
Aditya baru saja keluar dari toko bunga dengan membawa buket mawar merah di tangan kanannya yang terlihat sangat indah. Bukan hanya itu, di tangan kirinya pun ada buket berisi coklat yang dihias sedemikian rupa menyerupai buket bunga. Karena tujuan utama awalnya adalah menyuruh orang-orang yang bekerja di toko bunga untuk menghias coklat yang akan diberikannya spesial pada sang istri dan juga putri satu-satunya.
Namun, begitu melihat bunga berwarna-warni yang terlihat sangat menyilaukan matanya, membuat ia membelikan mawar merah yang sudah dikemas sangat cantik oleh pekerja di toko bunga. Sebenarnya mertua mempunyai toko bunga yang sangat indah, tetapi karena tempatnya sangat jauh dari rumah sakit Raharja, membuatnya memilih toko yang berada tak jauh dari rumah sakit .
"Istriku nanti pasti akan sangat senang saat melihat ini." Menghirup aroma wangi dari bunga berwarna merah yang merupakan simbol cinta itu dan berjalan ke arah mobilnya. Masuk ke dalam dan menaruh 2 hadiahnya di kursi mobil. Tak lupa senyuman mengembang tampak jelas dari wajahnya begitu membayangkan wajah bahagia dari Queen.
Sekilas ia melirik ke arah kursi belakang, di mana di sana ada beberapa mainan untuk 5 keponakan yang merupakan anak dari abang istrinya.
"Bagaimana caraku nanti berbicara pada kakak ipar yang sangat galak itu? Astaghfirullah, kenapa juga tadi aku mengiyakan untuk mengiyakan permintaan dari dia. Sekarang aku yang pusing sendiri, kan." Aditya memijat pelipisnya sambil bersandar di punggung jok mobil.
Merasa sudah sedikit tenang, Aditya mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan meninggalkan area toko bunga menuju ke arah rumah sakit yang tak jauh dari sana. Hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Dan saat ini, ia bisa melihat sosok wanita cantik yang sudah berdiri menunggu di depan lobby rumah sakit dengan masih mengenakan jubah kebesarannya yang berwarna putih.
Begitu mobil berhenti, Queen langsung membuka pintu mobil dan bola matanya seketika berbinar saat melihat sesuatu di kursi mobil. Jemari lentiknya meraih 2 buket indah yang menyilaukan mata itu dan duduk di dalam mobil.
"My hubbiy, ini ... sangat indah. Ada momen apa ini, sehingga membawakan aku hadiah spesial ini. Aah ... so sweet." Queen terlihat tengah menundukkan kepala saat menghirup aroma wangi bunga mawar merah di tangannya. "Aku suka, terima kasih, My hubbiy. Rasanya aku sekarang ingin menciummu. Aku cubit saja." Mengarahkan tangannya ke arah pipi putih sang suami yang hanya terkekeh menanggapi perbuatannya.
Aditya masih fokus menatap ke arah depan, karena fokus mengemudi. Hanya bibirnya yang menanggapi ungkapan bahagia dari Queen. "Tidak ada momen apa-apa, Sayang. Aku tiba-tiba saja ingin memberikanmu coklat yang dikemas indah seperti itu. Ciuman plus-plusnya nanti malam saja setelah Princess tidur."
__ADS_1
Queen yang mengerti arah pembicaraan dari sang suami yang sudah mengedipkan sebelah matanya, refleks kembali mengarahkan sebuah cubitan ke roti sobek pria dengan wangi maskulin khas yang selalu membuatnya kecanduan itu.
"Maunya begituan mulu. Libur dulu, karena aku sangat capek hari ini."
Aditya menatap sekilas ke arah bibir mengerucut sang istri yang terlihat sangat menggemaskan. "Nanti malam spa gratis saja, Sayang. Aku akan membuat otot-ototmu yang kaku itu menjadi lebih rileks."
Awalnya Queen menyandarkan kepalanya di punggung jok mobil. Begitu mendengar perkataan ambigu dari Aditya, refleks membuatnya menatap menyelidik.
"Gratis apaan. Bukannya aku selalu membayarnya. Di dunia ini mana ada yang gratis. Pergi ke toilet umum saja bayar, apalagi spa dari suami. Bukannya hilang capek, yang ada malah tambah capek. Jadi, nanti malam tidak ada spa ataupun main. Karena aku ingin tidur awal bersama my Princess."
Beneran nih?" tanya Aditya dengan tersenyum menyeringai.
"Iyalah, aku pun tadi merasa sedikit pusing dan saat aku cek tadi, tensiku sangat rendah. Sepertinya aku harus makan semua jenis makanan yang cepat menaikkan tensi darahku. Kita mampir ke penjual sate kambing, My hubbiy. Aku ingin makan sate kambing, tetapi dibungkus saja seperti biasanya."
"Kamu sering pusing setelah bangkit dari posisi berbaring. Jadi, karena itu sebabnya. Oh iya, kita beli satenya pulang dari rumah abangmu saja, Sayang. Hari ini, dia minta pertolonganku untuk membujuk kakak ipar," ucap Aditya yang melirik sekilas ekspresi wajah sang istri yang terlihat masih menatap buket coklat pemberiannya. "Aku membelikan coklat itu bukan untuk dipandang saja, Sayang. Akan tetapi, untuk dimakan."
Queen hanya terkekeh saat mendengar ejekan dari Aditya, "Lagian, kenapa juga buat seindah ini. Aku kan jadi merasa sayang untuk menikmatinya. Akan tetapi, aku dari tadi sudah ngences gara-gara melihat ini." Akhirnya jemarinya meraih satu kemasan coklat hazelnut dan langsung menikmati. Tidak lupa ia mengarahkan bekas gigitannya pada sosok pria yang masih duduk di belakang kemudi. "Enak, My hubbiy. Ini bisa mengembalikan mood booster."
__ADS_1
Aditya menggigit coklat di depan mulutnya dan merasakan sensasi manis yang sudah melumer di mulutnya. "Iya, kamu benar, Sayang."
"Oh ya, kenapa juga, My hubbiy menuruti permintaan dari brother. Dia bikin repot saja. Mengatasi istri sendiri saja tidak bisa. Bukankah dia yang jadi kepala keluarganya. Harusnya dia bersikap tegas pada kakak ipar, bukan malah takut," ucap Queen yang masih menikmati sensasi manis dari coklat batangan di tangannya.
Sedangkan Aditya hanya geleng-geleng kepala menanggapi rengutan dari sang istri yang seolah tidak sadar diri akan diri sendiri. "Sayang, jangan berkata seperti itu. Secara tidak langsung, kamu menghina suamimu sendiri."
Queen berhenti mengunyah makanan manis itu dan menelaah perkataan dari Aditya. Refleks ia langsung terkekeh saat menyadari kebodohannya sendiri.
"Eh ... kalau dipikir-pikir, benar juga. Jadi, intinya aku tidak jauh berbeda dengan kakak ipar, ya. Dan posisi brother pun seperti itu karena sangat mencintai istrinya, bukan suami yang takut istri seperti yang My hubbiy selalu katakan itu, kan?" tanya Queen yang sudah menghentikan kegiatannya makan coklat dan menatap serius wajah penuh aura ketampanan itu.
"Nah ... itu nyadar. Jadi, jangan suka mengatai ataupun menghujat berdasarkan pemikiran sendiri. Karena belum tentu juga kita jauh lebih baik dari orang lain." Aditya sudah berbelok ke arah gang yang merupakan perumahan mewah tempat tinggal dari Arthur dan berhenti tepat di depan gerbang utama berwarna hitam yang selalu tertutup dan tidak pernah dibuka itu.
Tentu saja karena ada 5 putra dan putri mahkota yang sama sekali tidak diijinkan untuk keluar dari area rumah. Hal itu disebabkan orang tua yang over protective dalam menjaga anak-anaknya.
"Iya ... iya, My hubbiy. Nanti aku bantu berbicara pada kak Salsabila. Sebenarnya dia itu sangat takut padaku. Jadi, biar aku yang membereskannya. My hubbiy, tenang saja. Biarkan aku yang bekerja." Queen membuka pintu mobil dan langsung turun setelah menaruh 2 buket indah yang dari tadi ada di pangkuannya.
Sementara itu, Aditya sedikit merasa lega karena merasa terselamatkan dan sang istri yang menjadi *super*hero untuknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ternyata istri aroganku bisa diandalkan dan menyelesaikan masalah yang aku hadapi." Membuka pintu mobil dan turun dari sana. Kemudian mengambil mainan yang tadi ia beli sebagai buah tangan untuk 5 keponakannya dan berjalan ke arah gerbang utama rumah mewah lantai satu tersebut.
TBC ...