
Queen yang saat ini tengah ber-sitatap dengan netra pekat Aditya yang terlihat penuh kepanikan begitu mendengar suara dari saudaranya, menepuk bahu kokoh sang suami. Bahkan raut wajahnya sudah dipenuhi oleh amarah, karena merasa sangat kesal.
"Sebenarnya apa kerja para pengawal hingga tidak bisa mencegah Rey berbuat kejahatan lagi. Lebih baik aku memecatnya nanti, karena tidak becus dalam bekerja!"
Aditya sama sekali tidak menanggapi rengutan dari sang istri yang sudah menampilkan wajah masam dan kemurkaannya. "Marahnya nanti saja, Sayang. Lebih baik aku segera pergi ke kontrakan Dewi, karena Leo saat ini masih menahan Reynaldi agar tidak melarikan diri." Berjalan ke arah kamar untuk mengganti pakaiannya.
Queen sudah berjalan mengekor sang suami, "Aku ikut, My hubbiy. Rasanya aku ingin memberikan pelajaran pada adik tirimu yang tidak tahu diri itu. Aku ingin menjitak kepalanya yang mungkin otaknya sudah bergeser dari tempatnya, karena tidak bisa berpikir jernih dan menghancurkan masa depan seorang wanita. Meskipun aku tidak menyukai Dewi, kami sama-sama wanita dan aku merasa iba pada kehancuran dia saat tidak mempunyai harga diri yang bisa dibanggakan."
Aditya yang saat ini sudah berada di walk in closet, menganggukkan kepala dan meraih pakaiannya di dalam almari. "Iya, aku sangat kasihan pada Dewi. Kita harus menyelesaikan masalahnya. Karena aku berhutang budi padanya. Kalau begitu, cepat ganti baju, Sayang. Kita harus berangkat sekarang."
"Iya, My hubbiy." Queen pun buru-buru meraih pakaian long dress berwarna hitam dan hijab berwarna putih.
Beberapa menit kemudian, ia dan sang suami sudah rapi dan berjalan keluar kamar menuju ke lantai 1. Di saat yang bersamaan, keduanya menemui orang tuanya yang tengah mengamati para pekerja saat lembur menyulap kamar dari anak saudaranya yang akan segera ditempati besok.
"Daddy, Mommy, kami keluar sebentar untuk mengurus adik tidak tahu diri yang saat ini tengah membuat masalah." Queen menatap ke arah putrinya di gendongan sang mommy dan mengarahkan tangan ke arahnya.
"Umi ...." Princess mencebikkan bibirnya saat mengetahui orang tuanya akan pergi.
"Sayang, Princess di rumah saja sama grandpa dan grandma, ya!" Queen mencoba untuk membujuk putrinya agar tidak ikut bersamanya.
Namun, usahanya sama sekali tidak berhasil. Karena Princess sudah menangis dengan suaranya yang sangat keras.
Merasa cukup lama membuang waktu, Aditya buru-buru mengeluarkan ketegasannya. "Sayang, kamu di rumah saja. Kasihan, Princess. Baru juga melihatmu, masa mau ditinggal lagi. Juga tidak mungkin mengajak anak kecil di situasi seperti ini. Aku tidak ingin melihat putriku menyaksikan kekerasan di depan matanya. Karena itu tidak akan baik untuk perkembangannya."
Queen terlihat mengerucutkan bibirnya saat merasa kesal. Bukan kesal pada pria tampan sholeh di depannya. Akan tetapi, karena kesal tidak bisa memberikan sebuah pelajaran pada adik tirinya. Dari tadi ia sudah merancang akan memukul kepala dari Rey dengan sangat kuat untuk melampiaskan amarahnya.
Queen sudah menggendong putrinya dan sibuk menenangkan bocah perempuan yang masih terus menangis tersedu-sedu karena tidak mau ditinggal. "Cup ... cup, Sayang. Iya ... iya, Umi tidak akan pergi. Queen beralih menatap ke arah Aditya, "Baiklah, My hubbiy pergi saja. Aku akan di rumah bersama dengan Princess."
"Iya, aku pergi sekarang." Aditya mencium pipi putih putri kesayangannya tersebut, "Princess di rumah sama umi, ya." Kemudian beralih mencium kening sang istri dan juga mencium punggung tangan mertuanya. "Aku pergi dulu, Pa, Ma."
Abymana dan Qisya hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Hati-hati di jalan. Tidak perlu mengebut hanya gara-gara ingin segera sampai menemui bocah sialan itu, My hubbiy. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu padamu hanya gara-gara Rey," ancam Queen dengan tatapan mata tajam.
Namun, ia meringis menahan sakit saat bahunya sudah ditepuk cukup keras oleh wanita yang telah melahirkannya. "Mommy, apa-apaan, sih! Sakit, Mom!"
"Jaga mulut kamu, Queen. Doa tuh yang baik. Kata-katamu malah terdengar seperti sebuah umpatan," ucap Qisya dengan tatapan tak kalah tajam.
"Iya, Mom. Maaf, ini efek aku merasa sangat kesal pada pria tidak tahu diri itu." Queen berniat untuk mengantar Aditya sampai depan. Namun, suara bariton dari sang daddy membuatnya tidak jadi melakukannya.
"Biar Daddy yang mengantarkan suamimu ke depan. Kalian di sini saja, karena aku ingin berbicara dengan Aditya sebentar." Abymana langsung mengarahkan tangannya untuk merangkul bahu kokoh sang menantu kesayangannya.
Sementara itu, Aditya hanya diam dan berjalan mengikuti langkah kaki dari sang mertua yang memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya. Ia tahu bahwa mertuanya itu akan membicarakan sesuatu. Sehingga ia hanya menunggu saat mertuanya berbicara.
__ADS_1
"Begitu kamu sampai di sana, cari orang yang bisa menikahkan Rey dengan Dewi. Karena Rey harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Untuk sementara, menikah siri tidak apa-apa. Karena menikah secara resmi juga membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengurus surat-suratnya. Nanti, ambil video saat prosesi ijab kabul. Dokumentasi itu bisa digunakan untuk mengancam adik tirimu itu beserta keluarganya jika mangkir dari tanggungjawab."
Aditya yang mulai memahami perintah dari mertuanya refleks mengangguk. "Iya, Pa. Ide, Papa memang sangat bagus. Aku tadi tidak sampai berpikir seperti itu, karena hanya berniat untuk menasehati Rey yang sangat susah diatur. Aku pikir, dia sudah sadar setelah keluar dari penjara. Akan tetapi, ia malah berbuat jahat pada Dewi. Aku sangat berhutang budi pada wanita malang itu. Padahal rencananya, besok pagi, aku akan mengirimnya ke Bali. Akan tetapi, Rey malah berbuat seperti ini "
Abymana menepuk pundak Aditya untuk memberikan sebuah semangat. "Sudahlah, semua sudah terjadi dan tidak perlu disesali. Sekarang kita hanya perlu untuk mencari sebuah solusi."
"Iya, Pa. Aku mengerti, kalau begitu saya pergi dulu." Aditya yang tersenyum simpul, langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, serta duduk di balik kemudi. Menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudikannya meninggalkan area bangunan tinggi menjulang mewah tersebut.
Sementara itu, Abymana yang baru saja melihat mobil mewah tersebut menghilang di balik pintu gerbang, langsung meraih ponsel miliknya dan menghubungi seseorang. Menunggu beberapa saat hingga suara dari seberang menjawab.
"Dave, sekarang kamu pergi ke alamat yang aku kirim. Aku membutuhkanmu untuk menjadi saksi pernikahan. Cepat datang ke sana! Tidak pakai lama!"
Abymana langsung memasukkan ponsel miliknya di saku celananya dan mulai berjalan masuk ke dalam Mansion untuk menemui 3 ratunya.
*******
Flashback on ...
🍃 Kediaman Dave 🍃
Setelah acara makan malam romantis di taman belakang rumah, Dave sudah mengendong Sabrina ke dalam kamar dan merebahkannya di atas ranjang. Di mana di sana pun juga ada putra kesayangannya yang tengah tertidur dengan pulas.
"Aku mandi dulu, Sayang. Tunggu aku dan jangan tidur, oke!" Tersenyum tipis dan mengedipkan matanya.
"Mana ada. Suamimu selalu wangi meski sudah bekerja seharian di kantor." Dave mengambil botol wine di tangan Sabrina dan meletakkannya di atas nakas. Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, ia sudah berjalan ke arah kamar mandi untuk segera melakukan ritual membersihkan diri.
Sementara itu, Sabrina yang masih berbaring telentang, memiringkan tubuhnya dan menatap ke arah wine di samping kirinya. Ia menepuk jidatnya berkali-kali saat pikirannya dari tadi sudah traveling dengan kata-kata dari sang suami saat di taman belakang rumah.
Aku akan menuang wine ini sedikit di atas tubuhmu dan menikmatinya.
"Astaga, pikiranku kini sudah membayangkan saat Dave melakukan hal liar di atas tubuhku." Sabrina menggeleng berkali-kali. Ya ampun, sekarang aku pun sudah ketularan mesum sepertinya. Sangat memalukan."
Beberapa menit kemudian, Dave sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk sebatas pinggang. Merasa tubuhnya sudah sangat fresh, membuatnya tidak sabar untuk segera memanjakan dirinya dengan melakukan pelemasan otot-ototnya yang kaku. Menatap ke arah sang istri yang tengah berbaring membelakanginya.
"Sayang, di sofa saja, ya. Biar tidak basah ranjangnya terkena wine."
Sabrina yang merasa sangat malu, hanya diam tanpa berkomentar apapun. Tubuhnya berjenggit kaget saat telapak tangan yang dingin itu sudah mendarat di pundaknya.
"Sayang, kenapa malah diam? Bawa wine itu!" Dave sedikit membungkuk agar bisa meraup tubuh ramping Sabrina ke atas lengan kokohnya.
Sedangkan Sabrina yang merasa sangat terkejut, saat tubuhnya sudah berpindah di gendongan Dave, akhirnya hanya menuruti perintah dari sang suami dengan meraih botol tersebut.
"Sayang, nanti tubuhku kotor terkena wine."
__ADS_1
"Nanti aku bantu membersihkannya," ucap Dave yang sudah melakukan gerakan sensual dengan bibirnya dan begitu sampai di sofa, ia sudah membaringkannya di sana.
"Dasar mesum!" Sabrina sudah mencubit gemas pinggang kokoh pria yang sudah sibuk melepaskan penutup tubuhnya. Bahkan kini ia sudah tidak memakai selembar benang pun di tubuhnya dan membiarkan sosok pria yang sangat dicintainya itu membuka tutup botol wine.
Dave tersenyum smirk dan mulai memiringkan botol hingga tetes demi tetes air berwarna merah itu sudah membasahi tubuh bagian atas Sabrina. "Sepertinya sangat nikmat, Sayang. Seandainya kamu tidak hamil, aku akan menyuruhmu melakukan hal yang serupa di tubuhku. Agar bisa menikmatinya sepertiku."
Rasa dingin yang menyapu permukaan kulit tubuh Sabrina, membuat tubuhnya meremang. "Astaga, aku tidak hamil pun, tidak akan melakukannya. Seperti wanita kegatelan saja."
Dave hanya terkekeh geli dan mulai menundukkan kepalanya untuk beraksi menikmati wine di tubuh Sabrina. Namun, kurang sedikit lagi, suara dering ponselnya berbunyi. Hingga membuatnya tidak jadi menikmati wine itu.
Dengan wajah masam menunjukkan kekesalannya, Dave bangkit dari sofa dan buru-buru berjalan ke atas nakas untuk segera meraih ponselnya karena takut putranya terbangun dan tidak jadi bercinta dengan wanita yang sudah terbaring di atas sofa seperti sebuah makanan yang siap disantap. Sehingga ia berencana untuk menonaktifkan ponselnya dan tidak mengangkat panggilan.
Namun, matanya membulat sempurna, "Astaga, Tuan besar." Dave langsung menggeser tombol hijau ke atas begitu melihat siapa yang menghubunginya. Tanpa bersuara, ia mendengar titah dari atasannya yang sudah dianggapnya sebagai dewa penolong.
Refleks tubuhnya merasa lemas setelah telfon dimatikan sepihak begitu atasannya memutuskan sambungan telepon sepihak. Merasa sangat bersalah pada sosok wanita yang masih terbaring tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Sayang, dari siapa?" tanya Sabrina dengan mengerutkan kening saat melihat wajah masam Dave.
"Dari tuan besar. Tuan Abymana menyuruhku datang ke sebuah alamat untuk menjadi saksi pernikahan. Aku tidak tahu pernikahan siapa, karena tuan sudah mematikan sambungan telepon. Bagaimana ini, Sayang?" Dave sudah berjalan mendekati sang istri yang terlihat menampilkan wajah garangnya.
Sabrina merasa sangat kesal begitu mendengar penjelasan dari pria yang tengah berdiri menjulang di sebelahnya. Ia pun melihat bagian atas tubuhnya yang sudah basah dengan minuman berwarna merah itu.
"Apa lagi, cepat bersihkan ini dengan tisu! Kamu sih, aneh-aneh saja. Buat aku terlihat mengenaskan seperti ini. Terlalu banyak tingkah ya begini akhirnya. Aku yang jadi korban."
"Jangan marah, Sayang. Aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa kita akan gagal dalam bercinta. Bahkan ini dari tadi sudah on, tetapi aku harus menahannya dan buru-buru pergi. Kalau tidak, suamimu ini terancam kehilangan pekerjaan." Dave sudah sibuk membersihkan wine di atas tubuh Sabrina.
"Sudah, sana pergi! Sebenarnya siapa yang malam-malam begini menikah. Konyol sekali, aku jadi penasaran. Oh ya, kirimi aku video pernikahan mereka nanti. Aku ingin tahu siapa yang membuat aku sangat kesal. Sepertinya mereka sangat berarti bagi keluarga Raharja, sehingga sampai membuat malam-malam begini menyusahkan orang lain." Sabrina buru-buru memakai kembali pakaiannya dan mendorong tubuh berotot yang terekspose sangat jelas itu agar segera berpakaian.
"Iya, Sayang." Dengan sangat terpaksa, Dave berjalan ke arah walk in closet dan mulai mengambil pakaian. Yaitu, kemeja berwarna putih dan celana katun berwarna hitam. Tentu saja tidak lupa ia sudah merengut dan mengumpat.
"Nasib ... nasib. Mimpi apa aku semalam, hingga mengalami nasib seburuk ini. Sudah on, tetapi tidak jadi melakukan pelepasan."
Sabrina masih duduk di sofa karena menunggu Dave dan begitu pria dengan postur sangat tinggi itu berjalan ke arah meja rias untuk menyisir rambut dan memakai parfum, ia bangkit dari sofa.
"Sayang, hati-hati di jalan. Aku tidak akan menunggumu pulang karena sangat mengantuk. Jadi, nanti bawa kunci rumah. Jangan membangunkan bibik, kasihan."
"Iya, Sayang. Kamu tidur saja. Akan tetapi, nanti malam aku minta jatahku karena kamu masih punya utang, oke!" Dave sudah mengecup lembut bibir sensual berwarna merah jambu sang istri. Hanya sebuah kecupan ringan tanpa sesapan untuk berpamitan.
"Maunya, selalu saja membangunkan aku tengah malam. Susah sana, cepat pergi!" Sabrina mengibaskan tangannya dan berjalan ke arah ranjang.
Dave hanya tersenyum dan mulai berjalan keluar ruangan kamar, meninggalkan anak dan istri. "Bahkan aku baru pulang dari kantor, tetapi sudah disuruh keluar lagi. Sial ... sial!"
Flashback off ...
__ADS_1
TBC ...