Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Dipecat sebagai suami


__ADS_3

Queen mencoba berdehem untuk menetralkan kegugupannya, tidak lupa ia mengalihkan pandangannya pada beberapa orang yang terlihat berlalu lalang di sekitarnya dengan membungkuk hormat padanya ketika berjalan di sekitarnya. Hingga suara dari pria yang dari tadi tidak memalingkan wajah karena asyik menatap ke arahnya, membuatnya tidak lagi bisa diam.


"Kenapa kamu diam saja, Sayang!" tanya Aditya dengan bibirnya yang tersenyum tipis.


"Jangan berisik! Aku sedang memikirkan sesuatu, maksudku tentang rencana kita nanti di Bali. Ngomong-ngomong, teman kamu mana sih? Kenapa dia dari tadi tidak datang juga, aku sudah bosan berada di sini!" ketus Queen yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dan di saat Aditya baru mau menjawab pertanyaan dari sang istri yang dari tadi asyik merengut, netra pekatnya melihat sosok pria yang dari tadi ditunggunya tengah berjalan ke arahnya sedang menggandeng putra-putrinya yang berjarak hanya satu tahun. Kemudian ia mengarahkan jarinya untuk menunjuk ke arah Sugeng.


"Panjang umur, lihatlah Sayang! Baru juga dibicarakan, sahabatku sudah muncul. Pasti tadi keluarganya langsung menghubunginya, bahwa kita sudah datang ke sini."


Queen mengikuti arah jari telunjuk Aditya dan bisa dilihatnya seorang pria yang sepertinya sangat tidak asing olehnya.


Aku seperti pernah melihat pria itu, tapi di mana ya?


"Akhirnya datang juga kamu Bro!" ucap Sugeng yang sudah memeluk erat Aditya. "Terima kasih sudah meluangkan sedikit waktumu untuk menghadiri acara pernikahan adikku."


"Semua ini atas ijin dari istriku, karena itulah aku bisa datang ke sini. Karena jika istriku tidak memberikan ijinnya, aku tidak akan pernah datang. Oh ya, sepertinya aku tidak perlu mengenalkan kalian, karena kamu pasti sudah mengenalnya." Aditya beralih menatap ke arah wanita yang terlihat seperti tengah berpikir. "Sayang, kenalkan teman aku."


"Aku seperti pernah melihat temanmu ini deh!" Queen menatap penuh selidik ke arah Sugeng.


Sugeng membungkuk hormat pada istri sahabatnya yang tak lain adalah sahabat pacarnya dulu waktu SMP. "Terima kasih atas kedatangannya Nona muda Queen. Ternyata ingatan Anda masih sangat tajam. Iya, aku adalah pacar dari sahabat Nona muda dulu yang bernama Rina."


"Ternyata benar kamu, pantas saja aku merasa tidak asing melihat video kalian waktu itu," ucap Queen.


Sontak saja Aditya dan Sugeng bersuara secara bersamaan.


"Video?"


Dan di saat yang bersamaan, Queen langsung menutup mulutnya karena baru teringat bahwa dirinya keceplosan.


Astaga ... aku keceplosan lagi. Bisa-bisa Aditya kegeeran lagi, tidak boleh. Berpikirlah Queen, carilah alasan yang masuk akal.


"Sayang, coba jelaskan padaku tentang apa maksud video yang kamu sebutkan tadi!" ucap Aditya dengan tatapan menyelidik.


"Ehm ... itu, aku kemarin menghubungi pengawalku yang sedang mengikutimu saat kamu pergi keluar sebentar. Dan dia menunjukkan video yang dia ambil. Jangan salah paham padaku, karena saat kamu masuk dalam keluarga Raharja, para pengawal otomatis akan mengikutimu kemana pun kamu pergi."


"Dengan alasan kamu tidak akan mempermalukan keluarga kami. Apa kamu mengerti?" tanya Queen yang sekuat tenaga menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.


Aditya hanya menyunggingkan senyuman tipis saat melihat sang istri yang berekspresi seperti orang yang menahan marah. "Iya, aku mengerti Sayang."

__ADS_1


"Oh ... jadi seperti itu? Sekarang aku paham Nona muda. Apakah Nona muda tahu bagaimana kabar Rina sekarang? Apakah dia sudah menikah?"


Queen sangat tidak suka mendapatkan pertanyaan dari pria yang dulu merupakan cinta monyet sahabat baiknya yang juga menjadi rekan kerjanya di rumah sakit. Dengan tatapan menyelidik, Queen mulai mengejek pria tersebut.


"Kenapa kamu ingin tahu? Apakah kamu merasa sangat penasaran dengan cinta monyetmu? Ingat statusmu dan juga ingat anakmu!" Beralih menatap ke arah sang suami. "Ayo My hubbiy, kita harus segera pergi."


"Baiklah, Sayang." Aditya menatap ke arah sahabatnya. "Aku tidak bisa berlama-lama di sini, karena harus segera pergi ke Bandara."


"Aku hanya bertanya saja Nona muda, tidak bermaksud apa-apa karena aku sudah menikah dan hidup berbahagia bersama dengan keluarga kecilku. Tadi aku hanya bercanda."


Sugeng beralih menatap ke arah sahabatnya. "Sayang sekali, padahal aku masih ingin berbincang denganmu kawan. Akan tetapi, karena kamu harus segera pergi untuk berbulan madu yang lebih penting dari apapun, aku tidak akan menghalangimu. Karena yang namanya Honeymoon itu lebih penting dari segalanya bagi pasangan pengantin baru."


"Semoga kalian segera di beri momongan dan rumah tangga kalian bisa sampai kakek dan nenek." Sugeng memeluk erat sahabatnya dan sesekali menepuk bahunya.


Tentu saja Aditya membalas tepukan tangan dari sahabat SMA-nya dan mengungkapkan perasaannya. "Terima kasih kawan. Maafkan aku yang tidak bisa menunggu sampai acara akad nikah Silvana." Melepaskan pelukannya dan beralih menatap ke arah sang istri yang terlihat sudah merajuk karena ingin segera pergi dari tempat yang ramai itu.


"Ayo, Sayang. Kita pergi sekarang, karena aku nggak mau kamu murka pada sahabatku dengan mengirimnya ke benua Antartika."


Refleks kata-kata dari sang suami, membuat Queen langsung tertawa. "Ternyata kamu sudah sangat hafal denganku.”


"Bukankah aku adalah tulang rusukmu? Jadi, apapun yang kamu pikirkan, aku pasti tahu. Bahkan saat kamu bergumam di dalam hati sekali pun, aku tahu Sayang."


"Aku mana bisa gombal, Sayang. Ini tulus dari dalam hatiku, percayalah padaku!" Aditya terlihat menatap ke arah sang istri yang mencebikkan bibirnya ke arahnya.


"Kalian berdua ini bikin iri saja, karena tingkah kalian berdua sama-sama menggemaskan. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika sahabatku bisa menikahi seorang Nona muda yang sangat terkenal di kota ini. Sekali lagi selamat Aditya," ucap Sugeng yang sudah mengantarkan sahabatnya ke arah depan, sampai ke motornya.


"Tunggu ... tunggu, kalian tadi ke sini naik motor?"


"Iya, memangnya kenapa?" jawab Queen dengan sinis.


"Bukan apa-apa, hanya aneh saja Nona muda."


"Memangnya seorang Nona muda tidak boleh pergi kemana-mana naik motor?"


"Memang tidak boleh, karena setahuku dulu waktu SMP, Nona muda tidak di ijinkan naik motor bukan?"


"Lain dulu lain sekarang kawan, karena sekarang istriku bisa melakukan apa saja setelah menikah asalkan ada aku di sampingnya. Karena itulah aku mengajaknya naik motor sekarang, untuk membuatnya bisa merasakan menjadi orang biasa seperti kita."


"Dari tadi ngomong tidak ada berhentinya, aku pamit dulu!" Aditya seraya terkekeh dan menganggukkan kepalanya pada orang tua sahabatnya dan juga sang mempelai wanita yang melambaikan tangan ke arahnya.

__ADS_1


"Iya ... iya, hati-hati di jalan."


"Terima kasih."


Aditya beralih menatap ke arah para pengawal yang sudah berjalan ke arahnya. "Ada apa?"


"Sebaiknya Tuan muda dan Nona naik mobil saja, karena jarak dari sini ke Bandara cukup jauh. Kami tidak ingin mengambil resiko dengan keselamatan Nona muda," ucap salah satu pengawal mewakili yang lain.


"Bagaimana Sayang?" tanya Aditya yang sudah menoleh ke arah sang istri.


Refleks Queen yang merasa tidak suka dengan perkataan pengawalnya, membuatnya langsung mengeluarkan amarahnya. "Apa kalian semua mau di pecat! Berani-beraninya kalian memberi perintah kepadaku. Sudah sana pergi! Aku ingin pergi ke Bandara naik motor, kalian saja yang naik mobilnya."


"Tapi Nona muda."


"Stop! Cepat menyingkir dari sini sebelum aku memecat kalian semua!"


Sontak saja semua pengawal itu mulai menundukkan kepalanya dan mulai meninggalkan sang nona muda yang sudah mengeluarkan taringnya.


Sedangkan Aditya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari sang istri yang kembali ke sifat aslinya. "Sayang, jangan galak-galak pada orang! Kamu akan semakin terlihat cantik saat bersikap lemah lembut."


"Sudah diam! Apa kamu juga mau aku pecat sekalian!" sarkas Queen.


"Astaghfirullah ... maksudmu dipecat bagaimana? Apakah kamu akan memecatku sebagai suamimu? Apakah kamu mau berpisah denganku?" pancing Aditya dengan mengamati ekspresi wajah sang istri.


"Diamlah! Aku sedang kesal, jadi jangan semakin memancing amarahku!" ucap Queen dengan gugup.


Aaaarrhh ... dasar bodoh. Bagaimana aku tidak bisa mengendalikan emosi di depan My Hubbiy? Dia tidak akan ilfil padaku kan? Kenapa juga aku bisa semarah ini. Apakah karena aku ingin menikmati momen-momen indah bersama My Hubbiy yang ingin bermesraan di atas motor? Tapi sikapku sangat berlebihan tidak ya? Aah ... bodo amatlah.


"Baiklah, aku akan diam dan mengikuti kemauanmu, Sayang." Aditya beralih menatap ke arah para pria berbadan gempal di depannya. "Sudah, kalian ikuti saja kami dari belakang. Karena aku akan ke Bandara naik motor bersama istriku."


"Iya Tuan muda." Berjalan meninggalkan dua majikannya yang berbeda ekspresi itu menuju ke arah mobil.


Kemudian Aditya kembali memakai jaket dan juga helm, sedangkan sang istri hanya mengamati perbuatannya. "Kamu yakin mau naik motor?"


"Iya, aku sangat yakin. Tidak perlu lebay dan berulang kali menanyakan hal itu padaku,” jawab Queen yang sudah bersungut-sungut menampilkan wajah masamnya.


Namun, itu hanya berlaku beberapa detik saja karena sang suami lagi-lagi memakaikan helm dan juga jaket kepadanya. Tentu saja ia merasa sangat senang bisa mendapatkan perlakuan romantis dari pria yang terlihat sangat perhatian padanya.


Inilah yang aku suka saat naik motor bersamamu My Hubbiy. Kamu memakaikan helm dan jaket untukku, kemudian aku bisa memeluk erat tubuhmu dengan alasan berpegangan. Rasanya hal-hal kecil seperti itu saja sudah membuatku merasa sangat bahagia.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2