
Saat ini, Dewi tengah berjalan bersama dengan pria yang baru saja dikenal dan diketahuinya bernama Leo. Selama di taman tadi, Leo bercerita panjang lebar mengenai perasaannya yang sedang patah hati karena melihat Sabrina sudah hidup berbahagia bersama dengan suami dan anaknya.
Bahkan ia yang tadinya sudah menolong Dewi, meminta imbalan dengan cara mengajaknya untuk sekedar cuci mata di Mall. Selain memang untuk menghibur diri sendiri, ia pun juga ingin melaksanakan perintah dari tuan mudanya. Yaitu, menghibur wanita yang mungkin akan kembali menangis saat kembali ke kontrakan karena sendiri.
Selama di Mall, Dewi mencoba semua permainan di wahana bermain. Suasana di area permainan yang berada di lantai paling atas sebuah Mall, terlihat cukup ramai dengan para pengunjung dimulai dari orang tua yang menemani anak-anaknya, remaja dan kaum dewasa yang terlihat tengah sibuk berkosentrasi saat bermain di area Times Zone.
Dewi melangkah masuk ke area Amazone yang merupakan area game paling besar di Mall tersebut. Tentu saja ia sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeser pun, karena semuanya ada yang membayar. Yaitu, pria yang baru dijumpainya beberapa saat yang lalu.
Leo menuju ke area kasir untuk memesan 2 kartu yang akan digunakan saat bermain game oleh wanita yang sudah berjalan masuk meninggalkannya. Kemudian mulai memberikan salah satu kartu yang tadi sudah ia beli. Sengaja ia membelinya 2 agar bisa bermain sepuasnya untuk melampiaskan patah hati yang dirasakannya.
Begitu pun juga ia ingin membuat Dewi melupakan semua masalah yang disebabkan oleh Rey di restoran dan membuatnya gagal untuk mendapatkan pekerjaan.
Tatapannya berhenti pada 1 titik, di mana wanita yang dicarinya tengah terlihat di belakang 2 remaja yang sedang berkosentrasi mengikuti gerakan dari layar di depannya. "Nih, buat kamu. Silakan bermain sepuasmu di sini. Aku pun akan bermain apa yang aku suka. Kamu mau main itu?"
Dewi hanya menganggukkan kepala tanpa mengalihkan perhatiannya yang dari tadi fokus menatap ke arah 2 gadis remaja yang masih bergerak sesuai irama untuk mengikuti gerakan dari layar di depannya.
"Baiklah, selamat bersenang-senang. Aku akan ke sana." Leo menunjuk ke arah Maximum tune game.
Dewi hanya menganggukkan kepala dan mulai naik ke atas arena Dance-dance Revolution setelah sebelumnya mengarahkan kartu ke mesin. Kemudian dengan kaku, bergerak sesuai arahan dari layar. Ia dulu selalu melakukan itu bersama Ririn saat sedang stres dan banyak pikiran. Karena butuh konsentrasi yang tinggi saat mengikuti gerakan dari layar. Dan perbuatannya itu dianggap bisa untuk melupakan semua beban pikiran.
Kakinya yang sangat lincah mengikuti gerakan dari gambar yang ada di dalam layar komputer di depannya. Seolah ia sudah tidak memperdulikan sekelilingnya saat asyik bergerak karena tengah berkosentrasi penuh.
Sementara itu, Leo sudah sibuk berkosentrasi dalam permainan balap mobil. Keduanya mempunyai cara tersendiri untuk meluapkan kekesalannya dengan cara mencoba satu persatu permainan yang bisa digunakan untuk orang dewasa.
__ADS_1
Beberapa jam telah berlalu, Dewi yang sudah merasa lelah, mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di tengah sudut ruangan. Merasa cacing-cacing di perutnya sudah berdemo minta diisi, ia menatap ke arah Leo yang sudah asyik bermain balap motor.
"Sepertinya dia benar-benar sangat menikmati setiap permainan untuk melupakan perasaannya yang patah hati. Sampai melupakan bahwa dari tadi kami belum makan. Mana aku lapar banget, lagi. Lebih baik aku berpamitan padanya dan berpisah di sini."
Dewi berjalan mendekati pria yang masih fokus menatap ke arah layar besar di depannya. "Leo, kamu lanjutkan saja mainnya. Aku mau pulang."
Refleks Leo menoleh ke arah Dewi, "Kamu sudah bosan main? Aku pikir belum, makanya dari tadi aku asyik main sambil menunggu kamu selesai. Aku akan mengantarmu pulang."
Refleks Dewi mengarahkan tangannya ke depan, menegaskan bahwa ia sama sekali tidak menyetujui perkataan dari pria yang saat ini sudah menyelesaikan permainannya.
"Astaga, tidak perlu. Aku mau pulang sendiri. Kamu lanjutkan saja pemainannya."
"Sudahlah, jangan suka menolak kebaikan orang. Ayo, aku akan mengantarkanmu pulang. Daripada nanti ada orang jahat yang berbuat macam-macam padamu." Tanpa menunggu persetujuan dari Dewi, Leo sudah berjalan di depan dan memberikan sebuah kode agar Dewi mengikutinya.
"Aku sangat lapar. Akan tetapi, tidak mungkin aku mengajaknya makan dulu. Nanti dikiranya aku minta dibayarin, lagi. Aku tahan sampai di rumah saja. Nanti aku beli nasi di warung yang ada di dekat kontrakan," gumam Dewi di dalam hati.
Lamunan dari Dewi buyar seketika saat mendengar suara bariton dari Leo.
"Temani aku makan dulu. Bukankah dari tadi, kamu pun belum makan. Ngomong-ngomong, kamu mau makan apa?" tanya Leo seraya menoleh ke arah kanan, menatap dan menunggu jawaban dari Dewi.
Dewi hanya menggaruk tengkuknya dan merasa sangat tidak enak karena selalu mendapat kebaikan dari Leo. Namun, merasa perutnya pun sudah sangat lapar, membuatnya tidak bisa menolak ajakan dari pria yang sudah menunjuk ke arah sebelah kanan. Di mana ada aneka kuliner yang bisa dipilih.
"Aku mau makan yang itu saja," jawab Dewi sambil menunjuk ke arah kuliner ayam betutu khas Bali.
__ADS_1
"Baiklah, aku juga ingin menikmati kuliner itu karena belum pernah mencobanya. Ayo, kita ke sana!" Leo sudah berjalan ke arah lapak yang menjual makanan khas Bali tersebut.
Keduanya duduk saling berhadapan setelah sebelumnya memesan makanan yang akan mereka santap. Tentu saja sambil menunggu pesanan datang, Leo sudah memulai kembali obrolan untuk membuat suasana tidak canggung di antara mereka berdua.
******
Suasana petang menjelang Maghrib, keadaan di sekitar rumah padat penduduk di salah satu gang yang merupakan area kontrakan Dewi terlihat sangat sepi karena semua pintu rumah tertutup dan semua orang sedang sibuk menjalankan perintah Allah setelah seruan adzan Maghrib berkumandang.
Berbeda dengan sosok pria yang baru saja turun dari mobil mewah berwarna hitam. Pria tampan dengan tubuh tinggi tegap, serta badannya yang proporsional itu kini berbicara dengan sang supir.
"Bapak pulang saja. Aku nanti akan pulang naik taksi," ucap Reynaldi pada sang supir.
"Baik, Tuan Rey," jawab pria paruh baya yang duduk di balik kemudi dan langsung menyalakan mesin mobil. Kemudian berlalu pergi meninggalkan majikannya.
Dengan sikapnya yang tenang, Reynaldi berjalan masuk ke rumah kontrakan Dewi dan membukanya dengan kunci yang tadi baru saja ia buat. Seperti menganggap rumah sendiri, ia sudah berada di dalam rumah sederhana dengan ruang tamu hanya 3 meter tersebut dan berjalan masuk ke kamar. Tentu saja merupakan tempat istirahat wanita yang sangat dibencinya.
"Hari ini, aku akan membuatmu membayar perbuatanmu padaku, wanita murahan."
Dengan wajah penuh kilatan amarah, Reynaldi mengepalkan kedua tangannya dan netra pekatnya mengamati ruangan pribadi Dewi yang terlihat sangat rapi meskipun tidak cukup luas. Ia tersenyum smirk saat menatap ke arah ranjang yang lebarnya hanya separuh dari ranjang di kamarnya.
"Menyedihkan sekali ranjang itu. Nasibmu pun akan menyedihkan setelah malam ini, wanita murahan."
TBC ...
__ADS_1