Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Wanita yang saat ini aku cintai


__ADS_3

Dave yang dari tadi memeluk erat tubuh polos Sabrina di bawah selimut, mendengar suara perut keroncongan yang menandakan bahwa wanita yang diam seperti patung itu lapar karena dari pagi belum sarapan. Bahkan ia sendiri pun belum makan karena tadinya menunggu sampai Sabrina sadar dari pingsannya dan makan bersama-sama seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya.


"Kamu lapar, kan? Bukankah sudah aku bilang tadi, mulutmu bisa menipu, tetapi perutmu tidak bisa berbohong karena tetap butuh diisi. Karena lambung bekerja keras di pagi hari, karena itulah sarapan itu sangat penting untuk kesehatan kita. Sekarang aku tanya padamu, daripada aku kecewa lagi seperti tadi." Dave melepaskan dekapannya dan mulai menatap ke arah Sabrina yang masih terdiam. "Kamu mau makan atau mau sakit?"


Sabrina yang dari tadi sibuk dengan pikirannya untuk mencerna kata-kata dari Dave, kini mengarahkan manik bening miliknya pada netra pekat pria yang tidak berkedip menatapnya.


"Ehm ... Dave, jawab dulu pertanyaanku sebelum makan. Aku pasti akan makan, tetapi aku ingin mengetahui kejujuranmu terlebih dahulu."


Dave mengerutkan keningnya, "Jujur tentang apa?"


"Bukankah kamu dulu pernah mengatakan ada wanita yang sangat kamu cintai? Sekarang wanita itu ada di mana? Kamu barusan bilang kalau kamu hanya menginginkan tubuhku, bukan wanita lain. Bagaimana jika wanita yang kamu cintai itu tiba-tiba mengungkapkan cintanya padamu? Apakah kamu akan membuangku dan kembali padanya?" tanya Sabrina dengan perasaan berdebar-debar karena sejujurnya ia ragu untuk menanyakan hal itu, tetapi ia ingin menghanguskan ketakutannya karena merasa jawaban dari pria di depannya itu merupakan masa depannya.


Dave masih menampilkan wajah datar dan beranjak dari ranjang untuk mengambil pakaiannya yang teronggok di lantai. Kemudian ia memakai celana panjang berbahan katun miliknya dan meraih kimono handuk milik Sabrina. "Pakailah, kita makan dulu. Setelah itu, aku akan mengatakan semuanya padamu."


Sabrina yang merasa sangat kesal karena Dave tidak langsung menjawab pertanyaannya, membuat ia merengut dengan mengerucutkan bibirnya. Akan tetapi, ia tetap menerima kimono handuk yang diberikan oleh Dave dan memakainya, meskipun berkali-kali mengumpat untuk melampiaskan amarahnya.


"Dia benar-benar sangat menyebalkan. Tinggal jawab saja apa susahnya, sih! Kenapa harus nanti segala. Bikin kesel saja. Memangnya salah jika seorang wanita merasa khawatir saat memikirkan suaminya yang mencintai wanita lain? Astaga, apa aku bilang tadi, suami? Apakah Dave bisa disebut suamiku yang sesungguhnya? Akan tetapi, bukankah kami sudah benar-benar seperti pasangan suami istri yang seutuhnya? Kenapa aku sekarang bego begini, sih!" gumam Sabrina di dalam hati yang langsung menatap ke arah Dave.


"Kemarilah, kita makan sama-sama," ujar Dave yang sudah melambaikan tangannya pada Sabrina.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Sabrina membuka selimut tebal yang dari tadi melindungi tubuhnya yang polos saat berada dalam kuasa Dave. Dengan ragu-ragu, ia kini sudah melangkahkan kakinya yang jenjang untuk mendekat ke arah sofa. Di mana Dave sudah mengambilkan makanan untuknya. Kemudian ia duduk agak menjauh karena merasa sangat kikuk jika mengingat kejadian beberapa saat yang lalu di atas ranjang.


Dave menepuk sofa di sebelahnya, seolah memberikan titah yang tidak ingin dibantah. "Duduklah di sini, jangan menjauhiku. Tenang saja, aku tidak akan memakanmu lagi. Karena setelah hari ini, aku berjanji tidak akan pernah menggaulimu jika kamu tidak memintanya sendiri. Karena aku merasa sangat bersalah saat selalu memaksamu," ucap Dave yang terlihat sangat menyesalkan kejadian hari ini.


Sabrina hanya menampilkan wajah datarnya karena merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Dave. Karena selalu mengulangi kesalahan yang sama saat sedang marah dan membuatnya menjadi korban kebrutalan nafsu.


"Omong kosong, memangnya aku akan percaya kata-katanya. Dia hanya membual dan selalu melupakan janji-janjinya. Aku tidak akan pernah mempercayaimu, Dave. Karena aku bukan wanita yang bodoh," lirih Sabrina yang saat ini terpaksa menuruti perintah dari Dave dan duduk di sebelahnya.


Dave mengangkat piring berisi makanan dan menyerahkannya pada Sabrina, "Kamu bisa makan sendiri, kan? Atau kamu mau aku suapi?"


"Aku bukan anak kecil, jadi aku akan makan sendiri," ketus Sabrina yang sudah menerima piring berwarna putih tersebut dari tangan Dave dan ia pun mulai buru-buru untuk menikmati makanannya. Tentu saja karena ingin segera mendengar jawaban dari pria yang diketahuinya mencintai wanita lain, tetapi sudah berkali-kali menikmati tubuhnya.


Seulas senyum terbit dari wajah Dave saat melihat bibir mengerucut dengan wajah masam dari Sabrina. "Baguslah, kalau kamu bisa makan sendiri. Jadi, aku tidak perlu susah-susah untuk menyuapimu. Jangan makan terburu-buru seperti itu. Nanti tersedak bagaimana? Aku pasti akan menceritakan tentang wanita yang aku cintai itu padamu."


"Nah ... benar, kan. Baru juga aku menutup mulut." Dave meraih air minum dan menyerahkannya pada Sabrina, "Cepat minum ini."


Sabrina buru-buru menerima gelas kaca berisi air putih itu dan meneguknya hingga tanpa tersisa. Kemudian meletakkan kembali gelas itu di atas meja dan menatap tajam ke arah Dave. "Tidak perlu memperjelas bahwa kamu sangat mencintai wanita itu karena aku sudah tahu. Jika kamu sangat mencintainya, kenapa kamu bisa melakukan itu padaku. Apa kamu menganggapku adalah seorang wanita yang bodoh?"


Dave memijat pelipisnya saat melihat amarah yang berapi-api dari bola mata Sabrina. "Astaga, singa betina kumat lagi. Sepertinya tidak akan selesai jika aku menunda-nundanya. Baiklah, aku akan mengatakan padamu tentang sosok wanita yang sangat aku cintai."

__ADS_1


"Iya ... iya, tidak perlu berkali-kali bilang kalau kamu sangat mencintai wanita itu. Semua pria selalu seperti itu, bilang mencintai wanita lain, tetapi tidur dengan wanita lain lagi. Munafik," sarkas Sabrina yang saat ini bersedekap dada dengan tersenyum sinis.


Dave hanya mengamati wajah dari Sabrina yang terlihat sangat masam. Ia pun menatap menelisik ke arah wanita yang duduk di sebelahnya sambil menaikkan kedua alisnya.


"Tingkahmu seperti seseorang yang sedang terbakar api cemburu, Sayang."


Sabrina refleks langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kata cemburu, karena menurutnya itu sangat konyol. "Apa kamu bilang, aku cemburu? Konyol sekali, siapa juga yang cemburu. Aku hanya ingin berjaga-jaga saja karena masa depanku sedang dipertaruhkan di sini. Apa kamu mengerti, Dave. Jadi, jangan seenak jidat menuduh aku cemburu."


"Iya ... iya, aku percaya kalau kamu tidak cemburu. Whatever." Dave bangkit berdiri dari sofa dan berjalan ke arah meja dengan TV di atasnya. Tentu saja untuk meraih ponsel miliknya dan membuka galeri untuk mencari gambarnya bersama majikannya.


"Bukankah kamu sangat penasaran dengan wanita yang dulu sangat aku cintai dan kamu takut aku kembali padanya, bukan? Kamu tenang saja, ketakutanmu itu tidak akan pernah terjadi. Karena aku tidak akan kemana-mana, aku akan selamanya bersamamu."


Sabrina yang merasa sangat tidak sabar untuk melihat sosok wanita yang berkali-kali dipuja oleh Dave, refleks bangkit dari posisinya dan berjalan mendekat. Tanpa membuang waktu, ia sudah merebut ponsel itu agar bisa melihat foto wanita yang dianggapnya sebagai saingannya.


Begitu ponsel ada di tangannya, ia menunduk untuk menatap ke arah benda pipih yang menampilkan sebuah foto dari Dave dan Queen.


"Ini kan majikanmu yang arogan itu ...." Sabrina refleks langsung membekap mulutnya dan beralih menatap ke arah Dave. "Jangan bilang kalau wanita yang kamu cintai adalah ...."


"Iya, kamu benar. Wanita yang aku cintai dulu adalah nona muda Queen. Akan tetapi, wanita yang saat ini aku cintai adalah Sabrina Anggraini."

__ADS_1


"A-apa ...." Lagi-lagi Sabrina mundur beberapa langkah dan wajahnya terlihat sangat shock begitu mendengar Dave mengungkapkan perasaannya.


TBC ...


__ADS_2