Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Aku tidak akan pernah mengganggumu


__ADS_3

Otak Sabrina berusaha keras untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh pria yang berjarak cukup intim dengannya. "Melakukannya? Apa maksudmu, Dave? Jangan gila, kamu! Ingat, pernikahan kita hanyalah sebuah sandiwara dan kamu sudah membuat sebuah perjanjian. Apa kamu lupa?" hardik Sabrina dengan tatapan penuh amarah yang sekaligus menyiratkan sebuah kecemasan.


"Persetan dengan perjanjian itu. Bukankah aku sudah memperingatkanmu agar tidak memancing amarahku? Karena kamu sendirilah yang menuntun aku untuk melakukan ini padamu," hardik Dave yang sudah semakin mendekat dan mengarahkan bibirnya untuk meraup bibir sensual dari Sabrina.


Karena ingin melindungi dirinya, Sabrina langsung mendorong dada bidang Dave dan berhasil membuat pria dengan postur tubuh tinggi tegap itu mundur beberapa langkah darinya.


"Sabrina, bersabarlah. Jangan buat pria berengsek ini murka. Karena kamu akan benar-benar habis diperkosanya. Tidak mungkin kamu berteriak meminta tolong dan mengatakan bahwa pria yang baru saja menikahimu akan memperkosamu. Kamu akan ditertawakan oleh semua orang, Sabrina. Ingat itu baik-baik di otakmu. Merendah dan meminta maaflah," gumam Sabrina di dalam hati.


Sabrina buru-buru mengarahkan tangannya ke depan, "Maafkan aku, Dave. Aku mohon padamu, jangan lakukan ini padaku. Aku bahkan sudah tidak punya harga diri lagi karena nona mudamu. Apakah kamu mau menghancurkannya juga? Baiklah, aku tidak akan berkata apa-apa lagi. Aku akan diam dan mengunci mulutku rapat-rapat. Aku janji," ucap Sabrina yang sudah mengarahkan jari kelingkingnya.


Amarah yang tadinya memenuhi jiwa Dave dan membuatnya merasa murka, refleks langsung mereda begitu melihat wajah cantik Sabrina yang menampilkan puppy eyes-nya. Tatapan penuh permohonan itu ibarat sebuah es yang langsung melelehkan bara api yang membara di hatinya.


Sehingga amarah yang dirasakannya mulai sedikit demi sedikit sirna. "Benarkah apa yang kamu katakan? Karena aku tidak yakin, kamu selalu berkata pedas jika sedang marah. Pasti ini hanya akal-akalanmu saja, kan?" seru Dave dengan tatapan menelisik.


"Tidak, aku berjanji padamu," ujar Sabrina dengan penuh keseriusan. "Karena aku masih ingin selamat," gumam Sabrina di dalam hati.


Dave seolah menimbang-nimbang perkataan dari Sabrina, hingga ia pun memilih untuk mempercayai wanita yang masih menggantung tangannya di udara. Yakni, mengarahkan jari kelingkingnya di depan wajahnya. Sehingga ia yang merasa sangat tidak tega, akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya.


"Baiklah, aku akan mempercayaimu. Namun, jika kamu sampai memancing amarahku lagi, aku tidak janji bisa menahan lagi. Karena sudah berkali-kali aku bilang padamu, seorang laki-laki saat merasa emosi, tidak akan pernah bisa menahan diri."


"Jika tidak babak belur, kamu akan berakhir diperkosa. Sedangkan aku tidak mungkin membuatmu babak belur, karena itu adalah seorang pengecut. Sekarang kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?" tanya Dave dengan tatapan tajam saat menatap ke arah manik bening di depannya.

__ADS_1


Tanpa memikirkannya dulu, Sabrina sudah menganggukkan kepalanya. "Iya, aku janji. Sekarang kita damai saja, oke!"


Sudut bibir Dave terangkat ke atas begitu melihat ekspresi wajah manis dari Sabrina. "Nah, begini kan terlihat manis. Kenapa tidak dari dulu seperti ini? Bukankah hidup damai tanpa sebuah pertengkaran? Karena hidup akan jauh lebih indah."


Sabrina menyunggingkan senyum penuh keterpaksaan pada Dave, sedangkan di dalam hatinya terus mengumpat dengan mengabsen seluruh isi kebun binatang. "Iya, lebih indah. Aku akan selalu merekamnya di otakku."


"Baguslah, jadi aku tidak akan kehilangan banyak tenagaku." Dave melepaskan pertautan jari kelingkingnya dan berbalik badan meninggalkan Sabrina. Karena ia ingin kembali menonton acara siaran langsung dari resepsi pernikahan Queen dan Aditya. Setelah mendaratkan tubuhnya di atas sofa, ia menepuk sofa di sebelahnya beberapa kali.


"Kemarilah, kita menonton acara resepsi pernikahan dari majikan kita."


Sabrina hanya mampu menelan salivanya begitu mendengar kalimat ajakan dari Dave yang menurutnya sangat konyol. Baru saja ia berjanji untuk tidak marah lagi, tetapi kata-kata dari pria Dave yang dianggapnya konyol, seolah sengaja membuatnya bagaikan pepatah senjata makan tuan.


Namun, ia tidak mampu berbuat apa-apa karena baru saja berjanji akan hidup damai. Sehingga ia dengan terpaksa menuruti ajakan dari Dave dengan berjalan mendekat.


"*Mereka berdua benar-benar membuatku merasa iri. Kapan hidupku bahagia seperti mereka? Mas Aditya, apakah aku harus benar-benar ikhlas merelakanmu? Bahkan senyum kebahagiaan selalu terukir di wajahmu. Lihatlah dia, tidak berhenti mengusap tangan nona muda arogan itu."


"Siapa yang tidak akan merasa iri melihat keromantisan dari mereka. Aku sangat iri, seharusnya kamu yang ada di sini hari ini, mas Aditya. Akan tetapi, pada kenyataannya, aku akan duduk di tempat yang merupakan bekas dari kalian. Sungguh tragis dan menyesakkan*," gumam Sabrina di dalam hati.


Dave melirik sekilas ke arah Sabrina yang tidak berkedip menatap ke arah ponsel di tangannya, "Cobalah untuk membiasakan diri, Sabrina. Kenapa aku menyuruhmu melihatnya? Karena aku ingin membuatmu terbiasa. Bukan selalu mengindarinya. Kenapa? Karena kamu akan selalu berinteraksi dengan mereka, nanti. Bukan aku sengaja untuk menyiksamu, tetapi ini demi kebaikanmu. Jadi, cobalah mengerti!"


Sabrina hanya mengangguk lemah, karena saat ini ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh pria yang duduk di sebelahnya itu memang benar adanya. Sehingga ia sudah tidak lagi merasa kesal dan bisa memahami maksud baik dari Dave.

__ADS_1


"Aku mengerti, Dave dan akan berusaha untuk membiasakan diri. Semoga aku bisa menjalani semua ujian ini dengan baik."


"Kamu pasti bisa, Sabrina Aku percaya padamu." Dave mengarahkan tangannya untuk menepuk lembut pundak Sabrina, seolah ingin memberikan sebuah dukungan.


Awalnya, Sabrina merasa sangat terkejut karena Dave lagi-lagi melakukan sentuhan fisik, tetapi ia bisa melihat ketulusan dari netra dengan silinder hitam yang intens mengarah padanya. Sehingga ia hanya tersenyum tipis untuk menjawab perkataan dari Dave.


"Terima kasih, Dave."


"Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan semua ini demi sebuah kemanusiaan. Oh ya, lebih baik kamu bersiap, karena nanti sore, kita berangkat ke hotel Raharja. Karena kita disuruh menginap di hotel setelah acara resepsi. Kamu sudah tahu itu, kan?" tanya Dave yang menatap ke arah mesin waktu di pergelangan kirinya.


"Aku tahu, justru itu yang ingin aku bahas denganmu. Nanti kamu tidur di ranjang saja, sedangkan aku tidur di sofa. Tidak mungkin kita tidur di atas ranjang yang sama, kan?" ujar Sabrina yang sudah menatap Dave dengan penuh pertanyaan.


Dave tersenyum menyeringai pada Sabrina, "Sepertinya kamu sudah merancang rencana malam pertama kita. Baiklah, aku tidak akan keberatan. Kamu tidur di sofa, aku di ranjang empuk. Bukan aku yang jahat, ya. Karena kamu sendiri yang memilih untuk tidur di sofa. Jadi, aku tidak mungkin memaksamu tidur di ranjang bersamaku. Akan tetapi, aku sama sekali tidak pernah merasa keberatan jika kamu berubah pikiran."


"Jangan konyol kamu, Dave. Aku tidak akan pernah melakukannya," ucap Sabrina yang merasa sangat kesal dan bangkit dari sofa untuk berjalan ke arah ranjangnya. "Karena ini kamarku, aku mau tidur di ranjangku sendiri. Sedangkan kamu beristirahat saja di sofa itu."


"Baiklah, ini lebih baik daripada tidur di lantai yang dingin," ujar Dave dengan terkekeh.


Sementara itu, Sabrina yang sudah meluruskan kakinya, mulai bersandar di punggung ranjang. "Aku bukanlah ibu tiri, Dave. Tidak mungkin aku menyuruhmu tidur di lantai."


"Syukurlah. Kalau begitu jangan ganggu aku, karena aku ingin beristirahat sejenak." Merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan posisi kaki yang menggantung, karena panjang sofa dan tubuhnya, tidak seimbang.

__ADS_1


"Iya, aku tidak akan pernah mengganggumu. Karena lebih baik kamu tidur, agar aku bisa bernapas lega sejenak," gumam Sabrina di dalam hati.


TBC ...


__ADS_2