Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kesan pertama


__ADS_3

Queen langsung memutuskan panggilan secara sepihak, karena merasa sangat kesal dengan perkataan dari pria yang baru saja dihubunginya tersebut. Ia merasa sangat emosi dan dengan kasar mulai mengumpat.


"Dasar pria miskin bodoh! Dia belum tahu siapa daddy. Berani-beraninya dia bicara seperti itu. Apa dia tidak pernah melihat tentang berita keluarga Raharja. Bahkan semua orang sangat menghormati, mengagumi sekaligus sangat takut jika berbicara pada daddy. Nah ini orang malah songong banget, dia bilang tidak akan merasa takut pada daddy, karena sama-sama makan nasi."


"Astaga ... mulutnya itu memang sangat pedas sekali. Awas saja nanti, kalau sampai dia membuat curiga daddy. Maka, aku akan menghancurkannya. Oh iya, aku lupa tentang hal yang mau aku bahas dengannya mengenai hubungan palsu ini. Lebih baik aku mengirimkan pesan saja."


Queen mulai mengetik pesan panjang pada pria yang pagi-pagi sudah membuatnya merasa emosi.


Ini aku kirimkan daftar mengenai apa yang nanti harus kamu katakan mengenai tentang hubungan palsu ini.


Kita mengenal sudah 1 bulan dan jatuh cinta pada pandangan pertama saat berjumpa di rumah sakit ketika kamu mengantarkan ayahmu periksa ke rumah sakit. Panggilan sayang kita adalah kamu memanggilku my Queen dan aku memanggilmu sayang. *Bi*lang pada orang tuaku bahwa kamu menjalani hubungan yang serius denganku. Dan ingin menikah denganku, karena tidak ingin bermain-main dengan seorang wanita.


"Semoga dia mengerti apa yang aku katakan, agar daddy tidak merasa curiga. Jangan sampai sandiwara kami tercium oleh daddy. Semoga pria miskin nan bodoh itu bisa diandalkan. Lebih baik aku mandi dan bersiap."


Queen turun dari ranjang dan langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan diri. Ia memanjakan diri dengan berendam di dalam bathtub seraya memutar lagu favoritnya.


Sebuah kebiasaan yang selalu dilakukannya saat merindukan pria yang masih sangat dicintainya itu. Yaitu, selalu mendengarkan dan menyanyikan lagu dari Avril Lavigne dengan meneteskan air mata saat menyanyikan lagu sedih tersebut. Musik pun mulai mengalun, dan Queen mulai menyanyikan lagu tersebut dan tak lupa diiringi isak tangisnya yang terdengar jelas di ruangan kamar mandi tersebut.


When you're Gone


by Avril Lavigne


I always needed time on my own


I never thought I'd need you three when I cry


Aku selalu butuh waktu sendirian.


Aku tak pernah berpikir aku membutuhkanmu


Disini saat aku menangis.


And the days feel like years when I'm alone


And the bed where you lie is made up on your side


Dan hari-hari terasa bertahun-tahun disaat aku sendirian.


Dan kasur tempatmu berbaring telah rapi di sisimu.


When you walk away I count


The steps that you take


Do you see how much


I need you right now


Saat kau melangkah pergi kuhitung setiap langkahmu.


Tahukah kamu betapa aku membutuhkanmu sekarang.


When you're gone the pieces


Of my heart are missing you


When you're gone the face


I came to know is missing to


Saat kau pergi seluruh hatiku merindukanmu.


Saat kau pergi wajah yang mulai ku kenal juga hilang.


When you're gone the words I need to


Hear to always get me through the day


and make it okay


Saat kau pergi kata-kata yang perlu ku dengar untuk mampu melalui hari-hari.


Dan membuatnya baik-baik saja.


I miss you


Aku merindukanmu.


I've never felt this way before


Everything that I do reminds me of you


And the clothes you left


They lie on the floor


Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya

__ADS_1


Segala yang kulakukan mengingatkanku


padamu.


Dan baju yang kau tinggalkan semuanya


Tergeletak di lantai.


And the smell just like you


I love the things that you do


When you walk away


I count the steps that you take


Dan baunya sepertimu aku suka semua hal yang kau lakukan.


Saat kau melangkah pergi kuhitung setiap langkahmu.


Do you see how much


I need you right now


When you're gone the pieces


Of my heart are missing you


Tahukah kamu betapa aku membutuhkanmu


sekarang.


Saat kau pergi seluruh hatiku merindukanmu.


When you're gone the face


I came to know is missing to


When you're gone the words I need to


Hear to always get me through the day


Saat kau pergi wajah yang mulai ku kenal juga hilang.


Saat kau pergi kata-kata yang perlu ku dengar


And make it okay


I miss you


Dan membuatnya baik-baik saja.


Aku merindukanmu.


We were made for each other


Out here forever


I know we we're, yeah


Kita di ciptakan untuk saling melengkapi disini selamanya.


Aku tahu demikian, yeah


All I ever wanted was


For you to know


Everything I do, I give


My heart and soul


Yang kuinginkan


Hanyalah kau tahu.


Segalanya rela ku lakukan, rela ku berikan


Hati dan jiwaku.


I can hardly breathe,


I need to feel you here me with me


Aku sulit bernapas,


Aku membutuhkanmu disini bersamaku.

__ADS_1


When you're gone the pieces


Of my heart are missing you


When you're gone the face


I came to know is missing to


Saat kau pergi


Seluruh hatiku merindukanmu.


Saat kau pergi wajah yang mulai ku kenal juga hilang.


When you're gone the words I need to


Hear to always get me through the day


Saat kau pergi kata-kata yang perlu ku dengar


Untuk mampu melalui hari.


And make it okay


I miss you


Dan membuatnya baik-baik saja


Aku merindukanmu.


Musik pun mulai berhenti, suara Queen yang sudah berubah serak, karena efek merasakan sesak di dada akibat selalu menangis tersedu-sedu saat mengingat pria yang dari dulu sangat dicintainya.


"My hot daddy Azriel, aku sangat mencintaimu. Aku sangat merindukanmu. Kenapa daddy sangat jahat padaku."


Selama beberapa menit Queen menangis terisak, karena membayangkan kisah percintaannya yang tragis. Saat merasa sedikit tenang, ia kembali menatap foto saat bersama dengan pria yang sangat dicintainya.


"Tahukah kamu my hot daddy Azriel, selama ini aku selalu berpura-pura menjadi gadis yang kuat di depan orang lain. Padahal yang sebenarnya adalah aku hanya seorang gadis kecilmu yang sangat rapuh. Karena sampai sekarang pun aku masih belum bisa melupakanmu. Aku masih sangat mencintaimu."


"Kenapa nasibku bisa seperti ini? Aku memang memiliki segalanya, tapi aku tidak bisa memiliki 1 hal yang aku inginkan dari dulu. Kekayaan, kecerdasan, karir cemerlang, tidak bisa membuatku hidup bahagia. Karena yang sangat aku inginkan tidak bisa aku dapatkan."


Selama setengah jam Queen menumpahkan segala kesedihannya di dalam kamar mandi. Karena saat berada di ruangan tersebut, ia bisa menjadi diri sendiri. Namun, saat keluar dari ruangan kamarnya, ia berubah menjadi seorang nona muda yang arogan dan terlihat sangat kuat dan ditakuti oleh semua orang yang melihatnya.


Saat Queen bangkit dari bathtub, indera pendengarannya menangkap suara dari wanita yang paling ia sayangi.


"Queen Sayang. Setelah mandi, cepat turun ke bawah! Kamu harus menyambut kekasihmu. Jangan sampai dia datang, tetapi kamu belum siap karena asyik berendam."


Queen mulai menyahuti perkataan dari sang mommy dengan suaranya yang sangat kencang, agar bisa mendengarnya.


"Iya Mom, sebentar lagi aku selesai. Nanti aku turun, lagian dia mungkin masih berada di rumah."


"Baiklah, Mommy dan daddy akan menunggumu di bawah."


"Oke, Mom," sahut Queen.


Setelah suara dari sang mommy tidak terdengar lagi, Queen mulai berdiri di bawah shower dan mulai membersihkan sisa sabun yang menempel di tubuhnya. Beberapa menit kemudian, ia yang sudah merasa sangat segar setelah mandi, mulai berjalan ke walk in closet untuk memilih pakaian yang akan dipakainya.


Kini, manik bening miliknya mulai menatap ke arah beberapa pakaian yang berada di lemari berukuran raksasa di depannya.


"Aku pakai baju apa ya?"


Queen refleks menepuk jidat saat menyadari kebodohannya, "Kenapa aku harus repot-repot memikirkan pakai baju apa? Kenapa sekarang kamu yang malah ketularan bodoh, Queen. Aku tidak sedang ingin bertemu dengan laki-laki yang aku cintai, kenapa aku harus bingung. Lagipula aku pakai pakaian apapun juga tetap terlihat cantik, karena asli terlahir cantik."


Queen kemudian asal memilih gaun dan memakainya. Buru-buru ia menuju ke meja rias untuk sedikit memakai make-up agar tidak menampilkan kesan pucat pada wajahnya jika tidak memakai riasan. Sentuhan terakhir adalah lipstik yang senada dengan warna bibirnya, karena ia tidak menyukai warna lipstik yang terlalu mencolok.


Setelah merasa penampilannya sempurna, ia pun keluar dari kamar untuk turun ke lantai 1 menemui kedua orang tua yang sudah menunggu kedatangan pria yang telah dibayarnya untuk menjadi kekasih palsu.


"Kenapa aku jadi deg-degan begini ya? Kira-kira pria miskin dan bodoh itu berhasil nggak ya meyakinkan daddy dan mommy? Karena jika sampai dia ketahuan, akulah yang akan menjadi korbannya. Aku harus rela dijodohkan dengan pria sok kegantengan itu. Semoga pria miskin itu berhasil dalam tugas pertamanya."


Setelah berhasil menormalkan kegugupan yang ia rasakan, Queen mulai berjalan dan menuruni anak tangga untuk menemui kedua orang tuanya. Saat menapak anak tangga terakhir, indera pendengarannya menangkap suara dari seseorang yang tidak asing di telinga.


"Assalamualaikum."


Aditya Syaputra yang sudah berada di depan pintu utama masuk ke dalam ruang utama di mana di sana sudah ada sosok yang sudah bisa ditebaknya adalah orang tua dari wanita yang saat ini berada di anak tangga paling bawah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Abymana dan Qisya serempak.


Keduanya menatap ke arah pria yang sudah tersenyum dan berjalan mendekat dan membungkuk hormat pada mereka. Abymana dan Qisya mulai mengamati penampilan pria yang merupakan kekasih dari putrinya itu mulai dari ujung kaki hingga kepala.



Sementara itu, Queen menatap ke arah pria yang terlihat sangat berbeda penampilannya dari yang semalam dijumpai di rumah sakit.


"Ternyata pria miskin nan bodoh ini lumayan juga setelah memakai pakaian mahal yang aku belikan kemarin. Kesan pertama yang lumayan, semoga daddy dan mommy menyukai pria ini," gumam Queen.


Queen menampilkan senyuman paling manis dan menghampiri Aditya, "Kamu sudah datang, Sayang?"


__ADS_1


TBC ...


__ADS_2