu dari keduanya, tentu saja bisa didengar oleh masing-masing. Dave jatuh terkulai lemas dengan peluh yang membanjiri tubuh kekarnya.


Sementara itu, Sabrina yang masih memejamkan kedua matanya, seolah tidak mampu lagi untuk membukanya dan ingin segera merehatkan tubuhnya yang seolah sulit untuk bergerak. Bahkan ia masih belum melepaskan pelukannya yang menurutnya sangat nyaman saat memeluk erat tubuh kekar berotot yang masih berada di atasnya tersebut. Karena aroma khas maskulin dan kulit yang saling menempel itu sanggup menggetarkan jiwanya.


Suasana penuh keheningan berlangsung beberapa saat. Begitu Dave berhasil menormalkan napasnya, ia menjatuhkan diri di samping kanan Sabrina dan memeluknya dengan sangat erat. Seuntai senyuman penuh kelembutan terpatri jelas di wajahnya saat melihat wanita yang masih enggan membuka kedua matanya tersebut.

__ADS_1


"Sabrina ... kamu adalah wanita pertama yang membuatku merasakan sebuah kepuasan batin," gumam Dave di dalam hati seraya memejamkan kedua matanya.


TBC ...


__ADS_2