Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kenapa kamu menangis?


__ADS_3

"Menjauhlah dariku! Kamu sengaja mau mencuri-curi kesempatan kan?"


Aditya refleks langsung mundur satu langkah dan seketika mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Astaghfirullah ... maafkan aku Nona muda Queen,. Karena aku sama sekali tidak terlintas niat untuk mencuri-curi kesempatan seperti yang kamu katakan. Justru aku menyelamatkanmu dari tatapan pria yang mungkin akan berpikiran mesum saat melihat pahamu yang terbuka dan terekspose jelas itu. Ada baiknya kamu memakai pakaian yang lebih tertutup saat berjalan di tempat umum!"


Lagi-lagi Queen memegangi pangkal hidungnya, "Sudah ceramahnya? Sekarang kamu bahkan melebihi Mamaku cerewetnya. Aku benar-benar bosan mendengarnya, jadi sudahi ceramahnya! Oh ya, mengenai tentang gaya berpakaianku, aku tidak akan merubahnya. Karena inilah style ku dari dulu, jika kamu tidak menyukainya, jangan melihatnya! Begitu saja beres bukan?"


"Hidup itu jangan di buat ribet, kita jalani saja semuanya menurut yang kita nyaman. So, jangan terlalu banyak berpidato di hadapanku! Jika kamu mau ceramah, nanti saja pas acara pengajian setiap satu bulan sekali di Mansion yang selalu keluarga Raharja lakukan untuk menyantuni anak yatim dan para dhuafa."


"Tidak perlu Nona muda Queen, karena aku masih belum mempunyai ilmu yang mumpuni untuk memberikan sebuah ceramah pada orang banyak. Aku hanya berniat baik untuk mencoba mengingatkan Nona saja, bukan berniat untuk ceramah seperti yang Nona bicarakan itu."


"Tapi menurutku, kamu cocok untuk menjadi Pak Ustadz. Karena perkataanmu yang sering memberikan ceramah itu persis seperti ceramah dari ustadz yang sering mengisi di acara pengajian keluargaku. Nanti aku bilang sama Daddy dan Mommy kalau kamu juga ingin memberikan sebuah ceramah."


"Tidak perlu Nona muda Queen!" jawab Aditya seraya mengarahkan tangannya untuk menolak.


Karena aku hanya menginginkan untuk memberikanmu sebuah nasehat, agar kamu bisa sedikit berubah dan memperbaiki dirimu. Aku tidak ingin memberikan ceramah pada orang lain, karena bagiku yang paling penting adalah istri dan anakku harus lebih baik dulu. Karena itu adalah tanggung jawab besar bagi seorang suami dan Ayah untuk membawa keluarganya menjadi keluarga yang di rahmati oleh Allah, gumam Aditya.


Refleks Queen tertawa terbahak-bahak, begitu melihat reaksi dari pria yang berada di depannya tersebut.


"Kenapa memangnya? Kamu tidak berani?"


"Bukan tentang berani atau tidak berani Nona muda Queen, aku hanya ingin melindungi Istri saja. Karena setelah menikah, kamu merupakan tanggung jawabku dan aku harus mempertanggungjawabkan semuanya di akhirat kelak. Maafkan aku, karena selalu menganggap bahwa yang akan terjadi besok bukanlah sebuah sandiwara. Itu karena aku belum pernah berpura-pura, apalagi melakukan sebuah kebohongan yang besar seperti ini."


"Aku tahu, itu sudah terlihat sangat jelas dalam sikapmu selama ini. Jadi, aku sudah tidak merasa heran. Gara-gara kamu yang terlalu banyak bicara, sehingga membuat kita terlalu lama berada disini. Ayo cepat kita pilih cincin kawin untuk acara pernikahan palsu kita!"


Queen buru-buru melangkahkan kakinya untuk menuju salah satu toko perhiasan yang merupakan langganan sang Mama.


"Selamat siang Nona muda Queen, Anda mencari apa? Saya yang akan membantu Anda?"


Queen menyunggingkan senyumnya, dan mulai mengatakan apa yang di butuhkannya.

__ADS_1


"Cincin kawin mbak."


"Mau yang seperti apa Nona muda Queen? Mau yang elegan, glamour atau berlian?"


"Terserah saja Mbak, yang penting pas di jari. Pilihkan saja yang sekiranya cocok untukku dan dia!" ucap Queen seraya menunjuk ke arah pria yang berada di sebelahnya tersebut.


"Biar aku saja yang pilih Nona muda Queen!" ucap Aditya seraya menatap wajah cantik wanita yang terlihat sangat tidak bersemangat itu.


"Baiklah, terserah kamu saja!"


Queen beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan ke arah kursi yang berada di sudut toko perhiasan tersebut. Kemudian dirinya langsung mendaratkan tubuhnya di atas kursi tersebut dan mulai sibuk dengan ponselnya.


Sementara itu, Aditya yang mulai memperhatikan berbagai macam cincin couple yang berada di etalase kaca, tidak berkedip karena sedang berkosentrasi untuk memilih cincin kawin yang niatnya akan dirinya gunakan sebagai mahar.


"Anda maunya yang seperti apa Tuan? Sepertinya Anda sangat kebingungan untuk memilih."


"Iya Mbak, tentu saja saya merasa bingung untuk memilih. Karena Nona muda Queen pasti mempunyai selera yang sangat luar biasa bukan? Yang seperti itu contohnya."


Sontak pegawai wanita tersebut menggelengkan kepalanya, seolah ingin menegaskan bahwa tebakan dari pria yang berada di depannya itu salah.


"Anda salah Tuan. Meskipun Nona muda Queen adalah seorang wanita keturunan konglomerat, namun dirinya sama sekali tidak menyukai perhiasan yang terlalu glamor seperti itu. Nona muda Queen seperti Mamanya yang menyukai sesuatu yang sederhana dan simpel. Bukankah saat ini Nona sama sekali tidak memakai perhiasan?"


"Itu karena Nona mengikuti jejak Nyonya besar yang hanya memakai perhiasan saat acara besar yang mengharuskan mereka datang untuk menghormati acara. Saya sangat tahu karena saya selalu mengamati penampilan dua ratu keluarga Raharja yang selalu di sorot oleh para awak media."


"Ooh ... jadi begitu? Berarti Nona muda Queen adalah seorang wanita yang sederhana? Kalau begitu aku bisa membelikan cincin kawin yang lebih simpel dan tidak terlalu mahal. Maklum Mbak, aku hanyalah karyawan rendahan di sebuah perusahaan kecil."


"Jadi Mas adalah calonnya Nona muda Queen?"


"Insyaallah Mbak, doakan saja! Agar saya bisa merubah sifat arogan sang Nona Muda Queen menjadi seorang istri yang shalihah."


"Tentu saja Mas, kalau begitu selamat ya. Saya sama sekali tidak menyangka kalau Nona muda Queen akan menikah secepat ini."

__ADS_1


"Kita tidak pernah tahu yang namanya jodoh Mbak, karena saya pun sama sekali tidak pernah menyangka, jika saya akan menikah dengan seorang Nona muda Queen. Mbak, coba cincin kawin yang itu!"


Tangan kanan Aditya menunjuk ke arah cincin kawin yang terlihat sangat sederhana, namun dengan tidak meninggalkan kesan elegan karena di hiasi batu permata di atasnya.


Kemudian pegawai wanita tersebut mulai mengambil cincin kawin yang berada di etalase dan menyerahkannya pada pria yang daritadi dengan intens menatap ke arah cincin kawin yang di pilihnya.


"Ini Mas?"


"Iya Mbak, sepertinya ini sangat cocok untuk Nona muda Queen. Ukurannya ada pilihannya kan Mbak?"


"Ada Mas, nanti ada pilihan untuk ukurannya."


"Kalau begitu saya suruh Nona muda Queen untuk memakainya kira-kira pas apa nggak!"


"Silahkan Mas!"


Aditya langsung menganggukkan kepalanya, kemudian dirinya berjalan menghampiri wanita yang terlihat tengah menundukkan kepalanya menatap ke arah ponselnya.


"Nona muda Queen, coba kamu pakai cincin ini di jari manismu! Kira-kira pas atau tidak!"


Aditya mengerutkan keningnya saat tidak mendapatkan tanggapan dari perkataannya.


"Nona muda Queen ...."


Karena masih juga tidak mendapat tanggapan, akhirnya Aditya refleks menyentuh pundak wanita yang masih menundukkan kepalanya.


"Queen ...."


Aditya sangat terkejut saat melihat wanita yang perlahan mendongak menatapnya.


"Nona muda Queen? Ada apa? Kenapa kamu menangis?"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2