Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Aku ingin melihatnya


__ADS_3

Jantung Sabrina kini berdetak begitu kencang begitu berada di posisi yang sangat intim dengan pria yang ada di atas tubuhnya. Bahkan kulitnya langsung meremang saat bibirnya sudah menyatu dengan bibir tebal Dave dengan posisi dahi yang menempel. Seolah rasa sakit yang dirasakannya saat tertimpa tubuh kekar berotot itu dilupakannya.


Hal yang sama dirasakan oleh Dave saat tubuhnya menindih Sabrina dengan posisi yang sangat intim. Bahkan tubuhnya seketika menegang dan membuat aliran darahnya seolah mengalir lebih cepat dan membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih.


Ia tidak bisa menghindari sesuatu di bawah sana yang sudah menegang akibat sebuah sentuhan saat berada di atas tubuh Sabrina. Belum sempat ia menetralkan perasaaan yang tidak menentu. Suara teriakan dari Sabrina sudah membuyarkan pikirannya. Bahkan sebuah dorongan keras, membuatnya langsung jatuh terjungkal ke sebelah kanan Sabrina.


"Menjauh dariku, pria kurang ajar!" teriak Sabrina dengan sangat kencang, tak lupa tangannya yang sudah mendorong tubuh Dave ke samping kanan.


"Pria berengsek ini benar-benar sudah mencuri-curi kesempatan. Aku harus berhati-hati untuk menjaga diri. Jangan sampai dia merenggut kesucianku hanya gara-gara sudah mengucapkan ijab kabul tadi. Hati-hati Sabrina, ingat itu," gumam Sabrina di dalam hati seraya bangkit berdiri dari ranjang untuk menjauhi pria yang sudah miring di ranjangnya.


Dave yang masih dalam posisi menghadap ke arah Sabrina, refleks berusaha turun dari ranjang dan berusaha untuk menjelaskan kesalahpahaman yang menyudutkannya. "Tunggu ... tunggu! Kenapa kamu sekarang malah menyalahkanku?"


Sabrina yang baru merasa kesakitan di kepalanya, memegangi sanggul yang ada di kepalanya. Dengan frustasi ia berusaha melepaskannya dari kepalanya. "Jadi, kamu mau menyalahkan aku? Terus lempar batu sembunyi tangan, begitu?"


Dave mengamati perbuatan Sabrina yang terlihat sangat kesulitan saat melepas sanggul di rambutnya. Sehingga tanpa membuang waktu, ia berjalan mendekat ke arah Sabrina. "Kalau merasa kesulitan, minta tolong. Jangan berlagak dan gengsi untuk meminta pertolongan dari orang lain." Mengarahkan tangannya untuk melepaskan satu persatu penjepit yang ada di sanggul Sabrina.


"Astaga, sedang apa kamu?" seru Sabrina yang hendak menjauh dari Dave.


"Sudah, diamlah! Aku akan membantumu untuk melepaskan ini. Bukankah kamu merasa tidak nyaman? Jadi, diamlah!" Dave kembali sibuk dengan kegiatannya tanpa memperdulikan rengutan dari wanita yang terlihat hendak menjauh darinya. Namun, ia menahan pundak Sabrina agar tetap diam di tempatnya.


Karena tubuhnya ditahan oleh tangan kekar yang mendarat di pundaknya, membuat ia tidak bisa berkutik. Akhirnya ia memilih diam dan membiarkan pria yang sudah sibuk dengan rambutnya yang disanggul.


"Kalau tidak karena aku kesusahan melepaskannya, mana mungkin aku membiarkannya menyentuhku," lirih Sabrina dengan tak berhenti menggerutu.

__ADS_1


Sudut bibir Dave melengkung ke atas begitu melihat Sabrina terdiam dan patuh pada perintahnya. Sehingga ia melepaskan tangan kirinya dari pundak wanita yang sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Kemudian ia kembali melanjutkan kegiatannya untuk melepaskan hiasan di rambut itu.


"Apakah kamu tahu?"


Sabrina hanya diam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan bernada ambigu dari Dave.


Karena tidak mendapatkan sebuah jawaban, akhirnya Dave melanjutkan perkataannya. "Ternyata kamu sangat cantik saat dirias seperti ini. Apakah sudah ada orang yang memujimu? Atau aku adalah orang pertama yang memujimu?" tanya Dave yang menatap ke rambut berantakan Sabrina setelah berhasil melepaskannya. "Akhirnya selesai juga."


"Tidak perlu menghiburku," ucap Sabrina yang sudah berjalan mendekati meja riasnya dan mengamati penampilannya di depan cermin, "Jika aku cantik, tidak mungkin mas Aditya menikah dengan nona mudamu itu dan hidupku tidak mungkin menderita. Aah ... sudahlah, buat apa membahas hal yang menyedihkan ini. Aku pun malas membahasnya!" Melangkah ke arah lemari yang ada di sebelah kanan tempat ia berdiri dan mengambil pakaian ganti. Lalu berjalan ke arah kamar mandi tanpa menoleh ke arah Dave.


Sementara itu, Dave mengamati siluet dari wanita yang terlihat ramping dengan balutan kebaya pengantin yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. "Lagi-lagi nama tuan muda yang selalu kamu sebut, Sabrina. Kenapa kebodohanmu terus berlanjut hingga sekarang. Dasar bodoh! Sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah mendapatkan tuan muda. Karena cintanya kini hanya untuk nona muda Queen."


Dave berjalan ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana, tidak lupa ia sudah melepaskan jas berwarna hitam yang membalut tubuhnya. Kemudian menggulung lengan kemeja berwarna putih itu sampai siku. Ia meraih ponsel yang ada di saku celana dan mengetik sesuatu di sana. Tak berapa lama, bisa dilihatnya siaran langsung dari resepsi pernikahan majikan yang benar-benar menjadi trending topik di media sosial.


Dave masih fokus melihat acara resepsi pernikahan Queen dan Aditya. Hingga suara dari Sabrina, membuatnya mendongak menatap ke arah wanita yang sudah berdiri menjulang di depannya dengan rambut terlilit sebuah handuk kecil.


"Kamu sudah seperti orang gila, karena berbicara sendiri. Sebenarnya apa yang kamu lihat?" tanya Sabrina yang mengerutkan kening begitu melihat Dave samar-samar berbicara sendiri.


Dave mengamati penampilan dari Sabrina yang sudah memakai dress di bawah lutut yang berwarna biru. Kemudian ia mengarahkan tangannya yang memegang ponsel pada Sabrina, "Aku sedang melihat pernikahan paling spektakuler dan fenomenal dari mereka. Apakah kamu tidak ingin melihatnya?" Dave menepuk-nepuk sofa yang ada di sebelahnya, "Duduklah di sini, jika ingin melihat. Kita bisa melihatnya bersama-sama."


"Aku tidak sudi melihat mereka!" sarkas Sabrina yang sudah berjalan ke arah meja riasnya. Hal yang pertama dilakukannya adalah ingin mengeringkan rambutnya.


"Baiklah, terserah padamu." Dave kembali menatap ke arah ponselnya dan berbicara lirih, "Dasar wanita arogan yang tidak tahu berterima kasih."

__ADS_1


Sabrina yang sedang menyisir rambutnya, mendengar suara ejekan dari Dave dan berhasil membuat telinganya panas dan emosinya meluap-luap. Refleks ia bangkit dari kursi dan berbalik menatap tajam ke arah pria yang tengah fokus menatap ke arah ponselnya.


"Apa kamu bilang?"


"Bukan apa-apa," jawab Dave yang masih fokus melihat ponselnya.


"Aku bisa mendengarnya, Dave. Jadi, jangan mengelak."


"Kalau sudah mendengarnya, kenapa bertanya?"


"Astaga, kamu memang sangat menyebalkan, Dave!"


"Aku tahu, karena kamu sudah sering kali mengatakannya."


"Ya ampun, kamu benar-benar keterlaluan! Aku benar-benar muak denganmu," teriak Sabrina dengan kilatan amarah.


Refleks Dave yang tadinya menunduk, refleks mengangkat pandangannya dan menatap tajam ke arah wanita yang menatapnya penuh kebencian. Hingga amarahnya pun mulai menyeruak di dalam hatinya. Sehingga ia bangkit dari sofa dan berjalan mendekat ke arah Sabrina, mengarahkan tangannya pada pundak wanita yang seolah tidak mengenal rasa takut itu.


"Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi!"


Posisi yang cukup dekat, tidak membuat Sabrina takut karena ia masih menatap tajam pria di depannya yang menahan kedua sisi lengannya. "Aku sangat muak melihatmu!"


"Aku ingin melihatnya apakah kamu muak setelah aku melakukannya," seru Dave dengan kilatan api di matanya.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2