Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Pemanasan dulu


__ADS_3

Queen menatap siluet dari Dewi yang sudah menghilang di balik pintu, lalu ia melirik sinis ke arah pria yang sudah bermuka masam dan ditekuk wajahnya. Tentu saja ekspresi dari Reynaldi berbanding terbalik dengan respon dirinya yang saat ini terlihat tengah tersenyum penuh kemenangan karena situasinya sudah berubah 180 derajat dari beberapa menit yang lalu.


Queen tersenyum smirk dan mulai menatap penuh dengan kebencian dan juga dendam pada pria yang masih ditahan lengannya oleh 2 pengawalnya. Tak lupa ada Dave yang berada tak jauh dari tempatnya berada. Kemudian tangannya terangkat ke atas untuk menepuk bahu kokoh orang kepercayaannya itu.


"Terima kasih Dave, kamu berhasil membalikkan situasi dalam hitungan detik."


"Semua ini berkat bantuan dari tuan Arthur Nona muda. Dan sebentar lagi Tuan besar dan Tuan muda Arthur tiba di Bali untuk menyelesaikan permasalahan ini," jawab Dave dengan suara baritonnya.


"Aku memang terlalu gegabah dan meragukan kehebatan keluargaku sendiri. Sepertinya aku harus meminta maaf pada mereka. Hampir saja aku terjebak dengan permainan pria berengsek ini!" Queen mengarahkan tatapan tajam pada Reynaldi.


Tanpa merasa takut atau pun merasa gentar, Reynaldi tertawa terbahak-bahak saat mendapatkan tatapan menusuk dari wanita yang sangat ingin dimilikinya. "Sekarang kamu menyalahkan aku Nona muda arogan. Wah ... kamu memang suka memutarbalikkan fakta. Bukankah tadi kamu yang menghubungiku?"


Melihat wajah pria yang menurutnya sangat memuakkan saat tertawa terbahak-bahak, membuatnya semakin merasa emosi dan berniat untuk menampar Reynaldi. Namun, tangannya ditahan oleh Dave.


"Jangan kotori tangan Nona hanya untuk orang tidak penting," ucap Dave yang berusaha untuk menyadarkan majikannya.


Tersadar dari kebodohannya, Queen menghempaskan tangannya ke bawah dan menatap penuh kebencian pada pria yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri. "Kamu benar Dave. Kenapa aku berubah sebodoh ini karena menanggapi pria menjijikkan ini."


"Cepat singkirkan dia dari hadapanku! Aku sudah muak melihatnya," Queen mengibaskan tangannya dan mulai memalingkan wajahnya dari Reynaldi. Kemudian ia berjalan ke arah tempat duduk dan mendaratkan tubuhnya di sana.


Sementara itu, Reynaldi yang dari tadi berusaha untuk menahan amarahnya hanya menampilkan senyuman di wajah tampannya dan saat para pengawal membawanya untuk berjalan meninggalkan Queen, ia mengeluarkan suaranya untuk mencoba memancing amarah dari sang nona muda yang sudah sibuk dengan ponselnya.


"Ternyata aku langsung kamu buang begitu saja setelah tidak membutuhkan aku, Queen. Ternyata nona muda memang sangatlah kejam, ibarat habis manis sepah dibuang. Aku doakan semoga pria miskin itu mati." Lagi-lagi Reynaldi tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Queen yang dari tadi fokus menunduk menatap ponsel pintarnya, seketika mengangkat pandangannya. Kilatan api tampak jelas dari bola matanya saat menatap tajam wajah Reynaldi yang benar-benar sengaja untuk memancing amarahnya. Karena sudah tidak bisa menahan diri lagi terlalu lama, buru-buru dirinya bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pria yang sudah berjalan memunggunginya.


"Aku bisa gila jika tidak menyalurkannya."


Begitu sampai tepat di belakang pria berpostur tinggi besar itu, tanpa membuang waktu lagi, Queen langsung menjambak rambut Reynaldi dari belakang. Dengan wajah yang sudah berubah bengis karena dikuasai oleh emosi, ia pun berteriak dengan suaranya yang sangat keras.


"Dasar adik tiri tidak tahu diri! Aku akan membunuhmu!"


Queen semakin menarik rambut pria yang berhasil membakar amarahnya dan masih tidak berhenti berteriak. "Kamu bukan manusia, Rey. Kamu adalah iblis berwujud manusia. Kamu yang harusnya mati agar dunia ini aman tenteram."


Reynaldi agak sedikit meringis kesakitan saat rambutnya ditarik oleh wanita yang sudah murka padanya. Meski begitu ia menyunggingkan senyuman penuh seringai. "Kamu memang wanita yang sangat seksi dan menarik, Queen. Aku suka sikapmu yang bar-bar ini!"


Tentu saja kata-kata dari Reynaldi semakin membuat Queen merasa kesal. Dan itu membuatnya semakin menarik rambut ber-pomade yang sudah tidak karuan itu. "Dasar iblis, aku doakan hidupmu akan penuh penderitaan setelah hari ini."


"Jangan ikut campur Dave, ini adalah urusanku dengan adik ipar tidak tahu diri ini. Aku harus menyadarkannya agar dia tidak semakin tersesat dengan cara menghabisinya. Mungkin jika mati, itu akan sedikit mengurangi dosanya!" sarkas Queen dengan posisi tangan yang masih berada di rambut hitam pekat itu. Bahkan tangannya sudah dipenuhi oleh rambut rontok Reynaldi.


"Astaga, lama-lama sakit juga ternyata," keluh Reynaldi yang sudah meringis kesakitan. "Apa yang sedang kalian lihat, cepat hentikan perbuatan bar-bar majikan kalian!" Reynaldi berteriak dengan suara baritonnya. Berharap para pengawal menghentikan perbuatan wanita yang semakin menarik rambutnya. Tentu saja dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena ke 2 tangannya dipegangi oleh para pengawal.


Sedangkan para pengawal seolah membiarkan saja perbuatan dari sang nona muda yang beringas itu. Karena mereka sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Tentu saja sejujurnya di dalam hati masing-masing pengawal sangat bersorak senang saat melihat adegan kekerasan yang dilakukan oleh majikannya yang sedang murka.


Dan di saat adegan kekerasan yang sangat menarik dipandang mata berlangsung, semua orang langsung mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara bariton dari pria yang berjalan ke arah mereka.


Begitu juga dengan Queen yang langsung menghentikan aksi heroiknya. Jujur perasaan amat puas dirasakannya saat dirinya berhasil meluapkan amarahnya pada pria yang merupakan adik tiri dari suaminya. Seolah dirinya merasa menjadi super woman ketika memberikan sebuah pelajaran pada pria yang sangat dibencinya dari dulu.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Queen?" Abymana yang baru saja datang bersama putranya melihat keributan dari jauh dan langsung buru-buru berjalan untuk menghentikan ulah putrinya yang sangat bar-bar dan memalukan.


"Daddy? Kalian sudah tiba?" ucap Queen yang baru saja melepaskan rambut Reynaldi. Lalu ia membersihkan tangannya dari sisa-sisa rontoknya rambut pria yang sudah memegangi kepalanya sambil meringis.


"Jawab pertanyaan Daddy, Queen! Kenapa kamu sampai menarik rambut Reynaldi? Apakah itu merupakan cerminan dari seorang nona muda? Jangan buat malu Daddy!" Suara tegas dan penuh penekanan diarahkannya pada putrinya yang dilihatnya sangatlah bar-bar.


"Jika Daddy tahu apa yang dilakukan bocah sialan ini, mungkin Daddy tidak akan pernah bicara seperti ini padaku!"


"Akan tetapi, tidak sepantasnya berbuat se-arogan itu Queen!" hardik Abymana pada putrinya.


"Bodo amat, masih untung aku tidak menghabisinya!" Queen bersungut-sungut seraya menatap sinis ke arah Reynaldi.


Abymana dan Arthur hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari wanita yang terlihat sangat kacau penampilannya.


Sedangkan Reynaldi berniat untuk menyapa 2 pria yang sangat dihormatinya. Namun, tangannya masih dipegang oleh pengawal. Akhirnya dirinya hanya mengeluarkan suaranya tanpa memeluk 2 orang di depannya. "Selamat datang di Bali, Om dan Brother."


Abymana hanya tersenyum datar, sedangkan Arthur berjalan mendekat seraya tersenyum. Namun, tangannya langsung terangkat ke atas dan mengarahkan pukulannya ke wajah Reynaldi.


"Pemanasan dulu Rey," ucap Arthur dengan tersenyum smirk.


Sedangkan Queen yang sangat terkejut dengan perbuatan dari saudaranya itu langsung membekap mulutnya saat melihat Rey jatuh terhuyung ke belakang.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2