Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kita lihat saja nanti


__ADS_3

Semua orang yang ada di dekat taman, kini tengah menatap ke arah Aditya. Tentu saja ingin mendengar tanggapan dari seorang suami bijak yang terkenal sangat penyabar itu. Bukan karena rasa ragu karena Aditya akan menolak permintaan dari Queen, tetapi lebih mengarah pada rasa penasaran dari semua orang untuk mendengarkan kata-kata mutiara dari seorang pria sholeh seperti Aditya.


Sedangkan Queen masih berkutat dengan rencananya yang ingin memamerkan sosok suami sempurna yang menjadi idaman para wanita shalihah. Yang saat ini ada di otaknya adalah ingin merancang sesuatu dengan suaminya agar nanti terlihat romantis melebihi pasangan suami istri yang akan diundang olehnya.


"My hubbiy, cepat katakan apa pendapatmu. Kamu tidak merasa cemburu pada daddy Azriel kan?" Mengarahkan tatapan menelisik yang penuh dengan sorot penasaran.


"Iya, Aditya, katakan pendapatmu mengenai keinginan dari putriku. Karena kami memang berencana untuk menghubungi mereka hari ini, agar mempersiapkan diri sebelum datang ke Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang super sibuk dan jadwal padat selalu mengisi hari-harinya. Jadi, tidak bisa memberitahu mendadak," ucap Qisya panjang lebar.


Abymana sudah melingkarkan tangannya ke arah pundak sang istri, ada sebuah rasa cemburu dari kilat netra pekatnya saat 2 wanita yang paling berarti di dalam kehidupannya asyik membicarakan para pria yang mengukir sejarah di masa lalunya.


"Kalian berdua sangat kompak jika membicarakan tentang 2 pria itu. Aku bahkan tidak bisa menghilangkan rasa cemburu sampai sekarang. Jika Aditya merasa tenang dan tidak merasa cemburu, aku malah meragukannya."


Refleks semua orang beralih menatap ke arah orang nomor 2 di keluarga Raharja tersebut. Karena seolah membenarkan apa yang barusan dikatakan oleh Abymana.


"Benar juga apa kata daddy," ucap Queen yang sudah merasakan kegalauan. Awalnya ia tadi sangat berharap bahwa Aditya langsung menyetujui permintaannya tanpa merasa protes.


Akan tetapi, begitu mendengar kalimat barusan dari sang daddy, membuatnya merasa gelisah. Karena jika sang suami langsung setuju dan mengiyakan keinginannya, tanpa merasa cemburu, berarti bisa ditegaskan bahwa sang suami tidak merasa cemburu. Sedangkan rasa cemburu adalah pertanda cinta.


"Bagaimana, My hubbiy? Kamu setuju, tetapi cemburu kan? Karena jika kamu tidak cemburu, kamu tidak cinta sama aku," ucap Queen dengan tatapan penuh gelisah.


Aditya menatap ke arah papa mertua dan juga sang istri. "Sebenarnya kalau menurutku, itu pikiran yang salah kaprah, Pa. Cemburu memang sering dikaitkan dengan tanda cinta dan seolah menegaskan bahwa jika tidak cemburu buta, itu berarti tidak cinta. Sedangkan sifat dari seseorang berbeda-beda, ada tipe orang yang ketika cemburu buta seolah tidak memperdulikan apapun dan tidak menyadari bahwa perbuatannya itu malah menyakiti pasangannya dan bisa membuat rasa tidak nyaman yang bisa berakhir sebuah perceraian."


Qisya refleks langsung melirik ke arah sang suami yang berada di sebelah kanannya. Begitu mendengar kalimat penjelasan dari menantunya tersebut, ia refleks langsung mengingat kejadian dimana suaminya pernah melakukan hal itu dan hampir saja menghancurkan biduk rumah tangga mereka.

__ADS_1


"Iya, kamu benar Aditya." Beralih menatap ke arah Abymana, "Apakah kamu masih mengingatnya, Sayang?"


Abymana hanya terkekeh menanggapi pertanyaan bernada sindiran dari sang istri yang sudah menatapnya dengan tatapan tajam. "Tentu saja aku ingat, tetapi semenjak hari itu kan aku selalu menahan diri agar tidak bersikap berlebihan saat cemburu, Cinta. Karena itulah rumah tangga kita damai sampai sekarang."


"Terserah apa katamu, Sayang. Aku selalu kalah jika berdebat denganmu," ucap Qisya yang malas berdebat lebih lama dengan sang suami yang selalu maunya menang sendiri.


"Memangnya Daddy dan Mommy pernah hampir bercerai? Padahal kalian adalah pasangan yang menjadi panutanku," tanya Queen dengan mengerutkan keningnya. Karena merasa sangat terkejut saat mendengar pembicaraan dari orang tuanya.


"Sudahlah, jangan dibahas hal yang tidak penting itu. Daddy tidak suka membahas hal-hal yang buruk. Lebih baik mendengarkan tausiyah dari pak ustaz saja. Ayo, lanjutkan apa yang tadi kamu jelaskan, Aditya. Bagaimana caramu mengungkapkan rasa cemburu pada Queen," seru Abymana yang mengarahkan tangannya pada Aditya, seolah menyuruh menantunya itu agar kembali melanjutkan perkataannya.


Queen membenarkan perkataan dari daddy-nya dengan sebuah anggukan kepala. "Iya, aku pun penasaran. Karena aku belum pernah melihat My hubbiy merasa cemburu padaku."


"Siapa bilang?" sahut Aditya yang langsung ingin mematahkan asumsi dari sang istri.


"Memangnya pernah? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?"


Aditya hanya terkekeh dan mata kelamnya menatap intens wajah secantik bidadari tersebut, "Jauh sebelum kita resmi menjadi suami istri, aku sudah cemburu saat kamu selalu menyebut nama My hot daddy Azriel dengan bibirmu."


Kali ini, Queen benar-benar sudah membulatkan kedua matanya begitu mendengar kalimat kejujuran dari Aditya yang sama sekali tidak pernah ada dipikirannya. "What? My hubbiy serius?" Masih dengan mata yang membulat, Queen menatap wajah dengan pahatan sempurna di depannya.


Aditya hanya mengangguk perlahan dan kembali mengungkapkan apa yang pernah dirasakannya dulu saat merasa cemburu. "Iya, aku sangat cemburu saat setiap hari kamu selalu menyebut nama itu dari bibirmu. Namun, perasaan ini lebih menyiksaku karena aku tidak bisa menunjukkannya. Kamu tahu alasannya, kan?"


"Karena kita hanya ...." Queen tidak melanjutkan perkataannya karena merasa tidak enak jika sampai mertuanya mendengar kisah masa lalu kelamnya yang membeli putra kesayangan pria paruh baya tersebut. "Lalu? Ayo, lanjutkan, My hubbiy. Aku ingin mendengarnya," ucap Queen yang sudah sangat bersemangat dan antusias, serta tidak sabar untuk mendengarkan perasaan sebenarnya dari Aditya.

__ADS_1


Aditya sudah mengarahkan tatapan lembut saat melihat sikap menggemaskan dari wanita yang masih bertingkah seperti anak-anak tersebut. "Saat itu, aku hanya menyerahkan semuanya pada Allah SWT. Aku memohon agar merubah hatimu dan membuatmu mencintaiku. Saat aku merasa cemburu, aku mengungkapkannya dengan menunjukkan betapa besar cintaku lewat kasih sayang, kelembutan dan kesabaran."


"Dengan semua itu, aku menyentuh hatimu setelah meminta bantuan kepada sang Maha Kuasa dan pencipta alam semesta yang merajai dunia dan dengan mudah membolak-balikkan hati manusia. Dan hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin hanya dengan satu kalimatnya, Kun Fayakun."


Mata indah yang bersinar dari wajah Queen, bisa dilihat jelas oleh semua orang bahwa wanita yang menggunakan hijab berwarna merah itu saat ini tengah berbunga-bunga. Sehingga membuat mereka kompak berdiri dari kursi dan berjalan meninggalkan pasangan suami istri yang ingin mengungkapkan perasaan bahagianya karena saling memiliki.


"Kalian lanjutkan saja, lama-kelamaan kami bisa sakit gula karena mendengar kalimat manis dari Aditya," ucap Qisya mewakili suami dan besannya yang sudah berlalu pergi terlebih dahulu. Kemudian ia menyusul 2 pria tersebut memasuki Mansion.


"Terima kasih, Ma, atas pujiannya," jawab Aditya yang merasa sangat tersanjung dengan pujian secara tidak langsung oleh mertuanya.


Sementara itu, Queen dari tadi tidak berhenti bergelayut manja pada lengan kekar Aditya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. "Kalian semua sangat pengertian, tahu saja kalau aku sedang ingin bermesraan dengan My hubbiy. I love you, Daddy, Mommy dan Ayah."


"Lanjutkan lagi ceritanya, My hubbiy. Aku rasanya tidak akan pernah bosan mendengar ceritamu tentang rasa cemburu yang kamu rasakan padaku, meskipun seharian kamu berbicara," seru Queen dengan terkekeh dan menampilkan giginya yang rapi.


"Apa lagi? Aku sudah mengatakan semuanya, Sayang." Aditya sudah sibuk mengusap lembut punggung tangan Queen.


"Akan tetapi, aku sangat penasaran."


"Penasaran tentang apa?"


"Bagaimana sikapmu nanti saat melihat pertama kali, daddy Azriel." Queen mendongak agar bisa menatap wajah tampan penuh kelembutan di depannya.


"Kita lihat saja nanti, Sayang," jawab Aditya dengan kalimat ambigu.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2