
Flashback on ...
Dewi dan Leo yang baru selesai makan, kini sudah berjalan keluar dari Mall. Awalnya Dewi ingin pulang sendiri, tetapi pria yang baru saja dikenalnya itu tidak mengijinkannya untuk pulang sendiri karena hari sudah gelap. Karena saking asyiknya bermain, seolah membuat keduanya tidak menyadari waktu yang semakin bergulir.
Kini, Dewi sudah duduk di dalam taksi bersama dengan pria yang tengah sibuk dengan kegiatannya bermain ponsel. Ia melirik sekilas, "Sebenarnya aku bisa pulang sendiri. Ngapain juga kamu mengantarku."
Leo yang baru saja mengirimkan pesan pada majikannya, refleks menatap ke arah sosok wanita berparas manis tersebut. "Ini sudah malam, tidak baik kamu jalan sendirian. Kalau ada orang jahat dan ngapai-ngapain kamu, bagaimana? Apakah kamu tidak merasa takut?"
Dewi hanya terdiam karena mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia hampir digilir oleh 3 pria mabuk. Dan membuatnya berakhir di tangan wanita yang tak lain menjadi bosnya. Hingga sampai ia terdampar di Jakarta.
"Kamu memang benar, banyak orang jahat yang mengancam wanita lemah sepertiku. Terima kasih, atas semuanya. Bantuan dan waktumu hari ini, membuatku lupa akan masalah yang tengah aku hadapi."
Leo hanya mengarahkan tangannya ke depan. "Tidak masalah, anggap saja kita hari ini sedang barter. Aku pun butuh teman untuk menghilangkan rasa stres yang aku alami hari ini. Dan kamu berhasil membuat perasaanku jauh lebih baik. Ngomong-ngomong, kamu pernah menyukai seorang pria apa tidak? Atau patah hati sepertiku, mungkin?"
Dewi hanya menyunggingkan senyumnya untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Karena setiap mengingat cinta terpendam yang ia rasakan selama beberapa tahun, membuatnya merasa sangat terpuruk.
"Sebenarnya, nasib kita itu serupa."
Leo mengerutkan kening saat mendengar kalimat ambigu yang tidak dilanjutkan oleh Dewi. "Maksudmu? Aah ... jangan bilang kamu juga mencintai suami orang?"
"Aku memang sangat bodoh. Bahkan aku tahu kalau nanti akan merasa sakit, tetapi aku pun tetap memelihara bunga cinta yang semakin bersemi di dalam hatiku. Dia adalah sosok pria sempurna baik dalam fisik, maupun materi. Semua wanita yang melihatnya pasti akan langsung terpesona, aku pun adalah salah satunya." Dewi menepuk jidatnya berkali-kali saat merutuki kebodohannya.
Leo memiringkan tubuhnya agar bisa lebih leluasa untuk menatap sosok wanita sederhana, tetapi mempunyai sebuah keistimewaan tersendiri.
"Sepertinya, pria itu sangat tampan, baik dan kaya, ya?" tanya Leo yang merasa sangat penasaran dengan seperti apa sosok pria idaman Dewi.
Dewi yang tengah tersenyum, refleks langsung mengangguk untuk membenarkan perkataan dari pria yang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Iya, dia sangat tampan seperti seorang aktor. Badan tinggi dan atletis, putih, wangi dan tajir melintir. Akan tetapi, istrinya sangat galak dan umurnya lebih tua. Namun, cintanya sangat besar pada istrinya. Bahkan dia sangat menyayangi anak-anaknya. Suami idaman banget pokoknya dan aku belum bisa menghilangkan rasa cintaku ini. Aku sangat bodoh, bukan?" tanya Dewi sambil terkekeh.
"Bukan bodoh, karena menurutku, cinta tidak pernah salah dan selalu benar. Namun, tergantung pada diri masing-masing dalam menyikapinya. Aku tahu kalau semua itu tidaklah mudah, karena ini menyangkut hati," jawab Leo yang masih menatap intens wajah Dewi.
Dewi merasa sangat senang saat bertemu pria yang bisa mengerti tentang apa yang ia rasakan. Refleks ia mengarahkan tangan kanannya pada Leo. "High five. Ternyata kita sealiran rupanya. Aku traktir kopi nanti di rumahku. Eh ... bukan rumahku, tetapi kontrakan aku." Terkekeh karena merasa malu.
Leo menyambut telapak tangan dengan jemari lentik itu sambil tersenyum. "Baiklah, aku akan dengan senang hati menerimanya. Sekarang kita berteman, bukan? Aku Leo." Beralih mengulurkan tangannya setelah high five.
Dengan menyambut uluran tangan Leo, Dewi pun menyebutkan namanya. "Lucu sekali, ya."
"Lucu kenapa?" tanya Leo dengan menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Dewi.
"Bukankah kita tadi sudah seharian menghabiskan waktu, tetapi tidak mengetahui nama masing-masing," jawab Dewi yang sudah menoleh ke arah sang supir ketika mobil berhenti tepat di depan kontrakan. "Eh ... sudah sampai ternyata. Ayo, kita turun." Membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Leo yang sebenarnya ingin tertawa dalam hati, mengungkapkan perasaannya saat mendengar perkataan dari Dewi. "Hanya kamu yang tidak mengetahui namaku, karena aku sudah mengetahuinya dari kemarin," gumam Leo di dalam hati.
Setelah memberikan uang pada sang supir, Leo melangkah mengikuti Dewi dan mengamati suasana di sekitar kontrakan Dewi yang terlihat sangat sepi. Tentu saja karena hari sudah malam, membuat semua orang sudah menutup pintu rumah masing-masing dan bersantai atau beristirahat bersama keluarganya masing-masing.
"Kamu tidak merasa takut padaku?" tanya Leo yang menatap siluet belakang Dewi saat membuka pintu dengan kunci yang tadi diambil di bawah pot bunga.
"Teman yang baik tidak akan mencurigai atau meragukan temannya, bukan? Masuk dan duduklah, aku akan membuatkan kopi untukmu." Dewi sudah berjalan ke arah dapur, meninggalkan sosok pria yang baru saja dikenalnya.
Sementara itu, Leo yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi kayu berwarna coklat tua tersebut, mengamati suasana di sekitar area rumah kontrakan Dewi.
__ADS_1
"Selama ini, dia tinggal sendiri di sini tanpa mempunyai keluarga. Kalau dipikir-pikir, kasihan sekali nasibnya. Dia bahkan sangat mempercayaiku dan mengajaknya untuk mampir. Sedangkan dia tidak tahu aku sebenarnya."
Beberapa saat kemudian, Dewi membawa 2 cangkir berisi kopi susu dan meletakkannya di atas meja. "Silakan diminum, tetapi pakai tatakan di bawahnya karena masih terlalu panas." Mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Leo.
Leo mengangguk dan menatap ke arah Dewi, "Terima kasih. Apakah aku boleh bertanya padamu?"
"Apa?" tanya Dewi dengan mengerutkan kening.
"Apakah kamu sering mengajak pria baik seperti diriku ke rumahmu? Ehm ... bukan maksudku untuk menghinamu, tetapi aku hanya mau kamu lebih berhati-hati. Jangan sembarangan mengajak masuk laki-laki ke rumahmu, oke!" tegas Leo untuk memberikan sebuah pengertian pada wanita yang terlihat sangat terkejut dengan perkataannya.
Awalnya, Dewi merasa sangat kesal karena pertanyaan dari Leo seolah menganggapnya adalah seorang wanita nakal dan keganjenan. Namun, begitu mendengar dengan seksama, ia bisa memahami apa maksud dari pertanyaan dari pria yang terlihat merasa tidak enak padanya.
"Tenang saja, kamu adalah satu-satunya pria pertama dan terakhir yang menginjakkan kaki di kontrakanku. Karena aku selama ini tidak pernah dekat dengan laki-laki. Apalagi mengajak ke kontrakan aku."
Helaan napas lega terdengar sangat jelas dari embusan napas Leo. "Syukurlah, karena aku sangat khawatir jika ada pria jahat yang berbuat macam-macam padamu. Kalau aku adalah pengecualian, karena tidak akan pernah berbuat jahat pada temanku sendiri." Leo melihat mesin waktu yang ada di pergelangan tangan kirinya.
"Aku harus cepat pulang, karena ini pun sudah jam 8. Kamu pun pasti ingin segera beristirahat setelah asyik bermain seharian." Leo mengangkat cangkir berisi kopi dan meniupnya sebentar sebelum meminumnya.
Sebenarnya Dewi ingin bilang agar Leo tidak terburu-buru pergi, tetapi ia tidak ingin pria yang sudah menikmati kopi buatannya itu merasa dirinya adalah wanita yang keganjenan. Karena menahan Leo yang akan pergi. Sehingga ia hanya membiarkan saja apa yang akan dilakukan oleh pria tersebut.
Leo bangkit dari kursi dan menatap ke arah Dewi. "Aku pulang dulu. Kamu istirahat saja dan mencari pekerjaan lagi, besok pagi."
Dengan seulas senyum dan anggukan kepala, Dewi pun bangkit dari tempat duduknya. "Iya, terima kasih atas bantuannya hari ini, Leo."
"Sama-sama," jawab Leo dan berjalan keluar dari area kontrakan Dewi.
"Di depan sana ada pangkalan ojek. Kamu bisa naik ojek pulangnya." Dewi mengantar Leo ke depan rumah.
Dewi langsung berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumah. Kemudian ia mengunci pintu, membereskan bekas minuman di atas meja dan mencucinya di dapur.
"Pria itu sangat baik hati. Kenapa tadi aku tidak meminta nomor teleponnya, ya. Siapa tahu aku membutuhkan bantuannya nanti. Astaga, kalau aku meminta nomor ponselnya, bisa-bisa aku dicap sebagai wanita agresif, lagi."
Dengan menepuk jidatnya berkali-kali untuk merutuki kebodohannya, Dewi berjalan masuk ke dalam kamar. "Gerahnya. Lebih baik aku mandi dan langsung tidur." Melangkah ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
Sementara itu, sosok pria yang dari tadi bersembunyi di bawah kolong ranjang, terlihat mengepalkan kedua tangannya dan buru-buru keluar dari tempat persembunyiannya. Ia yang awalnya tengah tiduran santai di atas ranjang sambil menunggu kedatangan Dewi, sama sekali tidak menyangka jika wanita yang sangat dibencinya itu datang bersama seorang pria.
Karena begitu ia mendengar suara bariton dari seorang pria yang berbicara dengan Dewi, membuatnya langsung buru-buru bersembunyi di kolong ranjang agar tidak sampai ketahuan. Tentu saja selama di bawah sana, ia sibuk mengabsen seluruh isi kebun binatang untuk melampiaskan amarahnya dengan cara mengumpat di dalam hati.
Reynaldi yang kini merasa sangat lega dan bebas, tersenyum menyeringai dan mendaratkan tubuhnya di atas ranjang yang menjadi tempat peristirahatan Dewi.
"Bermain-main dengan wanita murahan itu sangat menyenangkan dan bisa membuang kebosananku selama ini," lirih Reynaldi yang sudah menyilangkan kaki sambil menatap pintu kamar mandi di depannya.
Reynaldi tidak mengalihkan pandangannya pada pintu yang masih tertutup itu. Tentu saja ia bisa mendengar suara gemericik air dari dalam dan menandakan bahwa sosok wanita yang sangat dibencinya itu tengah mandi di bawah guyuran air shower. Beberapa menit kemudian, keran air yang ditutup, menandakan bahwa kegiatan Dewi yang tengah mandi sudah selesai.
Dengan tersenyum smirk, Reynaldi sudah menghitung dengan jari tangannya saat menunggu detik demi detik Dewi keluar dari kamar mandi.
"Satu, dua, tiga."
Senyuman menyeringai tampak jelas dari wajah tampan Reynaldi saat mendengar suara kenop pintu yang dibuka dari dalam dan netra pekatnya kini tengah ber-sitatap dengan bola mata yang membeliak saat menatap ke arahnya.
Bahkan ia tidak berkedip saat menatap ke arah sosok wanita kulit putih dengan hanya melilitkan handuk sebatas dada dan paha. Tentu saja sebagai seorang laki-laki normal, melihat pemandangan menggiurkan di depan matanya itu, refleks membuatnya menelan salivanya dan tidak lupa hasrat dan gairah seketika bangkit.
__ADS_1
"Wah ... wanita murahan sepertimu berhasil membuatku ingin menyalurkan hasratku. Ini adalah sebuah anugerah untukmu saat aku mau tidur denganmu, wanita murahan."
Jantung Dewi saat ini tengah berdetak sangat kencang melebihi batas normal begitu melihat sosok pria yang selalu mengacaukan kehidupannya yang tenang. Bahkan kini ia benar-benar sangat ketakutan saat melihat sorot mata tajam seperti binatang buas yang hendak menerkamnya.
Sehingga ia mundur ke belakang dengan berusaha menutupi bagian atas tubuhnya, agar tidak sampai membuat Reynaldi melihat tubuhnya yang terekspose sangat jelas.
"Pria berengsek! Bagaimana mungkin kau ada di sini! Keluar dari rumahku, atau aku akan berteriak dan membuatmu dipukuli masa. Keluar!" teriak Dewi dengan sangat kencang.
Ia melirik ke arah pintu kamar yang tadi tidak ditutup, sekarang malah sudah tertutup. Tentu saja ia tengah berpikir akan berlari keluar untuk mencari sebuah pertolongan dari para tetangga. Namun, suara bariton dari Reynaldi malah membuatnya semakin frustasi dan lemas seketika.
"Berteriak saja sekencangnya, wanita murahan. Aku akan membuatmu semakin dipermalukan. Apa kamu tidak sadar penampilanmu saat ini? Yang ada, semua orang akan menghinamu seorang pel*cur." Reynaldi sudah bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah Dewi dengan tersenyumlah smirk.
Dewi membenarkan perkataan dari Reynaldi dan merasa sangat ketakutan, ia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk melindungi dirinya dengan mengunci pintu dari dalam.
Namun, belum sampai ia mengunci pintu kamar mandi, tangan kuat Reynaldi menahan pintu.
"Dasar pria berengsek!" teriak Dewi yang masih berusia tidak menyerah untuk melindungi dirinya dan beradu kekuatan dengan Reynaldi yang tengah menahan pintu.
"Sadar diri dan menyerahlah, wanita murahan. Lebih baik kita nikmati malam ini dengan penuh kenikmatan. Daripada kamu berlagak sok suci dan membuatku berbuat kasar padamu," ucap Reynaldi yang sudah berhasil menggagalkan rencana Dewi saat ingin mengunci pintu.
Dewi yang terhuyung ke belakang dan membuat tubuhnya terhempas ke dinding, membuat ia meringis kesakitan. Namun, di saat yang bersamaan, ia mendengar suara bariton dari pria yang sangat dikenalnya tengah mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya.
"Dewi ... Dewi ...."
Reynaldi refleks langsung ber-sitatap dengan manik bening penuh ketakutan Dewi. Merasa dirinya akan gagal memberikan pelajaran pada sosok wanita yang tengah membuka mulutnya untuk berteriak meminta tolong, membuat ia langsung memutar otak untuk mencari jalan keluar.
Ia menemukan jalan keluar dan hal pertama yang dilakukannya adalah mengunci pintu kamar mandi dan melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
"Sekarang berteriaklah dan minta pertolongan pada pria di depan."
Dewi yang tidak bisa berpikir jernih, hanya berpikir bisa lepas dari kegilaan pria yang terlihat malah membuka kemejanya dan bertelanjang dada di depannya. Sehingga ia berteriak sekencang-kencangnya untuk meminta pertolongan dari Leo dan berharap ada sebuah keajaiban untuknya.
"Leo, tolong aku! Dobrak pintunya! Tolong aku. Ada pria baj*ngan di sini!" Suara Dewi tercekat di tenggorokannya saat ia kini sudah berlinang air mata karena merasa sangat takut pada pria yang sudah melepaskan celana panjang di yang dipakainya.
Ia yang merasa kehilangan tenaganya, sudah berjongkok dan hanya menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya karena tidak ingin melihat tubuh polos Reynaldi.
Hingga suara pintu yang didobrak dari luar tertangkap indera pendengarannya. Ia yang merasa ada sebuah peluang untuk selamat, refleks membuka tangannya yang ada di wajahnya dan melihat Reynaldi sudah memakai handuk sebatas pinggang dan malah membuka pintu kamar mandi.
Di saat yang bersamaan, ia bisa melihat sosok pria yang tengah terengah-engah sudah berada di dalam kamarnya.
"Leo," ucap Dewi dengan wajah yang sudah sedikit merasa sangat lega.
Leo yang melihat pemandangan di depannya, merasa semakin kesal saat Reynaldi tersenyum menyeringai ke arahnya. Refleks ia langsung mengarahkan tinjunya pada wajah tampan tersebut.
"Baj*ngan!"
Sementara itu, Reynaldi yang sama sekali tidak melawan, masih tersenyum saat sudut bibir sebelah kirinya robek. " Kau menggangu kami yang sedang bercinta." Mengarahkan tangannya dan membalas pukulan dari pria di depannya. "Berengsek!"
Flashback off ...
TBC ....
__ADS_1