
Aditya terlihat menimbang-nimbang keputusannya karena sejujurnya ia merasa sangat kebingungan untuk memilih 2 nama yang menurutnya sama-sama memiliki arti yang baik tersebut.
"Ehm ... bagaimana ya, Sayang. Sepertinya aku lebih suka dengan nama Aathifa, tetapi princess sangat cocok sebagai nama putrimu karena kamu Queen yang artinya ratu di hatiku dan princess adalah putri kita."
Queen menyunggingkan senyumnya karena merasa sangat puas dengan jawaban dari sang suami. "Ternyata kita sepemikiran, My hubbiy. Aku sangat suka dengan nama princess, karena aku pun sangat menyukai tokoh-tokoh princess di walt disney seperti, Mulan, Snow White, Cinderella, Jane, Jasmine, Ariel, Belle, Aurora, Tiara, Pocahontas, Ana, Merida, Moana."
Aditya membulatkan matanya begitu mendengarkan Queen menyebut satu persatu tokoh princess di Walt Disney yang sama sekali tidak pernah ia ketahui. "Kamu sangat hafal, Sayang. Sepertinya saat kecil dulu, kamu selalu main boneka dan menonton kartun-kartun Walt Disney, ya."
Hanya sebuah gelengan kepala yang menegaskan bahwa perkataan dari suaminya salah. "Justru dulu aku sangat tidak menyukai tokoh-tokoh princess, My hubbiy."
"Benarkah? Lalu, bagaimana kamu bisa menghafal tokoh-tokoh princess itu jika tidak menyukainya?" tanya Aditya dengan mengerutkan kening.
"Semenjak aku kuliah di New York, aku jadi suka karena teman-temanku selalu mengajakku pergi ke Walt Disney dan aku pun dulu sangat berharap bisa menjadi seorang Cinderella yang hidup berbahagia dengan pangeranku." Queen tidak melanjutkan perkataannya karena pangeran yang dimaksudnya dulu adalah hot daddy-nya.
Aditya yang mengerti dengan arah pembicaraan dari sang istri, menanggapinya dengan tersenyum kecut. "Pangeran berkuda putih yang kamu impikan itu adalah daddy Azriel, bukan? Dan ternyata, akulah yang menjadi pangeran sejatinya."
Queen hanya terkekeh, karena kali ini ia membenarkan semua perkataan dari sang suami yang menatapnya dengan intens. "Dan aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena telah memberikan suami sempurna sepertimu." Membenamkan wajahnya di dada bidang Aditya dan tak lupa mengendus aroma wangi maskulin khas yang sangat disukainya.
Aditya yang sudah memeluk erat tubuh Queen dan mengusap lembut punggung belakangnya, "Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Sayang. Jangan selalu asyik memujiku, karena nanti aku akan besar kepala."
"Akan tetapi, aku menyukainya. Jadi, jangan melarangku, My hubbiy."
"Baiklah, aku tidak akan pernah melarangmu. Lebih baik kita tidur."
"Aku tidak bisa tidur karena ingin bercinta." Queen sudah sibuk memainkan jari telunjuknya di perut sixpack pria yang berada pada posisi intim dengannya untuk merasakan simpul otot yang sangat dikaguminya.
"Astaghfirullah, tahan, Sayang. Nanti setelah kamu selesai, aku akan melayanimu dengan cara lain. Sabar, ya." Aditya menahan tangan Queen agar tidak melanjutkan kenakalannya. "Jangan memancingku, memangnya kamu mau bertanggungjawab?"
Queen hanya tertawa saat menggelengkan kepala, "Enak di kamu, nggak enak di aku. Nanti saja pas aku sudah selesai dan tidak merasakan nyeri lagi. Sekarang lebih baik kita tidur." Mengeratkan pelukannya dan mulai memejamkan mata.
Hal yang sama dilakukan oleh Aditya karena ia sudah mengeratkan pelukannya untuk mengikis jarak di antara mereka.
******
Suasana di pagi hari yang cerah dengan sinar mentari pagi yang menghangatkan 2 insan yang saat ini tengah berjalan-jalan di area sekitar perumahan mewah yang merupakan tempat tinggal dari pasangan suami istri, tak lain adalah Dave dan Sabrina. Setiap hari, Sabrina memang menyuruh Dave untuk selalu menemaninya saat ia berjalan ringan di sekitar area rumah untuk menghirup udara segar pagi hari yang belum terkontaminasi dengan polusi udara.
Karena orang tuanya yang selalu berpesan agar setiap pagi berolahraga ringan dengan berjalan-jalan mendekati masa persalinan yang diperkirakan sekitar 1 bulan lagi. Dengan perut yang membuncit, karena usia kandungannya sudah mencapai 32 minggu, Sabrina berjalan dengan kaki telanjangnya mengelilingi kompleks perumahan dengan sang suami yang selalu menuruti apapun keinginannya.
Sehingga ia yang awalnya masih belum bisa move on dari Aditya, lama-kelamaan luluh pada perhatian dan kebaikan, serta cinta dari Dave. Sehingga seperti saat ini, pria yang memiliki tubuh tinggi tegap itu tengah menggandeng tangannya. Seolah ingin menunjukkan sikapnya yang protective ketika menjaganya.
Dave dari tadi fokus memperhatikan langkah kaki Sabrina, "Sayang, ayo kita pulang. Sudah cukup untuk hari ini, karena aku benar-benar tidak tega melihatmu berjalan dengan perut besar itu. Menurutku, kamu lebih baik banyak istirahat, agar tidak capek. Membayangkan kamu membawa bayi kemana-mana saja, sudah membuatku tidak tega."
__ADS_1
Sabrina yang dari tadi mengamati suasana jalanan di sekitar kompleks, refleks menoleh ke arah Dave yang masih tidak mengalihkan perhatian padanya. "Ini semua demi kebaikanku juga, kata orang tuaku. Supaya aku lebih mudah saat masa persalinan nanti, karena aku ingin melahirkan secara normal kalau bisa. Meskipun kata orang, saat kontraksi, rasanya benar-benar sangat menyakitkan."
Dave awalnya mendengar pesan dari mertuanya pada sang istri, dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin membuat wanita yang hamil anaknya itu merasa kelelahan. Namun, jawaban yang mengatakan itu akan membantu mempermudah proses persalinan, membuatnya menyuruh sang istri agar dioperasi saja yang menurutnya tidak ribet.
Akan tetapi, Sabrina menolak mentah-mentah karena tidak mau perutnya di robek dan mendapatkan sebuah jahitan dengan alasan nanti akan membuatnya tidak cantik lagi.
"Sayang, kamu yakin tidak mau melahirkan secara Caesar? Kamu tenang saja, aku tetap akan selalu mencintaimu meskipun ada bekas jahitan di perutmu. Bahkan aku tidak akan mengurangi jatahmu setiap 2 hari sekali."
Refleks Sabrina langsung mengarahkan tangannya pada perut berotot Dave karena merasa sangat malu saat pria yang sudah tersenyum smirk padanya, membahas tentang kegiatan rutinnya setiap malam. Karena ia benar-benar merasa gila karena selalu bergairah selama masa kehamilannya. Bahkan ia pun merasa sangat heran, kenapa bisa seperti seorang wanita yang haus akan belaian.
"Diam dan jangan membahas tentang hal vulgar di jalanan! Apa kamu mau mempermalukan istrimu saat ada yang mendengarmu berbicara? Menyebalkan."
Dave hanya terkekeh saat melihat wajah masam dengan bibir mengerucut yang menampilkan sebuah kekesalan. "Iya ... iya, aku akan diam. Akan tetapi, aku benar-benar merasa tidak tega melihatmu setiap pagi seperti ini, Sayang. Karena aku sangat mencintaimu, jadi tidak ingin melihatmu kesusahan."
Wajah Sabrina yang awalnya masam, refleks langsung berubah tersenyum begitu mendengar kalimat rayuan dari Dave. "Gombal, semenjak aku hamil, kamu sering merayuku seperti seorang pria yang sangat berpengalaman dalam hal wanita. Karena itulah aku tidak percaya kalau kamu tidak pernah berpacaran."
Dave mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya ke hadapan Sabrina. "Suer, Sayang. Aku tidak berbohong. Kalau tidak percaya, kamu belah saja dadaku untuk melihat isi hatiku." Mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Sabrina.
Sabrina yang semakin merasa gemas pada Dave, sudah mengarahkan tangannya untuk menggelitik pinggang kokoh sang suami. "Nih rasakan! Dasar lebay." Masih terus menggelitik pinggang pria yang sudah terkekeh geli karena perbuatannya.
Namun, saat ia asyik menggelitik, indera pendengarannya menangkap suara dari seorang wanita yang memanggil nama suaminya.
"Dave," ucap seorang wanita yang saat ini tengah memakai celana jeans panjang berwarna biru dan atasan berwarna merah.
"Desy? Benar, kamu Desy." Berjalan mendekati teman lamanya dan mengulurkan tangannya. "Kamu tinggal di sini?"
Senyuman merekah tampak jelas di wajah Desy yang langsung menyambut uluran tangan dari pria dengan tinggi badan jauh darinya. "Ternyata kamu masih mengingat namaku. Iya, aku baru pindah ke sini semalam, karena aku dipindahkan ke kantor pusat yang ada di Jakarta."
Dave melepaskan tangannya dan tersenyum tipis, "Oh, pantas saja aku baru kali ini melihatmu. Oh ya, aku tinggal di rumah nomor 256, kapan-kapan kamu bisa mampir dan berteman dengan istriku." Menoleh ke arah Sabrina yang berdiri di belakangnya, "Sayang, kenalin, ini teman aku saat SMA dulu."
Sabrina tiba-tiba mood-nya mendadak buruk saat melihat sosok wanita cantik nan seksi di depannya. Namun, ia berusaha untuk menyembunyikannya sebaik mungkin. Ia mengulurkan tangannya dan tersenyum penuh keterpaksaan, "Sabrina."
Desy menyambut uluran tangan dari Sabrina dan menyebutkan namanya dan menatap ke arah perut yang membuncit itu. "Sudah berapa bulan usia kehamilannya?"
"Delapan bulan," jawab Sabrina yang beralih menatap ke arah Dave. "Sayang, bukankah kita harus bersiap-siap untuk pergi ke tempat nona muda untuk menghadiri acara syukuran dan pemberian nama putrinya. Ayo, nanti kita terlambat."
Dave melihat jam di tangan kirinya dan mengerutkan kening, karena acaranya diadakan jam 10. Sedangkan ini masih pukul 06.00 WIB. Namun, saat ia melihat kode mata dari sang istri yang menatapnya tajam, membuatnya mengiyakan ucapan tersebut.
"Oh ... iya, aku hampir lupa, Sayang. Untungnya kamu ingatkan tadi." Dave beralih menatap ke arah wanita di sebelah kanannya. "Kalau begitu, aku pergi dulu karena harus bersiap untuk menghadiri acara aqiqah cucu pemilik perusahaan tempat aku bekerja."
Desy menganggukkan kepala, "Baiklah, kapan-kapan aku akan datang ke rumahmu untuk melanjutkan obrolan kita hari ini. Semoga acaranya lancar."
__ADS_1
"Iya, pintu rumah kami akan terbuka untuk semua yang ingin datang. Baiklah, kami pergi dulu." Dave berbalik badan dan menggandeng tangan Sabrina untuk berjalan kembali ke rumah.
Setelah berada jauh dari teman SMA suaminya, Sabrina yang dari tadi menahan amarahnya, refleks langsung mengeluarkan semua yang membuncah di pikirannya.
"Ngapain juga sih, pakai menyuruh wanita itu untuk datang ke rumah kita! Itu namanya kamu memberikan sebuah peluang untuk seorang pelakor masuk dalam rumah tangga kita. Apa kamu mau kita bercerai karena ulah pelakor?"
Dave yang baru saja membuka pintu gerbang rumahnya, benar-benar merasa sangat terkejut dengan perkataan dari Sabrina yang terlihat sangat murka di belakangnya. "Astaga, Sayang. Pelakor? Dia itu temanku saat SMA dulu, bukan pelakor seperti yang kamu bilang. Jadi, jangan berpikir macam-macam. Tidak akan ada pelakor atau pebinor dalam rumah tangga kita "
Sabrina yang merasa semakin kesal karena Dave tidak mengerti kegusarannya, tentu saja membuat ia buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah. "Dasar suami tidak peka."
Dave yang sudah menutup pintu gerbang, langsung berjalan mengekor sang istri yang terlihat sangat marah karena tidak memperdulikannya. Ia buru-buru mengejar Sabrina karena merasa sangat khawatir saat wanita yang hamil benihnya itu menaiki anak tangga. Sehingga ia yang tadi sedikit berlari, kini sudah bisa mengejar wanita yang dengan perlahan menaiki anak tangga.
"Pelan-pelan, Sayang." Memegangi tangan Sabrina yang masih terlihat masam karena marah padanya.
Sabrina yang masih merasa sangat kesal, hanya diam saja saat Dave membantunya dan begitu sampai di dalam kamar, ia kembali memuntahkan semua amarahnya pada pria yang berdiri menjulang di depannya.
"Sebagai seorang suami, harusnya kamu bisa bersikap tegas pada seorang wanita. Itu untuk berjaga-jaga dari hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Anggap saja kita sedang waspada dan berhati-hati, seperti pepatah 'Sedia payung sebelum hujan.' Harusnya kamu mencontoh tuan muda Aditya yang tidak pernah mau berbicara dengan lawan jenis karena menganggap bukan muhrim. Apa hal sepele saja, harus aku jelaskan padamu!"
Dave memijat pelipisnya saat mendengar kemarahan dari Sabrina yang masih berapi-api wajahnya karena dikuasai oleh amarah. Selama 9 bulan menikah dengan Sabrina, ia selalu bersabar saat dibanding-bandingkan dengan sosok tuan muda yang pernah menjadi kekasih istrinya. Namun, kali ini kesabarannya seolah habis dan tidak mau mentolerir perkataan dari sang istri.
"Sabrina, sampai kapan kamu membandingkan aku dengan tuan muda? Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukankah kamu tahu tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, termasuk tuan muda Aditya sekali pun. Hanya saja, kamu tidak bisa melihatnya karena tidak hidup bersamanya. Apa kamu akan selalu dibutakan oleh perasaanmu yang masih selalu memuja tuan muda?"
Sabrina yang berpikir Dave mau menurut seperti biasanya, malah semakin kesal saat melihat Dave menyalahkannya. "Jadi, kamu menyalahkanku? Aku hanya memberikan sebuah contoh, bukan seperti tuduhanmu itu."
Dave mengacak frustasi rambutnya dan menghempaskan tinjunya ke udara untuk mengungkapkan emosinya. "Astaga, jangan memancing amarahku pagi-pagi begini, Sabrina."
"Kenapa? Kamu mau menampar atau meninju wajahku karena kesal dan tidak terima dengan perkataanku yang memang sebuah kenyataan? Lakukan saja!" teriak Sabrina dengan sangat kesal.
Karena sejujurnya ia tidak bermaksud untuk membandingkan Dave dengan Aditya. Niatnya adalah ingin membuat sang suami seperti sosok pria yang dulu pernah dicintainya. Tentu saja agar rumah tangganya aman dan jauh dari pelakor dan orang-orang jahat yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangganya.
Dave menatap tajam wajah memerah Sabrina yang juga tengah mengarahkan tatapan menusuk kepadanya. Tidak ingin membuang waktu, ia refleks menghambur ke arah Sabrina dan langsung meraup bibir sensual yang sudah menjadi candunya dan menciumnya dengan brutal.
Sabrina yang merasa sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari Dave yang sudah menguasai bibirnya dan juga tangan yang merajalela di setiap inci tubuhnya, mengarahkan tangannya untuk mendorong dada bidang pria yang tidak mau melepaskannya.
Meskipun ia sangat menikmati sensasi kenikmatan dari ciuman Dave, rasa ego dan kemarahannya masih membuatnya menahan diri dan mencoba menolak perbuatan dari sang suami yang malah semakin gila karena sudah melucuti gaun panjang khusus ibu hamil di tubuhnya dan langsung menyerang titik-titik sensitif miliknya.
Tubuhnya meremang dan menegang seketika saat bibir Dave sudah beralih mendarat di titik-titik sensitifnya. Sehingga ia pun langsung melupakan kemarahannya dan menikmati setiap sentuhan dari pria berada di bawahnya. Hingga desahan dan lenguhan lolos dari bibirnya.
Sementara itu, Dave yang tadinya merasa sangat kesal dan marah, kini tersenyum puas karena berhasil membuat kemurkaan dari sang istri musnah dengan perbuatannya.
"Sabrina menang sangat arogan, tetapi sifat arogannya itu bisa aku kalahkan dengan mudah hanya dengan bercinta. Wanita seliar apapun akan mudah ditaklukkan di atas ranjang," gumam Dave yang masih membuai sang istri dengan perbuatannya.
__ADS_1
TBC ...