Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Sebuah harapan dan doa


__ADS_3

1 jam setelah acara sarapan pagi, semua keluarga Raharja kini terlihat bersiap untuk berangkat ke pengadilan. Karena jadwal sidang jam 10.00 WIB, sehingga pukul 9 pagi sudah berangkat dari Mansion keluarga Raharja. Sedangkan Queen sebelumnya menyuruh salah satu supir untuk mengantarkan Dewi ke rumah baru yang akan ditempatinya.


"Kamu langsung pulang saja ke rumah, karena pasti kamu lelah."


"Ehm ... apakah saya boleh ikut untuk melihat jalannya sidang berlangsung, Nona muda? Seumur-umur, saya belum pernah melihat bagaimana proses persidangan tindak pidana. Lagipula saya tidak merasa capek, Nona muda," ujar Dewi yang mencoba untuk merayu wanita yang baru saja berbicara dengan supir yang berada di sebelah mobil mewah marcedez Benz e-class berwarna silver.


"Jadi, kamu mau ikut?" tanya Queen dengan tatapan menelisik.


Dewi menganggukkan kepalanya, "Seandainya boleh Nona."


Kemudian Queen beralih menatap ke arah orang tuanya, "Bagaimana, Dad? Apakah boleh Dewi ikut bersama kita?"


"Boleh saja, ajak dia ke pengadilan jika mau." Abymana menjawab pertanyaan dari putrinya sebelum masuk ke dalam mobil bersama sang istri.


Begitu juga dengan Arthur dan sang istri, beserta 5 anaknya yang ia ajak naik ke dalam mobil range Rover berwarna hitam miliknya. Bahkan terdengar suara dari putra-putrinya yang sudah berisik karena mengoceh kesana-kemari tidak karuan.


"Titip salam pada Rey, katakan padanya kalau aku akan menghabisinya jika dia berani memikirkan ingin menghancurkan keluarga Raharja. Karena siapa pun yang berniat mengusik ketenangan keluargaku, akan kupastikan hidupnya berakhir di neraka. Ibarat pepatah hidup segan, mati pun tak mau." Teriak Arthur pada Queen sesaat sebelum mobil mewah tersebut melaju meninggalkan Mansion.


"Baiklah, akan aku sampaikan salammu Brother," sahut Queen seraya terkekeh saat melambaikan tangannya pada saudaranya dan iparnya, beserta 5 keponakan yang menggemaskan itu.

__ADS_1


Hal yang sama juga dilakukan oleh Aditya saat menatap kepergian dari saudara iparnya. "Rasanya bahagia sekali melihat keluarga saudaramu yang terlihat sangat tenteram dengan 5 anak yang lucu-lucu, Sayang."


"Iya, aku pun bisa merasakannya. Terkadang aku pun ingin punya banyak anak, tapi sepertinya aku tidak akan sekuat kakak ipar. Aku akui dia wanita yang sangat hebat dan kuat. Karena bisa melahirkan 5 anak dan merawatnya dengan sabar, serta penuh kasih sayang." Queen mengajak sang suami untuk melangkah masuk ke dalam mobil.


Sedangkan ekspresi berbeda, terlihat dari Dewi yang mengekor di belakang Queen. Kata-kata dari Arthur, ibarat sebilah pedang yang menembus jantungnya. Karena ia merasa mendapat sebuah kalimat skak mat dari pria yang sangat dikaguminya itu. Ia masuk ke dalam mobil yang akan selalu mengantarkannya pergi ke mana-mana dengan supir pribadi.


"Ancaman dari Tuan Arthur tadi kenapa seperti sebuah sindiran ya? Padahal ia hanya asal bicara saja, tapi aku merasa bahwa itu ditujukan padaku. Tidak ... aku tidak akan ketahuan, karena mereka sangat mempercayaiku. Aku hanya perlu berhati-hati saat menjebak Tuan Aditya nanti bersama seorang wanita," gumam Dewi saat sudah berada di dalam mobil.


Hal berbeda dirasakan oleh Aditya dan juga Queen saat berada di dalam mobil yang sudah melaju, membelah kemacetan lalu lintas kendaraan di jalan utama yang menuju ke arah pengadilan.


Queen dari tadi tidak berkedip menatap ke arah pria yang ada di sampingnya. Sebagai seorang istri dan sudah mengenal sifat suami, baik lahir maupun batin, ia bisa melihat kegelisahan dari raut wajah pria tampan yang mencoba untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dari dirinya. Sehingga ia berusaha untuk menenangkan keguguban dari seorang abang yang akan bertemu dengan adik tiri yang telah berencana membunuhnya.


"Tenanglah, My hubbiy. Ada aku dan juga Daddy yang ada dibelakangmu. Jangan takut atau pun gugup tidak bisa menghadapi Reynaldi. Aku sangat mengenal adik tirimu dengan baik. Dia sangat bermulut manis saat di depan semua orang, bahkan wajahnya yang selalu tersenyum itu membuatku merasa mual. Karena dia merasa semua orang yang mengenalnya akan menyukainya. Reynaldi sangat percaya diri dan menganggap semuanya bisa ia dapatkan."


"Jadi, adikku seperti itu orangnya. Memang kalau dilihat sekilas, ia sangat mempesona dengan wajah rupawannya. Jadi, wajar saja jika ia sangat percaya diri. Bahkan mungkin, jika aku seorang wanita, aku juga akan jatuh cinta padanya. Bukankah ia memiliki segala hal yang diimpikan oleh kaum hawa? Wajah tampan, body sixpack, kaya, dan seorang penerus di perusahaan keluarganya."


Queen hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan dari pria yang malah terlihat seperti membela pria yang tidak disukainya. "Jika My hubbiy wanita, berarti sangat bodoh. Karena menyukai seorang pria berengsek. Akan tetapi, jika dipikir-pikir ...."


"Kenapa tidak dilanjutkan, Sayang?" Aditya mengerutkan keningnya saat melihat sang istri terdiam.

__ADS_1


"Sebelumnya aku minta maaf, My hubbiy," ujar Queen dengan tatapan penuh permohonan.


"Untuk?" sahut Aditya dengan tatapan penuh sorot pertanyaan.


"Jika dipikir-pikir, My hubbiy sangat bodoh. Karena terlalu baik pada semua orang. Termasuk padaku. Mungkin jika orang lain, aku sudah ditalak 3 di malam pertama. Akan tetapi, malah aku yang menuntut cerai. Padahal aku yang jahat dan bersalah. Maafkan aku ya," ujar Queen dengan penuh permohonan.


"Jangan lemah saat melihat wajah adikmu nanti, karena aku ingin kamu lemah hanya padaku. Meski permintaanku sangatlah egois, tapi aku tidak perduli. Asalkan rumah tangga kita aman, damai, sentosa."


Aditya merengkuh tubuh ramping wanita yang tengah menatapnya dengan intens seraya tangannya mengusap lembut lengan sang istri. "Aku sudah memaafkanmu dan memutuskan akan lebih mementingkan keutuhan rumah tangga kita. Jadi, tenanglah Sayang."


"Alhamdulillah, terima kasih My hubbiy. Semoga selamanya kita hidup bersama dengan bahagia," jawab Queen dengan binar bahagia tampak jelas di wajahnya.


"Sama-sama Sayang. Ayo, kita turun. Aku ingin menemui Reynaldi sebentar sebelum sidang dimulai. Karena aku ingin mendengar ia berbicara apa padaku saat bertemu dengan saudara tirinya," ujar Aditya yang sudah membuka pintu mobil, begitu sang supir selesai memarkir kendaraan.


Begitu juga dengan Queen yang saat ini terlihat sangat berbinar begitu mendengar perkataan dari pria yang sudah turun terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya untuk membantunya. Kemudian kaki jenjangnya memijak area pengadilan yang akan memutuskan berapa lama hukuman dari pria yang telah mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada suaminya.


"Let's go, sekarang kita temui adik tirimu itu My hubbiy," ucap Queen dengan sangat bersemangat.


Sedangkan Aditya yang sudah mengambil napas teratur, menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan masuk menuju ke arah pengadilan seraya berdoa di dalam hati. Mengungkapkan sebuah harapan dan doa yang terbaik untuk adik tirinya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga persidangan hari ini bisa berjalan dengan lancar dan Reynaldi mendapatkan hukuman yang setimpal untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan semoga adikku akan berubah menjadi manusia yang lebih baik setelah menjalani masa hukumannya. Sehingga ia bisa melanjutkan kehidupannya setelah keluar dari penjara nanti. Kabulkanlah doa-doa hambamu ini ya Allah, karena hanya kepada-Mu hamba memohon dan berserah diri."


TBC ...


__ADS_2