Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Janji apa?


__ADS_3

Suasana di Mansion keluarga Raharja hari ini lain dari biasanya. Karena saat ini, keluarga dari Arthur pagi-pagi sekali sudah datang. Semua itu dikarenakan para bidadari kecil yang tak lain adalah Arsha dan Alesha merajuk tidak mau sekolah karena ingin bertemu dengan Princess. Seharusnya mereka berdua sekolah, tetapi hari ini merengek tidak mau pergi.


Sehingga sebelum ke perusahaan, Arthur mengantarkan 2 putrinya ke Mansion untuk bertemu dengan Princess. Sedangkan putra sulungnya bersekolah dan sudah kelas 2 sekolah dasar. Sedangkan sang istri menjaga 2 putra kembarnya yang berusia 3 tahun. Tentu saja karena tidak ingin melihat Princess memukuli putranya seperti yang sudah-sudah.


Semua orang sangat hafal pada perilaku Princess yang tidak suka bermain dengan anak laki-laki. Meskipun sangat heran apa penyebab Princess melakukan itu, seolah tidak menyukai bermain dengan lawan jenisnya.


Seperti yang terlihat sekarang, Princess terlihat sangat senang saat melihat Arsha dan Alesha yang datang dan ketiganya bermain bersama tanpa bertengkar karena Arsha yang berusia 7 tahun bisa menjaga sepupunya tersebut.


Queen yang melihat interaksi putri dan keponakannya, merasa sangat bahagia karena 3 bidadari kecil yang sama-sama cantik nan menggemaskan itu sangat akur.


"Lihatlah, Princess, My hubbiy." Menoleh ke arah sosok pria yang yang tengah berdiri di sebelahnya. "Mereka bertiga sangat akur, bukan."


Aditya hanya menganggukkan kepala untuk membenarkan perkataan dari Queen. Hingga suara bariton dari Arthur yang baru saja datang, membuatnya menoleh.


"Akan tetapi, semuanya tidak akan seperti ini saat ada putra-putraku. Pasti ruangan ini akan dipenuhi suara tangis," ucap Arthur yang baru selesai sarapan.


Karena ia tadi tidak sempat sarapan gara-gara 2 putrinya yang merengek agar segera diantar menemui Princess. "Sebenarnya putrimu kenapa seperti sangat memusuhi lawan jenisnya. Aneh sekali. Apa kamu tidak mau memeriksakannya ke psikiater, Queen."


Queen yang tadinya masih berkosentrasi melihat ke arah 3 malaikat kecil tak jauh dari tempatnya, refleks langsung mengarahkan tinjunya pada lengan kekar saudara laki-lakinya.


"Apa kamu mau mati, Brother! Memangnya putriku memiliki kelainan, apa!" Beralih menatap ke arah sang suami di sebelah kirinya. "My hubbiy, cepat habisi dia! Karena berani mengatai putri kita."

__ADS_1


Arthur hanya terkekeh menanggapi kemurkaan Queen. "Astaga, aku hanya bercanda, Queen."


Berbeda dengan Aditya yang terlihat sangat tenang. "Princess adalah anak yang normal. Hanya saja, dia memang tidak ingin berinteraksi dengan lawan jenis. Sepertinya, sejak kecil, Princess mengerti bahwa ada batasan antara seorang perempuan dan laki-laki. Meskipun ini terdengar sangat konyol, tetapi pendidikan anak itu harus ditanamkan sejak anak masih kecil. Seperti pepatah yang mengatakan, 'Bagai mengukir di atas batu'."


Queen membenarkan semua perkataan dari sang suami yang sudah sangat rapi memakai setelan 3 potong yang merupakan baju zirahnya saat berada di perusahaan. Dan Queen paling menyukai sang suami yang selalu terlihat sangat tampan memakai jas dan sepatu pantofel hitam mengkilat dengan rambut ber-pomadenya yang sangat rapi. Menampilkan wajah tampan serta maskulin dan semakin membuatnya makin cinta mati.


"Iya, betul. Sedangkan kebalikannya adalah 'Bagai mengukir di atas air.' Karena lebih mudah mengajari anak kecil daripada orang tua. Namun, kesalahan yang sering terjadi adalah para orang tua yang selalu mengatakan anak kecil masih belum mengerti, belum paham saat diajarin. Padahal otak anak kecil selalu lebih cepat merekam apa yang dilihat dan didengarnya. Karena itulah, harus sangat berhati-hati saat berada di depan anak. Jangan sampai bertengkar di depan mereka, karena itu akan berdampak buruk pada mentalnya."


Merasa tersindir dengan kalimat Queen, Arthur benar-benar tertohok. Karena memang ia sering sekali berdebat di depan anak-anaknya. Apalagi sang istri yang sangat bawel dan sering marah-marah.


"Sebenarnya siapa yang lebih tua di sini? Kenapa aku malah seperti anak kecil yang mendapatkan petuah dari orang tua?" Menatap bergantian Queen dan Aditya. Namun, ia menyadari kebodohannya saat mengingat bahwa Aditya lebih tua 2 tahun dari dirinya.


"Sekarang, Brother benar-benar berubah menjadi bodoh dan mempermalukan diri sendiri," ejek Queen dengan terkekeh.


Queen menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah putrinya untuk berpamitan dan menciumnya. "Sayang, Umi dan abi berangkat kerja dulu." Mengusap lembut kepala putrinya, "Princess main sama kakak Arsha dan Alesha. Jangan berantem, ya!"


Aditya pun melakukan hal yang sama seperti Queen dan hanya ditanggapi dengan sebuah pelukan penuh manja dari putrinya, seolah tidak mengijinkan mereka pergi bekerja. Ritual rutin di pagi hari yang selalu penuh drama saat perpisahan sementara itu.


"Princess, ajak kakak Arsha dan Alesha makan es krim. Nanti, Abi belikan es krim lagi yang banyak setelah pulang kerja." Mengusap lembut rambut Princess yang dikucir kuda itu. Dan usahanya tidak sia-sia karena malaikat kecil itu seolah melupakan rengekannya.


"Ecim ... ecim," ucap Princess yang mengajak 2 sepupunya untuk segera mengambil es krim.

__ADS_1


Aditya memberikan perintah pada pelayan yang menjaga putrinya, agar membawa 3 bidadari kecil itu pergi ke dapur untuk mengambil es krim.


Sedangkan Queen yang tersenyum pada putrinya, beralih melirik ke arah saudara laki-lakinya, "Brother mau berangkat sekarang atau nanti?"


"Kalian berangkat saja dulu, tadi mama bilang ingin berbicara sesuatu padaku. Aku tidak tahu, sebenarnya apa yang ingin mama bicarakan. Sepertinya sangat penting," ucap Arthur yang menebak-nebak.


Queen yang mengetahui tentang hal yang akan dibicarakan oleh sang mommy, tersenyum simpul saat menatap ke arah sang brother. "Mommy ingin menagih janjimu. Jadi, penuhi janjimu, Brother. Kami pergi dulu." Menggandeng pergelangan tangan sang suami yang berada di sebelah kanannya. "Ayo, My hubbiy, kita berangkat sekarang."


"Kami pergi dulu, Abang Arthur," ucap Aditya yang ikut merasa sangat penasaran atas apa yang dikatakan oleh sang istri.


Sementara itu, Arthur yang tidak mengerti dengan apa maksud perkataan ambigu dari Queen, sedikit berteriak karena pasangan suami istri tersebut sudah berjalan menjauh dari hadapannya.


"Queen, apa maksudmu? Astaga, memangnya aku pernah berjanji apa pada mommy. Kenapa aku lupa."


Sedangkan Queen sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari saudara laki-lakinya. Hingga ia menoleh ke arah Aditya saat mendengar suara bariton sang suami yang juga merasa sangat penasaran.


"Sayang, memangnya saudaramu janji apa?" tanya Aditya yang masih menatap Queen dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Nanti juga, My hubbiy tahu sendiri," jawab Queen dengan terkekeh.


Aditya hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban yang malah semakin membuatnya merasa sangat penasaran.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2